
Ketika Defan dan Vanka baru sampai di sekolah. Dhanu dan Reza berlari menghampiri Defan dengan tergesa-gesa. Bahkan Dhanu dan Reza langsung menarik tangan Defan.
"Gue pinjem Defan dulu ya!" ucap Reza kepada Vanka.
Dilihat dari nada suara Reza. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Karena Dhanu dan Reza terus menarik tangan Defan meskipun Defan meronta.
"Ntar kita ketemu dikantin ya jam istitahat." seru Defan dan masih sempat menoleh ke Vanka, meskipun dia tidak diperbolehkan berhenti oleh kedua temannya.
Seperti biasa, Vanka hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Lalu kemudian berjalan menuju kelasnya.
Di kelas, Vanka disambut heboh oleh Desi yang mengatakan jika mereka merasa iri dengan Vanka. Iri karena Vanka bisa dekat dengan salah satu anggota The Sun. Sekelompok pria terpopuler di sekolah mereka.
"Tadi cuma kebetulan aja ketemu. Kakak gue kan sakit, jadi nggak ada yang anter ke sekolah." ucap Vanka sembari memasukan tasnya ke dalam laci.
"Kak Rakha sakit? Sakit apa? Dirawat di rumah sakit atau dirumah?" tanya Akila panjang lebar.
"Tipes, di rawat dari semalem. Tapi tenang aja, ada kak Aiko kok yang jaga dia." jawab Vanka yang membuat Akila kembali tidak bersemangat.
"Yah, gue lupa kalau kak Rakha udah punya pacar ya," ucap Akila dengan lesu.
"Udahlah, cowok kan juga bukan kakak gue doang. Ada Febri noh yang siap meminang lo." Vanka selalu bisa membuat Akila tergugah.
"Nggak sudi gue. Mending gue jomblo seumur idup daripada ama dia. Ih, najis.." Akial bergidik sembari menoleh ke arah Febri yang duduk di kursi belakangnya.
Febri yang mendengar perkataan Akila pun langsung menendang kursi Akila. "Gue juga ogah sama lo, nenek lampir." olok Febri.
"Dasar buaya.." Akila tidak mau kalah dafi Febri. Dia juga mengatai Febri, buaya.
"Nenek lampir.." ucap Febri lagi.
"Buaya." Akila tidak mau kalah.
"Udah-udah, gue kawinin juga kalian kalau ribut mulu." Vanka menghentikan keributan antara Febri dan Akila. Karena kalau tidak segera dihentikan, perdebatan itu bisa memanjang. Mengingat Febri dan Akila sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah.
"Yee,, nikah dulu batu kawin.." seru Febri dan Akila bersamaan.
"Cie, kompak..." giliran Desi menggoda mereka berdua.
"Ehem, ciee.." Vanka juga tak mau tinggal diam.
"Apaan sih." seketika memerahlah wajah Febri dan juga Akila karena terus digoda oleh Desi dan Vanka.
Tapi tiba-tiba Ira masuk ke kelas dengan hebohnya. Dia baru saja dari kelas sebelah karena gebetannya ada disana. Ira melihat kelas Gio yang heboh.
Ternyata kelas itu kedatangan murid baru yang begitu sangat cantik. Dan katanya dia pindahan dari luar negeri.
__ADS_1
"Yuk kita lihat, gue penasaran banget anj*r.." Desi menjadi heboh karena informasi yang diberikan oleh Ira.
"Kalian aja, gue nggak minat." jawab Vanka merasa terlalu malas, untuk apa melihat orang yang sama dengan dia juga, orang.
Vanka memang selalu tidak tertarik dengan hal semacam itu. Kalau pun dia mengagumi, ya sebatas kagum aja. Nggak sampai berlebihan.
"Yaudah yuk!" Desi menarik tangan Ira yang sepertinya juga sangat penasaran, sama seperti Desi.
"Lo yakin nggak penasaran?" tanya Akila.
"Nggak, dia sama kayak kita, orang juga. Ngapain harus penasaran, ntar juga ketemu." jawab Vanka dengan santai.
"Nanti kalau ternyata kak Gio berpaling ke wanita itu gimana?" seketika Vanka menoleh ke arah Akila.
Bisikan Akila itu mampu membuat hati Vanka goyah. Tapi itu tak lama. Vanka hanya tersenyum setelahnya. "Kalaupun Gio berpaling, itu hak dia. Karena kita kan memang nggak ada ikatan apapun." ucapnya.
"Nggak ada ikatan tapi saling cemburu, saling nunjukin rasa sayang.." sindir Akila.
Setelah mengetahui kedekatan Vanka dengan Gio. Akila mulai memperhatikan gerak gerik Vanka maupun Gio. Dan Akila bisa melihat jika baik Vanka maupun Gio sebenarnya saling suka. Entah apa yang membuat Vanka dan Gio belum juga menyatakan perasaan mereka satu sama lain.
Padahal, tanpa harus diungkapkan harusnya mereka peka terhadap perasaan masing-masing. Akila yang hanya melihat saja bisa tahu kalau mereka sebenarnya saling suka. Apalagi mereka yang menjalani.
Vanka terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Akila. Meskipun tidak ada ikatan apapun. Tapi mereka memang sering sekali merasa cemburu satu sama lain.
"Gue kan cewek, Kil.. Nggak mungkin kan kalau gue duluan yang ungkapin perasaan gue." ucap Vanka.
