Married With The Devil

Married With The Devil
Pembalasan


__ADS_3

Setelah merasa puas membuat Cathy kepanasan, Bianca segera beranjak dari atas pangkuan Alan dan melangkah untuk duduk di sofa. Bersebrangan dengan posisi duduk Cathy. Bibirnya juga terus saja menyunggingkan senyum lebar.


“Jimmy, apa aku boleh minta minum?” Bianca yang merasa jika tenggorokannya telah kering segera menatap Jimmy dan berharap agar pria itu memberikannya sebotol air mineral.


Dengan sigap, Jimmy berjalan menghampiri kulkas yang berada di dalam ruangan Alan dan mengambil satu botol jus jeruk dari dalam sana. Lalu memberikannya pada Bianca.


“Cih!” Decih Cathy.


“Kau mau?” Bianca segera menyodorkan jus jeruk yang telah ia minum setengahnya pada Cathy. Yang langsung dibalas wanita itu dengan wajah tak suka.


“Kau pikir minuman seperti itu pantas untukku?” Cathy berucap angkuh seraya tersenyum meremehkan.


“Alan, aku punya banyak teman yang cantik. Kalau kau mau, aku bisa mengenalkanmu pada mereka.” Bianca tahu betul jika Cathy sengaja ingin menyakiti hatinya. Dan berharap Alan menerima tawaran yang ia ajukan tepat di hadapannya.


“No, thanks.” Jawab Alan singkat dengan tetap fokus pada layar laptopnya.


“Jujur saja, sebenarnya apa yang kau lihat padanya?” Cathy bertanya seraya menatap Bianca tajam. Bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah muda menyeringai licik.


Bianca mendesah kasar. Berusaha untuk tak terpancing ketika Cathy mulai merendahkan dirinya lagi.


“Alan!”


“Aku sedang sibuk, Cath.” Wajah Cathy memberengut penuh kekesalan. Apalagi ketika Alan tak memedulikannya dan malah sibuk bekerja. Tapi seolah tak mengenal kata menyerah, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Bianca yang tengah menandaskan jus jeruk miliknya.


“Dilihat dari manapun, kau tak ada menariknya sama sekali.” Cathy berucap dengan nada dingin. Wajahnya kembali menampakan ekspresi merendahkan.


“Aku tahu.” Jawab Bianca tak acuh.


“Jelas sekali jika kau tak mampu memuaskannya di atas ranjang.”

__ADS_1


“Kau yakin?” Kali ini Bianca bertanya dengan percaya diri. Mata coklatnya menatap Cathy lekat. Lengkap dengan senyuman manis.


“Tentu saj—Kau!” Cathy sontak bangkit dari duduknya seraya menatap Bianca penuh kemarahan. Tangannya mengepal dengan kuat. Serta wajahnya yang memerah.


Secara tiba-tiba, Bianca melepas tiga kancing atas seragam sekolahnya sehingga memperlihatkan bagian dadanya. Tempat dimana bekas gigitan serta tanda kemerahan yang Alan tinggalkan berada. Dengan gerakan angkuh, Bianca menyilangkan kakinya seraya menyeringai kecil menatap Cathy. Membalas wanita itu dengan tamparan telak tanpa harus menggerakkan tangannya.


“Aku pergi!” Cathy segera beranjak keluar dan menutup pintu dengan bunyi dentuman yang kuat. Sehingga membuat Alan segera mengalihkan perhatiannya pada Bianca yang tengah tersenyum seraya mengangkat sebelah alisnya—penuh kepuasan. Lalu balas menyeringai nakal pada istrinya.


Sebenarnya, Alan memang dengan sengaja menyuruh Jimmy mengajak Bianca datang ke kantornya. Bukan hanya karena keberadaan Cathy, tapi sepupunya itu tak henti-hentinya memaksa dirinya agar mau dikenalkan pada beberapa teman wanitanya. Dan Alan tahu betul jika Bianca adalah tipe wanita yang tepat untuk diajak bermain. Mengingat hubungan Cathy dan Bianca yang tak baik sejak pertama bertemu.


Kembali, Alan merasakan ketertarikan yang kuat ketika menatap Bianca. Cinta? Bukan–Alan tahu betul jika ini bukan perasaan cinta. Hanya saja, ia tak ingin melepaskan Bianca dan melihatnya bersama pria lain. Dan jujur, baru kali ini Alan tak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap wanita itu.


***


Bianca kembali dibuat takjub ketika Alan mengajaknya ke salah satu hotel bintang lima yang terletak tak jauh dari perusahaan pria itu. Ia juga menyuruh Jimmy untuk pulang dan tak usah menunggunya.


“Apa kau tengah merayakan sesuatu?” Bianca bertanya dengan raut curiga seraya menatap Alan yang baru saja melepaskan dasi kerjanya.


“Wow, aku tak menyangka jika kau seangkuh ini.” Seru Bianca sarkasme yang dibalas Alan dengan tawa kecil.


“Hotel ini milikku. Ditambah dengan beberapa restoran bintang lima dan juga club malam bergengsi.” Seandainya saja bisa, Bianca yakin jika saat ini bibir bawahnya mungkin sudah jatuh ke lantai karena membuka mulut terlalu lebar. Oke, dia tahu jika Alan kaya. Tapi Bianca tak tahu jika Alan ternyata lebih kaya dari dugaannya. Pantas saja pria itu terlihat biasa saja ketika harus mengeluarkan uang sebanyak tujuh ratus juta hanya untuk membeli dirinya.


