Married With The Devil

Married With The Devil
Kenangan Buruk 4


__ADS_3

Alan masih belum membuka mulut setelah terdiam cukup lama. Ia lebih memilih untuk memeluk Bianca erat dengan jantung yang berdegup kencang. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.


“Alan.” Panggil Bianca seraya mendongak. Alan tak menjawab. Ia justru menatap Bianca lekat.


“Bianca, kau yakin ingin mendengar ceritaku yag terakhir?” Alan bertanya dengan ragu.


“Aku tak akan memaksamu. Jika kau memang merasa perlu untuk menceritakannya padaku, maka aku akan tetap mendengarkannya dengan senang hati.” Jawab Bianca seraya tersenyum simpul.


Alan bergeming. Setelah kembali menghela napas dalam dan meyakinkan dirinya, ia akhirnya kembali membuka mulut. Dan berharap,  setelahnya, mimpi buruk yang selama ini menjadi momok paling menakutkan dalam hidupnya, tak akan penah kembali lagi. Untuk selamanya.


Alan kembali menemui ibunya yang masih mengurung diri di dalam kamar. Maria sama sekali tak menyentuh makanan yang dibawa pelayan untuknya. Sama seperti beberapa hari yang lalu. Wanita itu terus saja menolak. Bahkan beranjak ke kamar mandi pun, ibunya harus dipaksa dan digendong untuk dimandikan.


“Mom.” Alan menyodorkan sepotong roti pada ibunya. Berniat untuk menyuapi wanita itu. Maria tengah terduduk lemah di atas tempat tidur.


“Kembalikan Albert padaku.” Maria meracau tak jelas seraya menatap Alan dengan wajah tirus. Bukan hanya tak makan, tapi Maria juga tidak tidur dengan cukup.


“Mom!” Panggil Alan sekali lagi. Karena merasa tak punya pilihan, Alan menyuapi ibunya dengan sedikit memaksa. Sepotong roti berhasil masuk di dalam mulut Maria dan tak lama, wanita itu membuangnya seraya menatap Alan sinis.


“Di mana Albert? Cepat kembalikan dia padaku.” Teriak Maria. Ia memukul-mukul lemah tubuh anaknya.


Alan menggeram. Dengan cepat, ia bangkit dari duduknya seraya menatap ibunya tajam. Kedua rahangnya mengeras.


“Sadarlah! Albert sudah mati dan dikubur. Menangis dan meronta seperti apa pun, dia tak akan pernah kembali!”


“Tidak! Tidak!” Maria yang baru saja mendengar ucapan Alan, kembali berteriak histeris seraya menutup kedua telinganya. Tidak! Suaminya belum mati. Albert hanya sedang beristirahat sebentar.


Alan yang merasa jengkel, segera melangkah pergi meninggalkan ibunya. Bahkan setelah matipun, ayahnya masih tetap membuat orang lain menderita.


***


Keesokan harinya, ketika berniat untuk makan siang, kedua mata Alan membulat tak percaya saat mendapati ibunya telah duduk seraya menyambutnya dengan senyuman manis. Penampilannya berubah, tak seperti beberapa hari yang lalu. Ibunya memakai pakaian rapi serta berdandan.


“Alan.” Panggil Maria lembut. Matanya menatap Alan hangat.


“Apa kau benar-benar ibuku?” Tanya Alan tak percaya. Ia masih berdiri mematung di tempatnya.


Maria mengangguk pelan. Perlahan, ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Alan. Menggenggam lembut tangannya seraya mengajak anak laki-laki itu untuk makan bersama.


Tangan Alan mengepal. Dengan cepat, ia memeluk erat tubuh ibunya. Di dalam hati, ia bersyukur karena Maria akhirnya mau berusaha untuk bangkit dan tak membiarkan dirinya terpuruk lebih lama lagi. Alah bahkan tak keberatan jika ibunya memutuskan untuk menikah lagi. Wanita berusia lima puluh tahun itu masih terlihat muda dan juga cantik.


