
Sepanjang perjalanan pulang, Vanka hanya diam saja. Gio bertanya pun Vanka tidak mau menjawab. Gio menarik tangan Vanka tapi Vanka menariknya lagi. Gio tersenyum kecil, dia tahu Vanka lagi ngambek sekarang.
Akan tetapi, Gio tidak pernah menyerah begitu saja. Dia kembali menarik tangan Vanka dan menggenggamnya lebih erat. Vanka menarik tangannya lagi, tapi Gio lebih erat menggenggamnya. Gio mencium berkali-kali tangan Vanka tersebut.
Sampai di rumah, Vanka masih saja diam dengan wajah yang manyun. "Kenapa sih?" Gio menarik Vanka ke dalam pelukannya saat Vanka berjalan dengan cepat memasuki rumahnya.
"Kenapa manyun? Masih lapar?" tanya Gio sambil memeluk Vanka.
Vanka berusaha meronta, tapi dia bisa mengalahkan kekuatan Gio yang semakin erat memeluknya. Gio mencium pipi Vanka dengan lembut.
"Kenapa hmm?" tanya Gio lagi.
"Emang lo suka banget sama pancake durian?" tanya Vanka dengan wajah yang masih manyun.
Gio tersenyum geli melihat Vanka yang sedang cemburu. "Hmm.." Gio menganggukan kepalanya sembari tersenyum manis.
"Kalau gitu besok gue beliin, tapi jangan mau kalau dikasih sama Arina, bukan hanya Arina tapi cewek lain juga!" mendengar perkataan Vanka, maka meledaklah tawa Gio.
"Malah ketawa. Apanya yang lucu?" Vanka mencubit pinggang Gio kemudian memukul lengannya yang masih rapat menguncinya di dalam pelukan Gio.
"Lo itu yang lucu." Gio kembali mematuk pipi Vanka.
"Jadi ceritanya lo cemburu nih?" goda Gio yang membuat Vanka menjadi malu.
"Nggaklah, siapa juga yang cemburu!" Vanka kembali meronta karena dia merasa sangat malu apalagi wajahnya yang mulai memerah.
Gio semakin tertawa saat Vanka mengelak. Tapi sama sekali tidak mengendorkan tangannya. Gio masih mengurung Vanka dalam pelukannya.
"Iya, gue janji nggak akan terima makanan apapun dari cewek lain. Gue nolak tadi juga karena gue ingin jaga perasaan lo." perkataan Gio tersebut membuat Vanka menjadi terharu.
Vanka menatap Gio, dan Gio menatap Vanka. Kedua mata saling beradu. Jantung keduanya berdebar tidak karuan. Vanka lalu berinisiatif mengecup bibir Gio. Tentunya, apa yang Vanka lakukan tersebut membuat Gio menjadi terkejut. Gio membulatkan matanya, tidak percaya jika Vanka menciumnya duluan.
Disaat Gio akan membalas kecupan Vanka. Vanka mengingatkan jika mereka tidak bisa melakukannya di tempat itu. Takutnya mereka akan terlihat oleh pembantu rumah tangga Vanka. Lebih menakutkan lagi jika sampai terlihat kakaknya Vanka dan juga orang tua Vanka.
__ADS_1
Jam segini, jam dimana orang tua Vanka biasanya pulang dari kantor. Vanka tidak mau mengambil resiko untuk kena omel. Makanya dia menghentikan Gio sesegera mungkin.
Sebagai gantinya, Gio hanya mencium pipi dan daun telinga Vanka. Kemudian Gio melepaskan pelukannya.
Dan benar saja. Kurang dari lima menit orang tua Vanka tiba di rumah. Untung saja Vanka mencegah dan Gio segera melepaskan pelukannya. Kalau tidak, bisa-bisa mereka ke gep sedang bermesraan. Akibatnya Vanka kena omel.
Orang tua Vanka memang tidak melarang Vanka pacaran. Tapi mereka selalu mewanti-wanti kedua anaknya supaya jangan sampai kebablasan. Karena itu akan membuat malu mereka sebagai orang tua.
****
Dhanu sengaja mengajak Arina untuk dinner romantis. Dhanu berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Arina. Dia telah mengatur tempat yang indah untuk moment-nya tersebut. Dukungan dari teman-temannya yang membuat Dhanu akhirnya yakin untuk mengungkapkan perasaannya.
Dhanu menjemput Arina dan membawa Arina ke tempat yang telah dia siapkan. Arina sempat terkejut mengetahui jika Dhanu ternyata orang yang sangat romantis. Akan tetapi Arina yang tahu apa yang akan Dhanu lakukan hanya bersikap biasa saja dengan kejutan yang telah Dhanu siapkan.
Sebelum Dhanu mengutarakan perasaannya. Terlebih dulu mereka menikmati hidangan yang disiapkan secara khusus untuk moment tersebut.
Suasana yang begitu romantis dengan nuansa candle light. Di tambah dengan alunan musik klasik yang membuat suasana semakin menyenangkan.
