
Jimmy dan Fiona yang baru saja selesai mandi dan berpakaian saling pandang dengan wajah bingung ketika mendengar bel rumah mereka berbunyi. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Jadi tidak akan mungkin ada yang datang bertamu.
“Biar aku yang membukanya.” Sebelum melangkah keluar, Jimmy mengecup kening Fiona lebih dulu.
“Okay.” Ucap Fiona. Ia segera merapikan tempat tidurnya dan mengambil gelas kosong di atas nakas lalu bergegas keluar. Ikut menyusul suaminya.
Jimmy yang mendengar bel rumahnya kembali berbunyi dengan cepat membuka pintu.
“Siapa?” Tanyanya setelah pintu terbuka.
“Selamat pagi, Mr. Davis.” Alice melambaikan tangan seraya tersenyum senang.
“Alice! Apa yang kau lakukan di sini?” Jimmy menatap wanita muda itu bingung.
“Bekerja.” Jawab Alice.
“Aku menyuruhmu datang pukul delapan nanti.” Jimmy ingat betul jika telah memberitahu Alice perihal jam kerjanya yang dimulai pukul delapan pagi hingga lima sore.
Selama Fiona mengandung, Alan selalu memperbolehkannya pulang cepat. Padahal ia tahu betul jika itu hanyalah alasan Alan yang juga ingin pulang lebih awal karena selalu merindukan si kembar.
“Tidak apa-apa. Aku tak keberatan datang pagi.” Alice segera menerobos masuk hingga hampir menabrak tubuh Jimmy. Beruntung pria itu segera menghindar.
“Jimmy.” Fiona yang merasa suaminya berada sedikit lama segera menghampiri pria itu dan mendapati Alice telah berdiri di depan Jimmy.
“Mrs. Davis, selamat pagi. Apa aku bisa mulai bekerja sekarang?”
“Ya.” Jawab Fiona singkat. Suasana hatinya mendadak berubah tak karuan.
“Kau bisa menyiapkan sarapan lebih dulu. Ikut aku.” Jimmy segera menggenggam tangan Fiona dan melangkah masuk bersama. Ia menunjukkan letak dapur dan ruang makan pada Alice yang berperan sebagai asisten rumah tangga guna membantu istrinya yang sedang mengandung.
“Baik. Aku akan menyiapkannya sekarang.” Alice bergegas menuju dapur untuk membuat sarapan. Tak hanya semangat, ia juga merasa senang bisa bertemu kembali dengan Jimmy. Pria bermata sebiru laut yang selalu muncul di benaknya .
“Apa kau tak memberitahunya agar datang pukul delapan nanti?” Fiona menatap Jimmy marah.
“Sudah. Tapi mungkin dia lupa.” Jimmy menjawab tak acuh. Ia tak menyadari perubahan raut wajah istrinya.
Fiona menghela napas dalam seraya menarik tangannya yang digenggam oleh Jimmy.
“Sayang—”
“Mr. Davis, aku telah menyiapkan sarapan.” Seru Alice yang muncul secara tiba-tiba. Padahal belum lebih dari dua puluh menit ia berada di dapur.
Fiona yang mendengar ucapan wanita itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan seorang diri menuju meja makan. Tak dihiraukannya tatapan sedih Jimmy.
“Mr. Davis, kau mau apa? Roti selai coklat atau roti isi telur setengah matang?” Sesampainya di meja makan, Alice langsung memposisikan dirinya di dekat Jimmy dan mengabaikan kehadiran Fiona.
“Roti isi.” Jimmy yang hendak mengambil roti isi tersebut dikejutkan oleh tindakan tak terduga Alice.
“Alice, aku bisa melakukannya.” Fiona berujar tak suka saat melihat Alice mengambilkan roti isi untuk Jimmy dan meletakkannya di atas piring pria itu.
“Fiona, aku tak masalah.”
Ucapan santai Jimmy sukses membuat selera makan Fiona menghilang. Ia segera bangkit dari duduknya tanpa menyentuh sedikit pun susu hamil yang dibuatkan oleh Alice juga sarapan tersebut.
