Married With The Devil

Married With The Devil
Penderitaan


__ADS_3

Cathy kembali menghela napas seraya menatap lantai kamar. Ia bingung harus mengatakan apa pada Wilson. Sedangkan pria itu sedang duduk di sebelahnya, di atas tempat tidur, sudah sedari tadi menatapnya tajam. Menantinya membuka suara.


“Wilson.” Panggil Cathy. Suaranya tercekat. Saat ini, ia hanya memakai dalamannya saja.


“Cepat katakan padaku!” Seru Wilson tak sabaran. Dengan cepat, ia menggenggam tangan Cathy, seolah ingin menenangkan wanita itu.


“Beberapa hari yang lalu, aku kembali bertemu dengan Alan—lebih tepatnya, aku yang datang ke kantornya,” Cathy berujar dengan suara pelan.


“Aku mengatakan sesuatu yang buruk tentang kekasihnya sehingga membuat Alan marah dan mengusirku.” Sambung Cathy lagi seraya menatap Wilson sedih.


“Brengsek! Anak bodoh itu benar-benar sudah kelewatan.” Ucap Wilson seraya mengumpat jengkel. Ia segera merengkuh tubuh Cathy dan mengecup pipinya mesra.


Cathy balas memeluk Wilson seraya tersenyum senang menerima perlakukan manis dari pria itu.


“Wanita miskin itu membuat Alan berubah menjadi pribadi yang buruk.” Cathy berucap jengkel ketika wajah Bianca terlintas di benaknya. Dia bahkan jauh lebih cantik dari wanita itu. Mungkin memang Alan sudah buta dalam melihat lawan jenis setelah kehadiran Bianca.


“Hanya itu?” Tanya Wilson seraya melepaskan pelukannya pada Cathy. Ia menatap wanita itu bingung.


“A–apa?” Cathy berucap gugup. Ketakutan kembali menguasai dirinya.


“Bukankah sudah kukatakan untuk tak berbohong?” Wilson berujar datar seraya menatap Cathy dengan mata memicing. Sungguh, ia merasa ada yang aneh pada wanita itu.


Cathy tak langsung menjawab. Ia kembali menatap Wilson sekilas lalu menunduk.


“Alan bilang, dia tahu tentang hub–hubungan kita.” Cathy berucap lirih tanpa berani menatap Wilson.

__ADS_1


“APA?” Teriak Wilson seraya bangkit dari duduknya. Kedua matanya menatap Cathy tajam penuh kemarahan. Tangannya juga mengepal kuat dengan rahang yang mengeras.


“Bagaimana bisa?!” Wilson kembali bertanya dengan suara yang memekik.


“Aku–aku tak tahu. Alan bilang, kalau dia sudah tahu sejak dulu.” Jawab Cathy seraya menatap Wilson.


“Bukankah sudah kukatakan untuk selalu berhati-hati?” Wilson sontak mencengkeram dengan sangat kuat pipi Cathy. Matanya berkilat marah.


Tubuh Cathy semakin bergetar ketakutan. Yakin jika hari ini ia akan berakhir mengenaskan.


“Wilson, ma–maafkan aku.” Cathy berujar susah payah karena Wilson masih mencengkeram pipinya kuat. Apalagi ketika kedua mata pria itu semakin terlihat menakutkan.


“Bodoh! Kau pikir maafmu bisa menyelesaikan semuanya?” Wilson sontak mendorong tubuh Cathy dengan kasar sehingga jatuh terlentang di atas tempat tidur. Dengan cepat, ia juga memposisikan tubuhnya di atas tubuh Cathy seraya memegangi leher wanita itu. Bibirnya menyeringai aneh.


“Buka mulutmu!” Perintah Wilson. Cathy menggeleng pelan, berusaha membujuk Wilson agar pria itu tidak menyakitinya. Namun karena perbedaan tenaga, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Seolah belum puas, Wilson kembali menarik kuat rambut Cathy seraya menyuruhya untuk berdiri. Satu tamparan kuat berhasil ia daratkan pada pipi kanan wanita itu. Tak lama setelahnya, Wilson kembali memberikan gigitan kuat pada beberapa bagian tubuh Cathy.


“Wilson, lepaskan ak—Argh!” Cathy menjerit sakit ketika Wilson menyeretnya menuju ruang tengah dengan cara menarik rambutnya. Tubuhnya sudah polos.


