Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
89


__ADS_3

Arina menangis karena Gio kembali menolak perjodohan dengan dirinya. Dan lagi karena Gio marah kepadanya. Arina tidak percaya jika Gio akan semarah ini kepadanya.


"Kamu jangan nangis dong!" Ines memeluk Arina yang menangis tersedu-sedu.


"Nanti tante bantu bujukin Gio lagi, ya!" Ines memeluk Arina sembari mengelus lengan Arina dengan lembut.


"Nes, tolong anterin Arina pulang ya!" pinta Ines kepada putra sulungnya.


"Ernes banyak tugas ma," ucap Ernes kemudian pergi dengan cepat dari tempat itu.


"Arin bawa mobil kok tan," tak lama kemudian, Arina berpamitan pulang.


Sementara Ernes yang katanya banyak tugas malah pergi ke kamar adiknya. Ernes tahu adiknya pasti butuh teman untuk curhat. Beberapa hari belakang, adiknya terlihat murung.


"Gi.." Ernes membuka pintu kamar Gio yang tidak dikunci.


"Kak, ada apa?" tanya Gio yang baru saja merebahkan diri di kasur empuknya.


"Nggak apa-apa, nggak main lo?"


"Nggak kak, Gio males keluar."


"Gimana kalau kita pergi ke kafe waktu itu. Yang ada temen lo nyanyi itu." Ernes sengaja ajak Gio keluar cari hiburan supaya pikiran adiknya bisa teralihkan.


"Boleh, yuk! Gue juga suntuk banget di rumah." Gio melompat dari posisi rebahannya. Dia mengambil ponsel dan jaket.


Ketika Gio pamit ke papa dan mamanya. Mamanya kembali memarahi dia karena telah membuat Arina menangis. "Mama nggak mau tahu, kamu harus minta maaf ke Arina!" ucap Ines sedikit kesal dengan Gio.


"Nggak, aku nggak salah, ngapain minta maaf. Namanya perasaan nggak bisa dipaksa ma!" ucap Gio lalu kemudian pergi bersama kakaknya.


Ines merasakan kepalanya pusing sekali. Dia bahkan hampir terjatuh, dan beruntung Shaka menahannya sehingga dia tidak jadi jatuh. "Ma, kamu harus istirahat! Jangan terlalu mikirin masalah Gio! Dia masih sekolah, biarin dia jalani hidupnya dengan bahagia!" ucap Shaka sembari membawa Ines ke kamar.


Shaka memberikan obat untuk Ines minum. Setelah kemudian menyelimuti Ines. Shaka sebenarnya juga tidak mau melihat keadaan istrinya yang terus seperti itu. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Gio untuk menuruti apa yang dia tidak mau. Shaka tidak mau melukai hati anak-anaknya.


"Pa, Gio harus minta maaf ke Arina, dia udah bikin Arina nangis!" ucap Ines.


"Nes. Waktu kamu dulu aku suruh pacarin Alfa, kamu sakit hati nggak?" tanya Dhaka dengan serius.


"Iyalah, sakit banget malahan. Aku cintanya sama kamu, tapi kamu malah suruh aku buat pacarin Alfa." mereka kembali mengingat masa lalu mereka yang kelam dulu. Ines menjawab pertanyaan Shaka dengan emosi yang hampir meledak.


"Sama seperti Gio. Dia juga sakit hati saat kamu suruh dia pacaran dengan wanita yang nggak dia cintai." Ines terbelalak dengan perkataan suaminya.


"Kamu lihat, dia sudah jarang senyum akhir-akhir ini, bahkan hampir tidak pernah tersenyum. Kamu nggak kasihan sama anak kamu? Dia juga punya perasaan, aku yakin hatinya sakit sekali saat kamu pisahin dia dengan wanita yang dia cintai." imbuh Shaka. Dan perkataan Shaka tersebut semakin berkecambuk di dalam hati Ines.


Ya, dia tahu betul sakitnya dipaksa mencintai orang yang tidak pernah dia cintai. Ines ingat betul, dulu dia hampir mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak tahan dengan tekanan itu.


Tiba-tiba air mata Ines mengalir begitu deras. Dia tidak mau anaknya akan mengalami hal yang sama seperti dia dulu. Ines memeluk Shaka yang ada disebelahnya.


"Kamu bahagia kan karena akhirnya kita bersama? Jadi, tolong! Biarin anak kita bahagia juga!" perkataan Shaka semakin membuat Ines menangis.


Ines merasa seperti ibu yang sangat kejam kepada anaknya. Dia tidak berhenti menangis karena menyesal telah melakukan hal yang paling menyakitkan untuk anaknya.


