
"Gue mau pulang sendiri, lo anterin Arina saja!!" ucap Vanka sembari membuka pintu mobil.
Gio terkejut dengan perkataan Vanka. Dia berusaha menahan tangan Vanka. Gio tetap mengunci pintunya tidak membiarkan Vanka keluar dari mobilnya. Pada akhirnya Gio tahu apa yang membuat Vanka seharian ini berubah.
"Gue anter lo." ucap Gio menahan tangan Vanka.
"Gue bisa pulang sendiri!" Vanka menarik tangannya dari genggaman Gio. Tapi Gio tidak membiarkannya. Dia meneruskan laju mobilnya.
"Lo cemburu?" tanya Gio dengan tersenyum.
"Gue sama Arina nggak ada hubungan apapun, kita hanya berteman nggak lebih. Jadi jangan cemburu!" Gio menyentuh pipi Vanka tapi Vanka menghindar.
"Seandainya lo disuruh milih antara gue atau Arina, lo akan milih mana?" tanya Vanka menatap Gio dengan tajam.
"Milih lo dong, lo pacar gue, cinta gue, kebahagiaan gue." jawab Gio tanpa ragu.
Gio meminta Vanka supaya jangan mempunyai pikiran yang aneh-aneh. Gio juga meminta Vanka percaya kepadanya sepenuhnya. "Cinta gue cuma buat lo, nggak ada orang lain di hati gue selain lo." ucap Gio terus menggenggam tangan Vanka.
"Please percaya!" mohon Gio.
"Gue maunya juga percaya. Tapi setelah gue lihat story wa Arina kemarin, gue nggak bisa mikir positif." jawab Vanka juga menatap Gio.
"Story wa??" Gio jadi bingung karenanya. Dia tidak melihat story wa Arina yang aneh.
Vanka lalu menunjukan story wa Arina kemarin sore. Tapi ternyata Arina sudah menghapus story tersebut. Untung saja Vanka sudah menyimpan tangkapan layar story itu. Vanka menunjukannya kepada Gio.
"Dia di kamar lo kan kemarin? Tuh ada foto lo." tanya Vanka dengan tersenyum kecut.
"I..iya.. gue kan juga udah bilang kan kalau dia di rumah gue." Gio merasa keget dengan foto yang diunggah Arina tersebut. Dia berpikir apakah kemarin waktu dia sedang mandi, Arina sengaja berfoto dan mengunggahnya di story wa. Tapi kenapa nggak muncul di statusnya.
"Lo tahu kamar itu adalah privasi seseorang?" tanya Vanka lagi.
"Tahu.." Gio menganggukan kepalanya.
"Tapi kenapa dia bisa masuk ke kamar lo, mana pakaiannya terbuka kayak gitu, apa yang udah kalian lakukan dibelakang gue? Kalian pacaran di belakang gue? Atau ternyata gue yang jadi selingkuhan lo?" Vanka bertanya dengan tersenyum kecil, padahal di dalam hatinya terasa sangat sakit.
"Nggak gitu yank. Lo satu-satunya wanita yang ada di dalam hati gue, lo satu-satunya pacar gue." Gio meraih tangan Vanka kembali.
Gio menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Vanka. Tapi dia tidak membiarkan Vanka keluar dulu. "Gue nggak tahu kapan Arin foto, mungkin waktu gue mandi kemarin. Tapi kita nggak ngapa-ngapain yank, percaya sama gue!" Gio terus memohon supaya Vanka mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
"Pinjem hape lo!" Vanka ingin membuktikan kecurigaannya. Dia ingin memeriksa ponsel Gio, siapa tahu ada jejak yang tertinggal disana.
Gio yang merasa tidak memiliki rahasia apapun, memberikan ponselnya kepada Vanka untuk di cek. "Silahkan buktikan sendiri! Nggak ada yang gue sembunyiin dari lo." ucap Gio yakin.
"Maaf sebelumnya." Vanka meminta maaf sebelum memeriksa ponsel Gio.
