
Sementara di rumah, Defan terkejut melihat video yang dikirim oleh nomer yang tidak dia kenal. Defan melihat sepupunya mencium kening wanita yang dia sukai. Defan sempat ingin marah, tapi dia berusaha menahannya.
Defan masih ingin berpikiran positif. Karena yang mengirim video tersebut adalah nomer tak dikenal. Defan kemudian memutuskan untuk menelepon nomer tersebut.
"Siapa lo? Apa maksud lo kirim video editan itu ke gue?" tanya Defan masih tidak percaya dengan isi video tersebut.
"Defan, lo jangan beg*! Jelas-jelas itu Jovanka terlihat deket banget sama Gio, lo harusnya mikir kalau mereka punya hubungan khusus, dan itu juga video asli, kalau lo nggak percaya lo bisa buktiin sendiri!" ucap Chika melalui panggilan telepon.
Mendengar suara dari balik telepon, Defan jadi tahu kalau itu nomer baru Chika. Setelah tahu siapa yang mengiriminya video, Defan langsung mematikan panggilan teleponnya.
Di dalam hatinya berkecambuk rasa yang tidak menentu. Dia tidak percaya jika sepupunya akan mengkhianati dia. Tapi nada bicara Chika sangat yakin bahwa itu video asli.
Defan kembali merebahkan dirinya dan melihat kembali video tersebut. "Tapi ini beneran Gio." gumamnya.
Defan memikirkan itu sepanjang siang sampai sore. Defan lalu bergegas ke rumah Gio. Dia ingin bertanya langsung kepada Gio apa hubungan Gio dengan Vanka.
Sesampainya di rumah Gio, Defan disambut oleh tante dan pamannya dengan gembira. Kebetulan pamannya sudah pulang lebih awal dari kantor.
"Gio ada paman?" tanya Defan.
"Ada di kamarnya, naik aja ke kamarnya, setelah itu kita makan malam bareng ya!" ajak Shaka yang senang melihat keponakannya main ke rumahnya.
"Iya, aku ke kamar Gio dulu." Shaka menganggukan kepalanya.
Di kamar, Gio sedang main gitar sembari sekali membalas chat dari Vanka. Saat Defan masuk ke kamarnya, Gio agak kaget melihat wajah Defan yang sedikit murung.
"Kenapa Def?" tanya Gio masih memainkan gitarnya.
Defan seketika melempar tubuhnya ke kasur. Dia bingung mau tanya darimana dulu mengenai hubungan Gio dengan Vanka.
"Gi, seandainya lo disuruh milih, lo lebih milih persaudaraan atau pacar?" pertanyaan Defan itu membuat Gio menghentikan aktifitas sebelumnya. Dengan segera menoleh ke arah Defan yang berbaring di sampingnya.
Berjuta pertanyaan memenuhi pikirannya. Apakah Defan sudah tahu mengenai hubungannya dengan Vanka. Atau Defan hanya ingin menguji kecurigaannya tadi pagi.
"Kok tumben tanya gitu?" Gio berusaha untuk tetap tenang. Jangan sampai terpancing oleh pertanyaan jebakan tersebut.
"Jujur, gue sih sebenarnya masih kepikiran foto yang Lika ambil tadi pagi." ucap Defan.
"Tapi gue yakin lo bukan orang seperti itu. Lo nggak bakal mungkin nusuk gue dari belakang." lanjut Defan yang membuat Gio semakin merasa bersalah.
"Def, jika seandainya itu semua bener, lo marah nggak sama gue?" Defan menatap Gio yang juga menatapnya.
Sesaat kemudian Defan mengalihkan pandangannya. "Iya, gue bakal marah sama lo. Gua akan paksa lo memilih antara cinta atau saudara. Emang itu bener? Lo sama Vanka ada hubungan?" tanya Defan kembali menatap Gio.
Gio termenung sesaat. Misinya akan segera terlaksana, dia tidak boleh mengaku sekarang. Kalau nggak, Defan dan Chika tidak punya kesempatan untuk ngobrol berdua.
__ADS_1
"Ya nggak lah, nggak usah punya pikiran yang aneh-aneh!" jawab Gio dengan tersenyum.
"Terus apa pilihan lo? Lo milih cinta atau saudara?" desak Defan.
"Gue akan menghindari pilihan seperti itu. Gue nggak akan rebut apa yang seharusnya jadi milik lo." jawaban Gio tersebut justru membuat Defan tidak puas. Apalagi saat dia teringat akan video yang Chika kirim tadi.
"Ntar malam ke basecamp nggak?" tanya Defan.
"Nggak dulu Def, gue ada janji mau nemenin kak Ernes ketemu temannya. Temen kak Ernes pengen ketemu gue katanya." jawab Gio.
Memang bener Gio udah ada janji dengan Ernes. Karena Cintya ingin ketemu dengan Gio jadi Ernes mengatur supaya mereka bisa bertemu. Dan Gio juga akan mengajak Vanka. Biar Gio tidak jadi obat nyamuk nantinya.
Akan tetapi, Defan berpikir beda. Dia curiga Gio akan pergi kencan dengan Vanka. Tapi menggungakan kakaknya sebagai alasan.
"Oh, yaudah. Gue juga lagi males keluar." tak lama kemudian Defan pamit pulang.
