
Sepulang dari liburan, Gio langsung ke rumah Vanka. Setelah dinasehati oleh kakaknya, Gio pun mengakui jika kata-katanya memang keterlaluan. Itu sebabnya Vanka memutuskannya. Gio membawakan Vanka oleh-oleh makanan khas daerah tempatnya liburan bersama keluarganya.
Gio sengaja tidak menghubungi Vanka terlebih dahulu. Gio ingin memberi kejutan untuk Vanka.
"Mbak, jangan bilang kalau aku yang cari, bilang aja kalau Akila yang datang!" pinta Gio kepada pembantu rumah tangga Vanka.
"Iya mas."
Gio tidak sabar ingin bertemu dengan Vanka. Dia sudah sangat merindukan Vanka. Sudah hampir seminggu dia perang dingin dengan wanita itu. Gio kangen candaan Vanka, manjanya Vanka, semuanya.
Saat Vanka keluar dari rumah. Dia yang awalnya antusias, wajahnya mulai berubah kesal. Satu-satunya orang yang tidak ingin Vanka temui saat itu adalah Gio.
"Hai Van," sapa Gio dengan sangat bahagia.
"Kenapa lo kesini?" Vanka langsung bete karenanya.
"Gue.. Gue mau minta maaf karena waktu itu gue..."
"Udah gue maafin." Vanka masih bete.
"Oh ya, ini gue bawain oleh-oleh, kemarin gue liburan sama keluarga." Gio memberikan plastik yang dia bawa ke Vanka.
"Gi, mulai sekarang jangan kesini lagi! Kita udah putus." Vanka kembali membahas tentang putusnya hubungan mereka. Dan itu membuat Gio kembali marah. Tapi demi ingin baikan dengan Vanka. Gio mencoba menahan amarah itu.
"Kenapa? Lo ingin banget putus dari gue?"
"Iyalah. Gue bukan orang yang mau rebut milik orang lain." jawab Vanka cepat.
"Gi, dari awal takdir lo itu Arina. Gue hanya pemberhentian sesaat saja."
"Maksud lo apa sih? Kenapa selalu bawa-bawa Arina dalam permasalahan kita? Kalau lo emang mau putus, ya udah. Jangan bawa-bawa orang lain dalam permasalahan kita." Gio mulai terpancing emosinya.
"Gue kesini punya niatan baikan sama lo. Tapi lo kayak gini terus. Nggak tahulah gue sama lo." Gio mulai frustasi.
"Nggak perlu ada yang diperbaiki. Hanya, jagalah perasaan pasangan lo. Oh ya, selamat ya bentar lagi mau tunangan." perkataan Vanka itu membuat Gio semakin marah. Gio tidak tahu apa yang dimaksud Vanka.
__ADS_1
"Tunangan apa? Lo pengen banget gue tunangan sama cewek lain?" tanya Gio dengan sengit.
"Lo tahu nggak seberapa kangennya gue ke lo, seberapa cinta gue sama lo?"
"Emang masih cinta?" Vanka mencibir Gio.
"Bukankah sekarang udah bahagia dengan cewek lain, mana dibawa ke tempat impian yang katanya hanya wanita special yang akan dibawa kesana." imbuh Vanka sembari tersenyum pahit.
"Maksud lo apa sih?" Gio tidak yakin jika Vanka tahu dia pergi bersama dengan Arina. Karena Gio sudah mengancam Vanka supaya jangan kasih tahu ke siapapun mengenai liburan tersebut. Hanya saja mungkin story wa Arina di hide untuk Gio.
"Maksud gue udah jelas. Intinya, mulai sekarang jangan pernah kesini atau ganggu gue lagi. Gue nggak mau dibilang rebut tunangan orang lain." jawab Gio.
"Makasih buat oleh-olehnya." Vanka menerima oleh-oleh dari Gio tapi dia mengusir Gio pergi dari rumahnya.
Vanka berlari hendak masuk ke rumah. Vanka menahan air mata supaya jangan jatuh di depan Gio. Dia ingin terlihat kuat di depan Gio.
"Van!" Gio menahan tangan Vanka tapi Vanka menepis tangan Gio dengan cukup keras.
Gio tidak tahu apa yang membuat Vanka marah kepadanya. Apa karena Vanka cemburu dengan Arina, karena waktu itu Gio pernah memergoki Vanka sedang menatapnya ketika dia ngobrol dengan Arina.
Gio pulang ke rumah dengan hati bertanya-tanya. Apa benar Vanka cemburu.
Di sekolah..
Gio datang bersama Arina. Semalam, Gio bilang ke mamanya kalau dia akan berusaha menerima perjodohannya dengan Arina. Tapi Gio meminta waktu untuk pendekatan dulu dengan Arina. Makanya, pagi itu Ines meminta Gio untuk mulai pedekate dengan Arina.
