
Setelah tiga hari, Marisa baru mau masuk sekolah. Setelah kejadian yang tidak disengaja itu. Marisa mengurung dirinya dalam kamar. Hanya sesekali dia pergi ke rumah sakit untuk melihat Gio dari kejauhan.
Hatinya sakit karena telah menyebabkan Gio terluka dan harus dirawat. Tidak ada niat sama sekali untuk menyakiti Gio. Hanya saja dia tidak menyangka Gio akan melakukan apapun demi Vanka.
Marisa bertemu dengan Vanka tanpa sengaja di parkiran sekolah. Ketika melihat Vanka, Marisa akan teringat kejadian malam itu. Dan itu membuat Marisa semakin membenci Vanka.
Di depannya, lelaki yang dia cintai mengorbankan diri demi wanita lain. Hati Marisa meradang karenanya.
Marisa dan Vanka saling menatap tajam. Sama seperti Marisa, Vanka juga sangat membenci Marisa. Alasannya karena Marisa gila dan keterlaluan. Bukan karena Gio yang kena, tapi karena target Marisa memanglah dirinya.
Seandainya Gio tidak menghadang serangan Marisa. Mungkin saja Vanka yang terluka dan dibawa ke rumah sakit seperti Gio.
"Apa lo? Jangan seneng hanya karena Gio melakukan apapun demi lo!" ucap Marisa dengan sengit.
"Gue sama sekali nggak seneng lihat Gio terluka seperti itu. Tapi gue nggak pernah menyangka lo akan senekad itu." ucap Vanka juga dengan geram.
"Gue peringatin lagi! Kalau sampai lakuin hal gila kayak gitu lagi, gue pastiin lo bakal mendekam di dalam penjara. Karena tindakan lo itu sudah kriminal." ancam Vanka. Tapi Vanka memang sudah memikirkan hal tersebut. Jika kejadian itu terulang lagi, Vanka tidak akan tinggal diam atau menutupi lagi.
"Asalkan Gio nggak sama lo, gue rela jika harus mendekam di penjara selamanya." ujar Marisa tidak merasa gentar oleh ancaman Vanka.
"Iya kalau lo tepat sasaran, kalau meleset? Bukankah lo sama aja udah celakai Gio? Itu yang lo bilang cinta sama Gio?" sindir Vanka.
"Apa lo pikir Gio akan membahayakan nyawanya untuk kedua kalinya demi lo?" Marisa mengolok kepercayaan diri Vanka.
Apa yang Vanka katakan, sama saja dengan mengatakan Gio akan selalu melindungi Vanka lagi dan lagi. Sedangkan Marisa tidak percaya jika Gio akan melakukannya lagi.
"Kalau lo mau tahu, silahkan dicoba!"
"Serang gue saat ada Gio disamping gue. Maka kita akan lihat, apakah Gio akan melindungi gue lagi dan lagi." Vanka sangat yakin Gio akan melakukan hal sama seperti malam itu.
Cinta yang begitu besar untuk Vanka, membuat Gio mengabaikan keselamatan dirinya sendiri. Vanka bisa melihat itu. Berkali-kali Gio menunjukan cintanya kepada Vanka. Bahkan hanya ingin bertemu Vanka saja, Gio dibela-belain harus bikin kegaduhan di rumah sakit. Sampai akhirnya Gio datang masih dengan perban dikepalanya.
Vanka tidak mau lagi mengindahkan Marisa yang mematung karena kesal. Marisa menganggap Vanka sombong karena pamer di depannya.
"Lo lihat aja! Kalau gue nggak bisa miliki Gio, orang lain juga nggak bisa miliki dia, termasuk lo." seru Marisa dengan suara nyaring sampai terdengar oleh beberapa murid yang lainnya.
Sementara Vanka hanya tersenyum kecil tanpa menoleh kembali. Dia kembali meneruskan langkah kecilnya menuju kelasnya.
__ADS_1
Di kelas, Vanka dikagetkan oleh sosok laki-laki yang sangat dia rindukan. Pagi itu, Gio sudah masuk sekolah. Dia sengaja menunggu Vanka di kelas Vanka. Gio juga duduk dibangku yang biasa Vanka duduki.
Sudut bibir Vanka mengembang membentuk senyuman yang indah. Dia sangat merindukan lelaki itu. Dua hari setelah Gio datang ke rumahnya. Vanka belum bertemu lagi dengan Gio. Hanya melalui chat dan juga foto yang Gio kirim kepadanya.
Vanka berlari kecil menuju bangkunya. "Kok udah ke sekolah? Emang udah sembuh?" tanya Vanka duduk di sebelah Gio, atau tepatnya dibangku Akila.
"Masih pusing sih, tapi gue nggak sabar dengan hadiah yang lo janjikan ke gue." jawab Gio.
"Emang nggak sabaran. Ke sekolah naik apa kok nggak lihat motor lo di parkiran?"
"Bareng kak Ernes tadi. Mana hadiah gue?" Gio menagih janji Vanka yang katanya akan memberinya hadiah jika Gio masuk sekolah.
