
Acara ulang tahun oma-nya Reza berjalan lancar dan cukup meriah. Meskipun hanya dihadiri teman-teman anaknya dan teman-teman cucunya. Tapi itu sudah membuat oma-nya Reza bahagia. Apalagi saat dia melihat Defan membawa pacarnya.
"Selamat ulang tahun oma, kenalin aku Chika pacarnya Defan." ucap Chika memperkenalkan dirinya.
"Ref, Defan aja udah punya pacar, kamu kapan akan nikah?" tanya oma-nya Reza ke Refano, sahabat Aldo.
"Nanti dong ma kalau udah waktunya." jawab Refano yang sampai saat ini juga belum terlihat dekat dengan seorang wanita pun.
"Apa masih kurang waktunya? Umur kamu udah tidak muda lagi, masa kalah sama Defan." ucap oma-nya Reza.
"Belum ketemu jodohnya aja ma." Refano terus membela diri. Dari ketiga teman Alfarezi, hanya Refano yang belum menikah. Andhika, meskipun telat tapi dia sudah menikah dan dikaruniai dua anak juga.
"Refano nggak suka perempuan kok ma," sahut Alfarezi dengan tingkah tengilnya.
"Kayaknya iya sih, Fa." sahut oma-nya Reza. Dan tentunya itu juga membuat tawa semuanya.
"Sialan lo.." umpat Refano sembari memukul lengan Alfarezi pelan.
Oma-nya Reza juga menanyakan Aiko yang tidak kelihatan sendiri. Oma-nya Reza sangat rindu dengan cucu perempuannya itu. Aiko sudah dianggap cucu sendiri oleh oma-nya Reza.
"Aiko banyak tugas, ma. Dia kan udah mau ujian." ucap Kimora mendekati oma-nya Reza. Kimora memberi selamat juga memeluknya dengan erat.
"Udah besar ya dia, mama denger dia juga udah punya calon?"
"Belum ma, papanya masih belum izinin dia menikah muda, biar kerja dulu katanya." jawab Kimora lagi.
"Bagus itu, tapi kalau dia sudah punya pacar jangan dipaksa buat nikah dengan orang lain. Hargai perasaan anak, karena apa yang menurut kaian baik, belum tentu baik juga untuk anak. Biarkan anak-anak bahagia dengan pilihan mereka!" wejangan mamanya Aldo untuk Kimora dan Alfarezi.
Sama seperti dirinya dulu. Mamanya Aldo tidak melarang Aldo berhubungan dengan Sashi waktu itu. Mereka mendukung apa yang Aldo lakukan. Beruntungnya, kehidupan Aldo bahagia sampai sekarang.
"Iya ma."
Disisi lain, Ines juga datang bersama Shaka. Sementara Gio datang dengan dijemput oleh Vanka. Tapi yang bikin Gio merasa aneh. Gio tidak melihat Ines dan Vanka saling bicara. Saat Vanka menyapa mamanya, mamanya Gio hanya menjawab singkat lalu memalingkan wajahnya.
Berbeda dengan Shaka yang terlihat begitu ramah kepada Vanka. Juga, Shaka tidak gengsi berterima kasih kepada Vanka yang sudah mau direpotkan dengan menjemput Gio.
"Nggak repot kok, om. Aku malah seneng.." ucap Vanka sembari melirik Ines yang terlihat cemberut.
"Gio itu baru pertama kali dekat dengan wanita, jadi begitulah, dia orangnya juga manja banget." ucap Shaka menceritakan kehidupan anaknya.
"Dulu waktu SMP dia pernah deket sama adik temannya." sahut Ines ingin membuat Vanka tidak besar kepala.
__ADS_1
"Itu kan karena ada insiden, bukan keinginan Gio sendiri." Shaka tidak ingin Ines mengacaukan hubungan Gio dengan Vanka. Shaka bisa melihat jika anaknya sangat mencintai gadis itu.
"Mama bisa nggak, nggak usah bahas masalah itu lagi! Itu membuat Gio menjadi semakin bersalah." Gio juga tidak suka mamanya mengungkit tentang masa lalunya. Sepertinya masa lalu itu sangatlah menyakitkan untuk Gio.
"Iya, maafin mama ya!" Ines tersenyum kepada Gio tapi sinis kepada Vanka.
Sedangkan Vanka berusaha untuk tidak mrmpedulikan kesinisan mamanya Gio. Vanka tahu, mamanya Gio pasti marah kepadanya karena Vanka tidak menepati janjinya untuk menjauhi Gio.
Saat Vanka pergi ke toilet. Ternyata Ines mengikutinya. Ines menyindir Vanka sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Bahkan Ines menuduh Vanka, jika Vanka hanya mau sama Gio karena Gio anak orang kaya.
"Apa tante kira suami tante aja yang kaya?" tanya Vanka dengan tersenyum sinis.
Sebenarnya Vanka tidak mau melawan orang tua Gio, tapi mamanya Gio sudah sangat keterlaluan menghina dirinya. Tuduhan tanpa bukti itu bisa dianggap sebagai penghinaan, menurut Vanka.
"Kamu anak kecil kurang ajar, kamu tidak sopan sama orang tua. Bisa-bisanya Gio suka sama kamu." Ines tidak menyangka jika Vanka berani melawannya.
"Aku nggak akan lawan tante kalau tante nggak keterlaluan. Lagipula apa tante pikir uang bisa beli kebahagiaan?" Vanka benar-benar murka.
