Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
105


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepat. Pada akhirnya Gio dan teman seangkatannya lulus juga. Sementara Vanka naik ke kelas 3. Meskipun sudah tidak satu sekolah lagi. Tapi, Gio dan Vanka tetap menjalin kisah asmara dan semakin lengket. Keduanya juga merealisasikan rencana mereka membuka usaha bersama. Dan bisa dibilang cukup lancar. Apalagi mendapat dukungan dari keluarga masing-masing.


"Selamat ya yank atas kelulusannya.." Vanka memberi selamat kepada Gio.


"Makasih..." Gio memeluk Vanka sembari mengecup kening Vanka.


"Lo nggak mau kasih selamat ke gue juga Van?" sahut Reza.


"Selamat ya Reza atas kelulusannya.."


"Makasih.." jawab Reza sembari mendekati Vanka dengan membuka kedua tangannya.


"Mau apa lo?" tanya Gio sambil mendorong Reza menjauh dari kekasihnya.


"Mau kasih pelukan dong buat Jovanka, sama kayak lo tadi.."


"Gue hajar lo!!" Gio tidak terima jika ada seorang lelaki yang menyentuh pacarnya. Meskipun itu sahabatnya sendiri. Akan tetapi keduanya tahu jika itu hanyalah sebuah candaan.


"Becanda, gitu aja baper lo.." ledek Reza.


"Kita jadikan kuliah di fakultas yang sama?" tanya Reza.


"Nggak ah, gue bosen lihat muka lo terus." jawab Gio sambil tersenyum.


"Nj*r, orang gue ganteng gini masa iya lo bosen.." ucap Reza dengan percaya dirinya yang memang diatas rata-rata.


"Ganteng kok jomblo.." sahut Akila.


"Ya gue kan mau fokus sekolah dulu." Reza mencari alasan agar tidak diledekin teman-temannya mulu.


"Fokus sekolah atau belum bisa move on karena ditolak Akila?" Ira tak mau kalah meledek kakak kelasnya itu.


"Belum bisa move on kali.." Vanka juga ikutan meledek Reza.


Wajah Reza jadi memerah karena terus diledek oleh teman-temannya. Dia memang pernah menyatakan cinta kepada Akila. Tapi ditolak oleh Akila. Bukan karena Akila yang masih belum bisa move on dari Doni. Tapi karena Akila memang tidak memiliki perasaan apapun untuk Reza.


"Udah dong jangan bahas itu terus, kasihan tuh Reza sampai merah mukanya kayak gitu. Atau emang bener kalau lo belum bisa move on dari gue?" sahut Akila yang dikira mau bantuin Reza supaya tidak diledek lagi. Eh tahunya malah dia sendiri juga ikutan meledek.


"Anj*r lo.." omel Reza dengan wajah yang semakin merah.


"Nggak, nggak, cuma bercanda gue.. Kita lebih baik berteman kan lebih enak.."


Cinta memang tidak bisa dipaksa. Dia bisa datang ke dalam hati manusia. Tapi dia tidak bisa memilih kepada hati siapa dia akan jatuh.

__ADS_1


Cinta memang sulit ditebak dan misterius. Mampu membuat orang yang berhati dingin menjadi hangat. Mampu membuat orang yang dulunya dianggap buruk menjadi lebih baik.


Tapi, terkadang cinta juga menyakitkan bagi mereka yang terlalu menggenggam erat cinta. Sampai membuat cinta itu mati dengan perlahan. Dan sakit, jika cinta itu tidak terbalaskan.


"Ntar malam kita party yuk!" ajak Dhanu.


"Boleh nggak yank?" tanya Gio kepada Vanka.


"Bolehin aja Van! Kan nggak tiap hari juga, ntar lo juga ikut aja." ucap Defan.


'Iya ikut aja Van, nemenin gue!" sahut Chika.


"Gimana ibu negara? Boleh nggak?" tanya Gio lagi.


"Ceileh ibu negara nggak tuh.." ucap Akila dan Ira bersamaan.


Vanka menganggukan kepalanya. Dia tidak ingin membatasi kegiatan Gio. Meskipun dia pacarnya, tapi Gio juga punya kesukaan sendiri dan privasi sendiri.


Walaupun diberi kebebasan oleh pacar. Namun tidak serta merta membuat Gio semaunya. Dia tetap akan minta izin ke Vanka setiap kali dia akan pergi dengan teman-temannya. Jika Vanka tidak mengizinkan, ya Gio tidak akan pergi.


