Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
44


__ADS_3

Sepanjang hari Gio terus menunggu kedatangan Vanka. Dia tidak mau makan dan minum obat. Vanka mau membalas chat-nya, tapi tidak mau menerima teleponnya. Alasannya Vanka sedang sibuk saat ini.


Ines terus membujuk Gio supaya mau makan lalu minum obat. Tapi berulang kali Gio mengatakan jika dia masih belum lapar. Padahal hari sudah akan menjelang sore.


Gio terus memantau hape-nya. Vanka terus membalas pesan darinya. Tapi saat Gio meneleponnya, Vanka akan selalu menolaknya. Gio yang kesal pun sampai berkali-kali melempar ponselnya, tapi kemudian dia ambil lagi.


Mamanya yang ada disebelahnya tidak dia hiraukan sama sekali. Fokus Gio hanya ke ponselnya.


"Ma, aku pengen pulang sekarang." ucapnya dengan wajah suram.


"Tapi kata dokter luka kamu masih belum kering. Besok ya nak, besok baru boleh pulang." Ines tentunya tidak membiarkan anaknya mengambil keputusan sendiri.


"Kamu makan lalu minum obat supaya luka kamu cepat kering, dan kamu boleh pulang." Ines kembali membujuk anaknya.


"Aku nggak laper, ma." Gio kembali merebahkan tubuhnya sembari terus menelepon Vanka.


"Telepon siapa sih?" tanya Ines pura-pura tidak tahu. Padahal dia tahu, siapa lagi kalau bukan Vanka yang ditelepon oleh anaknya.


Sebenarnya Ines juga kasihan melihat anaknya begitu tergila-gila dengan gadis kecil itu. Tapi Ines tidak mau anaknya akan kembali terluka karena membela gadis itu. Ines tahu, anaknya orang yang pemarah, juga bucin. Dia akan melakukan segala cara untuk membela dan melindungi wanita yang dia cinta. Dan tentunya mengabaikan keselamatannya sendiri.


Dua kali kurang dari dua bulan, Ines mendapati anaknya terluka dan itu ada hubungannya dengan Vanka. Pertama saat Gio bertengkar dengan Defan karena merebutkan Vanka. Dan kali ini, karena Gio melindungi Vanka.


"Vanka, ma. Kenapa dia nggak mau angkat telepon aku ya ma? Katanya dia mau kesini, tapi kenapa belum kesini juga." jawab Gio dengan lemas.


"Ma, biarin aku pulang ya? Aku mau ke rumah Vanka, aku kangen sama dia." pinta Gio memohon kepada mamanya.


"Dia kan udah janji mau kesini kan? Jadi, kalau dia nggak jadi kesini berarti dia nggak peduli sama kamu."


"Mama ngomong apa sih? Vanka nggak mungkin tidak peduli sama aku. Kemarin dia bilang dia masih cinta sama aku, nggak mungkin dia nggak peduli sama aku. Nggak mungkin, ma!" Gio tidak bisa menerima perkataan mamanya yang mengatakan bahwa Vanka sudah tidak peduli dengan dia.


"Pokoknya aku mau keluar dari rumah sakit sekarang juga." Gio memaksa ingin keluar dari rumah sakit. Gio juga menarik paksa jarum infus-nya.

__ADS_1


"Akh.." erang Gio saat dia menarik jarum infusnya.


"Gio, kamu jangan sembarangan!" seru Ines tidak menyangka jika anaknya akan senekad itu.


Ines berteriak-teriak memanggil suster dan dokter. Dia kewalahan menahan Gio seorang diri. Sedangkan Gio terus meronta ingin keluar dari rumah sakit dan pergi ke rumah Vanka.


Karena emosi yang tidak stabil membuat kepala Gio kembali terasa pusing. Dan pusing itu terasa sangat hebat, sampai Gio berteriak kesakitan.


Dokter terpaksa menyuntikan obat penenang kepada Gio. Dalam beberapa detik, Gio mulai lemas dan tertidur. Dokter juga mengatakan untuk terus memperhatikan emosi Gio. Karena benturan itu mengakibatkan kepala Gio akan sering terasa pusing jika dia marah.


"Jaga emosi pasien, jangan sampai dia terlalu marah, karena itu akan berakibat fatal pada saraf di kepalanya!" pesan dokter kepada Ines sebelum dokter itu keluar dari kamar rawat Gio.


Sebenarnya, tanpa diketahui Ines dan Gio. Vanka berada tidak jauh dari kamar rawat Gio tersebut. Dia juga sempat melihat Gio dari kaca kecil yang ada dipintu kamar rawat Gio.


