Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
101


__ADS_3

Bukan hanya Gio yang terpesona dengan kecantikan Vanka. Tapi juga kedua orang tua dan kakaknya. Mereka juga terpukau dengan kecantikan dan gaya feminim Vanka. Biasanya kan Vanka berpenampilan cuek dan seperti laki-laki.


"Vanka? Cantik banget kamu sayank.." puji Ines sembari menarik tangan Vanka agar mendekat.


"Mirip kayak tante pas masih muda, iya kan pa?" demi membahagiakan istrinya, Shaka menganggukan kepalanya.


Makan malam keluarga tersebut berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Selain makan, mereka juga saling ngobrol layaknya sebuah keluarga bahagia.


"Kamu nggak mau kenalin pacar kamu ke mama dan papa?" tanya Ines kepada putra sulungnya.


"Ernes nggak punya pacar, ma."


"Gadis yang waktu itu jengukin mama?"


"Itu temen Ernes, dan dia juga sudah punya pacar.." jawab Ernes dengan jujur. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh mamanya.


"Kak Ernes nungguin Arina kok, ma.." sahut Gio.


"Eh, nggak, ngaco banget lo.. Dia kan suka sama lo.." bantah Ernes.


"Tapi dulu kan dia suka sama lo, dan lo juga suka kan?"


"Nggak ada. Gue cuma anggep dia adik, sama kayak lo.. Jangan ngaco deh!" bantah Ernes kembali.


Mendengar nama Arina disebut. Ines seketika terdiam. Dia sebenarnya juga merasa kasih dengan kondisi Arina sekarang. Akan tetapi, Ines juga sangat menyayangi anaknya. Dan juga, Ines tahu rencana Rania ingin menjodohkan Arina dengan Gio. Semua demi harta.


"Oh ya Gi, gimana keadaan Arina?" tanya Ines.


"Nggak tahu ya ma, tapi katanya Dhanu, Arina sudah nggak bisa diajak bicara."


"Kamu nggak mau jengukin dia? Siapa tahu kalau sama kamu, dia mau ngomong.." sahut Shaka.


"Dhanu sih bujuki aku terus pa, tapi aku-nya yang masih belum mau."


"Kenapa?" giliran Ines yang bertanya.


Gio terdiam. Tangan kirinya menggenggam tangan Vanka dengan sedikit melirik Vanka. "Gio harus jaga perasaan Vanka. Gio nggak mau kecewain Vanka." jawab Gio yang membuat Vanka seketika menatapnya.


Pasalnya, Vanka saja tidak tahu jika Dhanu meminta Gio untuk menjenguk Arina. Karena Gio tidak memberitahunya juga.


"Emang Dhanu minta lo buat jengukin Arina?" Gio menganggukan kepalanya.


"Terus kenapa nggak mau?" tanya Vanka lagi.


"Karena gue takut bikin lo kecewa. Gue harus jaga perasaan lo.." Gio semakin mempererat genggamannya.

__ADS_1


"Gi, gue nggak pernah larang lo buat jengukin Arina, dia juga temen lo. Yang penting buat gue mah, hati lo tetep buat gue." ucap Vanka yang membuat Gio tersenyum senang.


"Gimana kalau besok gue temenin lo jengukin Arina?" imbuh Vanka.


"Kalau lo mau nemenin, gue mau.." Gio sangat bahagia karena Vanka mau menemaninya menjenguk Arina. Seperti yang Vanka bilang, Arina juga adalah teman mereka.


"Lo juga harus ikut kak, siapa tahu begitu lihat lo, Arina bisa langsung sembuh.." ucap Gio menggoda kakaknya.


"Apaan sih dek,.." Ernes tentu saja sangat sewot.


"Oh ya kak, dapat salam dari kak Aiko.." sahut Vanka yang membuat bibir Ernes mengembang.


"Salam balik ya! Ingetin dia jangan sampai telat makan, dan harus rutin minum vitamin." kalau tentang Aiko, Ernes memang terkesan begitu perhatian.


"Perhatian banget lo, kak Rakha pasti juga sudah ngingetin kak Aiko untuk itu semua.." ucap Gio kembali mengolok kakaknya.


"Lah yang di dalam perut Aiko itu kan keponakan kita juga, kita juga harus ngingetin dia dong.." Ernes menemukan alasan yang pas untuk mengelak agar tidak membuat kecurigaan bagi yang lain. Termasuk papa dan mamanya.


"Kapan-kapan main aja kak ke rumah, kak Rakha pasti seneng banget kalau kak Ernes main ke rumah." ucap Vanka.


"Iya, kapan-kapan gue mampir.."


Begitu makan malam selesai. Gio mengantar Vanka pulang. Tapi, Gio mengajak Vanka mampir di taman yang tidak jauh dari rumah Vanka.


Gio terus menggandeng tangan Vanka sepanjang jalan-jalan di taman tersebut. Sama sekali tidak mau melepaskan tangan kekasihnya.


