
Weekend.
Gio bersama keluarganya pergi ke villa milik keluarganya untuk berlibur. Akan tetapi ada yang membuat Gio menjadi agak tidak senang. Ternyata, mamanya juga mengajak Rania dan Arina untuk ikut serta dalam liburannya.
Sepanjang perjalanan Gio terus saja murung. "Tahu gitu tadi ajak om Alf dan keluarganya juga." gumam Gio merasa kesal dengan apa yang mamanya lakukan.
"Om Alfa nggak bisa karena dia ada pekerjaan ke luar kota juga. Dan tante Kimora juga harus temani kakek. Kakek belum bisa diajak perjalanan jauh." jawab Ines.
"Oh iya Gi, mama denger dari tante Kimora, kamu sama Defan berantem lagi? Kamu pukul Defan sampai babak belur?" tanya Ines yang baru saja mendengar kabar tersebut.
"Iya tante, itu karena Vanka." sahut Arina yang sengaja memprovokasi lagi hubungan Ines dengan Vanka.
"Wanita itu lagi!" ucap Ines kesal.
"Mama kan udah bilang, wanita itu wanita nggak baik, dia sengaja ingin hancurin hubungan kamu dengan Defan." imbuh Ines yang kembali kesal dengan Vanka.
"Kita mau liburan atau mau bahas Vanka?" tanya Gio yang sebenarnya sangat kesal karena Arina berusaha memprovokasi Ines kembali.
"Bener, kita sedang liburan. Seharusnya kita nggak bahas wanita itu lagi. Untung saja Gio udah putus sama wanita itu." jawab Ines merasa bersyukur karena Gio sudah putus dengan Vanka.
Gio tidak lagi mau mendengar perkataan mamanya. Dia lebih memilih untuk memakai handfree dan menyalakan musik melalui ponselnya.
"Kak Ernes nggak ajak pacar kak Ernes?" tanya Arina kepada Ernes yang duduk di sebelah papanya yang mengemudikan mobil tersebut.
"Eh, enggak. Gue nggak punya pacar." jawab Ernes sedikit canggung. Sudah lama sekali Ernes tidak saling ngobrol dengan Arina. Bahkan saat bertemu mereka hanya saling sapa, selebihnya ya udah.
"Masa cowok seganteng kamu belum punya pacar?" sahut Rania sok akrab.
"Ernes nggak punya waktu buat pacaran kayaknya jeng, dia hanya belajar dan belajar terus." Ines yang menjawab pertanyaan Rania.
"Wah hebat dong, jarang loh anak muda jaman sekarang yang tidak mikir tentang pacaran. Udah ganteng, pinter, anak sultan lagi.." ucap Rania kembali.
__ADS_1
"Ah jeng Rania bisa aja."
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 4 jam, akhirnya mereka sampai di villa yang dibeli oleh Shaka sejak lama. Tapi villa tersebut masih terlihat rapi dan bagus karena memang Shaka sengaja mempekerjakan orang untuk merawat villa tersebut.
Pemandangan dari villa tersebut juga cukup elok. Dengan view pegunungan yang berada tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.
"Pemandangannya bagus sekali..." Arina takjub dengan pemandangan yang dia lihat.
"Kayaknya cocok ya buat acara pertunangan kalian?" ucapan Ines tersebut membuat Gio menjadi terkejut.
"Pertunangan apa ma? Kita kesini untuk liburan, bukan yang aneh-aneh." Gio agak kesal dengan mamanya.
"Iya ma, jangan rusak suasana bahagia dong!" sahut Shaka mengingatkan istrinya supaya tidak membuat sesuatu yang akan merusak suasana liburan tersebut.
"Iya pa, cuma asal ngomong kok." jawab Ines sembari tersenyum.
Mereka disambut oleh penjaga villa dan juga istrinya. Sebelumnya, Shaka sudah menghubungin penjaga villa tersebut dan meminta untuk disiapkan makan serta keperluan lainnya.
Rencananya mereka hanya menginap satu malam saja. Besok pagi mereka akan menyusuri wisata yang ada di sekitar villa tersebut. Setelah itu baru pulang.
"Silahkan istirahat dulu, nanti malam kita ada acara bakar-bakaran."