Vanka membuka ponsel Gio yang tidak disandi tersebut. Dia tersenyum ketika melihat wallpaper hape Gio adalah fotonya. Vanka mulai memeriksa di pesan, tidak ada pesan yang aneh antara Gio dengan Arina. Kemudian Vanka menuju galeri, dan betapa kagetnya dia ketika melihat beberapa foto Arina di dalamnya.
Wajah Vanka tiba-tiba berubah. Gio yang melihat perubahan wajah Vanka menjadi bingung. "Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada apa sih?" Gio semakin penasaran, dia lalu merebut ponselnya dan melihat ada beberapa foto Arina di galeri ponselnya.
Gio merasa tidak tahu dengan foto tersebut mulai kaget. "Gue nggak tahu tentang foto-foto ini beneran. Kok bisa ada foto Arin sih?" gumam Gio kebingungan.
"Itu hape lo, privasi lo, nggak mungkin kalau lo nggak tahu.." seru Vanka yang merasa sangat kecewa dengan Gio.
"Mungkin dia sendiri yang foto saat gue kemana gitu." Gio juga tidak tahu kapan Arina foto menggunakan ponselnya.
"Dia bisa keluar masuk kamar lo, juga bebas buka hape lo, padahal gue aja nggak pernah buka hape lo apalagi masuk ke kamar lo. Sebenarnya pacar lo itu gue atau Arina?" tanya Vanka dengan hati yang sakit.
"Elo.. Pacar gue lo. Yank, tolong percaya sama gue! Cuma lo wanita yang bisa buat gue jatuh cinta, cuma lo sayank, yang ada di dalam hati gue.." Gio tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Dia terus menggenggam tangan Vanka tanpa mau melepaskannya.
"Gue nggak tahu, apakah gue bisa percaya sama lo. Buka pintunya, biarin gue keluar!" Vanka bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nggak.." Gio malah menarik Vanka ke dalam pelukannya.
Vanka meronta dan mengancam akan berteriak jika Gio tidak mau melepaskannya dan membiarkannya keluar. Tapi Gio semakin erat memeluk Vanka.
"Lepasin Gio!" Vanka semakin meronta.
"Tolong... tolong..." Vanka beneran berteriak di dalam mobil Gio. Bahkan Vanka juga menangis yang membuat Gio tidak tega.
"Jangan nangis, oke! Gue buka pintunya." Gio tidak bisa melihat kekasihnya menangis atau bersedih.
Begitu Gio membuka kunci pintu mobilnya. Vanka dengan cepat keluar dari mobil Gio. Dia berlari ke dalam rumah, dan langsung mengunci gerbang rumahnya.
Vanka juga meminta assisten rumah tangganya untuk tidak membuka pintu gerbangnya. "Jangan dibuka! Biarin aja, kalau perlu mbak usir aja dia!" perintahnya.
Setelah ditegur oleh pihak keamanan setempat, akhirnya Gio memutuskan untuk kembali ke sekolah dan bertanya langsung kepada Arina. Apa maksud dia mengunggah foto dia saat berada di kamar Gio. Dan mengenai foto yang ada di galeri ponselnya. Gio juga butuh kejelasan.
Gio sampai di sekolahan ketika jam pulang tinggal beberapa menit lagi. Gio memilih menunggu di dalam mobil yang dia parkir di depan sekolahnya.
Gio berusaha untuk menelepon Vanka tapi tidak diangkat. Tapi dia tidak menyerah, dia terus mengirim pesan singkat ke Vanka meskipun sama sekali tidak dibalas oleh Vanka.
Gio meminta Arina untuk datang ke mobilnya sekalian membawakan tas-nya. Arina dengan senang hati menghampiri mobil Gio di depan sekolahan.
"Rin, jawab gue dengan jujur! Apa maksud lo unggah story wa foto lo di kamar gue?" tanya Gio tanpa basa basi.
"Gu...gue.. maafin gue Gi, gue cuma iseng aja." jawab Arina dengan dengan gugup.
"Terus kenapa lo foto menggunakan ponsel gue?" tanya Gio dengan menatap Arina tajam.
