
Fiona yang baru saja keluar dari dalam kamar dan mendengar suara deru mesin mobil, bergegas menuju pintu depan. Jam masih menunjukkan pukul empat sore, jadi tidak mungkin kalau suaminya yang datang.
Jimmy tadi meneleponnya dan memberitahu jika akan pulang sedikit terlambat hari ini.
“Alice, siapa yang datang—”
“Selamat sore, Mr. Davis.” Sapa Alice lembut setelah membuka pintu.
Fiona hanya bisa terdiam melihat Alice menyambut kepulangan suaminya dengan senyuman manis. Seharusnya ia yang melakukannya dan bukan asisten rumah tersebut.
Ia sebenarnya tak masalah Alice membukan pintu untuk suaminya, karena setelah perutnya semakin membesar, Fiona lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Berbaring atau duduk santai membaca buku. Tapi ia tetap tak suka melihat sikap Alice yang seperti menggoda Jimmy.
“Sayang.” Jimmy berucap senang ketika mendapati Fiona berdiri tak jauh darinya. Ia berjalan cepat mendekati wanita itu, menatapnya dengan senyuman hangat lalu mengecup lama keningnya.
“Bukannya kau bilang akan pulang terlambat?” Fiona menatap lekat Jimmy sembari menuntut jawaban. Ia tak ingin berpikir pria itu telah membohonginya.
“Aku akan menjelaskannya di kamar.” Jimmy segera menggenggam erat tangan Fiona dan mengajak wanita itu melangkah bersama ke kamar.
Mengabaikan keberadaan Alice yang sejak tadi menatap mereka berdua dengan ekspresi wajah tak suka.
“Alice.” Panggil Jimmy. Ia berbalik menatap Alice.
“Ya, Mr. Davis.” Jawab Alice sopan. Ia tak berkedip setiap kali menatap sepasang mata biru Jimmy.
“Kau bisa pulang sekarang.” Ucap Jimmy. Ia kembali mengajak Fiona melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.
“Tapi aku belum memasak makan malam.” Seru Alice cepat. Ia masih ingin berada lebih lama di rumah tersebut. Juga menatap wajah Jimmy.
“Aku bisa melakukannya.” Jawab Jimmy tak acuh seraya membuka pintu kamar.
Jimmy sebenarnya sadar jika Alice menaruh hati padanya. Sikap dan raut wajah wanita itu telah membuktikan semuanya. Hanya saja, Jimmy tak pernah tertarik pada wanita mana pun dan hanya mencintai istrinya. Tanpa pernah berpikir sedikit pun untuk berpaling pada wanita lain.
“Tsk!” Alice berdecak pelan, nyaris tanpa suara seusai mendengar jawaban dingin Jimmy. Padahal ia sudah merasa luar biasa senang karena pria itu pulang lebih cepat dari sebelumnya.
***
Fiona masih senantiasa menatap tajam Jimmy yang duduk di hadapannya. Setibanya di kamar, pria itu langsung mengajaknya duduk di atas tempat tidur.
“Jadi, kau berbohong padaku?” Ketus Fiona. Kedua tangannya terlipat di depan dada.
Jimmy yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum simpul. Paper bag putih berukuran sedang yang sedari tadi dipegangnya segera ia letakkan di atas pangkuan Fiona.
“Aku membeli ini untukmu sekaligus ingin memberi kejutan.” Jimmy mengelus lembut pipi Fiona yang menatapnya kaget. Ini memang bukan kali pertama ia membawa pulang hadiah untuk istrinya.
Mengikuti saran yang Alan berikan waktu itu, tanpa ia duga, Fiona justru terlihat sangat bahagia menerima hadiah darinya.
“Maafkan aku.” Lirih Fiona penuh penyesalan. Ia merasa menjadi istri yang buruk karena telah berpikiran aneh terhadap suaminya.
“Aku hanya mencintaimu.” Jimmy mengecup lama kening Fiona penuh cinta dan kasih sayang. Ia tersenyum lembut pada wanita itu seraya meminta Fiona untuk melihat hadiah yang ia berikan padanya.
