
"Gio?"
Gio menatap tajam ke arah Vanka dan Defan. Seperti dia sangat marah melihat Defan kencan berdua dengan Vanka di belakangnya.
Melihat Gio yang hanya diam dengan terus menatapnya. Vanka mulai maju dan ingin menjelaskan semuanya, supaya Gio nggak salah paham. Vanka tidak mau melihat kedua saudara itu saling menyakiti lagi.
"Gi, dengerin gue! Apa yang lo lihat nggak seperti yang lo bayangin.." ucap Vanka maju dan memegang lengan Gio. Sekaligus menghadang jika Gio emosi dan akan memukul Defan.
"Defan ngajak gue ketemu, itu karena Defan ingin-"
"Jangan percaya Gio! Dia cewek murah*n, dia cuma mau hancurin hubungan lo sama Defan." Marisa memotong perkataan Vanka.
"Gue nggak peduli tentang penilaian lo ke gue, tapi gue mohon jangan bertengkar sama Defan." ucap Vanka lagi.
Gio terus menatap Vanka dengan tajam. Tanpa mengeluarkan kata, membuat Vanka bingung sendiri. Sementara tidak peduli dengan pandangan Gio kepadanya. Vanka hanya tidak mau Gio salah paham kepada Defan.
Gio lalu menarik Vanka ke dalam pelukannya. Dengan sangat erat Gio memeluk Vanka di depan para pengunjung, dan termasuk di depan Marisa.
"Kenapa lo nggak ngomong, alasan lo nolak gue bukan karena lo udah nggak cinta sama gue, tapi karena lo ingin gue lebih dewasa dan menghargai sebuah hubungan." ucap Gio masih memeluk Vanka dengan erat.
"Lo tahu dari mana omongan gue itu?" Vanka tentunya merasa bingung. Dari mana Gio tahu tentang perkataannya itu. Padahal dia baru aja mengatakannya kepada Defan.
"Maafin gue Van, gue sengaja video call Gio waktu lo ngobrol sama Defan." Chika pun mendekat dan membuat Vanka semakin kaget. Termasuk juga Marisa.
"Kalian yang rencanain ini semua?" tanya Vanka masih di dalam pelukan Gio. Vanka melihat Chika dan Defan tersenyum puas, karena rencana mereka berhasil.
"Waktu itu kan kalian udah bantu kita buat balikan. Sekarang giliran kita bantu kalian balikan." jawab Chika dengan tersenyum puas.
Tadi, ketika Vanka dan Defan mengobrol. Sebenarnya tidak jauh dari tempat duduk mereka, ada Chika. Chika sengaja menyamar dan video call dengan Gio. Chika mengarahkan kamera ke Vanka dan Defan. Juga diam-diam memasang mikrofon kecil di dekat Vanka dan Defan.
Jadi Gio bisa mendengar dengan jelas apa yang Vanka dan Defan obrolin tadi. Itu sebabnya Gio nggak sabar dan langsung datang ke kafe tersebut.
Hanya saja, Marisa tidak tahu jika semua itu telah direncanakan dengan rapi oleh Defan dan Chika. Marisa semakin marah waktu melihat Gio memeluk Vanka. Hatinya benar-benar terluka, melihat lelaki yang dia cinta memeluk wanita lain di hadapan matanya.
__ADS_1
Marisa yang geram mengambil gelas minuman salah satu pengunjung. Marisa gelap mata, dia hendak memukul Vanka dengan gelas tersebut. Tapi siapa sangka, Gio berusaha menghadangnya untuk Vanka. Jadilah Marisa memukul kepala Gio dengan gelas tersebut.
Darah mengalir dari kepala Gio karena terkena pecahan gelas tadi. "Gio??" Vanka menjadi panik karenanya.
Bukan hanya Vanka, tapi Defan dan Chika juga ikutan panik melihat darah mengalir dari kepala ke wajah Gio. Vanka menyentuh kepala itu dan darah ada di tangannya.
"Lo nggak kenapa-napa kan?" bukannya memikirkan dirinya sendiri, Gio malah mengkhawatirkan Vanka yang ada di dalam pelukannya.
"Enggak. Tapi kepala lo?" Vanka terlihat sangat khawatir.
"Asalkan sama lo, gue tetap baik-baik aja kok." jawab Gio dengan tersenyum.
"Marisa, lo gila..." Chika mendorong Marisa yang sepertinya juga sangat terkejut. Tidak menyangka jika Gio akan menghadang serangannya demi Vanka.
"Gi, gue nggak sengaja.." Marisa sudah menangis saat itu. Satu hal yang paling menyakitkan ialah melihat orang yang kita sayangi terluka karena ulah kita sendiri.
Karena insiden tersebut, manager kafe sampai harus turun tangan. Beruntung Gio tidak mau meneruskan masalah tersebut. Dia memaafkan Marisa meskipun sebenarnya dia sangat marah kepada Marisa, karena bertindak seperti itu kepada Vanka. Gio juga mau mengganti semua kerugian atas insiden tersebut.
