
Sebuah gedung mewah penuh dengan decor bunga dan atribut yang serba putih. Hari ini akan menjadi yang tidak terlupakan bagi pasangan Rakha dan juga Aiko. Hari ini, mereka akan mengikat janji sehidup semati.
Acara mewah tersebut dihadiri oleh para tamu kehormatan yang diundang secara langsung oleh Alfarezi, selaku tuan rumah. Banyak kolega dan relasinya yang turut memeriahkan acara pernikahan putri sulungnya.
Dibarisan tamu undangan juga turut hadir, Heksa. Lelaki yang sempat menaruh hati pada Aiko saat pandangan pertama. Heksa harus merelakan wanita yang dia sukai bersanding dengan lelaki lain. Heksa pun memberi selamat untuk kedua mempelai.
Dengan hati yang sedikit sakit, Heksa memberikan selamat untuk Aiko dan juga Rakha. Dia juga turut mendoakan Aiko dan Rakha. "Selamat ya Ai, semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan." ucap Heksa.
"Makasih ya kak Heksa." Aiko pun berkaca-kaca ketika Heksa memberinya selamat.
"Nitip Aiko ya!" ucap Heksa ke Rakha pula.
"Pastinya." Rakha menjawab dengan agak sewot. Dia tahu jika lelaki itu memiliki perasaan kepada istrinya.
Heksa kembali bergabung dengan para tamu undangan lainnya. Akan tetapi, matanya sesekali melirik Aiko. Aiko yang terlihat begitu sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih. Senyuman yang selalu menghiasi wajahnya menambah kecantikan Aiko.
Heksa mulai berandai-andai dalam pikirannya sendiri. Seandainya dia lebih dulu kenal Aiko, pasti dia akan sangat bahagia bisa memiliki wanita sebaik dan juga secantik Aiko.
"Mungkin di kehidupan yang akan datang, kamu akan jadi milik aku." gumam Heksa seorang diri.
Di sisi lain.
Gio terpesona dengan kecantikan Vanka. Dia belum pernah melihat Vanka dandan seperti itu. Dan sekalinya dandan, dahlah, bikin Gio tak berhenti memandangnya.
Gio menahan kepalanya sembari terus menatap Vanka yang duduk di sampingnya. Gio bener-bener terpesona dengan kecantikan kekasihnya tersebut.
Sementara Vanka yang malu karena terus ditatap oleh Gio. Dia mencubit tangan Gio berkali-kali supaya Gio tidak terus-terusan menatapnya seperti ini. Apalagi mereka duduk satu meja dengan papa dan mamanya Gio.
"Bisa nggak, lihatinnya jangan kayak gitu! Kayak mani*k lo.." ucap Vanka pelan.
"Man*ak pala lo.."
"Gue kan lagi menikmati keindahan ciptaan Tuhan." ucap Gio lagi tanpa merubah posisinya.
"Cantik banget sih lo. Bikin gue nggak sabar untuk nikahin lo." imbuh Gio.
"Nah man*ak kan, nikah mulu pikirannya.." gerutu Vanka. Entah kenapa akhir-akhir ini Gio selalu ngomongin tentang nikah- nikah mulu.
"Gue nggak rela lepasin lo buat orang lain."
"Ya itu tergantung lo dong. Kalau lo nggak tahu diri ya gue milih ninggalin lo lah."
__ADS_1
"Nggak tahu diri gimana maksudnya?"
"Ya kalau lo nggak bersyukur, udah punya cewek cantik kayak gini masih cari yang lain, itu namanya kan lo nggak tahu diri."
"Kapa gue pernah cari cewek lain? Dari sejak kenal lo, hati gue udah terpaut sama lo. Ingat, cuma lo nggak ada yang lain." Gio membantah tuduhan Vanka.
"Ya kan nggak tahu ke depannya kayak apa.."
Gio seketika langsung menoleh ke arah papa dan mamanya yang duduk satu meja dengan dia dan Vanka. "Pa, ma, lamarin Vanka buat Gio dong!" ucap Gio yang membuat Vanka membulatkan matanya. Dia kaget, tidak menyangka Gio akan langsung ngomong ke orang tuanya.
Sama seperti Vanka, papa dan mamanya juga kaget mendengar perkataan Gio. Tapi sesaat kemudian mereka tertawa kecil karena menganggap Gio hanyalah bercanda.
"Ngapain ketawa ma, pa? Gio serius. Gio ingin nikahin Vanka, kalau bisa secepatnya." ucap Gio dengan sangat yakin.
"Nggak usah ngaco deh, gue masih mau fokus sekolah, dan cari pekerjaan dulu." Vanka menentang ide gila Gio.
"Iya nak, nikah itu bukan perkara mudah. Kamu harus bener-bener bertanggung jawab atas hidup istri kamu, lahir dan batin. Sedangkan kamu masih belum cukup umur untuk menggemban tanggung jawab itu." Shaka menasehati anaknya dengan penuh kelembutan.
