Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
46


__ADS_3

Saat Gio kembali ke kelasnya. Marisa langsung mendekati Gio dan meminta maaf karena secara tidak sengaja telah melukai Gio. Marisa kembali menangis ketika dia meminta maaf dan menjelaskan jika dia tidak sengaja melukai Gio.


Tapi sayangnya reaksi Gio masih tetap sama seperti biasa. Dingin.


Air mata Marisa tak bisa mencairkan kebekuan hatinya. Gio juga sudah terlalu kecewa dengan kenekatan Marisa.


"Mulai sekarang tolong berhenti buat ganggu gue!" ucap Gio dengan dingin.


Marisa merasakan hatinya sakit sekali. Dia rela menahan rasa sakit karena penolakan dan kedinginan Gio. Tapi kenapa Gio tidak pernah memikirkan perasaannya sama sekali. Marisa menggercap-gercap matanya, menahan air mata yang hendak menetes.


"Mencintai lo adalah sakit hati yang gue sengaja. Tapi, gue nggak peduli sakit itu, gue tetep akan mencintai lo." ucap Marisa dengan suara serak. Dia menahan amarah dan air matanya.


"Cari lelaki lain yang bisa mencintai lo, karena gue nggak bisa. Cinta gue cuma buat Vanka." Gio bahkan tidak mau menatap Marisa yang berdiri di sampingnya.


Jleb. Hati Marisa benar-benar terasa sakit sekali. Hatinya meradang dan menyalahkan semua kepada Vanka. Kebencian dihatinya untuk Vanka semakin mendalam.


Marisa juga merasa hidup ini tidak adil. Kenapa Vanka yang baru saja kenal dengan Gio bisa mendapatkan hati Gio. Sementara dia sudah sangat lama mencintai Gio. Tapi tidak pernah sama sekali Gio menoleh kepadanya.


Tangan Marisa mengepal dengan erat. Matanya melebar dan dadanya terasa terbakar. Dia sangat geram tapi menahannya di depan Gio.


"Kenapa harus Vanka? Kenapa nggak gue aja yang lo cintai?" tanya Marisa berusaha mengatur emosi dalam hatinya.


Gio terdiam mendengar pertanyaan Marisa. Dia sendiri juga tidak tahu, kenapa hatinya bisa jatuh kepada wanita bernama panjang Jovanka tersebut. Yang jelas sejak kenal melalui media sosial, ada perasaan aneh di dalam hatinya. Apalagi setelah ketemu, Gio semakin terngiang-ngiang dengan kecantikan Vanka.


Tapi mungkin bukan karena kecantikan Vanka yang membuatnya jatuh cinta. Karena kalau soal cantik, Marisa tidak kalah cantik dari Vanka. Dan juga banyak wanita cantik lainnya yang juga mendekatinya.


Mungkin karena rasa nyaman yang Vanka berikan yang membuat Gio jatuh hati. Juga kedewasaan dan kebaikan Vanka yang membuat Gio menjatuhkan hati padanya.


"Cinta itu tidak beralasan. Dan cinta juga tidak bisa dipaksa. Mungkin saat ini lo atau siapapun tidak mengerti kenapa gue milih Vanka, tapi suatu saat nanti kalian akan tahu bahwa dia memang pilihan terbaik buat gue." jawab Gio masih belum mau menatap Marisa.


"Apa lo pikir kalian akan berjodoh kelak?"


"Gue nggak tahu, karena jodoh ditangan Tuhan. Tapi untuk saat ini, gue cuma mau dia, dan gue juga cuma cinta sama dia."


"Jadi masih ada nanti dong, kalau gitu gue akan terus nungguin lo." Marisa memang sangat keras kepala apalagi mengenai perasaan.


Gio tidak lagi mau berdebat dengan Marisa. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Hanya saja Gio tidak mau memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Dia hanya akan menjalani apa yang ada di depannya saat ini.


....


Defan terkenal sangat bucin kepada Chika. Dia mau melakukan apapun asalkan bisa membuat Chika bahagia. Dan terkadang juga sangat manja kepada Chika. Itu yang membuat mereka terlihat seperti couple goals.

__ADS_1


Siang itu saat di kantin. Defan sedang manja, dia tidak mau makan dengan tangannya sendiri. Tapi meminta Chika untuk menyuapinya.


Tentu saja itu membuat Reza dan Dhanu yang masih sendiri merasa bahwa Defan sedang pamer kemesraan di depan mereka. Tentunya Reza dan Dhanu jadi heboh sendiri. Apalagi di sebelah, Gio dan Vanka juga tidak kalah mesra.


"Mantap banget yak punya temen kayak mereka? Pamer aja terus.." gerutu Reza menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mana tuh Defan manja banget anj*r, segala minta disuapin." sahut Dhanu tak kalah kesal dari Reza.


"Mentang-mentang kita jomblo, bisa-bisanya mereka pamer kemesraan di depan kita. Kita juga bisa cuma suap-suapan doang." Reza menyuapkan makanannya ke mulut Dhanu. Begitu juga sebaliknya, Dhanu menyuapkan makanannya ke mulut Reza.


Tentu saja apa yang mereka lakukan itu membuat semua orang yang melihatnya menjadi tertawa. Tapi ada juga yang bergidik, mengira jika mereka berdua penyuka sesama jenis.


Kantin menjadi heboh karena kelakuan mereka berdua. Dan mereka pun menyadari kegaduhan itu disebabkan oleh mereka sendiri.


"Oh jadi itu alasan kenapa kalian masih aja jomblo?" tanya Defan dengan tertawa juga.


"Nj*r, nggak lah. Kita cuma mau kalian tahu kalau kita juga bisa kayak kalian, timbang cuma suap-suapan doang." jawab Dhanu dengan manyun.


