Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
50


__ADS_3

Gio bangun dengan suasana hati yang cukup baik pagi ini. Semalam dia tertidur dengan dibacakan dongen oleh Vanka. Dia juga cukup istirahatnya. Semalam Defan tidak jadi datang ke rumahnya. Karena saat dia menelepon Gio, Gio tidak menjawab. Defan akhirnya mengurungkan niatnya, karena tahu Gio sudah tidur.


"Pagi semua.." sapa Gio sudah bersiap pergi ke sekolah.


"Pagi nak, sarapan dulu!" ucap Shaka selalu lembut dan perhatian kepada anak-anaknya.


"Iya pa." Gio ikut sarapan bersama orang tua dan kakaknya.


"Kak, gue nebeng lagi ya!" ucap Gio sembari menyuapkan roti ke mulutnya.


"Gi, nanti siang mama jemput kamu sekolah, mama mau ajak kamu ketemu dengan teman mama, dia punya anak gadis yang cantik dan juga baik, cocok sama kamu." mendengar perkataan mamanya, Gio berhenti memakan rotinya.


Tanpa berkata lagi, Gio beranjak dan meninggalkan meja makan beserta sarapannya yang baru dimakan sedikit.


"Dihabiskan dulu nak sarapannya!" seru Shaka.


"Udah kenyang, pa.." jawab Gio tanpa menoleh sama sekali.


Ernes yang tahu adiknya sedang bad mood, langsung dengan cepat menghabiskan sarapannya. Ernes segera menyusul adiknya yang sudah duluan keluar rumah.


Gio tidak berpamitan kepada papa dan mamanya karena dia merasa sangat kesal. Dia hanya pamit dengan kakeknya yang sedang sibuk menyiram tanaman di halaman depan.


Setelah itu Gio menunggu kakaknya di dalam mobil kakaknya. Dia sangat kesal, kenapa mamanya bisa berpikiran sampai sejauh itu. Mana mau menjodohkan dia dengan anak teman mamanya.


"Nggak usah terlalu dipikir perkataan mama!" ucap Ernes saat dia masuk ke dalam mobil dan melihat adiknya manyun.


"Gue heran banget sama mama, dia tahu gue punya pacar tapi masih aja mau cariin gue pacar." ucap Gio dengan kesal.


Ernes tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya antara adiknya dengan mamanya. Dia tidak bisa berkata banyak. Hanya bisa menasehati adiknya supaya terus sabar dan jangan sampai benci ke mama mereka. Biar bagaimanapun, mamanya tetaplah orang tua mereka yang wajib dihormati.


"Taulah kak." Gio yang sebenarnya sudah semangat tadi. Kini kehilangan mood-nya. Sepanjang perjalan ke sekolah, Gio hanya diam saja sembari memejamkan matanya dan memijir pelipisnya.


Ernes merasa kasihan kepada adiknya itu. Terlihat sekali jika Gio sangat tertekan. Entah apa yang dia pikirkan, tapi kelihatan banget kalau Gio memikirkan banyak hal. Urat kecil di keningnya terlihat keluar, menandakan jika Gio sedang berpikir keras.


"Sekolah yang bener! Nggak usah terlalu dipikirkan! Yang penting lo buktiin ke mama kalau pacar yang lo pilih itu bisa membuat lo bahagia." pesan Ernes ke adiknya sebelum adiknya keluar dari mobil, karena sudah sampai di sekolahnya.

__ADS_1


Gio menganggukan kepalanya. "Thanks ya kak." ucapnya sebelum Ernes melajukan mobilnya lagi.


Gio masuk ke sekolahnya. Langkahnya terasa berat. Pikirannya terus dipenuhi dengan perkataan mamanya. Gio semakin kesal saat teringat keinginan mamanya yang ingin mencarikan dia pacar.


Dan, lebih tertekan ketika memikirkan. Kenapa dua wanita yang sangat dia sayang tidak bisa bersatu. Kenapa harus ada keadaan yang seperti itu. Gio tidak akan memilih satu diantara keduanya. Mereka sama-sama wanita berharga dalam hidupnya.


Meskipun mamanya menjengkelkan, tapi dia tetap orang tuanya yang wajib dia hormati dan sayangi. Dan Vanka, Gio tidak mau kehilangan wanita itu lagi. Gio sangat mencintai wanita itu.


"Ah.." Gio memegangi kepalanya yang masih diperban. Dia kembali merasa pusing karena mungkin terlalu banyak berpikir.


Gio menghentikan langkahnya dan terus memegangi kepalanya. Dia kesulitan melanjutkan langkahnya karena pusing yang cukup hebat.


"Gio..." dari arah belakang, Marisa berlari menyongsong Gio yang hampir terjatuh.


"Lo kenapa Gi?" tanya Marisa dengan khawatir.