Selesai makan, Dhanu mulai menata hatinya. Dia sudah siap untuk menyatakan perasaan yang telah lama ia pendam.
"Gue tahu kok apa yang ingin lo katakan." Arina menyela perkataan Dhanu yang belum tuntas.
"Gue tahu, lo akan nyatain cinta kan ke gue?" tanya Arina dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Dhanu.
"Lo orang baik, baik banget malahan, tapi maaf Dhan, gue nggak bisa terima cinta lo, karena dihati gue udah ada orang lain." ucap Arina menolak pernyataan cinta Dhanu.
Dhanu terlihat agak kecewa. Meskipun sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk hal seperti ini. Tapi tetap saja hatinya merasa kecewa. Tapi Dhanu berusaha menutupi kekecewaannya dengan senyuman.
"Nggak apa kok, cinta kan nggak bisa dipaksa." ucap Dhanu berusaha tetap tegar.
"Kalau boleh tahu, siapa lelaki beruntung itu?" tentunya Dhanu merasa penasaran siapa lelaki yang lebih dulu mendapatkan hati Arina. Setahu Dhanu, Arina tidak dekat dengan banyak lelaki selain teman-temannya.
"Gio." jawab Arina cepat. Dia tidak berusaha menyembunyikan apapun dari Dhanu. Dengan yakin dan tegas dia menyebut nama Gio, lelaki yang telah menempati hatinya.
__ADS_1
"Gio???" dan tentu saja Dhanu kaget bukan main. Jadi selama ini, wanita yang dia sukai telah menyukai sahabatnya sendiri.
"Iya. Gue udah lama suka sama Gio." jawab Arina lagi.
Hati Dhanu kembali merasakan kekecewaan. Dia memang sudah siap jika ditolak oleh Arina. Tapi Dhanu tidak pernah menyangka jika alasan cintanya ditolak karena sahabatnya sendiri.
"Tapi Gio udah punya pacar." ucap Dhanu mengingatkan Arina.
"Gue tahu. Gue tahu Gio punya pacar, tapi yang namanya perasaan tidak bisa begitu mudah hilang. Kalau gue bisa rubah semua ini, gue pasti akan lebih memilih mencintai lo karena lo orang baik, tapi hati gue nggak bisa.." Arina sempat meneteskan air matanya.
"Bisa. Asalkan lo mau lupain Gio, lo bisa rubah hati lo untuk mencintai gue.." Dhanu tidak mau menyerah begitu saja. Dia tahu Arina tidak mungkin bisa mendapatkan Gio karena Gio sangat mencintai Vanka. Dhanu bersikeras untuk membantu Arina melupakan Gio dan berbalik mencintainya.
"Izinin gue buat bantu lo melupakan Gio!" imbuh Dhanu.
Arina menatap Dhanu yang juga menatapnya. Sungguh tidak menyangka jika Dhanu akan senekad itu memperjuangkan cintanya.
"Tapi gue sama Gio udah dijodohin sama orang kita."
"Gio cinta banget sama Vanka. Gue yakin dia akan menolak dengan keras perjodohan itu, apa lo mau selamanya terkurung dalam cinta yang tak akan pernah bisa lo miliki? Apa lo hanya akan diam melihat orang yang lo cintai bahagia dengan orang lain?" tanya Dhanu.
"Gue nggak akan biarin lelaki yang gue cinta bersama wanita lain, gue hatus balas dendam!"
"Benar. Lo harus balas dendam dengan cara melupakan dia dan bahagia dengan orang lain. Dia aja bisa bahagia dengan wanita lain, kenapa lo harus terkurung dalam cinta tanpa balas? Bukankah hidup lo hanya akan sia-sia." perkataan Dhanu tersebut sebenarnya adalah sebuah motivasi untuk Arina. Dhanu ingin Arina melihat hidupnya yang begitu berharga jika disia-siakan untuk menanti cinta yang tanpa balas tersebut.
Arina seketika terdiam. Awalnya dia menggebu-gebu untuk balas dendam, tapi setelah mendengarkan perkataan Dhanu. Dia jadi berpikir ulang. Apa yang dikatakan Dhanu ada benarnya.
Apakah dia akan selamanya terkurung dalam cinta tanpa balas ini?
Atau dia segera keluar dan mendapatkan kebahagiaannya sendiri?
"Izinin gue bantuin lo buat lupain Gio!" ucap Dhanu lagi, tapi kali ini lebih lembut.
Arina menganggukan kepalanya. Untuk sementara waktu mungkin dia memang membutuhkan support sistem dari Dhanu untuk memulihkan hatinya. Perhatian dan kasih sayang Dhanu mampu membuatnya merasa nyaman dan merasakan indahnya dicintai.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja. Tidak perlu memaksa untuk cepat melupakan, tapi perlahan-lahan gue yakin lo pasti bisa. Biarin Gio bahagia dengan pilihan hidupnya dan lo juga berhak untuk bahagia." Dhanu menunjukan cintanya yang begitu luar biasa kepada Arina.