"Tapi kalian cocok loh, kenapa nggak,,, em,,," sahut Vanka yang membuat semuanya tertawa.


"Nj*r, nggak lah, emang kita cowok apaan ya Dhan?" timpal Reza dengan gaya genit dan itu membuat geli yang melihatnya.


"Ya nggak tahu kok tanya saya.." jawab Dhanu kembali membuat tawa teman-temannya.


"Oke, gue juga sadar kalau gue terlalu cantik buat lo." Dhanu berlagak centil dengan berpura-pura menyibakkan rambutnya.


Tapi setelah itu mereka berdua tertawa dan bergidik sendiri. Merasa jijik dengan apa yang mereka lakukan. Tidak kebayang jika mereka benar-benar belok.


Mengingat itu Dhanu dan Reza menggidikan bahu mereka sendiri.


****


Sepulang sekolah, Doni sengaja menunggu Akila di depan sekolah Akila. Dia masih belum menyerah mendekati Akila. Padahal Akila sering sekali menghindarinya tapi Doni pantang mundur.


Doni datang bersama banyak teman-temannya yang lain. Banyak yang mengira jika kedatangan Doni itu akan membuat masalah dengan sekolah tersebut.


Salah satu dari murid sekolah itupun berlari masuk dan memberitahu The Sun tentang kehadiran Doni dan teman-temannya tersebut. Bukan hanya memberitahu The Sun. Tapi juga teman-temannya yang lain.


"Mereka orang yang tempo hari pernah kesini, kalau nggak salah juga musuh kalian waktu balapan." ucap murid itu.


The Sun pun tahu siapa yang dimaksud. Jika tempo hari Doni hanya datang sendiri, kali ini dia datang bersama banyak teman. Mereka pun berpikiran sama, Doni ingin membuat masalah di sekolah mereka.

__ADS_1


"Mau apa sih dia." gumam Reza yang sangat kesal ketika mendengar nama Doni. Bukan hanya karena mereka rival. Tapi karena Doni telah berniat mencelakai Gio waktu itu.


The Sun sampai di depan sekolah mereka. Benar saja, mereka melihat Doni bersama banya teman-temannya menunggu di depan sekolah mereka.


"Mau apa lagi lo, pecundang?" seru Reza memancing amarah teman-teman Doni.


Untungnya Doni segera menenangkan teman-temannya yang merasa marah dengan perkataan Reza. Doni pun turun dari motornya, dia berjalan mendekati The Sun.


Tiba-tiba Doni mengulurkan tangan dan meminta maaf kepada The Sun, terutama kepada Gio yang pernah mereka curangi waktu itu.


Apa yang Doni lakukan itu tentu saja membuat The Sun tercengang.


"Gue harap kita bisa jadi temen." ucap Doni lagi.


"Temen? Jangan ngaco, kita nggak akan pernah bisa berteman.." Reza menolak ajakan perdamaian itu.


"Gue beneran minta maaf karena waktu itu udah celakai Gio. Gue mewakili teman-teman gue meminta maaf sama lo, Gi." ucap Doni merendahkan dirinya di depan The Sun.


"Gue udah maafin kalian kok. Gue seneng kalau akhirnya kita bisa jadi temen. Gue harap kita bisa terus saling mendukung!" ucap Gio menjabat tangan Doni.


"Gi, lo maafin dia gitu aja atas apa yang mereka lakuin ke lo?" tanya Reza dengan kesal.


"Iya, Gi? Siapa tahu dia punya niat jahat sama lo dengan pura-pura jadi orang baik." sahut Dhanu juga tidak percaya dengan perubahan Doni begitu aja. Dia tahu selicik apa Doni sebelumnya.


"Gue udah janji sama seseorang untuk damai dengan kalian dan menjadi teman kalian, dan bisa jadi lebih baik lagi ke depannya." ucap Doni.


Seseorang yang Doni maksud adalah Akila. Doni berjanji menjadi orang yang lebih baik dan mengakhiri permusuhannya dengan The Sun.


"Siapa? Akila?" tanya Reza dengan sinis.


"Jadi semua itu bukan karena niat lo sendiri?" sahut Defan yang juga sudah merasa geram setiap kali ketemu dengan Doni.


"Awalnya iya, tapi setelah gue pikir lagi, nggak ada untungnya juga kita bermusuhan. Gue juga kepengen menjadi pribadi yang lebih baik lagi." jawab Doni sepertinya benar-benar menyesali permusuhan yang pernah terjadi antara dirinya dengan The Sun.


"Bener, nggak ada manfaatnya saling bermusuhan, alangkah baiknya jika kita bisa berteman, jadi kita tambah banyaj teman." ucap Gio yang juga sudah capek harus selalu bermusuhan dengan Doni.


"Tapi Gi? Siapa tahu dia punya niat lain.." ucap Defan.


"Setiap orang berhak berubah menjadi lebih baik. Gue yakin, ada kebaikan disisi lain kejahatan. Jadi tidak semua orang itu baik, dan juga jahat. Mereka pasti memiliki sisi keduanya." ucap Gio yang memang layak disebut sebagai pemimpin.


Dia keras, tegas, tapi juga berpikiran luas. Dia selalu yakin, semua orang jahat pasti memiliki sisi baik. Dan semua orang baik pasti juga memiliki sisi keburukan.

__ADS_1


Pada akhirnya kedua geng yang selalu berseberangan tersebut, kini menjadi teman. Mereka saling berjabat tangan dan saling memaafkan.


Perbanyak teman, karena semakin dewasa yang mereka butuhkan adalah kebaikan bukan keburukan. Sudahi permusuhan, dan saling bergandeng tangan demi kebaikan.


__ADS_2