Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
27


__ADS_3

Vanka sedang siap-siap, malam ini dia akan keluar dengan Gio dan juga kakaknya Gio. Tiba-tiba dia menerima pesan dari Defan. Defan mengatakan ingin main ke rumahnya.


"Gimana nih?" gumam Vanka bingung.


"Ah, gue bilang aja kalau pergi sama Akila. Kan beneran kita mau ke tempat Akila perform, jadi nggak termasuk bohong kan ya?" gumamnya lagi. Kemudian membalas pesan dari Defan tersebut.


"Maafin gue ya Def, bukannya gue kejam, tapi lo nggak beneran suka sama gue, dan gue juga nggak punya perasaan apapun ke lo." gumam Vanka lagi.


Sama seperti Gio, Vanka berharap rencana yang telah dia susun bersama Gio dan juga teman-temannya akan berhasil. Jadi dia juga bisa publikasikan hubungannya dengan Gio tanpa menyakiti siapapun.


Tak selang lama, Gio sudah sampai di rumahnya. Dia datang bersama kakaknya, tapi membawa motor sendiri-sendiri.


"Kak, ini pacar gue, Jovanka." ucap Gio memperkenalkan kekasihnya kepada kakaknya.


Ernes memicingkan matanya. Yang dia tahu, gadis itu adalah gadis yang dianggap special oleh sepupunya, Defan. Terus kenapa bisa menjadi pacar adiknya. Defan tahu atau nggak.


Tapi menurut sifat Defan, Ernes yakin Defan belum tahu tentang itu. Kalau Defan tahu pasti Gio dan Defan akan ribut besar.


"Jangan gitu lihatinnya! Ntar gue jelasin semuanya." Gio menepuk pundak kakaknya. Seolah dia tahu apa yang dipikirkan oleh kakaknya.


"Ernes, kakaknya Gio." Ernes mengulurkan tangannya.


"Jovanka, tapi biasanya dipanggil Vanka." Vanka juga menyambut uluran tangan Ernes.


Sedikit terpana ketika melihat kakak kekasihnya. Vanka yakin jika papa dan mamanya Gio pasti goodlooking. Lihat aja anak-anaknya ganteng semua.


Malam itu Ernes berpenampilan cool banget. Dengan memakai kaos dibalut jaket, memakai sepatu casual, tanpa memakai kacamata yang biasa dia pakai. Penampilannya nggak jauh beda dari adiknya. Dan yang pasti sama-sama ganteng.


Tukk..


Gio memukul pelan kepala Vanka yang terus melirik kakaknya. "Kakak gue emang ganteng, tapi masih gantengan gue, jadi lo hanya boleh lirik gue aja." ucap Gio membuat Ernes tersenyum geli.


"Yuk, keburu malem." Ernes menghidupkan motornya. Dia juga harus menjemput Cintya dulu.


Sesampainya di rumah Cintya, mereka kemudian bergegas menuju kafe yang telah mereka sepakati. Sama seperti Vanka, Cintya juga terpana dengan ketampanan Gio. Dan juga terpana dengan ketampanan Ernes dengan gaya yang tidak seperti biasa.


Di kafe..


"Itu Akila." Vanka menunjuk Akila yang sudah bersiap menyanyi di depan.


"Dia temen lo?" tanya Ernes.


"Iya, dia sahabatnya Vanka." jawab Gio lalu masuk dan memilih tempat duduk di bagian depan.


"Pesen apa aja, biar gue yang traktir. Anggep aja pajak jadian gue sama Vanka, kan belum sempat traktir kakak." ucap Gio yang disambut senang oleh kakaknya.

__ADS_1


Ernes tersenyum melihat Gio yang sudah tumbuh dewasa. Masih jelas diingatan Ernes, mereka berdua sering sekali bertengkar hanya karena masalah sepele. Sekarang tanpa terasa, adiknya yang rese itu sudah tumbuh dewasa.


"Emang lo punya uang?" tanya Ernes.


"Punya, tadi dikasih papa, uang jajan gue juga masih sisa, cukuplah buat traktir kalian."


"Udah lo simpen aja uang lo, ditabung! Biar gue yang bayar nanti. Gue udah dapat bayar dari ngajarin les anak-anak." ternyata Ernes punya pekerjaan sampingan. Dia mengajar les private anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama.


"Oke kalau gitu." sahut Gio dengan senang.


Genggam tanganku, sayang.


Dekat denganku, peluk diriku.


Berdiri tegak, di depan aku.


Cium keningku, tuk yang terakhir.


Ku kan menghilang, jauh darimu.


Tak terlihat sehelai rambutpun.


Tapi dimana nanti kau terluka.


Ingat aku, ku ada untukmu.