“Kalian bisa sarapan berdua.” Fiona berujar ketus lalu bergegas pergi. Masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu lalu menguncinya.
Meninggalkan Jimmy yang mematung melihat sikapnya.
***
“Jimmy!” Alan yang sudah tak tahan lagi mendengar Jimmy terus menghela napas kasar sontak memukul keras meja kerjanya.
“Ya?” Tanya Jimmy bingung seraya menatap Alan.
“Aku tak bisa fokus.” Ucap Alan kesal. Pekerjaannya sedang menumpuk dan helaan napas kasar Jimmy hanya membuatnya semakin tertekan.
“Aku akan membuatkanmu segelas kopi.”
“Apa kau dan Fiona sedang bertengkar?”
Pertanyaan Alan membuat Jimmy yang hendak beranjak pergi membuat kopi kembali duduk. Ia teringat akan istrinya.
“Fiona tiba-tiba saja marah padaku.” Jimmy berujar sedih. Istrinya bahkan menolak bertemu dengannya ketika ia hendak ke kantor.
“Alasannya?” Alan bertanya penasaran. Tak biasanya Jimmy dan Fiona bertengkar.
“Aku tak tahu.” Jimmy menjawab tak semangat. Ia merindukan istrinya.
“Kau harus membawakannya hadiah saat pulang nanti.”
Raut wajah Jimmy yang tadinya suram langsung berubah cerah. Ia tak memikirkannya. Alan benar. Ia harus memberikan istrinya hadiah.
“Terima kasih, Tuan.” Ucap Jimmy senang.
Alan yang melihatnya hanya bisa menggeleng tak percaya. Bahkan setelah menikah dan akan menjadi seorang ayah pun Jimmy masih belum paham soal wanita.
***
__ADS_1
“Sayang, di mana Alex dan Beatrice?” Tanya Alan ketika Bianca menyambut kepulangannya seorang diri. Biasanya, si kembar akan ikut bersamanya.
“Di kamar bersama Sofie.”
“Aku merindukanmu.” Alan mendekap erat tubuh Bianca lalu mengecup lama bibirnya. Rasa lelahnya langsung hilang begitu melihat senyuman hangat wanita itu.
“Hanya aku?” Goda Bianca. Ia tahu jika sedari tadi Alan sudah sangat ingin menemui kedua buah hatinya.
“Alex! Beatrice!” Alan berteriak pelan. Ia berlari cepat menaiki tangga menuju lantai dua. Mengabaikan keberadaan lift di rumahnya yang justru jarang terpakai. Juga meninggalkan Bianca yang sedang menggelengkan kepala tak percaya.
“Tuan.” Sapa Sofie ramah setelah Alan memasuki kamar bermain Alex dan Beatrice.
Alan mengangguk sekilas sembari tersenyum simpul. Ia bergegas menghampiri kedua malaikat kecilnya yang tengah sibuk bermain bersama. Dan membiarkan Sofie beranjak keluar untuk menyiapkan makan malam.
“Kalian berdua tak merindukan Daddy?”
Beatrice yang lebih dulu menatap Alan sembari tertawa. Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya ke atas, meminta Alan untuk segera menggendongnya.
Alan yang tak pernah tahan melihat tingkah lucu kedua malaikat kembarnya dengan cepat menggendong Beatrice dan menjadikan kedua pipi berisi anak itu sebagai sasaran empuk untuk dikecup.
Tawa lucu Beatrice kembali terdengar. Hingga membuat Alan kembali mengecup gemas kedua pipinya.
Alex yang masih sibuk bermain menatap sejenak tingkah aneh ayah dan adik perempuannya. Lalu kembali mengacuhkan mereka berdua.
“Alex, kau tak merindukan Daddy?” Tanya Alan seraya menatap Alex lekat. Anak laki-laki itu masih setia menunduk. Enggan menatap wajahnya.