Akila juga meminta kepada manager kafe tersebut atas insiden yang tidak terduga itu. Biar bagaimanapun mereka adalah teman-teman Akila.
Vanka terus aja menangis. Dia terus mendampingi Gio dari saat kepala Gio dijahit sampai Gio dipindahkan ke kamar pasien.
Melihat Vanka yang terus menangis membuat Gio jadi sedih. Gio menarik tangan Vanka lalu kemudian memeluknya. "Jangan nangis terus, gue nggak kenapa-napa." ucap Gio dengan lembut. Ia juga mengusap air mata Vanka dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa lo nggak biarin gue aja yang terluka?" lirih Vanka dalam pelukan Gio.
"Nggaklah, biarin lo terluka di depan gue, sama aja dengan pukul gue secara langsung. Gue lebih rela terluka kayak gini, daripada harus lihat lo yang terluka." Gio mengecup puncak kepala Vanka dengan lembut.
"Gue nggak akan biarin lo terluka." ucap Gio mempererat pelukannya.
Vanka tidak bisa lagi berkata. Dia semakin menangis dan memeluk Gio dengan sangat erat. "Maafin gue." ucapnya pelan.
"Kenapa minta maaf? Ini mau gue sendiri." jawab Gio dengan lembut. Dia tidak ingin Vanka merasa bersalah, karena itu memang keinginan dia sendiri untuk melindungi Vanka.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ines dan Shaka datang dengan keadaan panik. Tadi saat Defan memberitahu jika Gio dibawa ke rumah sakit, hati Ines dan Shaka hampir copot dibuatnya.
Saat Ines masuk ke ruang rawat Gio. Saat itu Gio dan Vanka masih saling berpelukan, dengan isak tangis Vanka. Dari situ Ines tahu jika luka anaknya pasti disebabkan oleh gadis itu lagi.
"Gio, kenapa bisa kayak gini?" tanya Ines dengan panik.
"Nggak apa kok ma, tadi temen aku nggak sengaja melempar gelas, dan mau mengenai Vanka, jadi aku hadang gelas itu supaya Vanka aman." Gio sengaja berbohong kepada mamanya, dia tidak mau mamanya akan menuntut Marisa karena telah sengaja melukai dia.
Ines menatap Vanka yang masih ada di dalam pelukan anaknya. Sebenarnya Ines ingin memarahi Vanka karena dialah anaknya terluka. Tapi ia tahu seberapa cinta anaknya ke gadis itu, Ines pun mengurungkan niatnya. Dia tidak mau anaknya justru akan membencinya karena dia memarahi wanita yang anaknya cinta.
Di pojok sana, Marisa terus saja menangis. Dia tidak sengaja melukai lelaki pujaannya. Hatinya terasa sangat sakit sekali. Dan tentunya dia sangat menyesal.
"Untung aja kalian nggak kenapa-napa." ucap Shaka yang merasa lega anaknya tidak terluka parah.
"Untung gimana sih pa? Ini kepalanya luka loh," sahut Ines sembari melirik tajam Vanka.
"Kata dokter, istirahat dua hari juga udah sembuh ma." ucap Gio masih belum mau melepaskan Vanka dari pelukannya.
"Nanti biar aku yang jaga Gio selama dia dirawat om, tante." ucap Vanka.
"Makasih ya?" Shaka selalu baik dan sopan kepada semuanya.
"Nggak perlu, nanti Gio akan terluka lagi. Dia sudah kayak gini demi kamu, dua kali." Ines beneran tidak bisa menahan amarahnya.
Waktu itu Gio pulang dengan babak belur juga karena Vanka. Sekarang, kepala Gio harus dijahit juga karena melindungi dia.
"Ma..." seru Gio yang tahu maksud dari perkataan mamanya. Gio tahu mamanya pasti menyalahkan Vanka saat ini.
"Maafin aku, tan.." lirih Vanka. Tapi Gio semakin mempererat pelukannya. Tidak peduli apa kata orang, yang jelas Gio sangat bahagia saat ini. Karena pada akhirnya, dia bisa kembali mendapatkan perhatian Vanka.
"Lo nggak salah, gue yang mau lindungin lo." ucap Gio sembari menatap mamanya dengan tajam.
"Kalah gitu gue pulang dulu, ya?" pamit Vanka karena sudah larut juga. Sebenarnya sih Vanka ingin menemani Gio di rumah sakit. Tapi karena mamanya Gio memasang wajah tak suka. Vanka memilih untuk undur diri.
__ADS_1
"Besok kesini lagi?" Gio enggan melepaskan pelukannya. Andai saja waktu bisa dihentikan. Gio ingin waktu berhenti saat itu juga. Dimana dia bisa memeluk Vanka sepuas hatinya.
Vanka menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis.