Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
80


__ADS_3

Selang sebulan kepergian Desi. Tapi Febri masih aja terlihat terpuruk. Dia yang biasanya cerewet meskipun seorang pria, setelah kepergian Desi dia menjadi pendiam. Bahkan sangat pendiam.


Kepergian Desi memang meninggalkan luka yang begitu mendalam dihati teman-temannya. Perpisahan yang sangat menyakitkan, karena mereka bukan hanya berpisah secara fisik, tapi juga dipisahkan oleh alam.


Ira yang merasa paling terpukul. Dia bahkan menjadi agak kurus sekarang. Katanya dia tidak napsu makan, sudah dipaksa tapi dia tetap tidak napsu makan.


Tentu saja perubahan Ira tersebut membuat Vanka dan Akila menjadi khawatir. Mereka berdua meminta Ira untuk terus semangat.


"Jangan seperti ini dong, Ra!" ucap Akila yang selalu khawatir dengan keadaan psikis Ira setelah ditinggal Desi untuk selama-lamanya.


"Iya, Ra, lo harus semangat, Desi pasti sedih kalau lihat lo seperti ini.." Vanka juga menyemangati Ira.


"Kita berdua juga sangat kehilangan, tapi kita mencoba menerima semuanya, kita harus terus melangkah ke depan!" imbuh Vanka.


Sementara Ira hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya. Rasanya masih belum percaya jika sahabatnya sudah berpulang duluan.


"Van, ntar malam ada waktu nggak?" tetiba Febri mendekati Vanka.


"Enggak, kenapa?" tanya balik Vanka.


"Gue mau ngomong, ntar malem di kafe biasa!"


"Gue ajak Gio ya?" Febri menganggukan kepalanya, setelah itu Febri berjalan keliar dari kelas.


"Nah, gue juga perform nanti, lo ikut ya Ra, biar lo ada hiburan juga!" Ira juga hanya menganggukan kepalanya.


Sebenarnya Vanka juga sedang pusing. Sudah dua hari Gio masih belum mau pulang. Vanka sudah membujuknya, tapi Gio masih belum mau pulang. Tapi Vanka masih berusaha untuk menyemangati Ira.


Dan juga, Vanka tahu, apa alasan Febri ingin ngomong dengan dia. Vanka yakin jika semua itu pasti ada hubungannya dengan Desi. Meskipun Vanka dan Akila sering sekali berantem dengan Febri. Tapi mereka berdualah yang sering mendengarkan curhatan Febri.


Mungkin sudah saatnya Febri menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan mendiang Desi. Dan alasan kenekadan Desi juga pasti dipicu oleh masalah tersebut.


Di kelas Gio..


Arina mencoba membujuk Gio supaya mau pulang. Akan tetapi Gio tidak bergeming sama sekali. Gio tidak mau lagi peduli dengan Arina. Karena dia tidak mau Arina akan merasa menerima harapan palsu.


"Kasihan mama lo, Gio.." ucap Arina tapi Gio hanya diam saja tanpa merespon apapun.


"Udahlah, Gio udah dewasa, jangan ikut campur permasalahan dia dengan mamanya!" Dhanu memperingati Arina supaya tidak lagi membujuk Gio. Alasannya karena Dhanu tidak tega melihat Arina dicuekin oleh Gio seperti itu.


"Gue harus ikut campur, gue kasihan sama tante Ines, dia udah kayak mama gue sendiri, mana mungkin gue tega lihat tante Ines seperti itu." Arina sengaja ingin menunjukan betapa dia peduli dengan mamanya Gio.


"Iya gue paham perasaan lo." hanya Dhanu sepertinya yang percaya dengan apa yang Arina katanya. Mungkin karena dia suka dengan Arina.

__ADS_1


Gio yang tidak mau mendengar rengekan Arina, memilih bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan keluar kelas. "Kemana lo?" seru Reza.


"Kelas Vanka. Kangen gue sama dia." jawab Gio sengaja biar Arina mendengarkan perkataannya.


Reza juga ikutan bangkit dari tempat duduknya, dia menyusul Gio yang sudah berjalan duluan keluar kelas. Reza juga merasa tidak suka dengan Arina yang sekarang. Menurut Reza, Arina sekarang agak sedikit aneh. Tidak pasti apa yang aneh, tapi Reza merasakan keanehan itu.


"Kenapa lo ikutin gue?" tanya Gio ketika Reza merangkulnya dari belakang.


"Males gue lihat Arin. Dan males lihat sibucin Dhanu." jawab Reza tanpa basa basi.


"Biarin ajalah, yang penting Dhanu seneng."


"Iya sih. Tapi eneg juga lihat dia bucin banget ke Arin."


"Gue doain semoga lo juga cepet dapet gebetan, biar sama-sama bucin lo kayak Dhanu." Gio terbahak setelah mengolok Reza.


"Kampret emang lo." Reza menoyor kepala Gio sambil ikutan tertawa.


Gio, bukannya dia tidak suka melihat kebucinan Dhanu. Karena dia sendiri juga orang yang bucin. Hanya saja, Gio tidak mau Arina sok perhatian kepadanya. Gio juga harus menjaga perasaan Dhanu.


****


Malam harinya, Vanka mengajak Gio untuk ke kafe dimana Akila sering perform. Sesampainya disana, Febri juga sudah ada sedang menunggu Vanka. Sementara Akila lagi bersiap untuk tampil.


"Hai," sapa Vanka kepada Febri dan Ira yang sudah menunggunya.


