Married With The Devil

Married With The Devil
Penyiksaan


__ADS_3

Sofie yang sedari tadi menunggu kedatangan Alan tersentak kaget dengan mata membulat tak percaya ketika melihat pria itu masuk ke dalam rumah seraya menggendong tubuh tak berdaya Bianca. Dengan segera, ia melangkah menghampiri mereka berdua.


“Nyonya, Ya Tuhan.” Ucap Sofie setelah melihat kondisi tubuh Bianca.


“Cepat panggil dokter.” Perintah Alan seraya melangkah menuju lantai dua. Ia tak bisa berpikir jernih saat ini.


Sofie dengan cepat menuruti perintah Alan. Jarinya dengan lincah menekan nomor telepon dokter yang selama ini menjadi dokter kepercayaan keluarga Drax.


“Dr. Harry, bisakah kau segera datang ke sini? Mr. Drax membutuhkanmu.” Ujar Sofie setelah teleponnya tersambung.


“Baik. Aku akan segera ke sana.” Dr. Harry menjawab dengan mantap. Ia akan selalu siap kapan pun keluar Drax membutuhkannya.


Dr. Harry memang merupakan dokter kepercayaan keluarga Drax sejak dulu. Bahkan sebelum ia membuka klinik dan rumah sakit sendiri. Dan berkat keluarga Drax juga lah, saat ini ia bisa memiliki dua rumah sakit besar berakreditas A. Untuk itulah, ia berjanji untuk selalu totalitas dalam melayani keluarga Alan. Kapan pun pria itu membutuhkannya.


***


Alan tak mengalihkan sedikit pun perhatiannya pada tubuh Bianca yang telah tertutupi piyama berlengan panjang. Ia sengaja menyuruh Sofie melakukannya untuk menutupi bekas-bekas gigitan pada tubuh istrinya.


“Bagaimana?” Alan bertanya tak sabaran ketika Dr. Harry telah selesai memeriksa kondisi Bianca. Iris hitam legamnya menatap dokter berumur tujuh puluh tahun itu penuh harap.


“Selain dehidrasi, dia juga kurang makan. Tak heran tubuhnya menjadi lemah dan jatuh pingsan. Aku sudah menyuntikkan vitamin sementara untuknya. Setelah bangun nanti, jangan lupa berikan nutrisi yang cukup.” Dr. Harry menjelaskan dengan nada bersahabat. Matanya menatap Alan hangat.


“Kekasihmu?” Tanya Dr. Harry seraya menatap Alan lekat. Alan tidak bersuara. Hanya kepalanya yang mengangguk sebentar.


Sang dokter tersenyum mengerti. Ini kedua kalinya ia mendapati Alan mencemaskan seseorang—selain kakeknya yang telah meninggal dunia. Dr. Harry tersenyum. Tahu jika sedikit demi sedikit Alan telah berubah. Dan yakin jika yang menjadi penyebabnya adalah wanita yang baru saja diperiksanya.


“Aku pergi dulu.” Ucap Dr. Harry seraya melangkah pergi. Diikuti Sofie yang berniat mengantarnya keluar.


Setelah kepergian mereka berdua, Alan segera duduk di sisi Bianca seraya menggenggam tangannya erat. Sesekali, ia mengecup kening istrinya penuh kasih. Hal yang baru pertama kali ia lakukan pada wanita. Hanya pada Bianca.


“Bianca.” Alan kembali berucap lirih memanggil nama istrinya. Tadi, ketika ia mengoleskan krim pada bekas gigitan di tubuh Bianca. Alan tak henti-hentinya mengumpat seraya mengutuk Rico. Jika saja Bianca tak menghentikannya, Alan yakin jika ia pasti telah membunuh pria itu. Tak ada masalah baginya. Uang bisa menyelesaikan semuanya. Namun, di sisi lain, Alan juga merasa bersyukur karena ia tak harus membuat Bianca tinggal bersama seorang kriminal.

__ADS_1


“Eunggg ….” Alan tersentak kaget ketika mendengar Bianca melenguh kecil. Dahi istrinya berkerut serta mengeluarkan keringat dingin.


“Bianca.” Panggil Alan sekali lagi. Berharap Bianca mendengarnya dan segera membuka mata.


Dengan masih menggenggam tangan Bianca erat, Alan tertunduk seraya memejamkan matanya. Kali ini, Alan merendahkan dirinya untuk berdoa. Demi istrinya. Demi wanitanya. Tak masalah sekalipun jika Tuhan di atas sana menganggapnya manusia buruk yang hanya mengingatnya ketika sedang butuh.


***


Setelah tiga jam tak sadarkan diri, Rico akhirnya berhasil membuka matanya dengan lemah. Dan yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit berwarna hitam pekat. Dengan segera, ia menatap sekitarnya dan meringis ketika kepalanya terasa sakit.