Sebenarnya Vanka terlalu malu untuk mengakuinya. Tapi memang itu yang dia tunggu selama ini. Ungkapan cinta dadi Gio untuknya.
Meskipun sikap Gio menunjukan itu semua. Tapi Vanka tetap ingin mendengar dari mulut Gio langsung. Kalau Gio mencintai dia.
"Lo bisa jatuh cinta juga?" tanya Akila dengan tersenyum geli.
"Sialan lo, gue kan juga manusia." Vanka mendorong Akila pelan.
Akila ingat betul sudah berapa kali Vanka menolak cinta seorang lelaki. Wanita yang angkuh dan sangat berpendirian itu bahkan selalu tidak mau bercerita tentang asmara.
Tapi siapa sangka, pada akhirnya dia pun jatuh cinta kepada lelaki dingin dan angkuh juga. Entah itu takdir atau hanya kebetulan belaka.
"Sejak kapan lo mulai jatuh cinta?" tanya Akila lagi.
"Nggak tahu apakah itu cinta, yang jelas gue nyaman dan bahagia saat dekat dengan dia, meskipun itu hanya lewat chatting. Tapi gue ngerasa kita tuh sangat dekat." jawab Vanka sembari menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruang kelasnya.
Pikirannya juga terus mencari tahu kapan dia mulai merasakan kenyamanan seperti itu. Kenyamanan yang membuat dia semakin ingin memiliki pria itu.
"Gue yakin lo benar-benar jatuh cinta kali ini." ucap Akila lagi.
__ADS_1
"Tau ah.."
****
Waktu jam istirahat, ada pemandangan yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya The Sun hanya ada empat orang lelaki. Kali ini ada tambahan satu orang lagi, perempuan. Sepertinya itu adalah murid baru yang sempat bikin heboh sekolah tadi pagi.
"Itu dia anaka barunya, katanya sih dia pacarnya kak Defan." kata Desi yang dijuluki si wartawan, karena dia cepat sekali mendapat informasi dibanding temannya yang lain.
Akila melirik Vanka yang bernafas lega. Vanka pun sedikit tersenyum. Mungkin karena senang, ternyata anak baru itu adalah pacarnya Defan. Itu artinya, Gio masih aman.
"Ciee yang lega ternyata cemcemannya aman." ucap Akila pelan sembari menyenggol Vanka.
Kemudian keempat remaja putri itu duduk di meja yang masih kosong. Tapi sebelumnya Vanka sempat disindir oleh Marisa.
"Kasihan, padahal udah baper, ehh ternyata cuma jadi pelampiasan doang." kata Marisa dengan ekspresi menghina Vanka.
Tapi kali ini Vanka memilih untuk tidak meladeni Marisa. Karena memang Vanka tidak merasa baper karena sempat didekati oleh Defan.
"Cewek kayak dia mana bisa bersaing dengan Chika. Lihat aja penampilannya." sahut Icha, teman Marisa yang lain.
"Masih kalah jauh dari Chika." sahut Lika.
"Bisa nggak, nggak usah bac*t!" Defan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke meja Vanka.
"Nggak usah dengerin mereka! Gue sama Chika udah nggak ada hubungan kok." ucap Defan seolah menjelaskan semuanya kepada Vanka.
Tentu saja ucapan Defan tersebut membuat Marisa dan teman-temannya, juga teman-teman Defan sendiri menjadi kaget, terutama Chika. Dia tidak menyangka jika Defan telah memutuskan hubungan mereka. Padahal selama ini tidak ada kata putus. diantara mereka.
"Maksud lo apa sih, Def? Kapan kita putus? Nggak ada kata putus yang terucap diantara kita." Chika mendekati Defan dan meminta kejelasan.
"Sejak lo putuskan komunikasi kita dua bulan ini, gue anggap lo udah nggak mau punya hubungan sama gue." jawab Defan dengan sangat dingin kepada Chika. Wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta.
"Gue udah jelasin semua ke lo, alasan kenapa gue nggak hubungin lo selama dua bulan ini." seru Chika merasa tidak adil dengan keputusan yang Defan ambil secara sepihak.
"Gue udah nggak punya perasaan apapun ke lo." ucap Defan lagi.
"Jadi semudah itu lo lupain gue? Lo lupain cinta kita yang terjalin selama dua tahun lebih, semudah itu Def?" tanya Chika lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya. Karena gue udah suka sama wanita lain." jawab Defan yang cukup membuat hati Chika merasa sakit.
Chika sempat menatap Vanka yang terdiam disebelah Defan. Chika yakin jika wanita yang dimaksud Defan adalah Vanka.
"Lo yang udah rebut Defan dari gue?" tanya Chika menatap tajam Vanka.
"Gue mohon, kembaliin dia ke gue. Gue nggak bisa hidup tanpa Defan, tolong kembaliin Defan ke gue!" mohon Chika dengan airmata yang mengalir cukup deras.
__ADS_1
Vanka menatap Chika yang begitu menyedihkan. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur permasalahan antara Defan dan Chika. Tapi karena secara tidak langsung dia terlibat. Vanka hanya bisa menegaskan saja kalau dia dan Defan tidak memiliki hubungan apapun.
"Masalah antara kalian, tidak ada hubungan apapun sama gue. Jadi tolong, jangan libatin gue dalam permasalahan kalian!" ucap Vanka sebelum akhirnya dia meninggalkan kantin dengan diikuti oleh Akila yang selalu setia menemaninya.