Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
98


__ADS_3

Boy melakukan apa yang Alfarezi mau. Dia mengutus beberapa anak buahnya untuk menculik Riska. Akan tetapi, Boy tidak langsung menghabisi Riska. Dia menyekap Riska di ruangan bawah tanah yang ada di rumahnya.


Ruangan itu sangat gelap tanpa penerang apapun. Dan Boy menyekap Riska disana. Boy orang yang gentle, dia tidak bisa memukul seorang wanita. Maka, Boy meminta anak buahnya untuk menyiksa Riska terlebih dahulu.


Anak buah Boy menakut-nakuti Riska dengan cara berpura-pura akan memperk*s*nya. Dan juga tidak memberikan Riska makan dan minum sama sekali.


"Kalau kalian mau, ambil aja buat kalian. Asalkan dia nggak lagi ganggu Alfa dan istrinya, kalian mau apakan dia, terserah kalian." ucap Boy. Dia tidak peduli dengan yang lain. Yang Boy peduliin hanya keselamatan dan kebahagiaan Alfarezi dengan keluarganya.


"Bos, nggak ingin coba?" tanya salah satu anak buahnya.


"Ma..maaf bos, aku udah lancang..." hanya melihat sorot mata Boy, bawahan itu seketika langsung meminta maaf.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Boy. Tapi selama ini, anak buahnya belum pernah melihat Boy dekat atau membawa seorang wanita pulang.


Boy adalah orang yang sangat misterius. Tidak ada yang bisa menebak pikirannya, bahkan Alfarezi sekalipun.


****


Alfarezi didiamkan Kimora selama beberapa hari setelah kejadian di kantornya beberapa hari lalu. Meski Alfarezi telah menjelaskan kepada istrinya. Akan tetapi, Kimora masih ngambek kepada suaminya. Bahkan tidak mau tidur bareng suaminya.


Pagi itu setelah Alfarezi berangkat ke kantor. Kimora menyendiri di taman bunga yang ada di rumahnya. Kimora termenung seorang diri.


"Jangan ngelamun nanti kesabet.." tiba-tiba sesosok bayangan hitam lewat dan tanpa di duga ada seseorang yang duduk di sebelahnya ketika Kimora menoleh.


"Rafael?" dan ternyata sosok misterius itu siapa lagi kalau bukan Boy atau kalau Kimora manggil dia dengan nama aslinya, Rafael.


"Kamu nggak ikut Alfa ke kantor?" tanya Kimora.


"Aku nggak tega lihat seseorang sendirian, jadi aku memutuskan untuk menemaninya." jawab Boy. Dia kalau bicara dengan Kimora selalu lembut.


Kimora sempat tersenyum kecil. Tapi kemudian dia kembali menatap ke depan dengan pandangan kosong.


"Alfarezi nggak sengaja ketemu sama wanita itu, lagipula dia hanya kasihan saja dengan wanita itu." seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Kimora. Boy langsung menjelaskan kepada Kimora situasi apa yang terjadi pada siang itu.


"Alfarezi memang arogan, tapi kalau masalah keluarga, dia tidak pernah main-main. Dia sayang banget sama kamu dan anak-anak." lanjut Boy menjadi jembatan untuk Alfarezi dan Kimora.


"Raf, kalau Alfarezi nyakitin aku, kamu mau nggak bawa aku pergi sama anak-anak!" tiba-tiba Kimora berkata sesuatu hal yang membuat Boy tercengang.


Tapi semenit kemudian Kimora tertawa kecil. Dia menjelaskan jika sebenarnya dia hanya bercanda dan asal aja bicara seperti itu.


"Aku cuma asal ngomong aja kok, Raf.." ucap Kimora.


"Kita sudah nggak muda lagi.. Tadi cuma bercanda aja kok, nggak perlu tegang gitu mukanya!" imbuh Kimora.

__ADS_1


"Aku sih nggak tegang, cuman nggak bisa bayangin aja kalau Alfa denger apa yang kamu katakan, bukankah dia akan habisin aku?" tanya Boy dengan tersenyum pula.


"Aku yakin dia nggak akan pernah sakiti kamu dan anak-anak." imbuh Boy yang membuat Kimora tersenyum.


Lagi asyik ngobrol. Tiba-tiba Ivan mengirim pesan melalui earpiece yang Boy gunakan. Ivan mengatakan jika bos mereka atau Alfarezi mencari Boy.


Dengan mengangkat satu tangannya, Boy menerima pesan tersebut. "Ya, aku kesana sekarang.." ucap Boy.


"Alfa nyariin?" Boy hanya menganggukan kepalanya.


"Raf, jangan lukai dia, kasihan.." sebelum Boy pergi. Kimora memberi pesan kepada Boy supaya tidak melukai Riska. Kimora tahu jika Riska ada ditangan Boy sekarang. Karena sebelumnya Aiko memberi kabar jika Riska menghilang secara misterius.


"Nunggu perintah Alfa selanjutnya.." jawab Boy dengan tersenyum. Dia tidak bisa memutuskan apapun. Karena semua itu Alfarezi-lah yang memiliki kendali.


****


Defan mengantar Chika pulang ke rumah neneknya. Seperti apa yang biasa mereka lakukan setiap hari. Hanya saja, siang itu berbeda. Defan yang biasanya mampir, siang itu terlihat sangat buru-buru.


