
Ines keluar bersama dengan Rania. Selain untuk hangout bareng. Mereka juga membahas tentang anak-anak mereka, Gio dan Arina. Ines sangat antusias ingin menjodohkan Gio dengan Arina.
"Gimana kalau kita jodohin anak-anak kita jeng?" tanya Ines.
"Jodohin?" Rania sedikit terkejut dengan pertanyaan Ines.
"Iya jeng, Arina sama Gio serasi banget.." jawab Ines.
"Tapi kata Arin, Gio udah punya pacar?"
"Emang iya, tapi aku nggak suka sama pacarnya Gio, dia bukan wanita baik, setelah goda Defan, sepupu Gio, dia kemudian goda Gio. Dia juga buat Gio dan Defan bertengkar sampai Defan pukul Gio." ketika menceritakan masalah itu Ines seperti orang yang ingin marah.
Rania bisa melihat amarah Ines tak bisa disembunyikan. Rania lalu meraih tangan Ines. "Jangan sedih lagi jeng! Sebenarnya Arin kembali kesini juga karena Gio. Dia ke inget Gio terus, makanya dia minta kembali kesini." ucap Rania yang juga mengetahui jika keponakannya itu suka kepada Gio.
"Kebetulan kalau gitu jeng.." Ines merasa sangat senang, akhirnya ada orang yang ngerti perasaannya juga.
"Lusa kita makan malam di rumah aku ya! Nanti sekalian ngobrolin masalah anak-anak kita!" Ines mengundang Rania dan juga Arina ke rumahnya untuk makan malam sekalian membahas perjodohan Gio dan Arina.
"Iya." Rania juga terlihat sangat bahagia dengan rencana yang dibuat oleh Ines. Mungkin kesempatan yang bagus untuk dia bisa berbesanan dengan salah satu pengusaha terkaya di kota tersebut.
Kedua wanita paruh baya tersebut kemudian kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Seperti layaknya wanita sosialita lainnya, dengan menenteng tas mahal, memakai kacamata trendy. Ines dan Rania menggelilingi Mall.
Setelah puas jalan-jalan, Ines pulang ke rumah. Tapi dia kaget ketika melihat mobil Arina terparkir di halaman rumahnya.
Ines buru-buru masuk menemui Arina. Ines senang karena Arina ada di rumahnya. Itu artinya kedekatan Arina dengan Gio masih sama seperti dulu, meskipun Gio sudah memiliki kekasih. Ines berpikir, dengan kedekatan itu akan lebih mudah untuk menjalankan rencananya.
"Darimana ma?" tanya Gio yang sedang belajar bersama dengan Arina di ruang tamu.
"Mama dari jalan-jalan sama mamanya Arina. Kalian lagi ngapain?" tanya Ines balik.
"Belajar tan, aku kan ketinggalan jauh pelajarannya, makanya aku pinjem catatan Gio."
"Oh, udah makan belum kalian?" tanya Ines lagi.
Ines mengajak Arina makan bersama di rumahnya. Tapi dia masih belum mengatakan mengenai rencana perjodohan Arina dengan Gio.
"Lo sama mama dulu ya? Gue mandi dulu." Gio sudah merasa sangat gerah, dia ingin segera mandi.
Tapi tanpa sepengetahuan Gio, Ines menyuruh Arina menunggu Gio di kamarnya. Dan dari situ muncul ide jahat Arina. Ketika menunggu Gio mandi, Arina dengan sengaja selfie di dalan kamar Gio dengan menunjukan sedikit foto Gio yang terpampang di kamarnya supaya orang paham kalau dia ada di kamar Gio.
Arina sengaja mengupload foto tersebut di story wa-nya. Tapi sengaja di hide untuk Gio. Arina juga selfie menggunakan ponsel Gio tanpa sepengetahuan Gio. Niatnya agar Vanka marah ketika melihat foto tersebut. Arina tahu jika Gio jarang sekali buka galeri.
__ADS_1
Gio keluar dari kamar mandi dan kaget melihat Arina sudah ada di kamarnya. "Kok lo disini?" tanya Gio.
"Iya, tante Ines mau istirahat katanya, terus karena gue bosan, gue kesini aja, dulu kan gue juga udah terbiasa main di kamar lo." jawab Arina dengan lancar, dia sama sekali tidak terlihat gugup ketika berbohong. Atau tidak merasa bersalah karena sudah lancang membuka ponsel Gio.
"Rin, kayaknya mulai sekarang jangan sering-sering ke kamar gue deh! Kita udah dewasa dan lo tahu, kamar kan privasi ya.." ucap Gio juga sudah merasa canggung ketika berduaan dengan wanita di dalam kamar.
"Oh, sorry, gue nggak bermaksud gimana-gimana. Maafin gue ya?" ucap Arina.
"Iya." Gio menganggukan kepalanya.
"Gue mau ganti baju dulu!" Arina secara paham mulai keluar dari kamar Gio. Dia kembali menunggu Gio di ruang tamu.
Di rumah, Vanka merasa gabut. Biasanya kalau dia sedang jenuh atau gabut dia akan membuka story wa atau instagram teman-temannya. Dan tanpa sengaja dia melihat story wa Arina. Mata Vanka tertuju bukan pada foto Arina dengan baju yang sedikit terbuka sampai sedikit terlihat br* yang dia pakai. Akan tetapi, mata Vanka fokus kepada sebuah figura dimana ada foto Gio didalamnya.
Vanka tidak mau berpikiran negatif dulu. Dia mengirim pesan ke Gio, menanyakan sedang apa Gio dan dimana.
"Di rumah yank, lagi belajar sama Arina.." balas Gio melalui chat juga.