“Apa setelah ini kau akan bekerja?” Tanya Maria.


“Ya. Masih ada beberapa berkas yang harus kubaca dan kutanda tangani.” Jawab Alan seraya memasukkan sepotong kecil bacon ke dalam mulutnya. Di sebelahnya, Maria tampak lahap menikmati semangkuk kecil salad sayur.


“Apa aku boleh menemanimu?” Maria bertanya dengan nada lembut seraya menatap Alan. Alan tersenyum seraya menggenggam tangan ibunya yang berada di atas meja makan.


“Saat ini, hanya Mom satu-satunya yang aku miliki. Begitu pun sebaliknya. Aku bahkan tak keberatan jika kau mau pergi jalan-jalan ke luar negeri, seperti yang biasa Mom lakukan.”


Alan menatap ibunya hangat. Selama ini, ia memang jarang bertemu ataupun menghabiskan waktu bersama wanita itu. Sejak dulu, Maria gemar menghabiskan waktunya dengan pergi berbelanja ke berbagai negara bersama teman-temannya. Walau begitu, Alan masih merasa jika ibunya jauh lebih baik dari pada Albert. Setidaknya, Maria memperlakukannya dengan baik. Tidak seperti pria tak punya hati itu.

__ADS_1


“Tidak. Aku hanya ingin bersamamu.” Jawab Maria dengan suara lirih. Ia menatap Alan sendu.


Selama ini, Maria lebih banyak menghabiskan waktunya di luar dan bukan di rumah, itu semua karena Albert. Pria itu yang menyuruhnya untuk pergi bersenang-senang, tak peduli seberapa bayak uang yang harus ia keluarkan. Awalnya, Maria menolak karena lebih ingin menghabiskan waktunya bersama sang suami. Namun Albert tetap memaksanya dengan alasan, semua yang ia lakukan adalah wujud dari rasa cintanya pada wanita itu. Dan Maria percaya.


Padahal, alasan yang sebenarnya adalah, Albert yang merasa muak ketika Maria terus menempel padanya. Wanita itu terlalu mencintainya. Tak jarang, Maria meminta Albert untuk tak bekerja agar bisa menghabiskan waktu bersamanya di kamar. Bercinta sampai puas ataupun sekadar bercengkerama. Albert tak bisa. Pekerjaan adalah segalanya. Ia memang menyukai Maria, tapi ia tidak mencintai wanita itu. Sedikitpun. Satu-satunya hal yang membuat Albert memutuskan untuk menikahi wanita itu adalah, karena ia yang sangat menginginkan seorang pewaris. Ditambah dengan status Maria yang merupakan anak dari seorang menteri ternama sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Tapi satu bulan setelah pernikahan mereka, ayah Maria ditemukan tewas di dalam sebuah bak mandi.


***


Satu tahun setelah kematian ayahnya, Alan merasa semuanya berjalan dengan baik. Ibunya jadi lebih banyak tersenyum dan sering menemaninya saat bekerja. Pekerjaannya juga selalu berjalan lancar. Dan yang pasti, ia merasa bebas. Tak akan ada lagi Albert yang menatapnya dengan penuh intimidasi. Pun teriakan dan makian kasar dari pria itu.


Namun, ketika ia memasuki umur empat belas tahun, perubahan sedikit demi sedikit Alan rasakan. Ibunya jadi lebih sering pergi keluar dan pulang dalam keadaan mabuk. Tak jarang, ia mendapati beberapa kissmark ataupun bekas gigitan pada tubuh Maria. Dan Alan sangat yakin, jika wanita itu menghabiskan waktunya di luar untuk bersenang-senang dengan pria lain.


“Dear.” Alan yang sedang membaca sebuah buku di kamarnya, segera mendongak ketika mendengar suara ibunya. Wanita itu melangkah masuk seraya membawa segelas susu hangat.


“Mom.” Gumam Alan. Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak berniat sama sekali untuk menatap ibunya.