"Kamu belum kenal Vanka lebih jauh. Dia anak yang baik, dari keluarga baik-baik juga. Dia gadis yang sopan dan juga tegas. Aku yakin dia berani sama kamu, karena kamu udah keterlaluan hina dia. Jadi tolong, restui hubungan Gio dengan Vanka!"


"Tapi mereka udah putus.."

__ADS_1


"Kamu cukup kasih semangat untuk Gio, supaya dia bisa kejar Vanka lagi!" Ines menganggukan kepalanya.


Meskipun begitu, Ines masih saja menangis ketika teringat masa lalunya. Dimana dia menjadi orang yang sangat jahat karena telah membuat Alfarezi dan Shaka saling membenci.


"Jangan nangis ah!" Shaka mengusap air mata Ines.


"Dulu aku jahat banget.."


"Enggak. Kamu baik kok, makanya aku suka sama kamu. Jangan nyalahin diri kamu sendiri, tapi hadapi masa lalu itu dengan berubah menjadi lebih baik!" Shaka kembali mengingatkan Ines untuk tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri dan juga orang lain.


"Jika kamu mau mengenal Vanka lebih jauh lagi, aku yakin trauma kamu akan sembuh. Tapi, jangan jauhi Arina juga. Mereka sama-sama akan menjadi anak kita, tapi biarin Gio memilih siapa yang dia cintai!" Shaka memang orang yang sangat baik. Meskipun dia meminta Ines menerima Vanka, tapi Shaka juga mengingatkan Ines supaya tidak melupakan Arina.


"Iya, pa.." Ines memeluk suaminya dengan lebih erat.


Ines sangat bersyukur memiliki suami seperti Shaka. Meskipun dia sangat dingin, tapi dia sangat perhatian dan baik hati. Dan kasih sayangnya ke Ines dan anak-anaknya juga sangat tulus.


"Sembuh ya ma!" lirih Shaka sembari mengecup kening Ines dengan lembut.


....


Di rumah, Arina merasa sangat marah. Dia masuk ke kamar dengan emosi yang tidak bisa di bendung.


Pyar!


Pyar!


Pyar!


Terdengar suara barang dibanting dalam kamar Arina. "Brengs*k lo Vanka, gue akan rebut Gio kembali!" Arina meletakan kesalahan kepada Vanka.


Dia berpikir, alasan Gio membatalkan perjodohan mereka karena Gio masih suka dengan Vanka. Padahal tinggal selangkah lagi dia bisa mendapatkan Gio seutuhnya.


Rania mendengar kekacauan di dalam kamar Arina lalu bergegas melihat apa yang sebenarnya terjadi. Rania kaget melihat kamar Arina yang berantakan, pecahan kaca dimana-mana, dan Arina yang menangis dipojokan.


"Kamu kenapa Arina?" tanya Rania.


Akan tetapi, Arina tidak menjawab pertanyaan tantenya. Tubuh menggigil dan hampir tidak sadarkan diri. Seperti itulah keadaan Arina, jika emosi terlalu berlebih.


Rania yang panik kemudian bergegas mencari obat yang selalu Arina konsumsi. Rania memaksa Arina untuk segera menelan obat-obatan tersebut. Dan seketika, tubuh Arina mulai tenang.


Rania meminta assisten rumah tangganya untuk membereskan kekacauan tersebut. Sementara Rania membawa Arina tidur di kamarnya.


Rania tidak tahu apa yang terjadi. Tadi, Arina hanya pamit pergi ke rumah Gio. Tidak mengatakan apa-apa lagi. Rania mencoba bertanya kepada Ines melalui pesan singkat, tapi tidak dibalas oleh Ines.


Di tempat lain..


Tanpa sengaja, Gio dan Vanka bertemu di kafe tempat Akila bekerja. Vanka datang juga untuk mencari hiburan. Dan kebetulan, saat Gio dan Ernes tiba di kafe tersebut. Akila sedang menyanyikan sebuah lagi yang membuat Vanka hampir menangis.


"Ajarkan aku cara tuk melupakanmu, bila membencimu tak pernah cukup tuk hilangkan kamu. Ajarkan aku, sebelum merusak kedalam-dalamnya, sebelum aku trauma, mencintai sosok yang baru lagi."


Lagu tersebut related banget dengan apa yang Vanka rasakan sekarang. Gio juga merasakan hal yang sama kayak Vanka. Dia melihat Vanka yang sangat sedih.


"Van!" sapa Vanka ketika Gio mendekat ke meja Vanka. Vanka kebetulan duduk sendiri di pojokan. Itu tempat favorit Vanka jika sedang nungguin Akila.