"Makasih jeng.."
Rania dan Arina merasa sangat bahagia karena mereka merasa tinggal selangkah lagi untuk mencapai rencana mereka. Apalagi Gio dan Vanka juga sudah putus, kesempatan buat Arina terbuka lebar.
"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Rania.
"Iya tante.." jawab Arina dengan tersenyum.
"Ya udah kalau gitu kita istirahat dulu! Jangan lupa minum obat kamu!" Arina menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Arina membuka jendela dengan view yang sangat indah yang terlihat dari kamarnya. Arina mengambil beberapa foto untuk koleksi pribadinya. Dan tidak lupa dia juga membaginya di story wa.
Arina melihat foto-foto di galerinya. Dia menemukan foto kebersamaannya dengan Gio waktu mereka masih SMP dulu. Arina tersenyum melihat foto tersebut. Lalu kemudian dia kembali mengunggah foto tersebut di story wa-nya.
"Andai waktu itu gue...." Arina tersenyum kembali saat teringat kenangan masa lalunya.
"Lo benar-benar tampan Gio." pujinya sembari terus menatap foto Gio.
Malam pun tiba. Gio beserta keluarganya dan juga Arina dan Rania mengadakan acara bakar-bakar jagung dan acara api unggun. Gio dan Ernes sedang main gitar pada saat itu. Kedua kakak beradik itu memang lihai memainkan alat musik petik tersebut.
Diam-diam Arina memvideo Gio dan Ernes yang sedang bernyanyi diiringi musik gitar. Arina juga memvideo Ines dan Shaka yang sedang asyik memanggang jagung.
"Gue kirim aja ke Vanka. Biar dia tahu diri, dan sadar kalau Gio udah tidak lagi mikirin dia." muncul ide jail diotak Arina.
Dan benar saja, dia mengirim video kebersamaan tersebut ke Vanka. Arina juga menyelipkan kata yang cukup menohok. Kebersamaan dan kebahagiaan, sadar diri! Gio bisa bahagia tanpa lo, ini tempat untuk pertunangan kita.
Vanka yang menerima video tersebut hanya tersenyum pahit. Apalagi di video tersebut Gio terlihat begitu bahagia sedang nyanyi bersama kakaknya. Dan juga Arina memberitahu kalau tempat itu villa milik keluarga Gio. Meskipun dia sangat kecewa, tapi Vanka juga harus sadar jika mereka sudah bukan pasangan kekasih lagi.
"Selamat kalau gitu. Semoga selalu bahagia." balas Vanka melalui pesan singkat juga.
Tapi tanpa terasa air mata Vanka menetes. Vanka mengusap air matanya sembari mengumpat dirinya sendiri. "Ngapain sih lo nangis? Jangan bodoh! Dia udah bahagia, lo juga harus bahagia dong!" ucap Vanka pada dirinya sendiri. Tapi sialnya, air matanya tidak mau berhenti mengalir.
Apa yang membuat Vanka menangis, karena dia sangat kecewa. Gio pernah berjanji akan mengajak Vanka ke villa tersebut. Gio juga bilang kalau dia hanya akan mengajak wanita special ke villa milik keluarganya tersebut. Tapi ternyata justru wanita lain yang diajak oleh Gio ke tempat tersebut.
Awalnya Vanka tidak percaya dengan apa yang Arina katakan. Tapi setelah mengingat kembali, Vanka kembali ingat jika Gio pernah cerita mengenai villa milik keluarganya yang memiliki keindahan dengan view pegunungan yang indah. Vanka juga pernah diperlihatkan foto villa tersebut.
Setelah melihat video Arina itu, Vanka yakin jika itu villa yang sama yang pernah Gio perlihatkan ke dia melalui foto.
"Hah.."
"Akhirnya gue kalah, dan gue harus ikhlas." gumam Vanka.
__ADS_1
"Mungkin emang dari awal, Arina yang ditakdirkan untuk Gio, sementara gue hanya pemberhentian sesaat." Vanka tersenyum kecil dengan air mata yang terus mengalir.
"Say goodbye to love and start living a new life that can make you happier. Semangat Vanka." Vanka menyemangati dirinya sendiri.