“Semua usahaku selama ini sia-sia karenamu.” Wilson berujar dingin tanpa menatap Cathy. Ia tak merasa kasihan sama sekali ketika mendengar wanita itu meringis sakit. Hati dan pikirannya sudah diliputi oleh kemarahan.


“Tapi aku tak mengatakan apa pun pada Alan.” Jawab Cathy membela diri. Ia tak merasa bersalah karena Alan sendirilah yang mengaku sudah tahu sejak dulu. Jadi, semua ini bukan karena kesalahannya.


“Tutup mulutmu! Kau pikir aku akan peduli? Sayangnya tidak!” Setelah sampai di ruang tengah, Wilson menyentakkan tubuh Cathy dengan sangat kasar sehingga membuat kepala wanita itu terbentur di lantai.

__ADS_1


“Tidak! Wilson, aku mohon!” Cathy berteriak panik saat Wilson meletakkan sebelah kakinya di atas perutnya.


“Aku belum mendapatkan apa-apa dan sekarang kau sudah menghancurkan semuanya.” Ucap Wilson jengkel seraya menginjak perut Cathy kuat. Mulutnya kembali mengucapkan sumpah serapah serta kalimat makian.


Cathy menghancurkan semuanya dan Wilson tidak terima. Ia belum mendapatkan sedikit pun harta dari Alan. Dan ketika pria itu tahu perihal hubungannya dengan Cathy, maka harapannya pupus sudah.


Selama ini, Wilson dengan sengaja menyuruh Cathy merahasiakan hubungan mereka berdua agar Alan tak sampai tahu. Bahkan tujuannya menikahi Jasmine pun juga hanya karena harta. Namun sialnya, wanita penyakitan itu justru mati tanpa meninggalkan apa pun untuknya.


“Uang yang kukeluarkan untukmu juga menjadi tidak berguna.” Seru Wilson seraya. Ia benar-benar tidak terima. Semua yang dikorbankannya menjadi sia-sia. Apalagi Cathy sudah banyak menghabiskan uangnya.


“Menjualmu pun juga tidak akan bisa mengganti semua uangku.”


“Wilson, aku—Ugh!” Cathy hanya bisa memegangi perutnya dengan tak berdaya. Tubuhnya lemas setelah Wilson memukul serta menginjaknya.


“Wanita sial. Cih!” Decih Wilson. Setelahnya, ia beranjak kembali menuju kamar untuk berpakaian. Berlama-lama dengan wanita itu bisa membuatnya hilang kendali.


“Jangan pernah lagi muncul di hadapanku.” Ucap Wilson dingin. Tanpa rasa kasihan, ia melangkah pergi meninggalkan Cathy yang tengah meringkuk kesakitan. Beberapa bagian tubuh wanita itu memar akibat dari perlakuan kasar pria itu.


Di tengah kesendiriannya, Cathy hanya bisa terisak kecil seraya memeluk tubuhnya sendiri. Diperlakukan secara tidak manusiawi seperti ini benar-benar membuatnya hancur. Ini memang bukan kali pertama Wilson berbuat kasar padanya. Tapi ini adalah kali pertama di dalam hidupnya, Cathy merasa tak dianggap dan dihargai sama sekali sebagai seorang wanita.


Ia sadar jika hubungan yang dijalinnya dengan Wilson tanpa landasan cinta. Mereka berdua memutuskan untuk bersama karena nafsu. Saling memanfaatkan satu sama lain hanya untuk mewujudkan tujuan masing-masing. Tapi nyatanya, semuanya justru tak menghasilkan apa pun.


Cathy juga sadar jika Wilson bukanlah seorang pria yang gemar bersikap manis pada wanita. Saat pertama kali Wilson menyakitinya ketika mereka sedang bercinta, disitu lah Cathy tahu jika suatu saat nanti, pria itu akan lebih menyakitinya lagi. Tapi Cathy justru berpaling—berpura-pura tidak tahu, dengan anggapan, selama keinginannya terpenuhi, maka tak akan ada masalah.


“Ini semua karena Bianca.” Cathy berucap lirih dengan wajah penuh dendam. Meyakini semuanya terjadi semenjak kehadiran Bianca di dalam hidup Alan. Ia memang tak bisa membalas Wilson, tapi ia bisa melampiaskannya pada Bianca. Membuat wanita itu merasakan apa yang dirasakannya saat ini adalah pilihan yang tepat. Bukan hanya Bianca, tapi siapa pun yang dekat dengan wanita itu, akan mendapatkan hal yang sama.

__ADS_1


“Aku akan membalasmu.” Bisiknya seraya tertawa kecil.


__ADS_2