Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
43


__ADS_3

Ines mengikuti Vanka dan juga Akila sampai ke parkiran rumah sakit. Ines meminta Vanka supaya mau menjauhi Gio. Alasannya karena Ines tidak mau Gio terluka lagi karena membela Vanka atau apapun yang berhubungan dengan Vanka.


Vanka ingin menolak permintaan Ines. Tapi dia tidak mau dianggap melawan Ines. Vanka hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun.


Akila memberi semangat untuk Vanka. Dia tahu Vanka orang yang kuat dan mampu berpikiran dewasa. Vanka tentunya hanya tidak mau membuat hubungan Gio dengan mamanya jadi rusak.


"Yang semangat ya Van, lo pasti bisa lewati semua ini kok." ucap Akila yang sebenarnya kasihan kepada sahabatnya yang dituduh mencelakai Gio secara tidak langsung oleh mamanya Gio.


"Yupz, lagi pula kan gue sama Gio masih bisa ketemu di sekolah. Masih bisa chat juga kan." Vanka menghibur dirinya sendiri.


Vanka paham apa yang dirasakan oleh mamanya Gio. Pastinya semua orang tua akan khawatir jika di posisi mamanya Gio saat ini. Tapi seandainya Vanka membela diri dan mengatakan yang sebenarnya. Ines tidak akan melakukan hal tersebut. Tapi itu sama aja dengan memperpanjang masalah. Karena tentunya orang tua Gio tidak terima dan akan menuntut Marisa.


Meskipun Marisa adalah rivalnya, tapi Vanka tidak sekejam itu. Biarkan saja mamanya Gio berpikir dia penyebab semuanya, asalkan Vanka tidak menjadi orang yang kejam.


Akila juga menyinggung mengenai Marisa yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Gio. Tapi Vanka selalu mengatakan 'kasihan'.


Dari sudut pandang Vanka. Marisa juga tidak ingin melukai Gio dengan sengaja. Terbukti dia panik dan terus menangis ketika mengantar Gio ke rumah sakit. Hanya saja, hawa napsu yang membuatnya jadi gelap mata. Dan yang Marisa incar adalah Vanka.


Vanka tidak sampai bila Marisa harus dituntut oleh orang tua Gio. Dia sudah cukup terluka karena Gio selalu menolaknya. Vanka tidak ingin membuatnya semakin menderita.


Entah Vanka itu baik atau bod*h. Karena beda tipis.


Sampai di rumah. Vanka masih menemani Gio chatting, sampai tak tahu jam berapa dia tidur, karena dia sudah ketiduran duluan.


Vanka juga tidak memberitahu Gio perihal permintaan mamanya yang ingin Vanka menjauhi Gio. Vanka tidak ingin Gio marah kepada mamanya.


****


Pagi itu Rakha dan Aiko melihat Riska sedang diantar oleh lelaki paruh baya. Dan lelaki itu berbeda dengan lelaki yang tempo hari pernah menjemput Riska.


Saat Rakha dan Aiko hendak keluar dafi mobil. Mereka berdua melihat Riska yang berpamitan mesra dengan lelaki paruh baya itu. Bahkan mereka juga berciuman, tapi dengan cepat. Mungkin karena masih punya urat malu. Sadar jika disitu tempat umum.


Dari dalam mobil, Rakha dan Aiko bisa melihat dengan jelas pemandangan yang memalukan tersebut. Karena mereka tepat di depan mobil Rakha. Aiko dan Rakha kemudian saling berpandangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka berdua.


"Untung aku udah putus dari dia." gumam Rakha merasa bersyukur karena sudah lama putus dari Riska.


"Saingan kamu dulu om-om dong? Bukan maen." ucap Aiko yang membuat Rakha langsung menatapnya.


"Iya. Untung sekarang udah nggak." Rakha bergidik, merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh mantan kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Sulitnya ekonomi jangan dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara supaya bisa dapat uang. Kerja keras jika ingin sukses.


"Ya udah sih, gitu aja nangis.." Aiko menggoda Rakha dengan mencolek dagu Rakha.


Rakha menatap Aiko dengan tersenyum geli. Ada gitu pacar yang suka godain kekasihnya kayak gitu. "Nggaklah, ngapain nangis, kan masih ada kamu, yang baik hati, tidak sombong, cantik lagi.." ucap Rakha.


"Satu lagi, rajin menabung." sahut Aiko dengan tertawa.


"Nabung buat nikahan kita kan?" ditanya seperti itu oleh Rakha, wajah Aiko berubah jadi merah.


"Ai, kamu mau nggak janji sama aku, kamu hanya akan menikahi aku!" tanya Rakha lagi semakin membuat Aiko tersipu malu.


Pertanyaan macam apa itu. Tanpa harus menjawab, Rakha harusnya sudah tahu jawabannya. Hanya saja, untuk saat ini. Aiko masih belum mikir sampai kesana. Dia masih ingin fokus dengan tugas akhirnya, lulus dengan nilai bagus, dan dapat pekerjaan yang ia inginkan.