Itu dia lakukan untuk menghargai Vanka sebagai pacarnya. Karena Gio juga tidak mau akan terjadi pertengkaran diantara mereka karena hal-hal seperti itu.


"Sebenarnya lo itu pacarnya Gio atau mamanya sih? Tiap mau pergi, Gio pasti minta izin dulu ke lo.." tanya Reza.


"Udah nikahin aja Gi, nunggu apa lagi!" seru Dhanu.


"Kode tuh kode.." Defan tak kalah heboh.


"Buruan nikahin!!" Chika juga heboh.


Sedangkan Gio hanya tersenyum sembari menatap Vanka yang malu-malu.


"Udah-udah, pulang yuk!" Gio tidak tega melihat Vanka yang terus-terusan diledek oleh teman-temannya.


"Ke rumah gue yuk!" Gio mengajak Vanka ke rumahnya.


"Yuk, gue juga udah kangen banget sama tante Ines.." Gio melajukan mobilnya dengan santai menuju rumahnya.


Begitu sampai di rumah ternyata mamanya sedang keluar. Gio pun akhirnya mengajak Vanka ke kamarnya. "Ke kamar aja yuk!" ajak Gio.


Mereka sudah lama berpacaran dan Vanka juga sudah beberapa kali ke kamar Gio. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk main game atau menonton film.


"Van, gue kan udah lulus, lo mau nggak gue lamar? Defan sama Chika aja udah tunangan duluan." Gio iri dengan hubungan sepupunya yang sudah masuk ke jenjang yang lebih serius.

__ADS_1


Vanka terdiam. Dia masih belum bisa mengiyakan keinginan Gio. Bukan dia ragu sama Gio, tapi Vanka merasa belum cukup umur.


"Atau kalau nggak kita langsung nikah aja. Usaha bersama kita kan juga lagi bagus-bagusnya sekarang." Gio terus memaksa Vanka agar mau menikah dengannya lebih cepat lebih baik.


"Gue mikir dulu."


"Kita udah dua tahun lebih pacaran, apa kurang buat lo mikir?" meskipun Gio memaksa tapi dia tetap lembut kepada pacarnya tersebut.


"Gue pengen banget selamanya hidup sama lo." imbuh Gio.


Vanka menatap Gio yang begitu sangat memohon. Dia tidak tega melihat Gio seperti itu. Sampai pada akhirnya Vanka menganggukan kepalanya.


"Oke gue setuju. Kita tunangan dulu, setelah gue lulus, kita bisa bicarain mengenai pernikahan." Gio melompat kegirangan mendengar jawaban Vanka yang akhirnya mau juga dia lamar.


"Makasih sayank, gue seneng banget.." Gio memeluk Vanka berkali-kali karena bahagia.


"Gue akan bilang ke papa, nanti malam gue lamar lo."


"Nanti malam? Apa nggak kecepetan?" Vanka kaget. Dia setuju di lamar tapi tidak secepat itu juga. Kan dia dan orang tuanya juga perlu persiapan.


"Gue dan orang tua gue juga perlu persiapan semuanya. Lo dan keluarga lo juga perlu persiapan kan?"


"Gue dan orang tua gue udah siapin semua, dari perhiasan dan uang lamaran sudah siap semua." Vanka kembali melongo mendengar perkataan Gio.


Perhiasan?


Uang?


"Perlu ya siapin itu semua? Kan masih lamaran."


"Buat calon istri gue, semua itu masih kurang. Rencana gue juga mau hadiahi lo mobil, gue udah beli juga, udah ada garasi belum pernah di pakai, hanya dipanasin aja tiap hari.." Gio bangkit kemudian mencari sesuatu di laci dekat tempat tidurnya.


Gio mengambil buku kecil dan menyerahkannya kepada Vanka. Sepertinya itu bpkb mobil yang Gio bilang barusan.


Vanka terbelalak begitu melihat buku kecil tersebut. "Kok nama gue?" tanya Vanka terkejut.


"Yupz, itu gue persiapin buat lo. Rencananya gue mau kasih sebagai hadiah lamaran lo. Dan udah waktunya gue kasih ke lo karena lo udah mau gue lamar.."


"Berlebihan deh kayaknya."


"Nggak ada yang berlebihan untuk calon istri gue.."


#Episode menjelang tamat ya kak...

__ADS_1


__ADS_2