Vanka menoleh mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang suaranya sangat familiar. Mata Vanka membulat ketika dia melihat Gio berdiri di sebelahnya.

__ADS_1


"Ya." Vanka menjawab singkat sapaan Gio.


"Van, boleh kita ngomong berdua?" tanya Gio.


"Nggak ada yang perlu diomongin antara kita berdua. Kita udah selesai." Vanka tiba-tiba berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


"Tapi gue harus ngomong sama lo!" Gio mengikuti Vanka sampai ke toilet. Gio dengan sabar menunggu Vanka, dan meninggalkan kakaknya sendirian di meja Vanka tadi.


Sekitar lima menit kemudian, Vanka terkejut melihat Gio yang mondar mandir di depan toilet putri. "Kenapa lo masih disini?" tanya Vanka dengan geram. Dia nggak suka dibuntutin.


"Izinin gue ngomong!"


"Silahkan!" akhirnya Vanka memberi kesempatan Gio untuk ngomong.


"Van, gue minta maaf sekali lagi karena udah terprovokasi dengan perkataan Arina."


"Nggak masalah, gue maklum, lo kan cinta sama dia."


"Cinta gue cuma buat lo."


"Lo? Cinta sama gue?" Vanka agak menertawakan pengakuan Gio.


"Kalau lo cinta sama gue, harusnya gue yang lo ajak ke villa impian lo. Katanya hanya wanita special yang akan bawa lo kesana, dan ternyata Arina yang lo bawa, jadi itu artinya Arina yang lo cinta bukan gue."


"Yang ajak Arina kesana bukan gue, tapi mama gue. Lo bisa tanya ke kak Ernes. Van, gue udah berusaha buat lupain lo, tapi gue nggak bisa. Semakin gue nyoba semakin gue kangen sama lo."


"Kasih gue kesempatan sekali lagi! Gue cinta banget sama lo, sayank.. Gue nggak bisa tanpa lo." mohon Gio.


"Maaf Gi, gue nggak bisa."


"Kenapa?" Gio sangat kecewa dengan jawaban Vanka.


"Lo masih cinta kan sama gue? Gue tahu lo masih cinta sama gue."


"Iya, jujur, gue masih cinta sama lo, tapi bisa balikan sama lo. Karena percuma juga kita balikan, tapi pada akhirnya akan putus lagi hanya karena masalah mama lo dan perjodohan lo."


"Mending kita kayak gini aja, hidup masing-masing.."


Gio langsung memeluk Vanka. "Nggak Vanka! Gue nggak mau, gue cinta sama lo."


"Gue juga cinta Gio, tapi lo harus sadar, kita tidak mungkin bersama."


"Gue akan yakinin mama buat restui kita. Gue nggak mau pisah sama lo Van, apalagi sampai lihat lo dimiliki lelaki lain, gue nggak sanggup." Gio belum mau melepaskan pelukannya.


"Ok, tapi gimana masalah lo sama Defan? Sama Dhanu? Dan masalah perjodohan lo?" tanya Vanka lagi.


"Gue akan minta maaf ke Defan dan Dhanu. Dan masalah Arina, sebenarnya gue hanya ingin bikin lo cemburu saja." Gio mengakui alasannya dekat dengan Arina akhir-akhir ini. Itu hanya untuk membuat Vanka cemburu saja.


"Gila lo, emang siapa juga yang cemburu?" gerutu Vanka.


"Jadi kasih gue kesempatan, ok! Gue janji akan yakinin mama, dan beresin masalah gue sama Arina. Tapi janji, jangan dekat dengan lelaki lain, kalau nggak gue akan habisi mereka semua."


Vanka hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Gio. Begitulah hati wanita, meskipun kemarin mungkin dia sangat benci Gio. Tapi Vanka bisa dengan mudah memaafkan Gio setelah mendengar penjelasan Gio.


Wanita adalah makhluk yang sulit ditebak dan sulit dipahami oleh kaum adam. Karena, saat hawa diciptakan, Adam sedang tertidur.

__ADS_1


*Selamat Tahun Baru, semua.. Semoga tahun yang baru, apa yang kalian impikan di tahun ini yang belum terwujud, akan terwujud ditahun ini. Amiin.. HAPPY New Year.. Saehae bog manh-i bad-euseyo..*


*Maafin author ya jika punya banyak salah, juga jika karya-karya kami kurang berkenan dan masuk dalam ekspetasi para readers, kami akan berusaha belajar lebih giat lagi, supaya bisa menghasilkan karya yang bagus dan menarik. Terima kasih untuk dukungannya para readers. Terus support author dan karya ini. Love u...*


__ADS_2