
"Pacar gue hebat bener dah.." puji Gio setelah Vanka mengalahkan kelasnya dengan selisih skor cukup jauh.
"Lo gimana sih Gi, dia ngalahin kelas kita, malah lo puji-puji, makin besar kepala ntar dia.." sahut Marisa yang masih merasa kesal karena kalah dari Vanka. Belum lagi Gio yang selalu berteriak memberi dukungan ke Vanka dan sekarang malah memuji-muji Vanka.
"Masalah? Ini kan juga cuma permainan, kalah atau menang itu biasa." Gio tidak suka dengan kearoganan Marisa.
"Capek nggak? Makan yuk gue traktir!" ajak Gio. Vanka menganggukan kepalanya, setelah kemudian dia berjalan bersama Gio dan teman-temannya menuju kantin.
Di kantin, Arina sudah lebih dulu menunggu disana. Arina berseru memanggil Gio dan melambaikan tangannya. "Gio..." serunya.
Mendengar namanya dipanggil, Gio seketika menoleh. Dia mendapati Arina yang sedang makan seorang diri, melambaikan tangan kepadanya.
Vanka yang ada disebelah Gio memicingkan matanya. Dia tahu wanita itu tadi pagi di halaman sekolah. Tapi tidak menduga jika murid baru itu kenal dengan Gio. Dipikirnya, tadi pagi itu hanya tidak sengaja bareng dan bertanya. Tapi ternyata memang kenal dengan Gio dan teman-temannya.
"Itu siapa Van?" tanya Akila juga berpikiran sama seperti Vanka. Dia juga tidak menyangka jika anak baru tersebut kenal dengan Gio.
"Nggak tahu gue.." Vanka menggelengkan kepalanya.
"Gue kenalin yuk!" Gio menggenggam tangan Vanka lalu mengajak Vanka mendekati Arina.
"Dia siapa?" tanya Vanka.
"Temen gue," Gio menjawab dengan santai.
Gio memperkenalkan Vanka kepada Arina. "Kenalin ini pacar gue yang paling gemesin.." ucap Gio sembari mencubit pipi Vanka. Gio terlihat mesra di depan Arina.
"Vanka.."
"Arina teman dekatnya Gio.. Kalau lo mau tahu tentang Gio, tanya aja ke gue." ucap Arina dengan gaya seperti ingin sekali akrab dengan Vanka.
Melihat reaksi Arina yang sangat antusias dan ingin dekat dengan Vanka, membuat Gio tersenyum senang. Selain dia masih bisa terus bersama Vanka. Gio juga masih bisa menepati janjinya kepada almarhum saudara kembarnya Arina, Aleno.
"Melihat vibes mereka, udah kayak istri tua ingin dekat dengan istri muda." celetuk Reza yang membuat Vanka mengerutkan keningnya.
"Mulut lo kalau ngomong suka ngaco.." Gio dengan cepat mendorong kepala Reza sebelum Reza berkata aneh-aneh lagi.
Vanka belum tahu siapa Arina sebenarnya. Gio tidak ingin membuat Vanka salah paham dengan perkataan random Reza.
"Iya ih, lo kalau ngomong emang nggak ada rem.." Dhanu ikutan menjitak kepala Reza. Dia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Vanka ketika Reza mengatakan istri tua dan istri muda.
"Mendingan lo pesen makanan! Tadi lo bilang kalau kelas kita kalah, lo bakal traktir kita." Dhanu mendorong Reza menuju tempat pemesanan makanan.
"Iya, iya, gue traktir timbang traktir air mineral doang." ucap Reza berjalan ke depan.
__ADS_1
"Anj*r, nggak mau gue kalau cuma air mineral. Itu gue bisa beli sendiri." gerutu Dhanu yang tidak mau ditraktir air mineral oleh Reza. Dia meminta Reza membelikan makanan dan minuman yang biasa dia pesan.
"Bawel banget sih lo kayak cewek.." meskipun mengeluh, tapi Reza tetap menepati janjinya untuk mentraktir Dhanu dan teman-temannya.
Vanka duduk semeja dengan Gio dan Arina. Vanka menatap tajam Arina yang sepertinya memiliki perasaan khusus ke Gio. Arina selalu memperhatikan Gio dan terkesan ingin menunjukan perhatiaannya ke Vanka.
"Eh Gi, jangan di makan dulu! Itu ada taoge-nya, lo kan nggak suka makan taoge.." Arina melihat ada taoge di soto yang hendak Gio suapkan ke mulutnya.
"Eh iya. Masih inget aja lo kalau gue nggak suka taoge.." tanya Gio dengan tersenyum.
"Iyalah, gue selalu inget." ucap Arina sembari memindahkan makanannya ke mangkok Gio.
"Daging ayam kan makanan kesukaan lo!" ucapnya seolah ingin menunjukan kepada Vanka jika dia lebih tahu tentang Gio dibanding orang lain.
"Udah, lo makan aja punya lo!" Gio meminta Arina agar tidak lagi memberikan daging ayam miliknya ke mangkok Gio.
"Buat lo aja, gue udah kenyang kok.." Arina dengan tersenyum manis menatap Gio, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari wanita yang ada disebelah Gio.
Vanka hanya tersenyum kecil, lalu dia berdiri dari tempat duduknya. "Mau kemana?" tanya Gio yang masih menikmati makanannya, sembari menahan tangan Vanka.
"Balik ke kelas, gue udah kenyang.." jawab Vanka dengan tersenyum yang dipaksa.