Kebetulan Vanka belum keluar dari mobil saat Gio datang berboncengan dengan Arina. Mereka tampak begitu mesra. Melihat itu, Vanka hanya tersenyum kecil.
Cinta?
Hah, itu hanya bualan semata.
Vanka keluar dari mobil dan kebetulan Gio dan Arina berjalan di samping mobil Vanka. Arina pun menyapa Vanka dengan ekspresi sangat bahagia. Tapi terlihat jelas dia hanya ingin pamer kemesraan di depan Vanka.
"Hai Van.." sapa Arina dengan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Hai.." sapa balik Vanka.
"Oh ya Van, makasih ya karena lo udah jaga jodoh gue. Bener kata orang kalau jodoh tuh tidak akan kemana. Gue sama Gio memutuskan untuk bersama, doain ya muga langgeng." Arina berkata dengan ekspresi menghina. Arina juga mengandeng tangan Gio meskipun Gio terlihat risi.
"Oh siap,but gampang banget ya move on, padahal baru semalem bilang cinta. Btw selamat ya semoga langgeng!" Vanka tersenyum sinis sembari memberikan selamat kepada Gio dan juga Arina.
"Makasih. Semoga lo juga segera ketemu lelaki yang cocok ya sama lo." Arina tersenyum kecil.
Akan tetapi, ada satu kalimat yang membuat wajah bangga Arina seketika menjadi kecut. Tapi demi terlihat menang di depan Vanka, dia mencoba tetap tersenyum. Padahal dalam hatinya, Arina sangat kesal.
Vanka mendahului Arina yang tersenyum kecut. Vanka pun tersenyum smirk sembari terus berjalan menuju kelasnya. Vanka sudab yakin untuk melupakan Gio sejak awal. Jadi Vanka akan berusaha kuat. Dia tidak mau terlihat lemah di depan siapapun.
Begitu Vanka jauh, barulah Arina bertanya kepada Gio apa maksud dari perkataan Vanka tadi. "Maksudnya dia apa sih? Lo bilang cinta ke dia semalam?" tanya Arina.
"Nggak tahu." jawab Gio singkat kemudian berjalan mendahului Arina.
Tapi tiba-tiba dari arah belakang, Dhanu menarik tubuh Gio kemudian memukul Gio tepat mengenai sudut bibir Gio. Bukkk!
"Lo brengs*k, lo teman makan teman! Bangs*t lo!" Dhanu memukul Gio sebanyak tiga kali. Gio pun terpental karena pukulan tiba-tiba dari Dhanu.
Mulut Arina menganga, dia kaget ketika Dhanu tiba-tiba memukul Gio. Melihat Gio yang terjatuh, Arina mendekati Gio dan berusaha membantu Gio berdiri. "Gio lo nggak kenapa-napa kan?" tanya Arina dengan panik.
"Lo gila ya Dhan!!" Arina memarahi Dhanu yang secara tiba-tiba menyerang Gio.
"Kenapa lo pukul Gio?" tanya Arina dengan marah.
"Lo bilang Defan seorang pengkhianat, tapi nyatanya lo sendiri yang seorang pengkhianat. Lo tahu gue suka sama Arin, tapi lo terima perjodohan orang tua lo! Emang brengs*k lo!!!" Dhanu merasa sangat kecewa dengan apa yang Gio lakukan kepadanya.
"Dari banyaknya wanita, kenapa harus Arin?" imbuh Dhanu dengan marah.
Gio terdiam. Dia tidak menjawab juga tidak membalas pukulan Dhanu. Tapi justru Arina yang tidak terima dengan perkataan Dhanu ke Gio.
"Jangan salahin Gio! Gue sendiri yang nggak bisa hilangin dia dalam hati gue. Lo sayangkan sama gue? Jadi gue harap lo dukung apapun keputusan gue!" ucap Arina yang membuat Dhanu merasa sakit dalam hatinya.
"Lo bukan temen gue mulai sekarang!" Dhanu menunjuk ke arah Gio saking geramnya.
__ADS_1
Dhanu kemudian meninggalkan Gio yang hanya terdiam tanpa suara. Dhanu benar-benar sangat kecewa dengan Gio. Apalagi saat Arina memintanya untuk merelakan Arina bahagia dengan laki-laki lain.
Mungkin saja kalau lelaki itu bukan sahabatnya. Dhanu akan bisa terima. Tapi karena lelaki itu adalah sahabat dekatnya, hatinya sangat terluka. Dia merasa dikhianati mengingat Gio juga tahu tentang perasaannya kepada Arina.