“Sayang, dia sangat merindukanmu.” Seru Bianca yang baru ikut bergabung bersama mereka. Ia membawa serta sebuah nampan berisi segelas kopi panas untuk Alan, juga semangkuk besar potongan buah yang akan mereka nikmati bersama.
Alan segera menatap Bianca tak percaya. Dilihat berapa kali pun, Alex tak tampak sedang merindukannya. Jagoan kecilnya itu bahkan lebih memilih untuk bermain sendiri.
“Gendong dia dan buktikan sendiri.”
Alan mengangguk mengerti. Ia menyerahkan Beatrice pada Bianca agar bisa menggendong Alex. Anak laki-laki itu masih terdiam. Bahkan setelah ia berada di hadapannya.
“Alex, Daddy merindukanmu.” Ucap Alan senang seraya membawa Alex ke dalam dekapan hangatnya. Tanpa ia duga, Alex dengan cepat memeluk erat lehernya.
Bianca tersenyum lebar melihat sifat manja putra kecilnya. Ia berjalan menghampiri Alan dan Alex, lalu mengecup kening mereka berdua secara bergantian.
“Daddy.” Alan tertegun mendengar Alex memanggilnya lirih. Walau pengucapannya masih belum sempurna, ia tetap merasa sangat bahagia.
“Sayang, aku ingin mandi dan mengganti baju.” Ucap Alan seraya menatap Bianca. Ia memberi isyarat mata pada wanita itu agar mengambil alih Alex dari gendongannya.
“Alex.”
“No!” Teriak Alex pelan. Pelukannya pada leher Alan semakin menguat. Ia menolak berpisah dari ayahnya.
Alan tersenyum simpul. Ia mengelus pelan punggung kecil Alex sembari menatap lekat dua wanita yang sangat dicintainya.
Ia telah menemukan harta berharga dalam hidupnya. Yang tak ternilai oleh apa pun di dunia ini.
***
“Siapa?” James menatap Jane penuh tanya setelah wanita itu meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Mereka berdua baru saja selesai menikmati makan malam.
“Fiona.” Jane segera menghampiri suaminya yang duduk bersandar di atas tempat tidur.
“Apa dia baik-baik saja?” James langsung mendekap tubuh Jane ketika berada di dekatnya. Ia mengecup kening wanita itu. Lalu beralih pada kedua bibirnya.
Jane mengangguk pelan setelah tautan bibir mereka berdua terlepas. Ia menatap suaminya lekat.
“Jimmy membawa pulang asisten rumah tangga bersamanya tanpa memberitahu Fiona lebih dulu. Seorang wanita muda.” Jane kembali teringat akan nada bicara Fiona yang terdengar lemah. Sekalipun wanita itu mengaku baik-baik saja, ia tetap khawatir.
“Pria itu pasti mencemaskan keadaan istrinya.” James mengelus lembut pipi Jane lalu mendaratkan kecupan singkat di sana. Ia meminta wanita itu naik ke atas pangkuannya.
Jane tahu betul jika Jimmy teramat sangat mencintai Fiona. Apa pun akan pria itu lakukan demi istrinya. Hanya saja, setelah mendengar nada bicara Fiona tadi, ia jadi ragu pada keputusan kakak laki-lakinya.
Jane tak ingin mereka berdua bertengkar dan berakibat buruk pada kondisi serta kandungan Fiona.
“Jane.” Panggil James lembut.
“Aku mencemaskan mereka berdua.” Jane berujar lirih dengan wajah sedih.
“Aku bisa mengantarmu dulu sebelum ke rumah sakit.” James tersenyum lebar. Seolah tahu apa yang sedang istrinya pikirkan.
Raut wajah Jane langsung berubah ceria begitu mendengar ucapan suaminya. Ia memeluk James sebentar lalu mengecup bibirnya.
James yang tak ingin tautan bibir mereka segera berakhir, dengan sigap menahan tengkuk Jane. Ia ******* bibir wanita itu secara bergantian.
Jane balas melakukan hal yang sama. Ia membiarkan lidah James bermain di dalam mulutnya. Mendominasinya dengan penuh kelembutan.
