Married With The Devil

Married With The Devil
I Miss You


__ADS_3

Alan yang masih setia berada di sisi Bianca tersentak kaget ketika merasakan jari Bianca bergerak sebentar. Matanya menatap lekat. Lima jam lamanya Bianca tak sadarkan diri. Entah karena tubuhnya sedang lelah atau memang Bianca sendiri yang enggan untuk membuka mata. Alan hanya bisa berharap agar ia bisa menatap kembali iris coklat wanita itu.


“Eunggg….” Bianca melenguh pelan. Keringat dingin kembali membasahi tubuhnya. Dan membuat Alan dengan sigap mengambil handuk kecil untuk menyeka keringat di tubuh istrinya.


“Bianca.” Alan berucap lirih. Hatinya kembali teriris ketika menatap tubuh lemah wanita itu.


Bianca yang memang sudah setengah sadar segera membuka kedua matanya ketika merasakan suasana di sekitarnya begitu hening. Bola matanya bergerak cepat untuk mengamati sekeliling.


“Alan!” Bianca berteriak pelan seraya bangkit dengan posisi duduk. Ia menghela napas lega ketika tahu jika saat ini tengah berada di dalam kamar Alan.


“Bianca.” Alan yang baru saja kembali dari kamar mandi setelah mengambil handuk kecil baru, segera berlari menghampiri Bianca. Ia dengan cepat menggenggam tangan Bianca seraya memegang pipinya. Memastikan jika saat ini ia sedang tak salah lihat.


Alan sontak jatuh terduduk di atas lantai kamarnya. Kedua lututnya terasa lemas. Apalagi ketika iris coklat Bianca menatapnya sedih. Sementara bibirnya masih tertutup rapat.


“Maafkan aku.” Alan berucap lirih dengan kepala tertunduk. Nada sedih terdengar jelas dalam ucapannya. Ia juga tak berani menatap Bianca.


Bianca masih bergeming. Sejujurnya, saat ini, ia tak tahu harus mengatakan apa. Rasa takut yang begitu besar masih ia rasakan. Namun melihat Alan bersimpuh di hadapannya seraya memohon maaf, lebih menyayat hatinya. Lebih membuatnya merasa sakit dibanding dengan yang Rico lakukan padanya.


“Maafkan aku.” Alan kembali berucap lirih. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Bianca.


“Aku menunggumu.” Bianca akhirnya berucap. Iris coklatnya menatap kepala Alan lekat.


Dengan cepat, Alan mendongak sehingga membuat tatapan mereka beradu. Dan Alan bisa melihat jelas jejak kesedihan di dalam mata wanitanya.


“Berhari-hari, aku terus menunggumu. Berharap kau cepat menjemputku.” Ucap Bianca. Nada bicaranya terdengar pilu.


“Berhari-hari pula, aku harus menahan rasa takut dan juga sakit. Dengan harapan, kau akan segera datang.” Setetes cairan bening jatuh membasahi pipi Bianca. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya.


Alan dengan cepat bangkit dari duduknya untuk merengkuh tubuh lemah Bianca. Memeluknya erat.

__ADS_1


“Terkadang, aku berpikir, bagaimana jika ternyata kau tidak akan pernah datang? Bagaimana jika ternyata kau tidak peduli padaku? Sementara aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Bianca akhirnya terisak di dalam pelukan Alan. Tangannya memukul lengan Alan dengan lemah. Seolah meminta pria itu untuk melepaskannya.


Alan tidak menurut. Ia kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Bianca dengan mulut yang masih terutup rapat. Sengaja membiarkan Bianca menumpahkan dan melampiaskan semua yang dirasakannya.


“Kenapa kau masih saja diam, huh? Apa kau benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku?” Tanya Bianca.


“Aku peduli padamu. Sangat.” Jawab Alan. Tangannya dengan lembut membelai surai hitam Bianca.


“Lalu kenapa kau tidak langsung datang untuk menyelamatkanku?!” Bianca berteriak marah seraya meronta di dalam pelukan Alan. Hatinya sakit ketika pria itu membiarkannya berhari-hari disiksa oleh Rico.


“Kau tahu, Rico hampir saja melakukan sesuatu yang sangat buruk padaku dan membuatku berpikir, bagaimana–bagaimana jika kau tidak lagi ingin menerimaku. Tidak lagi menginginkanku berada di sisimu. Dan pada akhirnya membuangku seperti yang dilakukan oleh kedua orang tuaku.”


Bianca tidak bisa lagi membayangkan akan seperti apa jadinya jika Alan sampai memilih untuk membuang dirinya. Mencampakkannya begitu saja ke jalanan layaknya barang tak berguna. Bahkan sampai harus berakhir menjadi seorang pemuas lelaki hidung belang.


“Tidak. Jangan berkata seperti itu. Aku membutuhkanmu. Aku menginginkanmu untuk terus berada di sisiku.” Alan berucap mantap seraya melepaskan pelukannya. Iris hitam legamnya menatap Bianca lekat.


Bianca sadar jika ia tak boleh jatuh dalam jerat tatapan Alan. Tapi sungguh, ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya ketika mendapati pria itu menatapnya dengan penuh kelembutan dan juga kejujuran.


“Kumohon, jangan pernah berucap seperti itu.” Alan berucap lirih. Saat ini, di mata Bianca, Alan terlihat begitu rapuh. Hal yang selama ini tidak pernah ditunjukkan Alan pada siapa pun.