Tetiba Gio maju ke depan panggung. Dia berbisik kepada Akila, dan disambut anggukan kepala oleh Akila.


"Oke, malam hari ada yang ingin menyumbang sebuah lagu untuk kekasihnya, katanya." ucap Akila dengan tersenyum kecil.


"Langsung saja kita sambut, Gio..." ucap Akila diiringi tepuk tangan pengunjung kafe.


Ernes dan juga Vanka membulatkan matanya ketika Gio naik ke panggung kecil. Sementara Akila turun dan mendekat ke Vanka.


"Cowok lo tuh." ucap Akila.


"Malem semua, maaf kalau ganggu kalian semua. Gue mau nyanyi sebuah lagu buat pacar gue yang duduk disebelah sana." Gio menunjuk dimana Vanka duduk. Tentu saja tepuk tangan diberikan oleh pengunjung.


"Maafin kalau suara gue jelek." imbuh Guo dengan tersenyum.


Terima kasih kau telah mencintaiku,


Terima kasih kau telah menyayangiku,


Tetap disini, temani aku sepanjang hidupku.

__ADS_1


"Cieee, bikin pengen aja." ucap Akila menggoda Vanka yang tersipu malu.


"Adik lo romantis juga ya?" Cintya juga tak kalah kagum dengan Gio yang tidak malu menyatakan perasaannya di depan umum.


Dan Ernes hanya tersenyum sambil masih menatap adiknya dengan kagum.


Karena hari semakin malam. Ernes pun meminta Gio untuk segera mengantar Vanka dan pulang ke rumah. "Kakak mau anterin Cintya dulu. Lo langsung pulang setelah anterin cewek lo." perintah kakaknya.


"Siap bos."


Ternyata, sejak tadi Defan mengikuti Gio dan Vanka. Sejak dari rumah Gio, Defan sudah membuntuti Gio. Defan sangat kecewa ketika ternyata kecurigaannya benar. Gio dan Vanka ternyata memang pacaran.


Akan tetapi, meskipun dia marah dan kecewa. Defan masih aja ngikutin Gio dan Vanka. Hatinya terasa sakit karena merasa Gio telah mengkhianatinya.


Ketika Gio mengantar Vanka ke rumah. Defan juga mengikuti mereka sampai rumah Vanka. Karena dia sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya. Defan pun memutuskan untuk menghampiri Gio.


"Gio???" seru Defan mendekati Gio dan Vanka yang baru saja sampai rumah Vanka.


Seketika menolehlah Gio dan Vanka. Mereka kaget bukan main ketika melihat Defan ada di depan rumah Vanka.


"Defan??" gumam Gio dan Vanka bersamaan.


Bukkk..


"Dasar brengs*k..." Defan memukul Gio dengan cukup keras, sampai Gio terjatuh dari motornya.


"Gio.." tentu saja Vanka lebih dulu menolong kekasihnya dibanding menenangkan Defan yang sedang marah.


"Gue nggak nyangka lo bisa nusuk gue dari belakang. Gue malu punya sepupu kayak lo.." ucap Defan dengan menahan sakit di dalam hatinya.


"Dan lo Van, dari sekian banyak lelaki, kenapa harus Gio? Lo sengaja mau rusak persaudaraan kita?" tanya Defan dengan marah kepada Vanka.


"Bukan gitu maksud gue Def, gue nggak ada niat buat rusak persaudaraan kalian,"


"Nggak perlu jelasin! Gue tahu sekarang lo wanita kayak apa. Gue nyesel pernah suka sama lo." Defan tidak mau mendengarkan penjelasan apapun.


"Dan lo, mulai sekarang, lo bukan saudara gue! Gue nggak mau punya saudara yang nusuk gue dari belakang." ucap Defan kemudian meninggalkan rumah Vanka.


"Def, dengerin gue dulu! Gue minta maaf karena nggak jelasin dari awal. Dengerin dulu Def!!" Defan tidak mau mendengarkan penjelasan dari Gio juga. Dia meninggalkan rumah Vanka dengan mengendarai motornya dengan cukup kencang.


"Gue pulang dulu, gue mau kejar Defan!" pamit Gio merasa khawatir ketika Defan mengenderai motornya dengan ngebut.


"Iya, jelasin semua ke Defan!" Gio menganggukan kepalanya.


Vanka merasa bersalah karena telah membuat Gio dan Defan berantem seperti tadi. Vanka masuk ke rumah dengan hati yang tidak tenang.

__ADS_1


"Semoga Defan mau dengarin penjelasan Gio." harapan Vanka tidak ada pertengkaran antara Gio dan Defan. Dia juga akan menjelaskan kepada Defan besok pagi.


__ADS_2