Married With The Devil

Married With The Devil
Jimmy Junior?


__ADS_3

Fiona yang mendapati Jimmy beberapa kali berjalan mondar-mandir di dapur—tak jauh darinya yang sedang mencuci piring, hanya bisa menatap pria itu dengan kening berkerut. Pasalnya, setiap kali ia memergoki Jimmy tengah mencuri pandang padanya, suaminya itu hanya tersenyum simpul lalu segera beranjak menuju ruang tengah. Tak lama kemudian, Jimmy akan kembali melakukan hal yang sama.


“Jimmy, ada apa?” Pertanyaan tak terduga Fiona sontak membuat Jimmy berjengit kaget. Membuatnya hanya bisa tersenyum simpul.


“Dear.” Panggil Jimmy sayang. Ia dengan lembut mengalungkan kedua tangannya pada perut Fiona. Memeluknya dari arah belakang. Bahkan dengan sengaja mengecup lama tengkuk Fiona yang terekspos.


“Jimmy.” Lirih Fiona. Ia mengelus pelan pipi kiri Jimmy setelah pekerjaannya usai.


Dalam diam, Jimmy kembali mengecup tengkuk Fiona diselingi dengan gigitan kecil pada daun telinga.


Fioan tertawa geli. Lalu dengan cepat berbalik untuk menatap Jimmy secara sempurna.


“Di mana Jane?” Tanya Fiona dengan suara pelan. Ia tersenyum geli saat Jimmy justru mengecup pipinya mesra.


“Di kamar.” Jawab Jimmy singkat. Pria itu segera menarik Fiona ke dalam dekapan hangatnya. Mengecup beberapa kali pucuk kepala wanita itu sembari mengelus lembut lengannya. Berniat ingin menggodanya.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Jane lebih memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya. Bukan karena ia tak ingin menghabiskan waktu bersama Jimmy dan Fiona. Jane hanya merasa ingin me yendiri lebih dulu. Dan baik Jimmy maupun Fiona, sama-sama menghargai keinginan wanita itu.


“Jadi, cepat katakan padaku.” Ucap Fiona seraya menatap Jimmy penuh selidik. Merasa aneh melihat sikap tak biasa suaminya itu. Biasanya, Jimmy akan langsung mengatakan apa pun yang sedang dinginkan atau pun di butuhkannya, tapi sekarang, pria itu justru terlihat ragu.


“Aku—Apa kau tak menginginkan Jimmy Junior?” Fiona hanya mampu menatap Jimmy dengan mata membulat tak percaya. Setelahnya, Fiona tertawa geli. Paham betul arah tujuan ucapan suaminya.


“Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya.” Bisik Fiona. Ia mengecup lembut bibir Jimmy seraya mengalungkan kedua lengannya pada leher pria itu. Saling ******* serta mengulum bibir secara bergantian.


Dengan tak sabaran, Jimmy menggigit kecil lidah Fiona. Meminta wanita itu membuka mulutnya sedikit lebih lebar untuk meloloskan lidahnya menjelajah setiap sudut di dalamnya.


“Jimmy.” Desah Fiona. Kedua matanya perlahan terpejam tatkala merasakan bibir Jimmy bergerak lincah pada lehernya. Meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.


Di tengah deru napas memburu serta hasrat yang membuncah, Jimmy dan Fiona sama-sama tahu jika mereka berdua sangat menginginkan kenikmatan tersebut. Tubuh mereka sudah sedari tadi dialiri oleh sengatan menggelikan. Yang sayangnya, terasa begitu mendambakan.


“Kita ke kamar.” Tanpa Fiona duga, Jimmy secara tiba-tiba menggendongnya menuju kamar. Dengan sesekali memberikan gigitan kecil pada lengan atau pun lehernya.


Sama seperti dirinya, pria itu sudah terlihat begitu tak sabar.

__ADS_1


Malam ini, akan kembali menjadi malam yang membahagiakan bagi keduanya.


***


Bianca yang secara tiba-tiba merasakan sakit pada perutnya, hanya bisa bergerak gelisah dalam tidurnya. Di sebelahnya, Alan tampak begitu lelap. Sehingga membuatnya tak tega membangunkan pria itu.


“Ugh!” Bianca kembali merintih sakit saat mengalami rasa kencang pada bagian perutnya. Yang baru kali ini dirasakannya. Dengan peluh yang telah membasahi tubuhnya, Bianca tanpa sadar mencengkeram erat lengan Alan dan membuat pria itu membuka kedua matanya secara perlahan.


“Sayang, ada ap—Bianca!”  Alan sontak berteriak panik ketika menatap wajah pucat istrinya. Juga tatapan mata memohon wanita itu.


“Alan–perutku–Ugh!” Bianca hanya bisa berucap lemah seraya menggenggam erat selimut yang berada di dekatnya.


