
Aiko datang ke rumah Rakha. Sudah lebih dari tiga hari Rakha tidak mau bertemu dengannya. Bukan hanya tidak mau bertemu, tapi juga tidak mau membalas pesannya. Aiko tahu, mungkin Rakha masih marah karena kejadian di mall beberapa hari yang lalu.
Aiko di anter oleh Ivan, sopir sekaligus assisten papanya. Aiko lalu meminta Ivan untuk meninggalkan dia. Awalnya Ivan menolak, tapi karena Aiko memaksa, Ivan pun nurut apa kata anak bos-nya.
"Nanti kalau ada apa-apa hubungin saya ya non!" ucap Ivan.
"Iya, om." jawab Aiko. Sebenarnya Aiko tidak mau ditunggu Ivan, karena dia sangat yakin, Rakha akan mengantarnya nanti.
Aiko memencet bel yang ada di pagar rumah Rakha. Dia juga melihat motor Gio yang terparkir di halaman rumah kekasihnya. "Wuih, Gio udah disini aja nih." gumam Aiko sembari tersenyum.
Tak lama kemudian pembantu rumah tangga Rakha membukakan pintu untuk Aiko. Pembantu rumah tangga tersebut juga mempersilahkan Aiko untuk masuk. Karena Aiko sering juga main ke rumah Rakha, jadi pembantu rumah tangga tersebut juga terlihat akrab dengan Aiko. Apalagi Aiko orangnya ramah banget, dia tidak membedakan status sosial seseorang.
"Silahkan tunggu disini, non! Atau mau ke taman samping? Ada mas Gio juga." Aiko tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Dia lalu ke taman samping rumah, tepatnya di sebelah ruang tamu. Disana ada sebuah taman yang ada gazebo-nya disamping kolam ikan.
Aiko melihat Gio yang sedang berbaring dan menjadikan paha Vanka sebagai bantal. Sedangkan Vanka dengan lembut mengusap rambut Gio.
Aiko tersenyum melihat pemandangan tersebut. Dia dan Rakha juga sering seperti itu. Tapi beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Rakha. Aiko pun kemudian menjadi sedih. Bukan sedih karena melihat kebahagiaan adik sepupunya, tapi karena masalahnya dengan Rakha yang masih belum selesai, bahkan mereka semakin menjauh.
"Ai!" Rakha memanggil Aiko yang berdiri di pintu samping ruang tamu sembari memperhatikan Gio dan Vanka.
Aiko menoleh dan melihat lelaki yang sangat dia rindukan. Dia berlari dan langsung memeluk Rakha. "Kamu kenapa nggak pernah balas chat aku. Aku kangen kamu.." lirih Aiko sembari memeluk Rakha dengan erat.
Rakha sebenarnya juga sangat merindukan wanita yang memeluk dirinya tersebut. Akan tetapi dia masih marah karena kejadian di mall tempo hari. Tangan Rakha sudah terangkat, ingin memeluk Aiko juga. Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya. Rakha tidak membalas atau menolak pelukan Aiko.
"Ngapain kesini?" tanya Rakha dengan dingin.
Aiko mendongakan kepalanya, dia menatap wajah Rakha yang nampak dingin, tanpa respon sama sekali. "Kok gitu nanya-nya? Aku kangen sama kamu. Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Aiko masih menatap Rakha tapi Rakha tidak balas menatapnya.
"Kamu naik apa kesini?" tanya Rakha dengan dingin.
"Taksi." Aiko sengaja berbohong supaya Rakha merasa kasihan kepadanya.
"Oh." ucap Rakha singkat. Dia kembali bersikap dingin dan cuek kepada Aiko.
"Sita sama Laila kan udah jelasin ke kamu juga kan, kenapa masih marah?" tanya Aiko lagi.
__ADS_1
Rakha tidak menjawab, tapi dia berjalan mendekati sofa ruang tamu. Rakha duduk dengan wajah dan ekspresi dingin. Aiko juga ikutan duduk di sebelah Rakha. Aiko meraih tangan Rakha dan menggenggamnya.
"Kha, aku tahu kamu masih kecewa. Tapi aku berani sumpah kalau kejadian itu tidaklah disengaja, aku tidak sengaja ketemu sama kak Heksa waktu itu." Rakha menarik tangannya dari genggaman Aiko.
Rakha sedikit menjauh dari Aiko. "Kenapa sih?" Aiko dibuat bingung karenanya.
"Kamu manggil lelaki lain dengan mersa kayak gitu," ucap Rakha yang ternyata masih aja cemburu dengan Heksa.
"Mesra apanya? Masa manggil kak Heksa gitu mesra?" Aiko merasa geli dengan tingkah ke kanakan kekasihnya.
"Terus aja diulangin!" ucap Rakha dengan sewot.
Aiko terbahak melihat Rakha yang sewot. Aiko lalu mendekati Rakha dan kembali memeluknya. "Terserah kamu mau mikir gimana, yang jelas, aku cuma cinta sama kamu." Aiko mencium pipi Rakha dengan tiba-tiba.
