
Defan pulang dengan perasaan bahagia. Akhirnya Chika mau mendengarkan penjelasannya dan mau memaafkan dia lagi. Meskipun setiap kali pulang dia akan merasa sedih. Tapi setidaknya beban Defan jadi berkurang.
"Defan pulang ma.."
"Kok baru pulang nak, habis darimana?" tanya Kimora kepada anak laki-lakinya yang baru pulang sekolah padahal hari sudah hampir petang.
"Main ma.."
"Oh, udah makan belum?" tanya Kimora lagi.
"Udah tadi sama temen-temen.. Defan ke kamar dulu ma.."
"Def, nanti mama sama papa mau makan diluar, kamu mau ikut atau nggak?" ucap Kimora yang langsung menghentikan langkahnya.
Defan memutar badannya. Dia pun mengerutkan keningnya. "Mama sama papa udah baikan?" tanyanya dengan polos.
Kimora tersenyum kecil mendengar pertanyaan anaknya. Dia pun kemudian menganggukan kepalanya sembari tersenyum. "Iya. Makanya kita mau dinner diluar sembari mampir jengukin kakak kamu.." jawab Kimora.
"Aku dirumah aja ma.. Mama sama papa have fun yak.." Kimora kembali tersenyum mendengar ucapan Defan.
Defan kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Harinya sangat menyenangkan bagi Defan. Hari ini dia full senyum. Dimana kekasihnya mau memaafkannya. Dan kedua orang tuanya juga sudah baikan. Bahagianya double hari ini.
Sesampainya di kamar, Defan langsung bergegas mandi. Dia mandi sembari bersenandung riang. Senyumnya tak pernah hilang dari bibirnya.
Selesai mandi, Defan langsung menelepon Chika. Dia tidak sabar membagi kebahagiaannya dengan Chika.
"Kenapa kayaknya seneng banget?" tanya Chika yang sedang rebahan di kamar.
"Mama sama papa udah baikan. Mereka mau dinner katanya." jawab Defan dengan bahagia.
"Serius??" terdengar Chika juga merasa sangat bahagia mendengar berita dari Defan.
"Hmm.."
Dua jam berlalu. Defan mematikan teleponnya setelah baterai ponselnya lemah. Entah apa yang mereka bicarakan sampai dua jam lamanya. Yang pasti tidak jauh dari kata mesra.
Tokk!
Tokk!
"Defan, mama sama papa mau berangkat. Kamu beneran nggak mau ikut?" seru Kimora dari luar pintu kamar Defan.
Mendengar teriakan mamanya dari depan kamarnya. Defan pun bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya. "Enggak ma, kalian pergi aja! Ntar Defan ganggu.." ucap Defan sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ganggu apa sih nak, enggaklah, masa iya ganggu. Kamu mau ikut atau nggak?" sekali lagi Kimora menawari anaknya.
Akan tetapi, Defan kembali menolak ajakan mamanya. "Enggak mamaku sayank.. Buruan berangkat udah dituggu sama papa!!" Defan mendorong pelan tubuh mamanya.
"Beneran kamu dirumah aja? Mau dibawain apa?"
"Nggak usah! Defan makan dirumah aja sama kakek.."
"Ya udah kalau gitu mama sama papa berangkat dulu! Nanti kita juga mau mampir jengukin kak Aiko.."
"Iya..."
****
Alfarezi menyiapkan makan malam yang romantis untuk istrinya. Dia secara khusus meminta Andhika untuk menyiapkan semuanya, termasuk hidangannya harus Andhika sendiri yang masak.
"Kamu pasti paksa Andhika untuk siapin ini semua?" Kimora sangat tahu bagaimana sikap otoriternya Alfarezi.
"Aku bayar mahal jadi wajar dia harus kasih pelayanan yang special."
"Dansa yuk ma!" ajak Alfarezi.
Di dalam ruangan khusus tersebut dilengkapi dengan pelayanan musik yang indah. Sepasang suami istri tersebut tidak tahan untuk tidak berdansa.
"Ma, kamu tahu nggak, aku adalah lelaki yang sangat beruntung.."
"Karena aku punya istri yang cantik dan baik seperti kamu.."
"Halah gombal.."
"Serius ma, jangan tinggalin aku ya ma? Kamu harus janji selalu temani aku dalam suka dan duka!"
"Ya tergantung kamunya sih kalau aku. Kalau kamu setia, aku pasti nggak akan tinggalin kamu. Tapi kalau kamu main-main dibelakang aku, aku akan tinggalin kamu dan nikahin Rafael.."
"Sebelum kamu nikahin Boy, aku akan hajar dia duluan.."
Kimora dan Alfarezi saling bertatapan dengan mesra. Seperti anak muda yang sedang jatuh cinta. "Saranghiu ma.." ucap Alfarezi yang membuat Kimora tak bisa menahan ketawa.