“Kau tahu, aku juga tersiksa setiap harinya. Membayangkan seperti apa keadaanmu membuatku tak bisa berpikir dengan normal. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap fotomu serta mengingat suaramu ketika berbicara denganku.” Alan berucap dengan suara parau. Sadar betul jika mereka berdua sama-sama tersiksa selama ini.


“Bianca, maafkan aku. Aku tak tahu jika segala sesuatu yang berhubungan denganmu ternyata membuatku begitu lemah. Begitu tak berdaya.” Alan berucap frustasi seraya tertunduk. Ia tak berani menatap Bianca.


“Apa maksudmu?” Tanya Bianca tak mengerti.


“Kau tahu betul seperti apa kehidupan yang aku jalani. Menjadi seorang pengusaha sukses bukan hal yang mudah. Aku punya banyak musuh di luar sana yang tak suka dengan segala kesuksesanku. Dan mereka kerap kali melakukan sesuatu yang tak terduga. Itu juga lah yang menjadi alasanku menyembunyikan pernikahan kita.” Alan berucap dalam satu tarikan napas. Kini ia menatap Bianca lekat. Berharap, wanita itu mengerti akan apa yang dirasakannya.


Selama ini, siapa pun yang mengenal Alan, tahu betul seperti apa kehidupan pria itu. Wanita dan alkohol bukan lah barang baru untuk Alan. Bahkan semua rekan-rekan bisnis atau pun yang menganggapnya sebagai musuh, tahu jika Alan selalu membawa wanita yang berbeda untuk ia tiduri. Maka dari itu, Alan tidak pernah ambil pusing ketika berada di depan umum, ia bersikap mesra pada Bianca. Sebab, yang mengenalnya pasti mengira jika Bianca hanya lah salah satu dari sekian banyak mainannya.

__ADS_1


Itulah sebabnya, ketika terjadi sesuatu pada Bianca, Alan tidak bisa langsung bergerak. Ia takut jika musuhnya di luar sana tahu dan akan menggunakan Bianca sebagai alat untuk menghancurkannya. Dan yang lebih parahnya lagi, jika Bianca sampai terluka hanya karena dirinya.


“Dan kau pikir aku akan membiarkanmu terluka karena bertindak gegabah? Selama beberapa hari aku harus menahan diriku. Bekerjasama dengan polisi bukan pilihan yang tepat. Karena terkadang, mereka justru berkhianat dengan cara mengambil kesempatan yang ada.”


Bianca masih tidak mengucapkan apa pun. Sekarang, ia hanya ingin mendengarkan semua penjelasan Alan. Lalu memutuskan tindakan apa yang akan ia ambil.


“Aku harus selalu menunggu sampai yakin jika tidak ada yang mengawasiku. Membiarkanmu terluka karenaku bukanlah hal yang kuinginkan.”


“Dan kau pikir aku juga menginginkannya? Membiarkanmu menjadi seorang pembunuh hanya karena wanita sepertiku?” Bianca kembali membayangkan sosok Alan yang secara membabi buta memukul Rico. Bahkan membuat Rico sampai tak sadarkan diri. Bianca yakin, jika ia tidak segera menghentikan Alan, pria itu tanpa ragu akan terus memukuli tubuh Rico sekaligus sudah tak bernyawa lagi.


“Aku akan melakukan apa pun hanya untukmu. Tak peduli sekalipun jika aku harus sampai membunuh.” Ucap Alan dingin. Wajahnya kembali memancarkan aura tak bersahabat.


“Terima kasih karena sudah datang untukku. Sudah datang untuk menyelamatkanku. Dan tetap membuatku berada di sisimu lagi.” Bianca kembali menitikan air mata seraya terisak. Ia langsung meraih tubuh Alan dan menumpahkan semuanya di dalam dekapan hangat pria itu. Bianca bersyukur, karena Alan datang untuknya sebelum Rico berbuat terlalu jauh.


Dengan gerakan pelan, Alan segera menarik tubuh Bianca dari dalam pelukannya. Kedua tangannya menangkup pipi wanita itu penuh kelembutan. Tatapan mereka kembali beradu. Dan Alan tak bisa lagi membohongi dirinya jika ia merindukan Bianca.


“Aku merindukanmu.” Bisik Alan. Bianca tidak menjawab. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang di dalam sana.


“Aku … juga merindukanmu.” Bianca akhirnya berucap jujur. Ia juga tak bisa membohongi dirinya. Ia merindukan Alan dengan sangat. Dan berada di dekat pria itu membuatnya merasa nyaman.


Bianca sontak menutup kedua matanya ketika Alan mendaratkan kecupan cukup lama di keningnya. Ia bisa merasakan dengan jelas perasaan Alan melalui ciuman tersebut.


Dan Bianca tak bisa lagi mengelak, jika sedikit demi sedikit, ia menyukai Alan. Atau mungkin, tanpa ia sadari, Alan sudah berhasil memiliki tempat teristimewa di hatinya.


“Biarkan aku memelukmu.” Bisik Alan seraya menarik tubuh Bianca agar berbaring di sebelahnya. Alan meletakkan kepala Bianca di atas lengannya sementara tangannya yang bebas ia gunakan untuk memeluk posesif tubuh istrinya. Bianca tersenyum, lalu balas memeluk Alan.


Dan sebelum Bianca kembali memejamkan mata, ia merasakan kecupan Alan pada surai hitamnya.


Tanpa Bianca sadari, Alan menatap tajam tangannya yang terkepal kuat. Sudut bibirnya menyeringai menakutkan.

__ADS_1


“Aku akan membuat kalian menderita.” Gumam Alan sebelum pada akhirnya juga ikut memejamkan mata. Tertidur dengan posisi saling berpelukan.


__ADS_2