
Gio ke sekolah bersama dengan Arina. Dia dimintai tolong tantenya Arina untuk menemani Arina karena kan hari ini hari pertama Arina masuk ke sekolah yang sama dengan Gio. Arina mendaftar ke sekolah tersebut melalui online sebelumnya.
Arina menjemput Gio di rumahnya. Gio masih belum diperbolehkan bawa motor sendiri oleh mamanya. Karena khawatir tiba-tiba akan merasakan pusing dijalan, dan itu sangatlah berbahaya.
Dengan sabar Arina menunggu Gio yang masih menikmati sarapannya. Ines mengajaknya sarapan tapi Arina mengatakan jika dia sudah makan. Selain sabar menunggu, Arina juga terus memperhatikan Gio. Sejak dulu, dia memang sudah terpesona dengan ketampanan Gio.
Wajah dingin lelaki itu membuat ketampanan Gio semakin makin. Definisi semakin dewasa semakin meresahkan. Entah kenapa, Arina suka sekali dengan wajah dingin Gio.
Menurutnya, wajah dingin Gio justru membuat Gio semakin menawan. Apalgi bibirnya yang tipis dan juga hidungnya yang sedikit mancung menambah ketampanan Gio.
"Lo nggak mau makan dulu?" tanya Gio dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Nggak, gue udah makan tadi." jawab Arina.
Karena tidak enak, Gio akhirnya membawa rotinya dan pamit kepada papa dan mamanya juga kakeknya. Dia makan sambil jalan.
"Dihabisin dulu Gio!" pinta Virsha.
"Iya kek, ini juga mau dihabisin. Aku berangkat dulu ya kek!" Gio berpamitan.
Ines menatap senang saat Arina dan Gio berjalan bersama. Dia merasa jika Gio dan Arina itu sangatlah cocok dan serasi. Lalu muncullah ide untuk menjodohkan mereka berdua. Keinginan itu Ines utarakan kepada suaminya.
Akan tetapi, Shaka menentang ide Ines tersebut. Shaka tidak mau membuat anak-anaknya bersedih. Dia tidak ingin melukai perasaan Gio dengan keputusan sepihaknya. Apalagi Gio sudah punya kekasih.
"Nggak, papa menolak ide itu. Kamu kenapa sih, Nes? Kamu nggak kasihan sama Gio? Biarkan dia memilih apa yang menurut dia baik untuk dia!" Shaka bener-bener tidak mengerti kenapa istrinya bisa seperti ini sekarang.
"Kamu yang kenapa? Kamu nggak lihat luka di kepala Gio? Nggak ingat wajah babak belur Gio tempo hari? Semua itu karena wanita itu..." Ines berkata dengan emosi. Dia merasa tidak ada yang berada dipihaknya, bahkan suaminya sendiri pun menentangnya.
"Erlan bener, Nes. Biarin anak-anak memilih apa yang menurut mereka baik untuk mereka sendiri! Lagipula Gio masih kecil, biarin dia mencari jati dirinya dulu!" sahut Virsha yang juga tidak setuju dengan ide menantunya.
"Tapi pa, sebagai seorang ibu, Ines cuma ingin yang terbaik untuk Gio." jawab Ines masih ngeyel.
"Papa dan juga Erlan juga ingin Gio mendapat yang terbaik. Biarin Gio memilih sendiri, karena kan Gio yang menjalani hidupnya. Lagipula belum tentu apa yang menurut kita baik, itu juga baik untuk Gio." timpal Virsha. Sebagai kakek, Virsha tentunya ingin melihat anak dan cucunya bahagia. Hanya saja, Virsha tidak mau memaksakan kehendaknya. Itu akan melukai perasaan anak itu.
"Papa bener, sayank. Biarin Gio memilih sendiri." Shaka meraih tangan istrinya yang seketika terdiam. Dia tahu istrinya sedang kesal tapi masih berusaha menahannya, karena tidak mau melawan papa mertuanya.
__ADS_1
Sementara Ernes tidak membuka suara sama sekali. Meskipun dia juga menentang ide mamanya. Tapi Ernes memilih untuk diam adalah emas.
"Aku berangkat dulu ya!" Shaka beranjak dari tempat duduknya. Diikuti oleh Ines yang mengantar Shaka sampai ke depan mobilnya.
Ines memilih untuk tidak melawan papa mertuanya dan juga suaminya. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan tetap maju untuk rencananya.
Shaka berpamitan sembari mengecup kening Ines. "Nanti siang anterin makanan ke kantor ya! Aku pengen banget makan cumi asam pedas!" ucap Shaka sebelum melajukan mobilnya.
"Iya.." jawab Ines dengan tersenyum. Sudah lama juga dia tidak datang ke kantor suaminya.