***
Seusai memindahkan Alex dan Beatrice ke dalam box tidur mereka, Alan segera menghampiri Bianca yang duduk di atas tempat tidur dan memeluknya dari belakang.
Tubuh wanita itu ia sandarkan padanya, sementara punggungnya sendiri menempel pada kepala tempat tidur.
“Sayang.” Bisik Alan. Ia mengecup sekilas telinga Bianca.
__ADS_1
“Hm.” Bianca menjawab singkat. Kedua matanya terpejam.
“Aku tak tahu jika Alex begitu merindukanku.” Seru Alan senang. Kedua tangannya telah melingkar sempurna pada perut Bianca.
“Seharian ini, setiap kali mendengar namamu, Alex pasti akan langsung menangis.” Bianca kembali teringat akan kejadian siang tadi. Ia yang tengah berbincang bersama Sofie secara tak sengaja menyebut nama Alan dan langsung membuat Alex menangis kencang sembari berteriak “Daddy, Daddy.”
Awalnya ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun setelah kembali mengucapkan nama Alan dan melihat reaksi Alex, ia jadi tahu jika putra laki-lakinya sedang merindukan ayahnya.
“Kalian bisa menghubungiku.” Alan mengecup bahu Bianca yang terekspos karena hanya memakai tanktop. Lalu menggigitnya pelan.
“Dia menolak, dan lebih memilih menatap fotomu yang berada di ponselku.” Bianca kembali tertawa kecil ketika mengingat tingkah lucu Alex.
Ia secara sengaja menyebut nama Alan untuk membuat Alex menangis lalu dengan cepat menunjukkan foto suaminya pada anak itu agar tangisannya reda. Alex bahkan menolak mengembalikan ponselnya.
“Bukan aku yang merindukanmu tapi Alex.” Bianca mendongak sedikit untuk menatap Alan yang tengah tersenyum penuh arti. Tangan kanan pria itu telah berada di dalam bajunya dan sedang meremas pelan salah satu dadanya.
“Benarkah?” Alan dengan cepat menunduk untuk menjangkau bibir Bianca.
Pria itu menciumnya tak sabaran. Juga menyesap kuat bibir atas Bianca. Lantas menyesap kuat lidah wanita itu yang sudah sedari tadi menggoda lidahnya untuk diajak bermain.
“Alan.” Bianca memejamkan mata kala jemari Alan bermain lincah pada puncak dadanya.
“Kau menyukainya?” Tanya Alan. Pria itu memainkan sebentar lidahnya pada daun telinga Bianca.
“Mm.” Bianca mengangguk pelan. Ia memang sangat senang setiap kali Alan bermain pada kedua dadanya. Remasan tangan pria itu selalu membuatnya terbuai.
Alan menyeringai kecil melihat wajah tak berdaya istrinya. Bibir dan lidahnya juga tengah sibuk bermain pada kulit leher Bianca dan meninggalkan jejak kemerahan di sana.
“Sayang.” Bisik Alan. Tangannya yang bebas telah berada pada paha Bianca. Mengelusnya lembut dengan gerakan menggoda lantas beralih pada bagian bawah perut wanita itu.
Alan menyusupkan tangannya masuk ke dalam celana Bianca tanpa membukanya. Menyentuh sekilas pusat sensitif wanita itu lalu mengelusnya pelan dari atas ke bawah dan sebaliknya.
Desahan kecil lolos dari mulut Bianca ketika Alan dengan sengaja menyentuh c-spotnya. Lantas mencubitnya pelan.
Tubuh Bianca tersentak kecil menerima serangan mendadak dari suaminya. Ditambah kenikmatan memabukkan yang telah menguasai dirinya.
“Alan, aku—”
Bianca mendesah nikmat ketika merasakan jari Alan berada di dalam miliknya. Pria itu menggerakkannya secara perlahan.
Tak lama berselang, tempo gerakan tangan Alan berubah intens dan cepat. Seolah belum cukup, remasan pria itu pada kedua dadanya juga semakin menjadi.