Meskipun papanya memiliki perusahaan besar, pamannya juga memiliki perusahaan yang besar. Tapi Aiko tidak ingin memanfaatkan keuntungan tersebut. Dia ingin dapat pekerjaan dengan usahanya sendiri.


Kepribadian dan kesederhaan Aiko itulah yang akhirnya memikat hati Rakha setelah menjadi teman selama beberapa tahun. Dan membuat Rakha sangat ingin menjadikan Aiko sebagai pendampingnya kelak.


"Turun yuk!" ajak Aiko.


"Jawab dulu! Kamu mau nggak nikahin aku?" tanya Rakha lagi.


Rakha bahkan tidak membiarkan Aiko membuka pintu mobil. Dia terus menahan tangan Aiko dan menatapnya dengan tajam.


"Udah telat, Rakha.." Aiko masih belum menjawab pertanyaan Rakha dengan gamblang.


"Jawab dulu!"


"...Iya.." Rakha yang senang pun langsung mencium Aiko tanpa aba-aba.


Untung saja kaca mobil Rakha tidak kelihatan dari luar. Sepasang anak manusia itu pun menikmati ciuman yang tanpa peringatan tersebut. Tidak kalah dengan pemandangan yang tadi mereka lihat.


Tak lama kemudian mereka keluar dari mobil. Wajah Aiko masih merah saat mereka berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Dia berjalan mendahului Rakha karena malu.


"Kok buru-buru sih?" tanya Rakha.


"Udah telat." jawab Aiko dengan wajah yang masih merah. Dan itu membuat Rakha tersenyum geli melihat tingkah Aiko.


"Kok wajah kamu merah kenapa sih?" tanya Rakha dengan tersenyum.

__ADS_1


"Nggak kenapa-napa, tadi lupa pakai krim."


"Oh ya? Coba aku lihat." Rakha berjalan mendekati Aiko. Akan tetapi Aiko justru malah berlari meninggalkan Rakha yang hanya tersenyum melihat tingkah lucu kekasihnya itu.


"Jangan lari-lari sayank, nanti kamu jatuh!" seru Rakha saat Aiko berlari meninggalkan dia.


"Oh ya lupa, kamu kan emang sudah jatuh, jatuh cinta padaku." imbuh Rakha dengan terbahak.


Aiko menoleh kebelakang dan menatap Rakha dengan tersenyum manis. "Jangan senyum! Ntar aku diabetes, karena senyum kamu tuh manis banget." Rakha tak henti-hentinya merayu Aiko yang sudah sangat malu saat itu.


Sementara Aiko hanya tersenyum lebar mendengar gombalan Rakha tersebut. Dan juga beberapa teman yang mendengar gombalan Rakha itu mulai menggoda Aiko. Itu membuat Aiko semakin malu.


Saat Aiko masuk ke kelasnya. Rakha hanya tersenyum kecil tanpa mengejarnya lagi.


"Kha.." sapa Riska saat Rakha meneruskan langkahnya menuju kelasnya.


"Ya." jawab Rakha dengan dingin.


"Kha, kok aku tiba-tiba kangen sama adik kamu." ucap Riska mengikuti langkah Rakha.


"Temui kalau kangen." Rakha masih terlalu dingin kepada Riska. Dia tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi. Rakha tidak mau membuat Aiko marah lagi.


"Boleh?"


"Boleh aja,"


"Kalau gitu kapan-kapan aku boleh main kan ke rumah kamu?"


"Ketemuan diluar aja! Orang tua aku tahunya kita udah putus, jadi jangan buat orang tua aku mikir yang nggak-nggak." ucap Rakha benar-benar sangat dingin.


"Kha, seandainya mama nggak-"


"Ris, tolong jangan bahas apa yang telah lalu! Aku udah bahagia dengan Aiko sekarang. Dan kamu juga sudah bahagia dengan om kamu. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi!" Rakha memotong perkataan Riska. Dia tidak mau mendengar kata seandainya.


Antara dia dengan Riska sudah berakhir, dan dia sudah bahagia dengan pacarnya sekarang. Biarkanlah apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Riska menjadi sebuah kenangan.


Seindah apapun masa lalu, itu hanya sebuah kenangan. Dan semisterius apa masa depan, itulah yang akan menjadi tujuan. Hidup, tentunya berjalan maju, bukan balik ke belakang.


Rakha mempercepat langkahnya meninggalkan Riska yang kesal karena kedinginan Rakha. Padahal dulu Rakha sangat tergila-gila padanya. Tapi dia lupa, setiap orang bisa berubah sesuai dengan keadaan.

__ADS_1


Riska terus menatap lelaki yang pernah ada di dalam hatinya itu. Lelaki yang memiliki paras rupawan itu telah menjadi milik orang lain sekarang.


__ADS_2