Melihat Marisa menahan tubuhnya, Gio pun mendorong Marisa. Dia tidak mau Vanka akan salah paham jika melihatnya dituntun oleh Marisa. Tapi dia kembali oleng ketika tidak ada orang yang menuntunnya.


"Nggak usah keras kepala!" Marisa memaksa menuntun Gio.


Sesampainya di UKS. Gio mengucapkan terima kasih ke Marisa dan memintanya untuk meninggalkan dia sendirian. Akan tetapi, Marisa yang keras kepala tidak mau meninggalkan Gio di UKS sendiri. Dia terus menjaga Gio di sebelahnya.


"Balik aja, gue nggak apa-apa sendiri!" ucap Gio memunggungi Marisa.


"Apa gue begitu menjijikan, sampai lo nggak mau lihat gue?" Marisa terluka dengan perilaku Gio.


Padahal bukan itu maksud Gio. Dia memiringkan tubuhnya ke kiri, memunggungi Marisa karena saat dia miring ke kiri, sakit di kepalanya sedikit berkurang.


"Kembali aja ke kelas! Bentar lagi Vanka kesini, dia yang akan jagain gue!" ucap Gio tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Vanka, Vanka, Vanka terus. Apa di hidup lo cuma ada Vanka?" Marisa sedikit tidak terima karena Gio selalu memikirkan Vanka meskipun Vanka tidak ada bersamanya.


"Pertanyaan lo nggak perlu gue jawab, lo udah tahu jawabannya." Gio masih belum mau menghadap Marisa. Tapi kepalanya sudah agak mendingan di banding tadi.


Tak lama kemudian, Vanka datang ke UKS. Gio memberitahunya melalui pesan singkat. Vanka terlihat ngos-ngosan, seperti dia buru-buru ke UKS begitu sampai di sekolah.

__ADS_1


"Gio, gimana keadaan lo?" tanya Vanka sebelum sepenuhnya masuk ke UKS. Vanka tidak terkejut ketika melihat Marisa, karena Gio juga sudah memberitahu sebelumnya, bahwa yang mengantarnya ke UKS adalah Marisa.


"Makasih udah anterin Gio ke UKS." ucap Vanka kepada Marisa.


"Nggak perlu lo berterima kasih, gue akan lakuin apapun selama itu menyangkut tentang Gio." ucap Marisa tapi masih belum bersedia keluar dari tempat itu.


Vanka menghirup nafas dalam sembari memutar bola matanya. Dia mencoba menahan amarahnya, tidak mau terlibat percekcokan dengan Marisa di depan Gio. Karena takutnya Gio akan semakin pusing dengan itu semua.


"Kalau gitu, silahkan kembali ke kelas! Gio butuh banyak istirahat, biar gue yang jaga dia!" ucap Vanka dengan sopan.


"Siapa lo berani usir gue?" tapi tanggapan Marisa justru malah marah.


"Gue nggak usir lo, tapi yang dibutuhkan Gio saat ini ketenangan, jadi mohon kerja samanya." jawab Vanka tidak mau terpancing amarah.


"Kenapa nggak lo aja yang pergi?" Marisa melipat kedua tangannya di dada, dia tidak mau bergerak sedikitpun untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Oke kalau gitu, gue akan kembali ke kelas." Vanka hendak melangkah, tapi dengan cepat Gio bangun dan menahan tangannya. Gio bahkan terjatuh dari ranjang ketika mencoba menahannya.


"Jangan pergi!" mohon Gio kepada Vanka.


"Lo yang gue butuhin disini." ucap Gio.


Marisa kembali khawatir ketika melihat Gio terjatuh. Dengan kompak, Vanka dan Marisa membantu Gio berdiri dan kembali berbaring di ranjang.


Gio terus menggenggam tangan Vanka tanpa mau melepaskan sedikitpun. Gio memohon agar Vanka tetap menjaganya. Tidak diperbolehkan keluar dari tempat itu.


"Iya, gue disini kok." ucap Vanka dengan lembut. Vanka mengelus kepala Gio yang katanya terasa sakit.


"Jangan terlalu banyak berpikir, ingat kata dokter!" ucap Vanka dengan penuh kasih sayang.


Gio menganggukan kepalanya, dia juga mencium tangan Vanka yang terus dia pegang. "Gue sayang banget sama lo, gue mungkin nggak bisa hidup tanpa lo." ucap Gio juga dengan penuh kelembutan.


Tidak mempedulikan wajah Marisa yang sangat kesal karena melihat kemesraan mereka berdua. Karena marah, Marisa pun segera keluar dari ruangan itu. Hatinya sangat sakit melihat lelaki yang dia cintai bermesraan dengan wanita lain di depannya.


"Brengs*k, lo lihat aja Vanka, gue bakal hancurin lo.." gumam Marisa dengan hati yang sangat sakit. Dia sudah mencintai Gio sangat lama. Tapi tidak pernah merasakan kelembutan dan kasih sayang Gio seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2