Vanka ingin sekali mendekati Gio saat Gio kesakitan tadi. Tapi dia teringat janjinya pada Ines, Vanka memilih untuk menahan dirinya. "Lekas sembuh." gumam Vanka dari kejauhan.


Malam harinya..


Pada akhirnya Gio diperbolehkan keluar dari rumah sakit sebentar saja. Gio memanfaatkan itu untuk pergi ke rumah Vanka. Dengan diantar papanya, Gio pergi ke rumah Vanka. Dia benar-benar tidak kuat menahan rasa rindunya. Sekaligus meminta penjelasan kenapa Vanka tidak menjenguknya, padahal dia sudah berjanji akan datang.


Kedatangan Gio ke rumah Vanka tentunya membuat Vanka dan kedua orang tuanya kaget. Apalagi keadaan Gio yang masih kurang baik. Kepalanya masih dibalut perban, dan darah masih terlihat tembus diperban tersebut.


Shaka menyampaikan permintaan maafnya kepada orang tua Vanka karena telah mengganggu istirahat mereka. Shaka juga menceritakan terus terang maksud kedatangannya ke rumah mereka.


"Iya, tidak apa-apa pak Erlan. Nak Gio juga sering main kesini kok." ayah Vanka mengenal papanya Gio karena mereka sama-sama seorang pengusaha.


"Biarin anak-anak ngobrol berdua." ucap Shaka membiarkan Gio dan Vanka ngobrol berdua.


Vanka menatap Gio dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa sih nggak dengerin kata dokter?" tanya Vanka sembari menyeka air matanya yang menetes dipipinya.


"Kenapa nggak datang jenguk gue? Apa tugas lebih penting daripada gue?" tanya Gio terus menatap Vanka dengan tajam.

__ADS_1


"Maaf." Vanka juga kangen dengan Gio, dia lalu memeluk Gio sembari menangis.


Gio juga membalas pelukan Vanka. Dia mengecup kening Vanka dengan lembut. Rasa kangen itu mengalah rasa sakit yang dia rasakan. Gio rela menahan rasa sakit di kepalanya demi bisa bertemu dengan Vanka.


"Cepat sembuh, supaya bisa pergi ke sekolah dan bertemu gue lagi." lirih Vanka. Karena di sekolah-lah mereka bisa bertemu.


Vanka tidak mungkin menemui Gio di depan mamanya. Karena Vanka janji untuk menjauhi Gio. Tapi janji itu hanya berlaku jika di depan mamanya Gio. Kalau mamanya nggak tahu, Vanka akan terus menemui Gio.


Rasa cintanya mengalahkan semuanya. Dia tidak peduli mamanya Gio akan melarangnya. Yang pasti dia akan terus menemui Gio selama mamanya tidak tahu.


"Udah makan belum?" tanya Vanka.


Gio menggelengkan kepalanya. "Dari siang gue belum makan. Gue nungguin lo datang terus suapin gue." ucapnya.


"Kalau gitu makan sekarang ya?" Vanka tidak peduli dengan tatapan tajam mamanya Gio.


Mumpung Gio mendatanginya, Vanka ingin melakukan apa yang dia mau. Vanka mengambil makanan untuk Gio, lalu menyuapi Gio di depan orang tua Gio dan orang tuanya. Vanka terus mengabaikan tatapan tajam mamanya Gio.


Vanka hanya berharap Gio cepat sembuh dan mereka bisa bertemu lagi. Kalau Gio terus sakit, Vanka tidak punya kesempatan untuk bertemu dengan Gio. Karena Ines pasti akan melarangnya datang ke rumah sakit.


Waktu yang diberikan rumah sakit untuk Gio keluar telah habis. Gio kembali ke rumah sakit bersama papa dan mamanya. Tapi Gio masih belum mau melepaskan tangan Vanka. Dia meminta Vanka untuk menemaninya di rumah sakit.


Akan tetapi Vanka kembali menolak. Dia hanya mengatakan supaya Gio cepat sembuh.


"Kalau lo cepat sembuh dan bisa sekolah lagi, gue akan kasih hadiah buat lo." ucap Vanka berniat memancing semangat Gio untuk sembuh.


"Janji?" Vanka menganggukan kepalanya.


"Gue cinta sama lo." bisik Gio.


"Gue juga. Semangat sembuh ya!" Vanka mencubit pipi Gio dengan tersenyum manis.

__ADS_1


Lagi-lagi Ines terus menatap Vanka dengan tajam. Ines juga tidak menyapa Vanka sama sekali. Mereka seperti dua orang yang sedang perang dingin.


__ADS_2