****
Aiko masih belum mau ngomong sama Rakha. Dia masih menghindari Rakha dan sama sekali tidak mau bicara dengan Rakha.
"Yank, jangan diemin gue terus dong!" pinta Rakha tidak kuat menghadapi kedinginan Aiko.
"Jangan panggil aku, yank! Kita udah putus.." ucap Aiko dengan sewot.
"Aku nggak mau putus dari kamu. Aku mau lamar kamu," ucap Rakha.
"Kalau kamu nggak mau ya aku paksa."
"Daripada kamu malu karena aku tolak. Mending kamu lamar mantan kamu, kayaknya dia masih berharap sama kamu."
Cup..
Tanpa peringatan Rakha mengecup pipi Aiko di depan umum. Tentu saja apa yang Rakha lakukan tersebut membuat Aiko malu bukan main.
Aiko mempercepat langkah kakinya. Dia menutupi wajahnya dengan buku karena banyak orang yang melihatnya. Bahkan Aiko sampai berlari supaya cepat menyingkir dari tempat tersebut.
Akan tetapi Rakha terus saja mengejarnya. "Yank, jangan lari-lari nanti kamu jatuh!" ucap Rakha masih mengejar Aiko yang berlari sampai taman belakang kampus mereka.
"Kamu apa-apaan sih Kha? Banyak orang bisa-bisa kamu cium aku, bikin malu aja." omel Aiko ketika dia sampai di tempat biasa dia dan Rakha pacaran.
"Jadi kalau nggak ada orang boleh cium nih?" Rakha semakin mendekati Aiko.
"Stop! Kalau kamu berani macam-macam, om aku nggak akan lepasin kamu." Aiko mundur ketika Rakha mendekat.
"Aku nggak macam-macam kok, cuma satu macam aja." ucap Rakha konyol.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, jangan ganggu aku lagi!"
"Nggak bisa, kamu tahu kan Hawa itu tercipta untuk menemani Adam. Begitu juga aku, aku tercipta buat gangguin kamu." Rakha mengelitik Aiko membuat Aiko kegelian.
"Stop Kha! Apapun yang kamu lakuin tidak bisa mengubah keputusan aku. Kita udah putus, tolong jangan ganggu aku lagi!"
Rakha menahan tangan Aiko. Kemudian memeluknya dengan erat. "Jangan tinggalin aku, aku cinta banget sama kamu." ucapnya dengan menyedihkan.
"Lepasin Rakha!" Aiko tetap tidak mau memaafkan Rakha. Dia masih kecewa dengan Rakha.
"Nggak mau." Rakha kemudian mencium Aiko tanpa peringatan sebelumnya.
"Hah..."
"Kalau kamu putusin aku, mending aku mati aja." ucap Rakha. Dia tahu kalau Aiko tidak akan tahan melihatnya mati.
"Lakuin apapun yang kamu mau. Bukan urusan aku." tapi ternyata Aiko tidak terpengaruh oleh ancaman Rakha.
Dia meninggalkan Rakha begitu saja.
Ternyata Rakha tidak main-main. Dia berlari ke atas gedung dan duduk disana. Awalnya tidak ada yang menyadari keberadaannya. Tapi ada seorang mahasiswa yang tidak sengaja melihatnya.
Ketika mahasiswa itu memberitahu temannya yang lain. Kemudian menjadi heboh. Mereka melaporkan kejadian itu kepada pihak kampus. Ada juga yang menghubungi Aiko karena tahu Rakha adalah pacar Aiko.
Tentu saja Aiko menjadi panik. Dia berlari ke atas gedung tersebut. Ternyata disana sudah banyak orang yang membujuk Rakha agar tidak nekat. Tapi tak ada satu pun yang berhasil membujuk Rakha agar mau turun.
"Rakha turun!" seru Aiko dengan panik. Aiko tidak menyangka jika Rakha akan benar-benar nekat seperti itu.
"Nggak, biarin aja aku mati, kamu nggak peduli sama aku lagi, untuk apa aku hidup." Rakha berdiri dipinggiran dinding tanpa pegangan.
"Rakha..." Aiko histeris karena takut Rakha akan jatuh.
"Turun Rakha, turun!" Aiko menangis.
"Kamu mau maafin aku nggak? Kalau nggak mau aku akan lompat dari sini." ucap Rakha semakin membuat Aiko panik.
"Iya, aku maafin kamu. Tapi kamu turun!" Aiko tidak bisa melihat Rakha mati di depannya, jadi dia memutuskan untuk memaafkan Rakha.
"Beneran kamu maafin aku? Kamu nggak akan tinggalin aku?"
"Iya." Aiko menganggukan kepalanya dengan cepat.
Rakha pun tersenyum. Dia akhirnya berhasil membuat Aiko memaafkannya, meskipun dengan cara yang ekstrim seperti itu.
Rakha turun dari dinding tersebut dengan kedua tangan yang terbuka. Aiko pun langsung berlari menyongsongnya dan melemparkan diri ke dalam pelukan Rakha.
__ADS_1
"Jangan lakuin lagi, jangan lakuin!" ucap Aiko sembari menangis.
"Maafin aku. Aku tidak akan ulangi lagi, asalkan kamu tidak tinggalin aku. Maafin aku sayank, aku cinta banget sama kamu." ucap Rakha sembari memeluk Aiko dengan erat.