Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
38


__ADS_3

Hamparan pasir putih terbentang luas, ombak terlihat saling berkejaran, suara gemuruh air laut menenangkan jiwa.


Seorang wanita duduk di bawah pohon kelapa, mengembangkan senyum karena tingkah konyol teman-temannya.


Disaat teman-temannya saling kejar diatas hamparan pasair tersebut, Vanka memilih untuk duduk dan hanya melihat saja. Vanka sangat suka dengan keindahan alam seperti pantai dan lautan. Ada ketenangan tersendiri ketika mendengar gemuruhnya ombak yang bergulung-gulung.


Apalagi pantai adalah tempat yang cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan. Saatnya untuk melepas penat sejenak.


"Nih," seseorang memberinya kelapa muda. Vanka menoleh, Gio pun tersenyum kepadanya.


Kemudian Gio ikut duduk bersama dengan Vanka. "Lo nggak ikut main sama mereka?" tanya Vanka sembari menerima kelapa muda yang masih berwujud glundungan itu.


"Nggak ah, gue disini aja sama lo." jawab Gio.


Saat Vanka meminum kelapa tersebut menggunakan sedotan, Gio tersenyum senang. "Enak kan?" Vanka menganggukan kepalanya.


"Iyalah, orang sedotan itu bekas gue," ucap Gio dengan tersenyum jahil.


Vanka seketika menyemburkan minuman yang sudah ada di mulutnya. Dengan cepat meletakan kelapa itu lalu memukul lengan Gio.


"Jijik tau nggak.." ucap Vanka dengan marah. Salah sendiri sih tidak lihat dulu Gio hanya membawa satu kelapa.


"Jijik apa? Orang lo nikmati banget tadi." ucap Gio yang membuat Vanka semakin kesal.


"Lagi pula kita kan juga pernah-"


"Jangan diterusin!!" Vanka yang malu lalu mendorong Gio menjauh.


Wajah Vanka sudah memerah dibuatnya. Dia teringat first kiss-nya dengan Gio beberapa waktu yang lalu.


"Hiya, hiya, merah niye mukanya,, keinget waktu itu ya?" goda Gio lagi semakin membuat Vanka malu.


Vanka yang malu kemudian berdiri dan meninggalkan Gio untuk gabung bersama teman-temannya yang lain. Tapi, tentu saja Gio terus mengikutinya dengan terus menggodanya.

__ADS_1


"Gio, lo bisa nggak sih jangan ikutin gue mulu, gue risi!" seru Vanka yang benar-benar kesal karena Gio terus mengikutinya.


"Risi apaan, gue lihatnya lo seneng-seneng bae.." sahut Reza yang langsung diajak tos oleh Gio.


"Seneng pala lo!!" Vanka menginjak kaki Reza membuat Reza kesakitan.


"Kampret lo ya, aw," Reza mendesis menahan sakit di kakinya.


"Cewek lo noh, Gi. Anj*r, sakit banget c*k.." erang Reza sembari memegangi kakinya yang sakit.


Vanka menarik tangan Akila dan mengajaknya berlarian di hamparan pasar tersebut. Keduanya sangat menikmati suasana pantai yang teduh tersebut.


Karena merasa capek, keduanya memilih duduk dan menunggu ombak datang menyapa mereka. "Van, Donat bilang akan baikan sama Gio dan teman-temannya, asalkan gue mau deket lagi sama dia." ucap Akila mengutarakan kegelisahan beberapa hari ini.


Sebenarnya, Akila juga ingin curhat ke Vanka. Tapi Vanka juga sedang punya masalah, jadi Akila memilih untuk menunda curhatnya. Dan sekarang, Akila merasa Vanka sudah lebih baik. Makanya Akila mulai berani curhat ke Vanka lagi.


"Itu semua tergantung lo sih, Kil. Kalau lo masih mau sama dia, ya lo terima aja dia buat deket lagi sama lo. Kalau nggak, mending nggak usah deket deh, takutnya Donat akan merasa dipermainkan oleh lo." ucap Vanka memberi masukan untuk sahabatnya.


"Gue juga bingung." Akila belum tahu apa yang sebenarnya hatinya inginkan. Dia masih bimbang dengan apa yang akan dia putuskan.


"Masalah hidup itu seperti ombak di tepi pantai. Ia akan datang, tapi pada saatnya ia akan pergi." imbuh Vanka sembati terus memandang lurus ke lautan lepas.


"Temen gue sekarang ahli sastra.." olok Akila yang membuat keduanya tertawa bersama.


....


Jauh di atas karang besar yang ada di pantai tersebut. Sepasang kekasih sedang menikmati deburan ombak dan percikan air yang menyembur karena menabrak karang.