"Aku berangkat dulu, love you.." Ines tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia merasa senang, meskipun sudah membina rumah tangga cukup lama. Tapi suaminya masih saja romantis. Meskipun hanya ucapan aku cinta kamu, tapi itu sangat membuatnya senang.
****
Di sekolah, kehadiran Arina membuat Reza dan Dhanu heboh. Mereka juga mengenal Arina sebelumnya. Kakak Arina, Aleno, adalah teman nongkrong mereka. Juga, mereka satu sekolah waktu di sekolah menengah pertama.
"Woii Rin, kapan lo balik??" tanya Reza melompat dari motornya, mendekati Arina yang baru saja melangkahkan kakinya di halaman sekolah.
"Hai Reza, hai Dhanu," sapa Arina kepada Reza dan Dhanu yang terlihat senang melihat Arina kembali.
"Kapan lo balik?" Reza mengulangi pertanyaannya lagi.
"Kangen banget, gimana kabar lo? Kenapa lama nggak kasih kabar?" sahut Dhanu.
"Gue baik.."
Gio masih sibuk dengan ponselnya. Sepertinya dia sedang menghubungi Vanka. Tak lama kemudian, mobil Vanka memasuki sekolah mereka. Senyuman diwajah Gio semakin lebar tatkala melihat kekasihnya keluar dari mobil bersama dengan Akila.
Akan tetapi, Vanka dan Akila berpura-pura tidak melihat Gio dan kawan-kawannya. Mereka berdua jalan begitu saja tanpa menoleh dan menyapa.
"Suit..suit cewek..." Gio menggoda Vanka dan Akila dengan genit.
Vanka menoleh, "siapa ya? jangan sok kenal.." ucap Vanka sembari melengos.
Gio yang gemes pun mulai terbahak. Dia mengikuti Vanka lalu memeluknya dari belakang. "Pacar siapa sih ini, kok gemes banget.." ucapnya masih memeluk Vanka.
__ADS_1
"Nggak punya pacar, jomblo happy.." jawab Vanka yang membuat Gio kesal.
Gio menarik pundak Vanka. Lalu membalik tubub Vanka supaya menghadapnya. "Jomblo? Terus gue siapanya lo?" tanyanya sedikit kesal.
"Ya nggak tahu kok tanya saya... Emang lo siapanya gue?" tanya balik Vanka.
"Gue?? Lelaki idaman lo.." jawab Gio dengan cepat.
"Ish, ngaku-ngaku.."
Cup...
Gio mengecup bibir Vanka di depan teman-temannya. Vanka kaget dengan apa yang dilakukan Gio. Vanka membulatkan matanya sembari menutupi bibirnya yang dikecup oleh Gio tadi.
Wajahnya pun memerah karena malu. Apalagi banyak mata yang menatap mereka. Vanka lalu memukul lengan Gio dengan cukup keras. "Lo kenapa sembarangan gitu?" ucap Vanka sembari menggertakan giginya.
"Kalau lo tidak mengakui gue sebagai pacar lo lagi, gue akan lakuin yang lebih dari ini." Gio menjilat bibirnya sendiri.
"Dasar tidak tahu malu.." wajah Vanka semakin memerah. Dia lalu balik badan dan meninggalkan Gio sembari menarik tangan Akila.
Gio yang senang melihat Vanka malu-malu, terus mengikuti Vanka tanpa teringat Arina lagi. Tentu saja itu membuat Vanka risi. Vanka meminta Gio supaya jangan mengikutinya terus. Tapi Gio tidak mau, dia terus mengikuti Vanka bahkan sampai ke toilet.
"Nggak boleh masuk! Ini toilet cewek.." Akila menahan Gio yang hampir saja masuk ke dalam toilet wanita tersebut.
Gio tidak jadi masuk, tapi dia tetap menunggu di depan toilet. Begitu Vanka keluar dari kamat mandi, Gio langsung menariknya ke gudang yang ada di samping toilet.
Gio menatap Vanka dengan terus menggenggam tangan Vanka. Tanpa berkata tapi terus menatapnya membuat Vanka jadi salah tingkah.
"Lepasin Gio!" pinta Vanka sambil menoleh karena menghindari tatapan mata Gio.
"Akui dulu kalau gue, pacar lo!" ternyata Gio masih nggak terima dengan perkataan Vanka sebelumnya yang menyebut jika Vanka seorang jomblo happy.
"Iya, lo pacar gue yang paling ganteng.." ucap Vanka ingin segera keluar dari tempat itu, karena dia mendengar Akila memanggil-manggil namanya.
"Udah puas kan-?"
__ADS_1
"Uhm..." Gio tanpa peringatan mencium bibir Vanka. Membuat Vanka jadi kaget.
Vanka teringat ciuman pertamanya juga di tempat itu. Dia kemudian memejamkan matanya, menikmati ciuman Gio yang lembut dan mendominasi.