"Mau kemana sih yank?" tanya Chika belum curiga sama sekali.


"Biasa yank, latihan futsal.." jawab Defan.


"Oh ya udah," ucap Chika. Tapi disitu Chika sudah agak curiga dengan gerak gerik Defan akhir-akhir ini.


"Ntar malem keluar yuk yank!" ajak Chika.


"Maaf, nggak bisa yank. Gue ada acara sama anak-anak futsal." Chika mengerutkan keningnya.


Ada apa sih dengan tim futsal Defan??


Kok akhir-akhir ini Defan lebih sering futsal. Padahal biasanya dia hanya latihan futsal dua kali seminggu. Tapi kenapa ini hampir setiap hari dia latihan futsal. Mana Chika tidak pernah diajak latihan.


"Rmang nggak boleh gue ikut? Temen-temen lo pasti banyak yang bawa ceweknya juga kan?" desak Chika.


"Nggak ada yang bawa ceweknya kok. Ya udah gue pamit dulu!" tanpa melanjutkan lagi, Defan melajukan motornya meninggalkan Chika yang kebingungan dengan sikap Defan akhir-akhir ini.


Chika melihat kepergian Defan dengan pikiran penuh tanda tanya. "Gue harus ikutin dia." gumam Chika.


Chika memutuskan untuk membuntuti Defan. Dia penasaran apa yang sebenarnya Defan sembunyikan dari dirinya.


Chika mempersiapkan penyamaran sebaik mungkin. Pertama-tama, Chika akan mengintai di tempat futsal yang biasa Defan latihan. Chika sengaja naik ojek biar tidak ketahuan Defan.


Di tempat latihan Defan. Chika tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Menurutnya, masih dalam tahap biasa saja. Akan tetapi, Chika tidak menyerah begitu saja. Dia tetap menunggu Defan dengan sabar.

__ADS_1


Cukup lama Chika menunggu. Akhirnya dia dapat moment, dimana dia melihat seorang wanita naik ke motor Defan. Dan mereka terlihat sangat akrab.


Chika meminta sopir ojek tersebut untuk terus mengikuti motor Defan. Tapi dari jarak yang agak jauh supaya tidak ketahuan. Sampai akhirnya motor Defan masuk ke sebuah perumahan elite.


Chika tidak ikut masuk ke dalam perumahan tersebut. Tapi dia menunggu di depan komplek. Sebenarnya, hati Chika merasa sangat kecewa karena Defan main belakang. Akan tetapi, Chika masih berusaha untuk berpikir positif sebelum dia menemukan bukti apapun yang memberatkan Defan.


Chika terus mengikuti Defan. Dan ternyata Defan langsung pulang ke rumah setelah mengantar wanita tadi. Tapi, Chika juga sudah lebih dulu mengambil foto mereka berdua sebagai barang bukti.


Chika memikirkan lagi apa rencana selanjutnya supaya bisa terus memantau Defan. Dan setelah berpikir keras, Chika pun akhirnya memasang gps di motor Defan. Dengan itu dia bisa memantau kemana Defan akan pergi melalui gps yang langsung terhubung dengan ponselnya.


"Bang, kita ke toko kue terdekat!" pinta Chika.


Rencana awalnya, Chika main ke rumah Defan dengan pura-pura mengantarkan kue untuk Defan. Setelah itu dia akan memasang gps tersebut me motor Defan.


Defan sempat kaget saat pembantunya memberitahu dia jika Chika datang berkunjung. Tapi, Defan menerima kedatangan Chika dengan senang pula.


"Kok nggak ngabarin kalau mau kesini?" tanya Defan tanpa curiga sama sekali.


"Gue beli kue di dekat sini, terus mampir deh. Emang gue ganggu ya?"


"Enggak, enggak ganggu sama sekali. Gue juga baru aja pulang dari latihan terus langsung mandi,"


"Tante Kimora??"


"Mama ke rumah Vanka jengukin kak Aiko katanya."


Defan dan Chika ngobrol seperti biasa. Tapi Chika bisa melihat gerak gerik Defan yang gelisah sembari melihat ke arah jam terus. Chika pun jadi paham sendiri.


"Lo jadi pergi sama temen-temen futsal lo?" tanya Chika.


"Jadi, ini juga mau jalan. Tapi gue anterin lo pulang dulu ya!"


"Nggak usah, gue naik ojek lagi aja nggak apa-apa, ntar lo telat.." Chika menolak niat baik Defan.


"Tapi gue nggak tenang. Udah gue anter aja, telat bentar nggak masalah. Gue ganti baju bentar." Defan berlari lagi ke kamarnya.


"Gue tunggu di depan.." seru Chika. Dia terburu-buru memasang gps tersebut ke motor Defan.


Dan ternyata, rencana Chika tersebut sangat mudah dia jalankan. Defan sama sekali tidak memaruh curiga kepada Chika. Jadi rencana Chika bisa berjalan dengan lancar sejauh ini.


Tak berapa lama, Defan keluar dengan dandanan yang cukup keren. "Beneran nih nggak apa kalau terlambat?" tanya Chika lagi.


"Nggak sayank. Yuk!" Chika kemudian naik ke motor sport Defan.

__ADS_1


Tak lama mereka sampai di rumah neneknya Chika. Defan tidak turun, tapi dia langsung pergi setelah berpamitan pada Chika.


__ADS_2