"Belum disiapin dong, kan nggak tahu kalau lo akan ke sekolah hari ini, lo kan nggak bilang sebelumnya." Vanka belum punya apa-apa yang akan dia berikan sebagai hadiah. Lagipula, apa yang Vanka janjikanitu hanyalah untuk memancing semangat Gio supaya lekas sembuh.
"Besok ya?"
"Nggak mau. Maunya sekarang."
"Kalau sekarang gue nggak punya apa-apa sebagai hadiah." Vanka sedikit agak menyesal telah menjanjikan sesuatu kepada Gio. Karena Gio sangat tidak sabaran.
Awalnya Vanka tertegun karena Gio mengecup bibirnya secara tiba-tiba. Tapi begitu ia tersadar, Vanka langsung memukul lengan Gio karena sudah melakukan hal yang sembrono. Apalagi beberapa murid yang ada di kelas tersebut memandangnya dengan tersenyum-senyum.
"Apa otak lo udah rusak sampai lakuin hal yang tidak tahu malu kayak gini?" omel Vanka yang sangat malu dengan pandangan teman-temannya.
"Tidak tahu malu gimana? Gue cium pacar gue sendiri, kalau mereka pengen ya suruh cari pacar." ucap Gio dengan santai.
"Siapa pacar lo?"
"Kan elo."
"Heh, kapan gue bilang kita pacaran lagi?"
"Malam itu lo bilang lo cinta sama gue."
"Cuma bilang cinta bukan berarti mau terima lo. Lagipula lo juga belum nembah gue lagi." Vanka sengaja memancing supaya Gio menyatakan cintanya lagi. Vanka sebenarnya sangat senang saat Gio menyatakan cinta kepadanya. Vanka berasa menjadi wanita yang paling bahagia.
"Oh gitu. Ya udah lo mau nggak balikan sama gue?" Gio menuruti apa yang Vanka mau.
__ADS_1
"Harus mau! Kalau nggak gue paksa!" imbuh Gio yang membuat Vanka terbahak.
"Nggak ah. Gue nggak suka sama cowok yang suka memaksa." ucap Vanka masih menggoda Gio.
"Jovanka, mau nggak lo jadi pacar aing? Gue cinta sama lo, mau ya?" Gio mengulangi pertanyaannya lagi.
Vanka tersenyum mendengar ungkapan cinta Gio yang entah ke berapa kali. Tetap saja hati Vanka merasa sangat berbunga-bunga.
Vanka hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia mau menjadi pacar Gio kembali. Vanka sebenarnya belum pernah sama sekali melupakan Gio. Dia hanya kecewa saja dengan apa yang Gio putuskan. Tapi sekarang, kesalah pahaman tersebut sudah jelas.
"Yeah.... makan-makan." tanpa sepengetahuan Gio dan Vanka. Ternyata teman-teman Gio masuk ke kelas Vanka juga. Mereka juga mendengar Gio menyatakan cinta dan juga melihat Vanka menjawab hanya dengan anggukan kepala.
"Anj*r kaget gue.." Vanka yang hendak memeluk Gio pun mengurungkan niatnya karena ada teman-temannya Gio.
"Lo ngapain sih, nggak jadi meluk kan dia?" gerutu Gio yang merasa kesal karena Vanka tidak jadi memeluknya.
"Yaelah gitu aja marah lo. Nanti di rumah, lo bisa pelukan sama Vanka sepuas hati lo." ucap Reza mendekat ke Gio dan Vanka.
"Nanti malam oma gue ulang tahun. Lo dan yang lain diminta datang ke rumah, terutama lo Def, oma kangen banget sama lo. Dia nanyain lo terus. Gue heran, sebenarnya cucunya tuh gue apa lo sih?" gerutu Reza juga.
Hubungan Alfarezi dengan oma-nya Reza memang sangat dekat. Bahkan oma-nya Reza sudah menganggap Alfarezi sebagai anaknya sendiri. Itu sebabnya, oma-nya Reza selalu menganggap Defan sebagai cucunya juga.
"Oma lo kan emang baik ke semua orang. Dia pasti juga sangat sayang sama lo. Apalagi om Aldo kan anak oma lo satu-satunya." Defan tidak mau merebut apapun dari Reza. Dia hanya berharap Reza tidak memiliki perasaan iri atau pikiran yang tidak-tidak karenanya.
"Iya gue paham kok, oma emang paling the best." Reza hanya bercanda tadi.
Meskipun oma-nya sering menanyakan Defan. Tapi kasih sayang oma dan opa-nya tidak pernah berkurang untuknya sama sekali. Dia tetap menjadi cucu kesayangan oma dan opa-nya.
"Tapi gue masih harus banyak istirahat." sahut Gio.
"Tenang aja, disana ada om dokter Refano kok, dia akan jaga lo terus. Lagipula cuma acara makan malam kok." seperti yang oma-nya pesan. Semuanya harus datang, karena itu akan membuat oma-nya merasa senang di hari ulang tahunnya.
"Oke deh. Tapi gue ajak Vanka."
"Ajak aja semua. Ajak Marisa juga boleh." ucap Reza yang langsung mendapat tatapan tajam dari semuanya terutama Gio.
"Cuma bercanda doang." Reza malah cengar cengir setelahnya. Dia juga mendapat jitakan kepala dari Dhanu.
__ADS_1