Dengan sigap, Alan membantu Bianca mengubah posisinya tubuhnya menjadi duduk. Sebelah tangannya dengan cekatan mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas samping tempat tidur. Berniat meminumkannya pada Bianca.


“Bagaimana? Masih sakit?” Tanya Alan. Raut wajah pria itu memancarakan rasa takut yang luar biasa besar.


Bianca mengangguk lemah sebagai jawaban. Sesekali, kedua matanya terpejam ketika kembali merasakan sakit. Walau tak separah sebelumnya. Ia juga meminta Alan untuk mengoleskan minyak aroma terapi pada leher dan perutnya.


“Tidak. Aku hanya ingin kau tetap menemaniku.” Jawab Bianca. Ia tersenyum lemah seraya menatap Alan lekat.


“Aku akan selalu berada di sisimu. Sampai kapanpun.” Ucap Alan lembut. Pria itu mendaratkan satu kecupan lama penuh cinta pada kening Bianca.


Alan hanya bisa menghela napas dalam sat melihat wajah tersiksa istrinya. Merasa tak berguna sama sekali karena tak bisa melakukan apa pun. Dokter kandungan yang melakukan pemeriksan USG pada Bianca mengatakan pada mereka berdua jika kemungkinannya, istrinya akan melahirkan pada minggu ke-39. Atau bisa jadi lebih cepat.


“Masih sakit?” Tanya Alan setelah mereka berdua kembali berbaring di atas tempat tidur. Namun kali ini Bianca tidur dalam posisi miring ke kiri. Menghadap padanya.


“Tidak. Terima kasih.” Ucap Bianca bahagia. Merasa beruntung karena Alan selalu berada di sisinya. Pria itu juga tahu hal-hal apa saja yang harus dilakukannya setiap kali ia sedang kesakitan.


“Aku akan melakukan apa pun untukmu. Anak kita nanti juga pasti akan merasa sangat bahagia saat tahu ibunya berjuang keras untuk dirinya.”


Bianca tanpa sadar meneteskan air mata. Jujur saja, ia kembali dihampiri rasa takut perihal persalinannya nanti. Tapi menyadari Alan yang selalu setiap berada di sisinya, membuatnya merasa yakin jika ia dan anaknya kelak akan baik-baik saja.


“I love you.” Bisik Alan.

__ADS_1


Pria itu mengecup sekilas bibir Bianca dan meminta wanita itu untuk kembali memejamkan mata. Jam masih menunjukkan pukul satu dini hari dan Alan sangat yakin jika Bianca belum mendapatkan tidur yang cukup.


Pagi nanti, ia akan menelfon Jimmy dan mengatakan pada pria itu agar mengambil alih pekerjaannya untuk sementara waktu. Meninggalkan Bianca seorang diri karena lebih memilih pergi bekerja adalah hal yang tak akan mungkin dilakukannya.


Wanita itu jauh lebih penting dibanding semua yang dimilikinya.


***


“Baik, Tuan.” Jawab Jimmy mengakhiri sambungan teleponnya bersama Alan.


Pria itu beralih menatap Fiona serta Jane yang telah lebih dulu menatapnya lekat. Ingin tahu apa yang sedang terjadi karena Alan menelfonnya di hari yang masih pagi. Bahkan saat jarum pendek pada jam belum menyentuh angka tujuh.


“Ada apa?” Tanya Jane.


“Nona Bianca sedang sakit.” Jawaban Jimmy sukses membuat Jane dan Fiona menatapnya kaget.


“Sakit?” Ulang Fiona memastikan.


“Ya. Apa kalian berdua ingin pergi menjenguknya?”


Fiona dan Jane kompak menatap Jimmy dengan mata berbinar. Jika biasanya Bianca yang datang berkunjung, kali ini, mereka yang akan mengunjungi wanita itu.


“Apa Alan tak akan keberatan jika kami datang ke sana?” Fiona menatap Jimmy ragu. Merasa khwatir kalau ternyata Alan tak menyukai kedatangan mereka karena merasa terganggu.


“Tentu saja. Setelah makan siang nanti, aku akan menjemput kalian berdua.”


“Okay.” Fiona berseru senang setelah mendengar ucapan Jimmy. Sembari menikmati sarapan paginya, Fiona juga sibuk memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan pada Bianca. Bukan membeli, ia akan membuatnya bersama Jane.


“Jane, ada apa?” Jimmy menatap Jane cemas saat wanita itu justru terdiam.


“Apa–apa aku boleh mengajak James?” Ucap Jane tak yakin. Sekalipun tahu Alan dan Bianca belum terlalu lama mengenal James, tapi Jane ingin mereka bertiga menjalin hubungan baik.


“Aku akan menghubunginya nanti.” Jimmy tersenyum simpul seraya mengelus lembut rambut Jane. Merasa senang karena wanita itu akhirnya meminta sesuatu padanya.

__ADS_1


__ADS_2