“Aku membuatkan segelas susu untukmu.” Ucap Maria lembut. Ia berdiri tepat di depan Alan. Segelas susu yang tadi ia bawa, telah di simpan di atas meja kecil di samping tempat tidur.


“Aku akan meminumnya nanti.” Ujar Alan. Ia masih memandang ke arah lain.


“Kau tak ingin menatap wajah ibumu?” Maria bertanya dengan nada sedih. Ia segera memegang dagu Alan menggunakan ibu jarinya. Memaksa anak itu untuk menatapnya.


Alan menghela napas kasar. Perlahan, ia beralih untuk menatap wajah ibunya.


Bukan tanpa alasan Alan menolak untuk menatap ibunya. Saat ini, wanita itu tengah memakai baju terusan putih transparan berlengan panjang sebatas lutut. Tanpa mengenakan pakaian dalam sama sekali. Bahkan dari jauh sekalipun, Alan bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh ibunya. Wanita itu sama seperti tak memakai baju.


“Goodboy.” Bisik Maria seraya mengecup kening Alan. Tak lama, ia melangkah keluar.


***


Alan yang baru saja terlelap, bergelak pelan dalam tidurnya ketika merasakan seseorang menyentuh pipinya. Lalu beralih ke hidung dan terakhir di bibir. Tak lama, ia merasakan seseorang menindih tubuhnya. Setelah mengerjap beberapa kali, Alan akhirnya berhasil membuka mata secara normal.


“Mom!” Alan memekik tak percaya ketika mendapati ibunya, tengah berada di atas tubuhnya. Di tengah temaramnya cahala lampu kamar, Alan masih bisa melihat jelas jika wanita itu memakai make up serta lipstik merah menyala. Dan yang lebih parahnya lagi, ibunya tak mengenakan pakaian sama sekali.


“Alan.” Bisik Maria. Ia menunduk untuk menatap Alan. Rambutnya yang panjang, terurai ke bawah dan menyentuh wajah anaknya.


“Apa yang kau lakukan?!” Alan berteriak panik seraya mencoba untuk bergerak. Namun, baru saja ia ingin mendorong ibunya, seluruh tubuhnya terasa panas disertai dengan sensasi yang aneh.


Maria tertawa kecil, dengan gerakan pelan, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Alan. Lalu mengecup kening anak laki-laki itu lama.


“Tidak!” Alan memberontak sekuat yang ia bisa. Namun tubuhnya juga tak bisa ia kendalikan. Semakin lama, sensasi aneh yang dirasakannya semakin menjadi.


“Bukankah kau mencintaiku?” Tanya Maria. Dengan gerakan pelan, ia menarik turun celana tidur yang Alan pakai. Bibirnya tersenyum menyeramkan.


Ketika membuatkan susu untuk Alan, Maria dengan sengaja mencampurkan viagra di dalamnya. Ia bahkan tak merasa bersalah sama sekali. Justru bahagia karena ternyata, tubuh Alan bereaksi.


“No!” Alan kembali berteriak memohon. Tak ada satupun yang mendengarnya. Selain karena kamar pelayan terletak cukup jauh, kamarnya juga dibuat kedap suara.


“Albert.” Racau Maria. Bibirnya tersenyum nakal ketika melihat tubuh bagian bawah anaknya memberi respon.

__ADS_1


“Aku bukan Albert!”


“Ya. Kau Albert.” Maria kembali meracau tak jelas. Kedua matanya menatap Alan kosong tapi memberikan sensasi yang mengerikan. Perlahan, ia kembali memposisikan tubuhnya di atas tubuh Alan.


Karena rasa cintanya yang terlalu membuncah untuk Albert, Maria masih belum bisa menerima kepergian pria itu. Dan Ketika menatap Alan, ia bisa melihat sosok suaminya pada anak laki-laki itu. Alan memang belum tumbuh dewasa sepenuhnya. Namun bentuk wajah, tatapan mata serta siluet tubuh Alan benar-benar mengingatkan Maria pada suaminya. Sosok yang juga sangat dirindukannya.