"Kalau gitu, besok Gio mau belajar bisnis lagi. Gio rencananya mau buka usaha sendiri."
"Papa seneng kalau kamu mau belajar bisnis lagi. Papa akan atur semuanya, kamu bisa belajar bisnis lagi dari temen papa."
Sedangkan Ines hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang minta dinikahkan dengan pacarnya, padahal mereka masih belum cukup umur. "Anak kamu tuh.." ucap Ines kepada Shaka sembari tersenyum kecil.
"Biarin aja, kita dukung dia apapun yang membuat dia bahagia. Kalau dia pengen usaha, aku akan kasih modal buat dia. Anak klien aku juga banyak yang udah punya udaha sendiri, padahal umur mereka juga masih seumuran dengan Gio." Shaka memang selalu akan mendukung apa yang menurut dia baik untuk anak-anaknya.
"Seharusnya memang seperti itu sih pa. Anak muda harus kreatif."
Vanka mencubit lengan Gio kembali. Dia kesal kenapa Gio suka ngomong sembarangan. "Jangan gitu lain kali!" omel Vanka.
"Waterboom men.." sahut Gio mencoba ngebayol dengan jokes yang lagi viral.
"Nggak lucu.."
"Emang enggak, kan lucunya di lo." Gio tidak pernah kehilangan akal untuk membuat Vanka tertawa.
Vanka hampir saja tertawa, tapi dia berusaha keras untuk menahannya.
"Kalau mau senyum, senyum aja. Jangan ditahan, nanti malah jadi kentut.."
"Apaan sih, garing banget.."
__ADS_1
"Ya nggak masalah sih kalau lawakan gue garing, kan yang subur cuma cinta gue ke lo..." kali ini Vanka tidak kuat nahan ketawa.
"Terserah lo..." ucap Vanka sembari tertawa, kemudian meninggalkan meja tersebut dan pindah ke meja Chika dan Defan.
Tapi lagi dan lagi, Gio terus mengikutinya.
"Def, tolong panggilin keamanan dong! Gue dikintilin mulu ama orang gila." ucap Vanka yang membuat Defan dan Chika terbahak.
Awalnya mereka berdua tidak ngeh siapa yang dimaksud dengan orang gila. Tapi setelah melihat Gio sedang menggoda Vanka. Mereka berdua akhirnya paham siapa yang dimaksud orang gila.
"Gue kan gila karena lo juga." ucap Gio yang semakin membuat Defan dan Chika terbahak.
Vanka kembali kabur. Dia merasa lapar dan lebih memilih ambil makanan daripada harus menanggapi Gio yang tidak ada hentinya mengikuti dia.
Saat Vanka sedang memilih makanan yang ingin dia makan. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang umurnya kira-kira 28 tahun. Mendekati Vanka dan mengajak Vanka ngobrol.
Modusnya, lelaki itu meminta Vanka buat pilihan makanan yang menurut Vanka enak. "Tolong pilihan makanan yang menurut kamu enak dong! Aku bingung milihnya karena kelihatannya enak semua." ucap pemuda tersebut.
"Oh iya nama aku Tommy," pemuda itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Vanka.
Vanka merasa canggung karena dia tidak mengenal pemuda tersebut. Tapi kalau dia menolak menjabat tangan pemuda itu, nanti disangka dia sombong. Tapi pada akhirnya Vanka hanya diam saja, dia pura-pura tidak mendengar dan melihat apa yang dilakukan pemuda tersebut.
Tapi tidak untuk Gio yang merasa sangat cemburu. Gio baru aja kembali mendekati Vanka. Tadi dia diminta papanya untuk mendekat karena papanya ingin memperkenalkannya kepada koleganya.
Tapi begitu dia menoleh. Gio melihat Vanka yang sedang bersama lelaki lain. Gio buru-buru mendekat dan langsung memeluk pinggang ramping Vanka.
"Maaf ya sayank, lama. Tadi papa ingin ngenalin gue sama koleganya." ucap Gio yang membuat pemuda tersebut membulatkan matanya.
"Iya, nggak apa kok."
Tidak hanya sampai disitu saja. Gio juga mengatakan sesuatu yang membuat pemuda bernama Tommy tersebut kaget bukan main dan bahkan langsung pergi menjauh dari mereka berdua.
"Makan yang banyak ya, anak kita kan harus sehat." ucap Gio sembari mengelus perut Vanka.
Awalnya Vanka juga kaget bukan main dengan apa yang Gio lakukan. "Anak? nih orang emang udah gila." batin Vanka.
Tapi kemudian Vanka mengikuti drama Gio juga.
"Iya sayank.." ucap Vanka mengikuti drama yang dimainkan oleh Gio. Tapi sembari menahan tangan Gio yang mengelus perut ratanya dan melotot ke arah Gio.
Dalam hati Vanka, "Awas lo ya.. Ngadi-ngadi banget jadi orang.."
__ADS_1