"Oh, itu, itu gue cuma nyoba kamera di ponsel lo aja. Tapi gue lupa hapus." Arina dengan cepat menemukan alasan. Ya, karena memang itu sudah diniati oleh Arina sebelumnya.
"Anggap aja kalau itu bener. Tapi gue nggak mau itu terulang lagi! Kamar, hape, itu privasi gue! Dan lo harus tahu batasannya." ucap Gio memperingati Arina untuk bisa tahu batasannya sebagai teman.
"Iya, maaf.." Arina tidak menduga jika Gio akan semarah ini padanya.
"Ya udah, lo bawa aja mobil gue! Gue mau ke rumah Vanka lagi, mau temenin dia yang lagi sakit." Gio keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Gio sengaja menunggu Akila keluar dengan membawa mobil Vanka. Gio ingin ikut kembali ke rumah Vanka. Kalau bersama Akila kan Vanka tidak mungkin tidak membuka pintunya.
Gio mencegat mobil Vanka yang dikemudikan oleh Akila. Kemudian dia masuk ke dalam mobil tersebut.
"Lo kan bawa mobil tadi?" tanya Akila.
"Dibawa Arin."
"Kil, nanti lo bilang ke Vanka ya kalau kepala gue sakit lagi, tapi lo jangan bilang kalau gue sama lo!" pinta Gio kepada Akila.
"Emang kenapa sih? Kalian bertengkar lagi?"
"Hm, dia ngambek lagi. Tolongin ya Kil!" mohon Gio.
"Masa iya gue harus bohongin Vanka." Akila kurang setuju dengan permintaan Gio.
"Please!" tapi melihat Gio yang memohon dengan menyedihkan membuat Akila menjadi kasihan.
"Iya deh, tapi lo harus traktir gue besok.."
"Beres, ntar gue bilangin ke Donat kalau lo minta jajan, ntar Donat biar kasih duit ke gue." jawab Gio dengan terbahak.
Sesampainya di rumah Vanka, Gio dan Akila melancarkan aksi mereka. Gio berpura-pura kesakitan sembari memegangi kepalanya. Saat Akila membawa masuk mobil Vanka, Vanka mengomel kenapa Akila membawa Gio ke rumahnya.
"Kepalanya sakit katanya, gue bawa ke rumah sakit nggak mau, dia minta dibawa kesini.." mendengar bahwa kepala Gio kembali sakit, Vanka menjadi begitu khawatir.
"Kita bawa keluar!" Vanka dengan dibantu oleh Akila membawa Gio keluar dari mobil.
Vanka membawa Gio masuk ke dalam rumahnya. Membaringkan Gio di sofa ruang tamu. Vanka meminta pembantunya menyiapkan minuman hangat dan juga obat pereda nyeri.
"Minum obat dulu!" ucap Vanka.
"Gue nggak butuh obat, gue butuhnya lo. Jangan tinggalin gue!" Gio menatap Vanka yang ada di depannya.
Melihat Gio yang memohon dengan mata berkaca-kaca, Vanka menjadi luluh. Kemarahannya mulai mereda, lagipula dia juga belum mendengar penjelasan Gio.
"Enggak, gue nggak ninggalin lo. Maafin gue ya?" Gio yang merasa senang langsung memeluk Vanka. Gio mengacungkan ibu jarinya ke Akila yang juga menatapnya.
"Ya udah, kalian lanjut aja! Gue mau balik, udah ditunggu soalnya." ucap Akila berpamitan.
"Eh cie.." seru Vanka menggoda Akila yang ternyata sudah dijemput oleh Doni.
"Yank, lo mau dengerin penjelasan gue?" tanya Gio.
"Iya, jelasin!" ucap Vanka yang sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara Gio dan Arina dulu.
Gio sudah menyiapkan hatinya untuk itu. Meskipun itu akan membuka luka lama dihatinya. Tapi Gio lebih tidak rela jika kehilangan kekasihnya.
"...."
__ADS_1