Vanka sempat melirik Arina yang diam-diam tersenyum saat melihatnya kesal seperti itu. Dari situ Vanka yakin jika wanita bernama Arina itu memiliki perasaan kepada Gio. Dan dia dengan sengaja berusaha membuatnya kesal.
"Tapi makanan lo belum habis. Habisin dulu lah!" pinta Gio yang sebenarnya tidak ingin Vanka pergi.
"Kenapa? Makanannya nggak enak? Tapi ini kan makanan kesukaan lo, nasi dengan telur dadar.." ucap Gio merasa aneh.
"Atau mau pesan yang lain?" imbuhnya.
"Nggak." jawab Vanka dengan singkat.
Gio yang merasa aneh dengan perubahan Vanka pun mulai berdiri dan menatap kekasihnya itu. "Ada apa, hm? Lo mau makan apa?" tanyanya dengan lembut sambil menarik dagu Vanka. Gio menatap lembut ke arah Vanka.
"Nggak mau makan apa-apa.. Kecuali...."
"Kecuali apa?"
"Kecuali lo suapin gue!" Vanka melipat kedua tangannya di dada dengan tersenyum.
Gio yang awalnya bingung akhirnya paham jika Vanka ingin bermanja kepadanya. Gio langsung menarik Vanka supaya kembali duduk. Kemudian dengan lembut dia menyuapi kekasihnya itu.
Arina pun terbelalak. Padahal dia sudah sangat percaya diri bahwa dia bisa membuat Vanka cemburu. Tapi siapa sangka jika endingnya Gio dan Vanka malah semakin mesra-mesraan di depannya. Mana Gio lembut banget lagi nyuapin Vanka.
__ADS_1
Arina hanya bisa berpura-pura tersenyum. Tapi sesaat kemudian dia melirik Vanka dengan kesal.
"Yaelah manja banget sih lo!!" Reza mendorong kepala Vanka.
"Tuh yank, si Reza nakal..." Vanka mengadu kepada Gio dengan tingkah kekanakan. Dan itu semakin membuat Gio gemas melihatnya.
"Za, lo berani sentuh dia lagi, gue hajar lo.." Gio seolah seperti bapak yang ingin membuat anaknya senang.
Reza bukannya takut malah terbahak. Baru pertama kalinya dia melihat Vanka bermanja-manja ke Gio. Biasanya dia akan bersikap galak, tidak seperti orang yang pacaran karena ribut mulu. Entah itu saling ledek, atau saling kejar-kejaran bahkan saling ngerjain.
Gio menyuapi Vanka sampai makanan Vanka habis. "Mau lagi?" Vanka menggelengkan kepalanya.
Gio membersihkan sisa makanan di bibir Vanka dengan sangat lembut. Gio tersenyum menatap Vanka. Dia senang karena Vanka mau bermanja kepadanya. Jadi dia bisa menunjukan betapa sayangnya kepada wanita berzodiak Capricorn tersebut.
Vanka juga melirik Arina yang masih menatapnya dengan kesal. "Emang lo aja yang bisa," gumam Vanka pelan sembari menahan senyum.
"Ntar pulang sekolah mau nggak nemenin gue cari kado buat mama? Mama gue besok ulang tahun.." ajak Vanka kepada Gio.
"Mau dong," jawab Gio tanpa ragu.
"Tapi Gi, lo udah janji kan mau anterin gue jengukin makam Aleno?" Arina menyela, karena tadi pagi Gio sudah berjanji menemaninya ke makam saudara kembarnya.
"Oh iya gue lupa." Gio baru ingat jika dia sudah terlanjur janji dengan Arina mau ke makam temannya.
"Gimana kalau kita perginya setelah gue jengukin makam temen gue dulu?" tanya Gio kepada kekasihnya.
"Oh yaudah kalau lo udah ada janji. Gue ajak Akila aja nanti nggak apa-apa kok." Vanka agak kecewa sih tapi dia juga tidak mau Gio mengingkari janji yang lebih dulu dia buat.
"Atau lo ikut aja yuk!" ajak Gio sembari menggenggam tangan Vanka. Gio jadi dilema karenanya.
"Rin, kita perginya besok aja gimana?" Gio tidak ingin mengecewakan Arina, tapi lebih tidak ingin mengecewakan kekasihnya.
Arina terlihat sangat sedih mendengar permintaan Gio tersebut. Dia tidak menjawab tapi malah menundukan kepalanya.
"Gue nggak apa kok pergi sama Akila sama anak-anak juga. Lo temenin aja Arina, kayaknya dia udah kangen banget sama temennya." ucap Vanka lagi.
"Aleno bukan temen gue, tapi saudara kembar gue." Arina menatap Vanka dengan wajah yang menyedihkan.
"Oh maaf, kalau gitu nanti lo temenin Arina aja, Gi!" Vanka tidak sekejam itu. Dia mengizinkan Gio menemani Arina menjenguk makam saudara kembarnya, lagipula almarhum juga teman Gio.
"Tapi.."
Vanka menggenggam tangan Gio. "Nggak apa-apa, lo temenin dia aja!" ucap Vanka penuh perhatian.
__ADS_1
"Nanti gue nyusul setelah dari pemakaman." Gio tersenyum sembari menyentuh pipi Vanka dengan lembut. Vanka hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Entah itu hanya trik Arina atau bukan. Yang jelas Vanka tidak tega melihat kesedihan Arina yang rindu dengan almarhum saudara kembarnya.