Alan tersenyum simpul. Tahu betul jika Bianca tengah menatapnya takjub dan jengah secara bersamaan. Setelah melepas semua pakaiannya, Alan segera mengambil sebuah bathrobe berwarna putih yang terlipat rapi di atas kasur.


“Kau tak berniat membuka baju?” Seraya mendengus, Bianca segera mengambil pasangan jubah mandi yang Alan gunakan.


“Kau mau ke mana?” Tanya Alan sebelum Bianca melongos pergi ke kamar mandi dan meninggalkannya seorang diri.


“Kamar mandi.” Jawab Bianca polos. Yang anehnya, justru dibalas Alan dengan tawa sumbang.

__ADS_1


“Ya Tuhan, Bianca. Untuk apa aku mengajakmu ke hotel jika ujung-ujungnya kau hanya ke kamar mandi?” Alan bertanya dengan nada menyinggung.


“Lalu aku harus mandi di mana?” Bianca berucap kesal seraya menatap Alan dengan mata mendelik.


“Coba perhatikan sekitarmu.” Dengan berat hati, Bianca memperhatikan sekitarnya—ruangan kamar hotel yang mereka tempati saat ini. Bianca akui jika kamar tersebut terlalu besar untuk mereka berdua. Tapi ada satu hal yang menyita perhatian Bianca. Masih ada lagi dua ruangan yang berada di dalamnya. Ruangan yang satunya sudah Bianca pastikan adalah kamar mandi. Tapi yang satunya ia masih tak tahu.


“Aku tak melarangmu.” Alan segera berucap ketika Bianca menatapnya seolah meminta izin untuk menjelajahi isi kamar hotel tersebut. Dengan masih membawa jubah mandi tersebut, Bianca segera melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang belum ia ketahui apa isinya.


“Alan! Ya Tuhan!” Sesampainya di dalam ruangan tersebut, Bianca tak mampu menahan pekikan kagetnya. Ia bahkan segera berlari untuk menghampiri Alan dan menatap pria itu dengan mata berbinar.


Selama enam belas tahun hidupnya, ini kali pertama ia mendatangi hotel bintang lima. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, ruangan yang tadi ia masuki adalah tempat di mana sebuah Whirlpool—atau yang lebih dikenal dengan nama Jacuzzi berada. Bianca bahkan tak tahu harus mengekspresikan seperti apa kebahagiaannya saat ini.


“Thank you.” Ujar Bianca senang seraya mencium sekilas pipi kiri Alan. Sehingga membuat pria itu mematung di tempatnya seraya menatap Bianca dengan wajah kaget.


Dengan tak sabaran, Bianca segera melepas seragam sekolahnya, lalu meletakkannya pada gantungan baju yang telah tersedia. Ia tak lagi mau memikirkan Alan yang melihat tubuhnya ketika sedang berganti pakaian. Yang ia inginkan saat ini hanyalah segera berendam di dalam Jacuzzi tersebut.


“Wanita itu.” Gumam Alan seraya melangkah menyusul Bianca.


***


Bianca kembali tersenyum ketika lubang-lubang kecil pada jacuzzi tersebut menghasilkan gelembung-gelembung yang memberikan pijatan pada seluruh tubuhnya. Ditambah dengan aroma terapi yang mampu membuat hati serta pikirannya merasa tenang.


“Kau suka?” Tanya Alan setelah ia menempatkan dirinya di belakang tubuh Bianca. Diluar dugaannya, jacuzzi tersebut mampu menampung tubuh mereka berdua.


Bianca mengangguk pelan. Dalam benaknya, ia merasa bersyukur bisa merasakal hal yang selama ini hanya dilihatnya melalui televisi. Ia bahkan tak berani berandai-andai, mengingat kondisi keluarganya yang berantakan. Namun ketika bersama Alan, semuanya bisa terwujud. Bianca bahkan tak tahu apakah ia harus berterima kasih pada pria itu atau malah sebaliknya.


“Hah.” Alan menghela napas berat. Seolah ingin melepaskan semua rasa lelahnya setelah bekerja seharian ini. Perlahan, ia memajukan tubuhnya agar menempel pada tubuh Bianca, sementara tangan kanannya melingkar sempurna di perut istrinya.


“Bukankah kita hanya akan mandi?” Bianca sengaja bertanya dengan nada menyindir. Melihat gerak-gerik tubuh Alan, ia sudah tahu betul apa yang pria itu inginkan. Bukankah bercinta bisa tetap dilakukan tanpa dasar cinta? Bianca selalu menekankan kalimat tersebut di dalam dirinya. Ia hanya merasa tak punya alasan untuk menolak Alan. Pria itu memiliki status yang resmi sebagai suaminya. Dan ia pun punya kewajiban untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri. Walau tak dipungkiri, jika sudut paling dalam hatinya menginginkan, jika mahkota paling berharganya ia serahkan atas landasan cinta.

__ADS_1


“My dear, Bianca.” Alan berucap manis seraya mengecup sekilas daun telinga Bianca.


Dan mereka berdua, kembali saling menyentuh dengan intens.


__ADS_2