Rakha tercengang, tapi dia berusaha tenang. Padahal di dalam hatinya, Rakah merasa sangat bahagia. Itu pertama kalinya Aiko berinisiatif menciumnya duluan.
"Aku bawain kue kesukaan kamu." Aiko menunjuk bungkusan yang dia bawa tadi.
Melihat Rakha yang masih cuek, meskipun wajahnya sudah tampak berseri dari sebelumnya. Aiko pun mulai berakting menyedihkan. "Kalau kamu emang nggak mau ketemu sama aku, yaudah aku pulang aja. Jangan lupa di makan ya, kuenya!" Aiko beranjak dari tempat duduknya.
Apa yang Aiko lakukan itu membuat Rakha terbelalak. Rakha dengan cepat menahan tangan Aiko. "Mau kemana?" tanya Rakha.
Rakha yang tidak bisa melihat Aiko sedih, kemudian menarik Aiko ke dalam pelukannya. "Maafin aku. Aku hanya masih kesal aja kalau teringat tempo hari itu. Aku juga kangen sama kamu, kangen banget." ucap Rakha semakin mempererat pelukannya.
Aiko tersenyum disaat Rakha mengungkapkan perasaannya. Aiko kemudian membalas pelukan Rakha. Pelukan yang sangat dia rindukan.
Rakha mencium pipi Aiko, dia juga sangat merindukan wanita yang telah mengisi hatinya selama lebih dari dua tahun terakhir. "Jangan lagi lakuin hal kayak kemarin! Aku adalah lelaki pemarah, yang tidak rela melihat wanita yang aku cintai di peluk lelaki lain." ucap Rakha mengungkapkan perasaannya.
Aiko menganggukan kepalanya. Dia juga meminta maaf karena telah membuat Rakha kecewa dan marah. Meskipun itu bukanlah disengaja, tapi Aiko tetap meminta maaf. "Maafin aku!" ucapnya.
"Ingin rasanya aku hajar semua lelaki yang suka menatap kamu!" imbuh Rakha, dan itu hanya membuat Aiko tersenyum.
Aiko tahu jika kekasihnya itu sedang cemburu. Makanya Aiko berusaha sebisa mungkin untuk tidak bersikap egois. Dia berusaha sabar menghadapi kemarahan Rakha. Berusaha untuk terus bersikap baik dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
"Kamu udah makan belum?" tanya Aiko.
__ADS_1
"Udah tadi tapi cuma dikit."
"Mau makan kue-nya?" Rakha menganggukan kepalanya. Aiko lalu mengambil kue tersebut dan juga menyuapi Rakha yang sedang manja.
Tapi tak lama kemudian, Vanka dan Gio masuk ke rumah. Mereka melihat Aiko yang sedang menyuapi Rakha. Vanka lalu menyomot kue yang ada di atas meja. "Kue nih." ucap Vanka kemudian memakan satu kue yang ada.
"Itu punya gue..."seru Rakha ketika Vanka memakan kuenya tanpa izin.
"Minta satu." ucap Vanka dengan santai.
"Biarin aja, nanti aku beliin lagi yang banyak." sahut Aiko ketika Rakha menggerutu.
"Kapan datang kak?" tanya Gio.
"Baru aja, Gi. Kalian nggak main?" tanya Aiko.
"Ini baru mau ajak Vanka jengukin mama." jawab Gio. Setelah berbincang lama, akhirnya Vanka mau juga datang menjenguk Ines. Meskipun nanti Ines akan menolak kedatangannya, Vanka tidak masalah yang penting dia sudah mempunyai niat baik untuk menjenguk mamanya Gio.
"Oh, iya, gue denger tante Ines sakit, sakit apa?"
"Nggak tahu juga kak, cuman akhir-akhri ini mama susah tidur, dan juga sering merasa cemas nggak tahu apa yang dicemasin."
"Oh, semoga lekas sembuh ya buat tante Ines. Gue nanti malam kesana sama papa dan mama."
"Iya kak. Makasih."
Setelah Gio dan Vanka pergi. Rakha mengajak Aiko ke kamarnya. Mereka lebih leluasa bermesraan di kamar di timbang di ruang tamu yang mungkin bisa dilihat oleh pembantu rumah tangganya.
"Kamu tahu nggak yank, siapa wanita simpanan papanya kak Heksa?"
"Kamu udah kasih tahu, Riska kan?"
"Masa sih?" Aiko tertawa mendengar jawaban Rakha.
"Ya udah sih gitu aja nangis! Nggak rela si mantan terindah punya sugar daddy?" Aiko menggoda Rakha sembari mengusap wajah Rakha.
__ADS_1
Rakha menangkap tangan Aiko dan menatapnya tajam. Rakha mendorong Aiko sampai terjatuh diatas sofa. Rakha menind*h Aiko dengan terus menatapnya. Rakha mendekatkan bibirnya ke telinga Aiko. "I love you.." bisiknya.
"I love you too.." mendengar jawaban Aiko, Rakha pun tersenyum dan kemudian mencium bibir Aiko dengan lembut tanpa mengubah posisinya. Rakha bahkan juga menciumi leher Aiko, membuat Aiko menjadi terlena.