“Kumohon.” Alan berucap dengan suara lirih. Ia menatap ibunya takut dengan air mata yang sudah menetes. Maria tak peduli. Ia justru dengan begitu bahagianya menyatukan tubuh mereka berdua. Kedua bibirnya tersenyum mengerikan dengan tangan yang menangkup kuat pipi Alan.


Alan terisak di tengah ketidakberdayaannya. Ia tak menginginkan ini terjadi namun tubuhnya juga tak bergerak sesuai dengan perintahnya.


Hubungan terlarang baru saja terjadi di dalam keluarganya. Sekaligus menjadi aib terbesar dalam hidupnya.


"Goodboy.” Bisik Maria.Ia terus meracau tak jelas sembari menyebutkan nama suaminya.


Alan hanya bisa menutup kedua matanya dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Wajahnya memucat.


Ia telah hancur. Tak bersisa. Ditangan kedua orang tuanya sendiri.


***


Pagi harinya, seluruh pelayan di rumah Alan berteriak histeris seraya memanggil namanya. Tapi Alan tak punya kekuatan untuk bangkit. Ia merasa malu sekaligus jijik pada dirinya sendiri jika harus bertemu dengan orang lain.


“Tuan! Tuan!” Teriak seorang pelayan pria seraya memasuki kamar Alan yang tak di kunci.


Alan bergeming. Ia masih tetap menatap langit-langit kamarnya dengan tubuh yang terbaring lemah.


“Nyonya. Nyonya ….” Dan sekali lagi, Alan merasa jika kehidupannya benar-benar telah hancur. Ibunya ditemukan tewas gantung diri di dalam kamarnya.


Ia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kini, ia hidup sebatang kara.


Dan Alan, hanya bisa tersenyum miris. Bahkan air matanyapun juga menolak untuk keluar.


“Aku … sudah hancur sejak dulu.” Lirih Alan mengakhiri ucapannya.


Bianca tak mengatakan apa pun. Ia justru terdiam mematung di dalam pelukan Alan dengan tubuh yang bergetar. Wajahnya memucat. Tapi yang lebih parah, hatinya di dalam sana hancur berantakan ketika mendengar cerita suaminya.


“Bianca.” Panggil Alan. Ia melepaskan pelukannya pada tubuh Bianca dengan lembut.


Bianca tak menjawab. Ia langsung berbalik memunggungi suaminya.


“Kau merasa jijik padaku?” Tanya Alan dengan suara pelan. Bibirnya tersenyum sedih.


Bianca menggeleng cepat sebagai sebuah jawaban. Tak lama, isakan kecilnya terdengar. Dengan sigap, Alan segera memeluk tubuh wanitanya dari arah belakang.


Tangisan Bianca pecah. Ia terisak pedih seraya memegang lengan Alan yang melingkari tubuhnya. Ia bukan merasa jijik pada suaminya. Tidak sama sekali. Bianca hanya tak sanggup menatap Alan dan membayangkan semua rasa sakit yang pria itu tanggung sejak dulu. Ternyata Alan bukanlah pria yang kuat.


Tatapan tajam, raut wajah datar serta ucapan kasar Alan, hanyalah sebuah topeng yang pria itu ciptakan sendiri untuk menutupi semua masa lalu, kenangan buruk serta rasa sakitnya. Alan bukannya tak ingin menangis, hanya saja, air matanya yang menolak untuk keluar.


Alan tak menginginkan apa-apa karena pada kenyataannya, pria itu telah memiliki semuanya. Yang Alan butuhkan hanyalah seseorang yang selalu berada di sisinya. Menemani dan merimanya dalam keadaan apa pun. Tak peduli seperti apa dirinya.

__ADS_1


Bersama Bianca, Alan berharap, ia bisa memiliki sebuah keluarga yang utuh. Penuh kehangatan, cinta dan juga kasih sayang. Yang tak seperti keluarganya.


Dan Alan, tak akan pernah membiarkan itu semua terjadi. Anak-anaknya kelak, harus mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik darinya.


__ADS_2