"Papa apaan sih.." Kimora memukul lengan Alfarezi karena gemas.
"Gimana kabar Riska? Apa pak Ardi tidak berusaha mencarinya?" Kimora masih teringat akan Riska.
"Setelah kejadian itu kabarnya mereka putus.. Mungkin dia mengira jika Riska pergi kemana gitu, tidak mengira jika Riska akan jatuh ditangan Boy.."
__ADS_1
"Bisa nggak sih lepasin aja dia?" pinta Kimora.
"Nggak, dia udah sering banget sakiti Aiko, dan hampir hancurkan rumah tangga kita. Apalagi dia udah jatuh ditangan Boy." Alfarezi menolak permintaan istrinya.
Kimora kembali merasa kasihan kepada Riska. Dia tahu, musuh jika sudah jatuh ditangan Boy. Tidak ada harapan untuk kembali dengan hidup-hidup. Tapi kali ini Kimora tidak bisa merayu suaminya. Mungkin untuk meminta Boy melepaskan Riska, dia masih bisa. Tapi, Boy tidak akan berani melepaskan musuh tanpa perintah dari Alfarezi.
Kimora sebenarnya ngeri dengan kesadisan suaminya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Karena jika Riska dilepaskan, Kimora juga tak yakin jika Riska akan berhenti menyakiti anaknya. Belakangan Kimora mendengar jika Riska pernah mendorong Aiko saat Aiko sudah berbadan dua.
"Kenapa sih mikirin orang terus? Pikirin suami kamu yang kangen banget sama kamu nih!!" Alfarezi memeluk Kimora dengan begitu erat.
Sudah lebih dari dua minggu mereka perang dingin dan pisah ranjang. Alfarezi benar-benar kangen ingin dimanja oleh Kimora.
Alfarezi lalu menciumi leher Kimora dan meninggalkan bekas disana. "Ah.." seru Kimora saat Alfarezi menggigit lehernya.
"Kamu apa-apaan sih pa, masih ada orang disini.." bisik Kimora sembari melirik ke arah pemain biola yang mengiringi mereka sedari tadi.
Alfarezi lalu memberi selembar uang kertas kepada pemain biola tersebut. Dia juga mengisyaratkan pemain biola tersebut untuk keluar.
Setelah pemain biola itu keluar. Alfarezi kembali menc*mb*i istrinya dengan ganas. Setelah merasa panas, Alfarezi mengangkat Kimora ke kamar yang ada di dalam ruangan tersebut.
Dan memang semua sudah disiapkan dengan baik oleh Andhika sesuai permintaan Alfarezi. Ranjang tersebut sudah ditata dengan rapi, bunga yang berbentuk hati.
Alfarezi menurunkan Kimora secara perlahan. Dia kembali menciumi Kimora dari pipi, bibir sampai ke leher.
"Kimora, i love you..." bisik Alfarezi sambil menjilat daun telinga Kimora.
Alfarezi lalu membuka baju Kimora. Sementara Kimora membuka sabuk Alfarezi dengan sekali klik. Kemudian mencuatlah sesuatu yang tegak dari celana Alfarezi.
Alfarezi pun memajukan sedikit tubuhnya dan sesuatu yang tegak tersebut jatuh dimulut Kimora. "Huh..." terdengar ******* Kimora dengan mulut yang penuh sesuatu tersebut.
Sedangkan Alfarezi mulai menggoyangkan tubuhnya maju mundur. "Ah..." Alfarezi menikmati pelayanan istrinya yang sangat ia rindukan.
Lebih dari dua minggu dia menahan. Malam ini dia ingin meluapkan semuanya. Cukup lama sampai akhirnya cairan putih itu menyembur ke dalam mulut Kimora.
Tak hanya sampai disitu. Alfarezi menerkam Kimora berkali-kali sampai membuat Kimora lemas tak berdaya. "Pa, aku udah nggak kuat lagi.." ucap Kimora dengan nafas tersengal-sengal.
"Sekali lagi, oke!" Alfarezi terus mengguncangkan tubuh Kimora dari belakang. Permohonan Kimora sama sekali tidak digubris oleh Alfarezi.
"Kita masih harus ke rumah Aiko.."
"Kita jengukin Aiko besok aja!" Alfarezi pantang menyerah. Dia terus membuat Kimora tidak berdaya.
"Ah... ah..." suara ******* Kimora semakin nyaring karena Alfarezi menggerakan tubuhnya semakin kencang.
__ADS_1
Alfarezi menyemburkan semua cairan kenikmatan ke wajah serta mulut Kimora. Dia pun tersenyum puas setelah itu.
#Hallo kakak-kakak semuanya.. Author cuma mau kasih tahu kalau ada judul baru loh.. Yuk terus dukung Author supaya semakin semangat berkarya.. makasih kak...#