“Ugh.” Ringis Rico seraya memegangi kepalanya yang diperban.


“Bangun juga.” Rico segera menatap asal suara dan menemukan seorang pria bertubuh tinggi dan kurus tengah bersandar pada daun pintu. Rambutnya berwarna merah dengan panjang sebahu. Serta bibir bawah sebelah kanannya memakai tindik.


“Siapa kau?” Tanya Rico seraya menatap pria itu tajam.


“Tak ada gunanya menatapku seperti itu,” ucap pria itu santai. Kukunya dipoles kutek warna hitam.


Rico menatap takut pria itu seraya bergerak sedikit. Dan kembali, rasa sakit yang luar biasa hebat menyerangnya.


“Jangan banyak bergerak. Kau masih terluka parah.” Seru Mark. Tangannya memegang sebuah pisau bedah.


“Mau apa kau?!” Rico berteriak takut seraya menatap Mark waspada. Khawatir jika pria itu melakukan sesuatu yang buruk padanya.


“Aku? Tidak. Aku tidak akan melakukan apapun.” Ucap Mark santai. Kali ini ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, di dekat Rico.


“Setidaknya sampai Jimmy memberi perintah padaku.” Mark kembali berucap santai seraya menjilati pisau bedah yang dipegangnya dengan ekspresi mengerikan. Yang juga sukses membuat tubuh Rico bergetar ketakutan.


Mark tergelak. Tertawa lantang dengan nada yang tak enak di dengar. Sampai kehadiran Jimmy mengganggu aktifitasnya.


“Jimmy.” Sapa Mark. Sementara Jimmy mengangguk pelan.

__ADS_1


“Kau! Di mana Bianca?” Teriak Rico yang membuat Jimmy menatapnya tajam.


“Bersyukurlah karena tuanku tidak membunuhmu.” Jimmy berucap dengan nada tak bersahabat. Segera, ia menatap Mark lalu memberi isyarat pada pria berambut merah itu.


“Kau yakin?” Mark berujar senang seraya melihat Jimmy dengan mata berbinar. Kembali, ia mengambil pisau bedah yang disampirkan pada kantong belakang celana jeansnya.


Jimmy mengangguk mantap seraya melangkah santai menuju sofa yang berada pada sudut ruangan.


“Kau–apa yang kau rencanakan?” Rico berteriak dengan tubuh bergetar ketakutan ketika Mark menatapnya dengan seringaian mengerikan. Perlahan, ia mengarahkan pisau bedah yang dipegangnya pada pipi Rico. Menekannya sedikit lalu menariknya ke bawah. Sehingga membuat darah segar mengeucur walau tak banyak.


“ARGH!” Rico berteriak sakit seraya memegangi pipinya. Saat ini Mark kembali menampakkan senyum mengerikan.


Mark Hudson adalah seorang dokter yang bergerak di dalam dunia gelap. Ia dan Jimmy telah saling mengenal selama tiga tahun. Dan selama itu pula lah, ia menekuni pekerjaannya sebagai dokter yang mengurus para penjahat kriminal: pengedar narkoba, pembunuh, mafia dan penjahat berbahaya lainnya. Saat ini, mereka bertiga sedang berada di salah satu ruangan di dalam rumahnya¬—lantai tiga, yang terletak di bawah tanah.


Tak jarang, Mark juga harus membedah mayat orang-orang tanpa identitas yang menjadi korban dari geng mafia. Tak heran, wajahnya selalu menunjukkan ekspresi mengerikan. Darah dan organ tubuh manusia ibarat mainan untuknya.


“Mark, ayo.” Panggil Jimmy seraya bangkit dari duduknya. Ia mengajak Mark melangkah keluar dan meninggalkan Rico yang sedang kesakitan.


“Apa kau tak kasihan padanya?” Tanya Mark ketika mereka berdua melangkah menuju lantai satu rumahnya.


“Tidak.” Jawab Jimmy dingin.


“Seperti biasa, kau memang manusia yang tak punya hati.” Gurau Mark. Sementara Jimmy hanya menyeringai kecil.


“Aku hanya menggertak. Sekaligus memberikan tekanan mental padanya. Tapi tidak sampai membuatnya gila.” Jimmy berujar santai. Setelah tiba di lantai satu, ia segera meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja kecil.


“Aku pergi dulu.” Ucap Jimmy.


“Oke. Aku akan menjaga mainanku dengan baik.” Seru Mark seraya tertawa kecil.


Tak lama setelah kepergian Jimmy, ia segera melangkah masuk ke dalam kamarnya sembari berucap,

__ADS_1


“Anak malang.”


__ADS_2