Chika duduk di depan dan Defan memeluknya dari belakang. Keduanya nampak sangat menikmati pemandangan yang indah yang tersuguhkan di depan mata.


Bukit-bukit yang berada di sebelah kanan dan kiri pantai tersebut. Karang yang berdiri kokoh di sepanjang pantai tersebut. Lautan biru yang terbantang luas di depan mereka.


"Def, gue bahagia banget. Dua tahun sudah kita menjalani hubungan ini, dan lo masih tetap sama, tetap mencintai gue." ucap Chika sembari mendongakan kepalanya dan menatap Defan yang terlihat ganteng dengan memakai kacamata hitam.

__ADS_1


Defan menundukan kepalanya sedikit, dia tersenyum menatap Chika. "Cinta gue ke lo akan tetap sama, malah akan bertambah." ucap Defan.


"Janji jangan pernah tinggalin gue?" Chika mengulurkan tangannya memeluk Defan dengan erat.


"Iya.." Defan juga memeluk kekasihnya dan mengecup kening Chika dengan lembut.


Teriknya matahari tidak mereka rasakan. Merasa seperti dunia milik mereka berdua. Tidak mempedulikan orang lain lagi, yang ada hanya kita berdua. Gue dan lo.


"Lo mau nggak makan malam sama orang tua gue?" tanya Defan.


Sudah sangat lama Chika tidak pernah datang ke rumah Defan. Dulu dia sering sekali main ke rumah Defan dan bertemu dengan orang tua Defan.


"Mau dong, tapi ntar papa lo marah nggak kalau lo punya pacar?" dulu Alfarezi belum tahu kalau Defan dan Chika pacaran. Defan takut memberitahu papanya, takut papanya akan melarang karena dia masih kecil waktu itu.


"Enggaklah, papa gue kan pernah muda, dia pasti paham kok. Nanti kalau dia marah, kan ada mama, papa gue takut sama mama gue soalnya." ucap Defan dengan terbahak.


Sejauh yang Defan tahu, papanya takut sama mamanya. Karena setiap kali mamanya ngomong, papanya tidak berani membantah.


Sebenarnya itu bukan karena takut. Tapi lebih ke sayang. Karena Alfarezi sangat mencintai Kimora, dia tidak ingin membuat istrinya kecewa. Jadi, apapun yang Kimora bilang, asalkan itu tidak menyalahi norma yang ada, Alfarezi tidak akan membantahnya.


"Papa lo pasti cinta banget sama mama lo? Gue bisa lihat itu." ucap Chika.


"Katanya sih, mereka dulu dijodohin lho. Papa gue juga sempat nolak perjodohan itu, tapi ternyata cinta menyatukan mereka." Defan pernah mendengar cerita mama dan papanya dari Kimora sendiri.


"Papa gue bucin banget tahu orangnya. Kalau mama udah bilang A, papa nggak akan berani bilang B. Apalagi kalau mama ngambek, papa udah kayak ABG yang sibuk membujuknya." ucap Defan dengan tertawa saat teringat papa dan mamanya yang pernah ribut karena hal sepele. Bukannya takut orang tuanya akan bertengkar, tapi Defan malah terbahak melihat tingkah konyol papanya yang berusaha membujuk mamanya.


Defan juga sangat mengagumi papanya. Meskipun Defan sering melihat papanya marah dan kejam kepada anak buahnya. Tapi kalau dengan keluarga, Alfarezi akan menjadi sosok yang berbeda. Dia akan menjadi seorang suami dan papa yang sangat lembut dan perhatian.


Defan juga pernah mendengar cerita papanya dari Boy dan Ivan yang sampai saat ini masih setia dengan Alfarezi. Kata mereka, meskipun papanya pemarah dan semena-mena, tapi sebenarnya papanya adalah orang yang sangat baik. Itu terbukti dengan betapa setianya Boy dan Ivan mendampingi perjalanan hidup Alfarezi.


"Papa lo ganteng ya?" perkataan Chika itu membuat Defan seketika menatap Chika dengan lekat.


"Kalau nggak ganteng, masa anaknya bisa seganteng ini." tanpa peringatan Defan mencium Chika yang ada di depannya.

__ADS_1


Tanpa memperhatikan orang lain yang ada di bawah, mereka berciuman dengan begitu mesra dan membara. Cukup lama dan membuat keduanya hampir kehabisan nafas.


"Jangan puji cowok lain di depan gue, meskipun itu papa gue sendiri." ucap Defan menunjukan kepossesifannya terhadap Chika.


__ADS_2