"Tante boleh anggep aku sebagai orang yang tidak bisa dipercaya. Tapi aku nggak terima dengan tuduhan tante yang lainnya. Apa di kota ini cuma Gio aja yang anaknya orang kaya?" Vanka tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Aku udah berusaha jauhi Gio, tapi Gio yang nggak mau jauh dari aku. Lagian kita saling mencintai, kenapa kita harus saling menjauhi?" imbuh Vanka yang memang sudah merasa geram.
Vanka tidak peduli lagi dengan pandangan mamanya Gio kepadanya. Sebaik apapun dia buktinya di mata mamanya Gio, Vanka tetap aja jelek. Jadi kenapa harus repot menjelaskan dirinya kepada mamanya Gio. Toh, dia juga tetap jelek di mata Ines.
Cukup lama Ines tercengang. Sampai akhirnya dia sadar, dia telah dikalahkan oleh seorang gadis kecil. "Lihat aja, apa kamu pikir aku tidak bisa pisahkan kalian." Ines justru semakin semangat untuk memisahkan Vanka dengan anaknya.
Ines tidak terima karena Vanka berani melawannya. Dia menyusun rencana untuk memisahkan Vanka dengan Gio. Ines tidak mau anaknya berhubungan dengan Vanka.
Ines merasa Vanka bukan wanita yang baik seperti Gio dan suaminya pikirkan. Bagi Ines, Vanka adalaha seorang amak kecil yang kurang ajar, karena berani melawan orang tua.
Padahal apa yang Vanka katakan itu benar. Di kota itu bukan hanya suaminya saja yang kaya raya. Masih banyak konglomerat yang lainnya juga. Dan jika Vanka benar seperti apa yang dia tuduhkan, mungkin Vanka tidak akan mau menerima Gio lagi. Dia lebih memlih mendekat anak konglomerat yang lainnya. Secara Vanka adalah seorang gadis yang sangat menawan.
Ines kembali dengan wajah yang ditekuk. Dan meminta pulang tanpa alasan, padahal acara masih belum selesai.
Ines juga meminta Gio supaya pulang bersama papa dan mamanya. Tentu saja Gio menolak, dia maunya dianter oleh Vanka.
"Mulai sekarang jauhin dia!" pinta Ines kepada Gio.
Tentu saja perkataan Ines itu membuat Gio menjadi kaget. Kenapa mamanya tiba-tiba meminta dia menjauhi Vanka. Bukankah waktu itu mamanya berjanji mendukung hubungannya dengan Vanka.
"Mama kenapa sih?" tanya Gio masih belum mengerti.
__ADS_1
"Kalau kamu sayang sama mama, kamu jauhin dia, dia bukan wanita yang baik untuk kamu." ucap Ines pelan, dia juga tidak mau merusak acara ulang tahun mamanya Aldo.
"Gio nggak ngerti apa maksud mama. Tapi Gio cuma mau bilang, Gio nggak akan pernah jauhin Vanka. Gio cinta sama dia." ucap Gio dengan agak marah, kenapa tiba-tiba mamanya berubah.
"Kamu mau melawan mama demi wanita itu?" tanya Ines dengan sengit. Dia juga terluka karena anaknya lebih memilih wanita itu dibandingkan menuruti apa mau mamanya.
"Nes, jangan bahas itu disini, nggak enak sama yang lain!" Shaka meminta Ines untuk menahan emosinya. Jangan sampai permasalahan keluarga itu menghancurkan acara tersebut.
"Gio, kamu pulang sama mama dan papa dulu!" ucap Shaka yang tidak bisa dibantah oleh Gio.
"Van, maafin ya, Gio pulang sama om dan tante." ucap Shaka kepada Vanka.
"Iya om."
"Gue duluan, nanti lo pulang biar dikawal Dhanu." pamit Gio. Dia juga tidak tega membiarkan Vanka pulang sendirian.
"Iya." Vanka menganggukan kepalanya.
"Dhan, nitip Vanka."
"Beres.." Dhanu mengacungkan jempolnya ke arah Gio yang ditarik oleh mamanya.
Defan dan Chika pun khawatir dengan hubungan Vanka dan Gio. Sepertinya mamanya Gio tidak merestui hubungan mereka.
"Nggak usah terlalu dipikirkan, ntar biar gue bantu bujuk mamanya Gio." ucap Defan menenangkan Vanka.
"Thanks ya."
"Emang ada apa sih sebenarnya?" tanya Chika penasaran dengan duduk perkara antara Vanka dengan mamanya Gio.
Sebenarnya Chika juga sudah curiga sejak tadi. Ada sesuatu yang terjadi antara Vanka dengan mamanya Gio. Karena mereka tidak terlihat saling ngobrol.
Berbeda dengan sikap mamanya Defan kepadanya. Mamanya Defan terus mengajak Chika ngobrol dan bersendau gurau.
Vanka menceritakan awal mula Ines memintanya menjauhi Gio sampai apa yang terjadi tadi sewaktu di toilet.
"Tante Ines hina lo seperti itu?" Defan terlihat kaget mendengar cerita Vanka tentang tantenya.
"Hmm." jawab Vanka singkat.
"Nggak nyangka gue kalau tante Ines bisa hina orang seperti itu." gumam Defan masih belum percaya jika Ines telah menghina Vanka sampai keterlaluan seperti itu.
__ADS_1
"Lo tenang aja, nanti biar gue yang ngomong ke tante Ines!"
"Iya Van, yang sabar ya!" Chika memeluk Vanka yang nampak sedih ketika Gio ditarik pulang oleh mamanya.