"Van, nikah yuk!" seketika Vanka menoleh menatap Gio.


"Apaan sih, kita masih kecil dan gue juga belum siap nikah.." Vanka membuang pandangannya.


"Kenapa sih ngebet banget pengen nikah?"


"Gue nggak mau pisah sama lo.."


"Terus kalau nikah emang nggak bisa pisah?"


"Gini ya Gi.. Kata ayah, nikah itu nggak cukup hanya bermodalkan cinta, tapi juga harus siap secara mental. Nikah tuh bukan akhir dari perjalanan cinta, tapi awalnya.. Gitu kata ayah.." Vanka memberi pengertian untuk Gio mengenai pernikahan.


"Kalau lo emang takut kehilangan gue. Ya, lo harus berusaha untuk selalu membahagiakan gue. Sebenarnya mau cewek itu simple. Selain lo harus setia dan perhatian. Lo juga harus rutin kasih transferan.." diakhir kata, Vanka pun tertawa.


"Nggak, nggak, nggak cuma bercanda.. Cewek tuh yang penting nyaman dan cowoknya setia. Yakin deh, pasti si cewek jadi bucin." imbuh Vanka.


"Van, gimana kalau tiap bulan gue kasih lo uang? Ntar lo kumpulin, dan kalau udah cukup bisa buat modal kita usaha bersama.."


"Emang mau usaha apa?" tanya Vanka.

__ADS_1


"Gimana kalau fashion? Jaman sekarang kan apa-apa bisa online. Untuk sementara kita melayani online, kalau modal kita cukup, kita bisa buka toko, gimana?"


"Kita berdua?"


"Iya. Nanti lo yang pegang keuangan. Kan lumayan kalau kita nikah nggak usah minta biaya dari orang kita.."


"Boleh juga tuh.. Kalau kita putus kan, uangnya bisa buat gue semua.."


"Uhm..." tanpa peringatan, tiba-tiba Gio mencium Vanka di tempat umum tersebut.


Vanka memukul tangan Gio dengan cukup keras. "Hah..."


"Lo gila ya.. Malu tahu nggak, banyak orang juga.." omel Vanka karena Gio selalu saja seperti itu.


"Kalau lo ngomongin soal putus lagi, gue akan lakuin lebih dari ini.." ancam Gio sembari mengusap air liurnya yang ada di pipinya.


"Gila lo.."


"Iya, tergila-gila sama lo." sahut Gio cepat.


"Van, tapi serius, lo cantik banget tahu nggak dandan kayak gini."


"Jadi biasanya nggak cantik?"


"Cantik juga, tapi malam ini lebih cantik.. Bikin gue pengen nikahin lo.."


"Hais,, itu sih karena lo yang mau, bukan karena gue cantik.." Vanka mendorong pelan kepala Gio.


Gio tersenyum dan menarik Vanka ke dalam pelukannya. Vanka pun memeluk Gio balik. Sungguh malam yang sangat indah. Suasana malam yang cerah dan bertabur bintang yang gemerlap menambah keromantisan sejoli tersebut.


"Gi, emang bener kalau Arina gila?" tanya Vanka masih memeluk Gio.


"Maksud gue, gangguan mental.." Vanka meralat kata-katanya, karena kata gila menurut Vanka terlalu kejam.


"Kata tante Lina sih dulu pernah dirawat. Tapi kondisi sekarang, gue belum tahu pasti. Cuma denger dari Dhanu.." jawab Gio tanpa melepaskan pelukannya.


"Tapi gue beneran salut sama Dhanu. Dia tulus banget anj*r, beruntung banget Arina bisa dicintai Dhanu. Kalau itu cowok lain, gue nggak yakin dia mau menerima kondisi Arina seperti itu."


"Emang gokil tuh orang. Tapi gue berharapnya dia mendapat wanita yang juga cinta sama dia. Sayang kan cowok setulus dia nggak dapat yang terbaik." bukan mau mengolok Arina. Tapi Gio tahu Arina sama sekali tidak mencintai Dhanu. Sedangkan yang Gio harapkan, Dhanu mendapat wanita yang juga mencintainya. Jadi ketulusan cintanya ada balasannya.


"Seandainya Arina adalah lo, gue juga akan seperti Dhanu.. Itulah lelaki kalau sudah mencintai wanita, dia akan lebih dari gila. Dari yang dingin bisa jadi lembut dan hangat. Yang nakalnya minta ampun, bisa jadi baik."


"Tapi jangan gue juga dong yang jadi contoh!!" Vanka mencubit pinggang Gio.


"Kan cuma perumpamaan. Mau cium lagi?"

__ADS_1


"Nggak.." dengan cepat Vanka menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang lebih bebas.


"Macem-macem gue hajar lo.." mendengar ancaman Vanka. Gio bukannya takut tapi malah terbahak cukup keras.


__ADS_2