
"Yank, kita harus ngomong!" pinta Defan akan tetapi Chika sama sekali tidak menghiraukan Defan. Bahkan Chika juga pindah tempat duduk. Yang awalnya dia duduk disebelah Defan. Sekarang dia menempati bangku Arina yang sudah lama kosong.
"Yank..."
Tidak mau meladeni Defan. Dia lebih memilih meninggalkan kelas. Dan terus diikuti oleh Defan yang ingin menjelaskan semuanya kepada Chika.
Defan ingin menjelaskan jika pertemuannya dengan Tasya tidaklah sengaja. Dan apa yang Chika dengar dan lihat, tidak seperti kenyataannya.
"Please!" Defan menarik tangan Chika.
"Udah nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Defan.. Udah ya jangan ngikuti gue terus!" pinta Chika dengan tersenyum. Seolah-olah Chika sudah tidak marah lagi kepada Defan. Hanya tidak mau bicara sama Defan.
"Tapi gue perlu jelasin, yank.. Apa yang lo denger itu tidak seperti itu."
Chika mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Defan berhenti bicara. Dengan tersenyum kecil, Chika menegaskan jika mereka sudah putus. Chika juga meminta supaya Defan tidak lagi mengganggunya dan memanggilnya yank.
"Gue nggak mau putus."
"Terserah." Chika meninggalkan Defan yang berusaha keras menahan amarahnya.
Defan sesorang yang pemarah. Tapi dia berusaha menahan amarahnya karena dia tahu dia bersalah.
Defan tidak menyerah begitu saja. Dia terus mengikuti kemana Chika pergi. Bahkan dia juga menunggu Chika di depan toilet wanita.
Chika masih belum terpengaruh. Dia tidak melarang Defan mengikutinya, tapi dia juga tidak menghiraukan Defan. Bahkan bersikap seperti orang asing.
Di kelas pun, Chika bersikap begitu dingin kepada Defan. Padahal dia masih bisa bercanda dengan temannya yang lain. Tapi saat Defan bersuara dia lebih memilih diam dan tak peduli.
Tentunya sikap Chika itu membuat Reza dan Dhanu mengerutkan kening. "Dingin banget yak, lo ngerasa dingin nggak sih, Def.." ucap Reza melontarkan perkataan sarkas.
"Kayaknya lo perlu berobat deh, orang panas gini." sahut Dhanu yang belum tahu apa maksud dari perkataan Reza.
"Bukan cuacanya yang dingin, tapi sikapnya yang dingin.." timpal Defan yang langsung tahu apa maksud dari pekataan Reza.
Tapi, tetap aja Chika tidak menghiraukan Defan sama sekali. Meskipun dia tahu jika Defan dan Reza sedang menyindirnya.
"Jangan salahkan jika kopimu dingin, dia pernah hangat tapi kau abaikan." ucap Dhanu bak seorang pujangga.
"Betul..." Chika langsung menyahut perkataan Dhanu.
"Sekarang mah nggak suka minum kopi, tapi lebih suka minum susu." giliran Chika menyindir Defan.
Defan langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian mendekati Chika. "Gue nggak suka kopi atau susu, yang gue suka lo." ucapnya yang membuat heboh teman-temannya yang lain.
Untung saja pelajaran siang itu gurunya sedang sakit. Jadi mereka hanya diberi tugas untuk mencatat saja, tanpa ada guru di kelas.
"Anj*r, Defan sekarang pinter ngegombal.." seru Reza masih kegirangan.
"Dia mah dari dulu emang sudah pinter ngerayu, kalau nggak mana mungkin dia punya banya cewek. Kalau Gio yang ngegombal baru tuh heboh, orang dia dari dulu nggak pernah deket sama cewek, dingun banget kalau sama cewek.." sahut Dhanu.
"Bener banget tuh, serius, sampai detik ini gue juga masih heran, pelet apa yang digunakan Jovanka sampai dia bisa buat si gunung es mencair dan bucin. Padahal gue mikirnya dulu, Gio nggak suka sama cewek, nj*r..." timpal Reza sembari terbahak.
__ADS_1
Tapi emang itu yang dulu Reza pikirkan. Dia khawatir jika ternyata sahabatnya itu tidak suka sama cewek. Reza takut jika Gio suka sama pria. Tapi dia bisa bernafas lega ketika tahu jika Gio dekat dengan seorang gadis. Dan lebih lega karena pada akhirnya Gio punya pacar dan bucin.
"Mulut lo.." Gio menoyor kepala Reza karena Reza bicara sembarangan.
"Serius, gue mikir sampai kesitu anj*r. Gue kira lo hombreng.." Reza mendapat jitakan kedua kalinya dari Gio.
Chika yang mendengar perkataan Reza pun ikutan tertawa. "Cantik banget sih.." ucap Defan yang berada tepat di sebelahnya.
"Cantik nggak jaminan cowoknya setia terus untuk apa cantik.." ucap Chika sembari tersenyum sinis.
"Gue nggak selingkuh. Gue cuma bantuin Tasya aja, karena mantannya kejar-kejar dia terus."
"Oh namanya Tasya, cantik kayak orangnya."
"Tapi masih cantikan lo, jauh.."