Sejak saat itu, pikiran Vanka mulai berubah. Dia agak menaruh curiga kepada Gio sekarang. Sembari berusaha mencari tahu apa hubungan Gio dengan Arina sebenarnya.
....
Kehadiran Arina dan juga kedekatannya dengan Gio membuat hati Vanka sedikit khawatir. Pasalnya, Arina berani menunjukan kedekatannya dengan Gio di depan Vanka. Dan lebih parahnya, Gio merasa biasa saja dengan perilaku Arina tersebut.
Vanka menilai kedekatan Gio dengan Arina itu terlalu dekat. Kesannya bukan kayak sahabat tapi lebih kayak pacar. Vanka selalu terngiang-ngiang perkataan Reza mengenai istri tua dan istri muda. Sampai saat ini Vanka belum tahu apa maksud perkataan itu. Dan itu semakin membuatnya gelisah. Belum lagi foto Arina kemarin sore itu.
Hari itu seharian Vanka berubah, dia tidak bawel seperti biasa. Dia terkesan lebih pendiam. Saat Gio bertanya, Vanka hanya akan menjawab kalau dia sedang tidak enak badan.
"Gue anter ke UKS ya?"
"Nggak usah." Vanka bersikap dingin kepada Gio, dia juga cuek kepada Gio.
Gio berjongkok di depan Vanka sembari menggenggam tangan Vanka juga menyentuh pipi Vanka dengan lembut. "Atau mau gue anter pulang?" Gio masih belum ngerti apa yang terjadi.
Bukan hanya Vanka yang bersikap anrh hari ini. Tapi Reza, Dhanu juga Defan dan Chika juga bersikap aneh. Mereka menatap Gio tajam tanpa sebab yang jelas.
"Gue bilang nggak usah ya nggak usah!" seru Vanka dengan sedikit kasar. Dan itu sempat membuat Gio terhenyak.
"Gi, gue kok pusing banget ya, lo bisa nggak anterin gue ke UKS?" Arina meminta Gio mengantarnya ke UKS dengan alasan dia merasa pusing. Arina juga hampir terjatuh, entah itu pusing beneran atau hanya mencari simpati Gio.
"Anterin aja dia, gue mau balik ke kelas.." ucap Vanka merasa sangat kesal. Vanka berdiri lalu pergi meninggalkan kantin dengan kesal.
__ADS_1
Gio berusaha mengejar Vanka, tapi Arina terus memegang tangannya. Disaat Gio hendak menarik tangannya, tiba-tiba Dhanu melepaskan tangan Arina. "Kejar Vanka! Biar gue yang anterin Arina ke kantin.
"Oke, thanks.." Gio lalu berlari mengejar Vanka ke kelas Vanka.
Sementara Arina mau tidak mau harus mau dianterin Dhanu. Dia tidak mau membuat yang lain curiga kalau dia sengaja menahan Gio supaya tidak mengejar Vanka.
Gio terus mengejar Vanka sampai di kelas Vanka. Karena jam istirahat masih ada, teman-teman Vanka masih ada di luar kelas. Hanya Vanka dan Akila saja yang berada di dalam kelas.
"Yank, lo kenapa sih? Kayaknya seharian ini lo marah mulu? Kenapa sayank?" tanya Gio sembari duduk di sebelah Vanka, sementara Akila pindah di tempat duduk Desi.
"Nggak apa-apa." jawab Vanka masih dengan cuek.
"Nggak mungkin. Dari kemarin sore lo itu aneh, lo balas chat gue cuma singkat-singkat, dan tumben lo tidur lebih awal, di sekolah lo cuek banget ke gue, lo diem aja nggak kayak biasanya, ada apa?" tanya Gio mengulangi pertanyaannya lagi.
Akila tidak mau ikut campur urusan sahabatnya, dia memilih meninggalkan kelas dan membiarkan Vanka dan Gio ngobrol berdua.
Vanka masih terdiam.
"Yank.." Gio meraih tangan Vanka.
"Gue nggak kenapa-napa, cuma nggak enak badan aja." Vanka bingung mau mulai darimana dia harus bertanya mengenai hubungan Gio dengan Arina.
"Nggak mungkin kalau cuma itu." Gio tidak percaya begitu saja, dia masih merasa aneh dengan perubahan tiba-tiba Vanka.
"Beneran, gue cuma nggak enak badan aja." jawab Vanka masih belum mau jujur.
"Mau nggak anterin gue pulang?" Gio menganggukan kepalanya.
Setelah Vanka membereskan buku dan alat tulisnya. Vanka memberikan kunci mobilnya ke Akila. Dia meminta Akila untuk membawa mobilnya nanti.
Hari ini Gio sudah bisa bawa kendaraan sendiri ke sekolah. Untuk pertama kalinya dia ke sekolah naik mobil. Hanya saja dia tidak bareng dengan Vanka, karena Vanka sudah berangkat duluan sewaktu dia menjemput Vanka. Tapi dia bareng dengan Arina karena perintah mamanya.
Sesampainya di pertengahan jalan, Gio mendapat telepon dari Arina. Dia juga ingin diantar pulang karena tidak kuat merasakan pusing. "Lo dianter Dhanu atau Reza aja ya, gue lagi anterin Vanka pulang." jawab Gio.
Vanka semakin kesal, dia menebak jika Arina memang sengaja ingin membuatnya kesal dan cemburu. Vanka tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia meminta Gio menghentikan mobilnya di depan.
"Berhenti di depan!" pinta Vanka.
"Kenapa? Lo nggak mau pulang? Lo mau main dulu?" Gio yang masih belum paham dengan kemarahan Vanka, menghentikan mobilnya sesuai permintaan Vanka.
"Gue mau pulang sendiri, lo anterin Arina aja!!" ucap Vanka sembari membuka pintu mobil.
__ADS_1