"Ternyata belum siap aku... Kehilangan dirimu.. Belum sanggup untuk jauh darimu.."


Penggalan lirik tersebut membuat Ira kembali menangis. Juga Febri yang kembali meneteskan air matanya. Mereka berdua kembali teringat akan sosok Desi.


"Ra..." Vanka menggenggam tangan Ira yang menangis tanpa suara.


"Gue nggak apa-apa kok." jawab Ira dengan suara yang sangat serak.


Setelah tampil, Akila ikut gabung bersama teman-temannya. Barulah setelah Akila gabung, Febri memulai percakapan. Febri mengatakan alasan kenapa dia mengajak Vanka untuk ketemu. Karena Febri ingin cerita sesuatu hal yang mengganjal dalam hidupnya semenjak kepergian Desi.


"Alasan gue ajak lo karena gue mau curhat." ucap Febri.


"Tapi gue harap, lo jangan nyalahin gue!" Febri menunjuk ke Akila yang selalu bar-bar ketika dengan Febri.


"Hm.." Akila menganggukan kepalanya.


Doni dan Gio yang merasa tidak memiliki kepentingan, ingin menjauh dari keempat sahabat itu. Tapi mereka berdua dilarang oleh Febri. Karena mereka adalah pacar temannya, jadi Febri tidak menganggap mereka sebagai orang luar.

__ADS_1


"Kalian disini aja, nggak apa-apa kok." ucap Febri menahan Doni dan Gio.


Doni dan Gio akhirnya kembali duduk di kursi masing-masing. Mereka juga penasaran, permasalahan apa yang terjadi antara Febri dan Desi sehingga membuat Desi nekat mengakhiri hidupnya sendiri.


"Sebelumnya gue mau minta maaf. Gue yang membuat Desi sampai nekat mengakhiri hidupnya sendiri." ucap Febri suara serak, sepertinya dia sangat menyesal dengan apa yang terjadi.


Yang sangat baik dari teman-temannya, karena mereka tidak menyela perkataan Febri. Mereka menunggu Febri merasa tenang dan melanjutkan kembali ceritanya.


"Gue sama Desi emang udah resmi pacaran, tapi itu nggak lama, mungkin hanya dua bulan lebih dikit. Kita putus dengan baik-baik sebenarnya, alasan putus karena dia nemuin foto Akila di handphone gue." lanjut Febri yang membuat semua teman-temannya kaget. Terutama Akila.


"Akila?" gumam Vanka merasa aneh.


"Ya. Dulu, lo tahu kan gue sama Akila sempat deket meskipun kita sering berantem, gue baper waktu itu. Gue punya perasaan sama Akila. Gue ngomong jujur ke Desi, dan akhirnya dia tidak terima lalu kita putus." imbuh Febri semakin membuat Akila kaget.


"Jadi karena lo, Desi akhirnya memilih buat akhiri hidupnya?" yang tidak masuk akal, Ira justru menyalahkan Akila atas semua yang terjadi.


"Kok lo nyalahin gue? Gue aja nggak tahu soal itu." tentu saja Akila membela dirinya.


"Lo yang nyarain Desi buat jauhin Febri, apa itu juga trik lo?"


"Loh kok?" Akila malah jadi bingung karena Ira marah kepada Akila.


"Gue saranin dia jauhin Febri karena Febri terkenal playboy, bukan maksud gue yang nggak-nggak." Akila mencoba menjelaskan semua supaya Ira tidak salah paham. Karena Akila aja tidak tahu menahu masalah perasaan Febri ke dia.


"Jelasin Feb! Gue aja nggak tahu tentang perasaan lo ke gue, masa gue yang disalahin." Akila agak emosi tapi dia mencoba menahannya.


"Semua itu nggak ada hubungannya sama Akila. Gue aja yang belum bisa hilangin perasaan gue ke dia. Dan masalah Desi bunuh diri, itu juga bukan karena putus, tapi..."


"Tapi apa?" Ira tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Febri.


"Tapi apa Feb! Jangan bikin penasaran yang berakibat muncul pikiran yang nggak-nggak!" Vanka juga tidak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Febri.


"Tapi karena Desi hamil dan dia takut ngomong ke orang tuanya." tangisan Febri pecah ketika itu.


"Hamil??" ucap mereka semua karena kaget.


"Iya. Andai gue tahu lebih awal, gue pasti akan bertanggung jawab, biar bagaimanapun itu anak gue." Febri semakin menangis karenanya.


"Lo tahu dari??"


"Surat yang dia tulis, mungkin kakak dan orang tuanya juga tahu mengenai karena surat itu kemungkinan juga udah dibaca sama mereka." Febri tidak berhenti menangis. Terlihat jelas bahwa Febri sangat sedih dan menyesal.


Mungkin itu sebabnya selama sebulan terakhir, atau tepatnya sejak kepergian Desi. Febri menjadi banyak diam dan seperti terpuruk.

__ADS_1


Vanka menepuk pundak Febri. Dia meminta Febri untuk bangkit dan melupakan hal yang telah terjadi. Vanka juga menasehati Febri untuk berpacaran yang sehat. "Meskipun jaman sekarang hal itu banyak terjadi, tapi kalau bisa jangan! Bukan hanya untuk Febri, tapi juga untuk kalian." Vanka menunjuk Akila, Doni dan juga Ira.


"Dan untuk gue sendiri. Sebisa mungkin hindari hal yang akan merugikan diri sendiri!" imbuh Vanka.


__ADS_2