Tubuh Bianca menggelijang geli seiring dengan desahan tak tertahankannya. Ia bisa mendengar secara jelas suara yang berasal dari miliknya di bawah sana akibat ulah suaminya.
“Bianca.” Alan menggigit kuat leher Bianca ketika merasakan miliknya semakin berkedut kuat. Ia terus saja menghujam tanpa henti pusat sensitif istrinya sekalipun merasakan sesuatu yang basah pada tangannya.
Alan yakin jika pelepasan Bianca akan segera tiba. Jarinya semakin bergerak cepat. Celana wanita itu sudah sejak tadi ia turunkan sampai sebatas lutut agar tak mengganggunya.
“Stop!” Seru Bianca di tengah desahannya ketika merasakan sesuatu ingin mendesak keluar. Alan bukan hanya menyiksanya, tapi juga membuatnya gila.
Selain sibuk bergerak di dalam tubuhnya, jari tangan Alan yang lainnya juga tengah fokus pada sweet spotnya yang telah membesar. Memainkannya tanpa henti dengan gerakan cepat.
“Alan!” Bianca memekik pelan dengan mata terpejam setelah pelepasannya tiba. Napasnya memburu. Dadanya pun naik turun.
Namun belum sempat ia beristirahat, Alan telah lebih dulu mengubah posisi mereka berdua dengan Bianca yang berada di atas tubuhnya.
Milik Alan menyentuh sekilas pusat kenikmatan Bianca lalu terbenam secara perlahan. Erangan kenikmatan lolos dari bibir keduanya.
“Sayang.” Panggil Alan. Ia menatap Bianca lekat dan meminta wanita itu memeluk lehernya.
Pinggul Alan mulai bergerak. Miliknya menyentuh dengan sempurna titik rangsangan Bianca.
Milik keduanya bersentuhan dan bergesekan lembut. Menghantarkan sensasi penuh candu yang tak dapat ditolak.
Perasaan hangat yang selalu Bianca berikan membuat Alan menginginkan lebih dan lebih. Setiap kali bagian dalam wanita itu membungkus erat miliknya, tubuhnya pasti semakin tak terkendali.
Alan terus menghujam tubuh bagian bawah Bianca dan menenggelamkan miliknya semakin jauh. Membiarkan pelepasannya memenuhi bagian dalam wanita itu.
“Kita tidur.” Ucap Bianca lemah. Tubuhnya tak lagi memiliki tenaga.
“Aku masih menginginkanmu.” Alan kembali mengubah posisi mereka menjadi Bianca yang berbaring. Tubuhnya telah berada di antara kedua paha istrinya yang terbuka lebar.
Bianca pasrah. Ia tak tega menolak permintaan suaminya ketika melihat tatapan memohon pria itu. Kedua kakinya segera ia kalungkan pada pinggul Alan.
“I love you.” Alan berujar tulus. Ia menatap Bianca penuh cinta. Satu-satunya wanita yang telah berhasil mencuri dan menguasai hatinya.
“Love you more.”
Keduanya berciuman penuh hasrat. Sebelum kembali menyatukan tubuh, Alan mengelus miliknya lebih dulu pada milik Bianca dengan gerakan menggoda. Secara sengaja menyiksa istrinya dengan kenikmatan tak tertahankan.
“Ah!” Bianca memekik pelan ketika Alan memasukinya dengan satu kali dorongan kuat. Pria itu bergerak cepat secara tiba-tiba dan membuat otaknya kembali berhenti bekerja secara normal.
Selagi tubuh bagian bawahnya terus mendapat serangan tanpa henti, puncak dadanya pun tak luput dari sasaran. Pria itu mengulum dan menyesapnya kuat. Lalu memberikan gigitan-gigitan kecil.
Kedua kaki Bianca kembali terbuka lebar. Tubuhnya tersentak tanpa henti mengikuti gerakan cepat suaminya.
Alan dan Bianca selalu lupa cara untuk berhenti setiap kali bercinta. Kenikmatan yang tak ada duanya tersebut terus menjadi sesuatu yang mereka dambakan.
__ADS_1