"Balik ke tempat duduk lo nggak!!" Chika mendorong Defan menjauh darinya.
"Kenapa lo nggak balik ke tempat duduk lo aja sih? Kayak kemarin, duduk disebelah gue.."
"Nggak, gue lebih enakan duduk sendirian kayak gini."
"Tapi awas ntar lo jadi kayak Arina.." bisik Defan karena dia tidak mau Dhanu mendengar perkataannya. Dia ingin menjaga perasaan Dhanu.
"Apaan sih, nggaklah.. Sana pergi!!" Chika kembali mendorong Defan menjauh.
****
Vanka bingung mencari baju yang akan dia pakai dinner nanti malam. Namun, dengan bantuan kedua sahabatnya, Akila dan Ira. Akhirnya Vanka menemukan sebuah baju yang sangat elegan ketika dia kenakan.
"Pantes nggak sih gue pakai baju kayak gini?" tanya Vanka yang merasa masih ragu mengenakan dress.
"Pantes, lo kelihatan cantik banget.." puji Ira yang terpukau dengan kecantikan sahabatnya ketika dirias.
Biasanya Vanka hanya mengenakan pakain casual tanpa riasan diwajah. Tapi begitu dia memakai dress dengan riasan wajah simple. Ira sangat terpukau, dan baru menyadari betapa cantiknya sahabatnya itu.
"Pantes aja kak Gio tergila-gila sama lo, karena lo emang cantik banget.." puji Ira lagi.
"Ah, Ira.. gue kan jadi malu.."
"Seriusan anj*r..."
"Makasih Ira, besok gue traktir lo.."
"Ira doang?" Akila merasa cemburu.
"Kalian berdua dong, kan kalian berdua sahabat gue..." ketiga remaja tersebut saling berpelukan.
"By the way, thanks ya udah bantuin gue ribet-ribet kayak gini.."
"Iyes.. semoga lancar ya makan malam hari ini.."
__ADS_1
"Tinggal nungguin kak Gio jemput.." ucap Ira.
"Nungguin apaan, dia udah di bawah daritadi.." sahut Akila.
"Serius?" Vanka dan juga Ira membulatkan matanya.
"Lihat aja dari balkon!" Vanka dan Ira pun berlari ke balkon yang ada di kamar Vanka.
Benar saja, dari balkon kamarnya Vanka melihat Gio yang sudah ada di depan rumahnya. Dengan memakai kemeja dan terlihat sangat tampan. Gio nyender di mobil bagian depan sembari menghisap rokok.
"Ganteng banget anj*r.." Ira juga terpukau dengan ketampana Gio. Baru kali ini juga dia melihat Gio berdandan seperti itu.
"Vibesnya kayak CEO-CEO tampan.." imbuh Ira.
Sedangkan darimana Akila tahu kalau Gio sudah menunggu lama. Karena Gio sempat mengirimi dia pesan yang mengatakan kalau Akila harus membuat Vanka menjadi cantik, dan juga bilang kalau dia sudah menunggu di bawah, tapi Gio melarang Akila memberitahu Vanka dulu sebelum Vanka selesai dandan.
"Buruan turun gih, kasihan dia udah nunggu lama!" pinta Akila.
Vanka menganggukan kepalanya. Dengan menenteng tas kecil Vanka pamitan kepada ayah dan mamanya. Dan saat kakaknya melihatnya, Rakha sempat kaget melihat penampilan Vanka.
"Mau kemana lo?" tanya Rakha.
"Kepo..." bukannya menjawab, Vanka malah mengatai kakaknya kepo.
"Pulang jangan malam-malam!" pinta ayahnya.
"Iya yah.."
"Salam buat tante Ines dan paman Shaka ya, Van. Juga salam buat Ernes.." sahut Aiko yang sepertinya juga kangen dengan keluar pamannya.
"Beres kak.." Vanka kemudian keluar bersama Akila dan Ira.
Ketika Gio melihat Vanka. Dia tidak bisa berhenti menatap Vanka. Gio langsung membuang rokok yang baru saja dia hisap dan masih setengah. Matanya tidak bisa berkedip melihat betapa cantiknya kekasih itu.
"Gimana, cantik kan?" tanya Akila dengan bangga.
"Banget.." gumam Gio masih terpukau dengan kecantikan Vanka.
"Jangan gitu ngelihatinnya, gue jadi malu.." Vanka mencubit tangan Gio.
Saat Gio menatapnya, jantung Vanka berdegup dengan sangat kencang. "Yuk!" ajak Vanka.
Gio membukakan pintu mobil untuk Vanka. Tapi, tidak lupa Vanka berpamitan kepada Akila dan Ira juga mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya dandan.
"Gue berangkat yak?!" Vanka memeluk Akila dan juga Ira secara bergantian.
"Have fun ya!" ucap Akila dan Ira.
"Thanks ya," ucap Gio juga berpamitan.
"Jangan lupa traktirannya besok.."
__ADS_1
"Beres.." jawab Gio sembari mengacungkan ibu jarinya. Kemudian dia masuk ke mobil dan membawa kekasihnya ke restoran dimana papa, mama dan kakaknya sudah menunggu.