“Jimmy!” Fiona memekik tak percaya seusai melihat isi di dalam paper bag tersebut.
__ADS_1
Setelah sebelumnya memberikan satu set perhiasan, kini Jimmy memberikannya sebuah tas bermerek pengeluaran terbaru yang hanya tersedia sepuluh di seluruh dunia. Juga menjadi salah satu tas yang sangat diimpikannya. Hanya saja, ia merasa tak enak jika harus meminta barang mahal pada suaminya.
“Kau menyukainya?” Tanya Jimmy sembari tersenyum geli. Merasa lucu melihat ekspresi wajah istrinya.
“Tentu saja! I love you!” Fiona segera memeluk Jimmy lalu mengecup sekilas bibir pria itu. Demi dirinya, Jimmy rela mengeluarkan uang yang ia yakini bukan dalam jumlah yang sedikit. Pun melakukan segala hal demi membahagiakan dirinya.
Fiona sangat mencintai Jimmy. Ia hanya tak suka melihat tingkah genit Alice pada suaminya, juga sikap tak acuh Jeremy pada sekitarnya.
Demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, Fiona akan berusaha mencari asisten rumah tangga yang baru. Pun meminta tolong pada Bianca dan Jane untuk membantunya.
***
“Alan, hari ini aku akan ke rumah Fiona.” Ucap Bianca sembari memasangkan dasi suaminya. Semalam, ia memang telah menghubungi Fiona dan mengatakan pada wanita itu jika hari ini, ia akan mengajak Alex dan Beatrice datang bermain.
“Kau ingin aku mengantarmu?” Alan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Bianca seraya menatap wanita itu lekat.
Bianca menggeleng pelan. Ia mendaratkan kecupan singkat di bibir Alan setelah dasinya terpasang sempurna.
“Aku akan mengemudi sendiri dan mengajak Sofie.”
“Okay.” Alan balas mengecup bibir Bianca lantas ********** pelan. Dan membiarkan wanita itu balas melakukan hal yang sama. Namun belum sempat mereka berdua menikmatinya terlalu lama, suara teriakan keras Alex telah lebih dulu menginterupsi
“Sayang, dia cemburu.” Seru Alan seraya tersenyum geli. Ia beranjak mendekati Alex dan Beatrice yang masih berada di dalam box bayinya. Lalu mengecup kening dan kedua pipi mereka secara bergantian.
Tak seperti biasanya, kali ini, Alex justru membalas kecupan singkat Alan di bibir dan membuat pria itu terperangah takjub.
“Bianca.” Ucap Alan tak percaya.
Bianca yang melihatnya hanya tertawa kecil. Setiap hari, bahkan setiap detiknya, akan selalu ada tingkah lucu yang kedua malaikat kecilnya perlihatkan.
***
“Terima kasih Alice.” Ucap Bianca sembari tersenyum simpul menatap Alice yang baru saja membawakan segelas air hangat untuknya.
Sedari tadi, sejak kedatangannya di rumah Jimmy dan Fiona, Bianca sudah tahu jika Alice kerap kali mencuri pandang padanya. Melihatnya dari atas ke bawah dan sebaliknya. Entah apa yang sedang wanita itu cari.
“Mrs. Drax, apa kau masih membutuhkan hal lain lagi?” Tanya Alice ramah. Kedua matanya selalu berbinar setiap kali menatap Bianca. Dalam hidupnya, baru kali ini ia melihat seseorang yang memakai pakaian branded dari atas sampai bawah. Bahkan ikat rambut wanita itu pun juga dari salah satu merek ternama.
“Aku akan memintanya nanti padamu.”
“Baik.” Alice tersenyum senang dan bergegas menuju dapur. Menyelesaikan masakan serta pekerjaannya yang tertunda.
“Aku tak menyukainya.” Ucap Fiona setelah kepergian Alice. Wanita itu bukan hanya tertarik pada suaminya, tapi juga tak menghormatinya sama sekali sebagai tuan rumah.
“Fiona, aku bisa meminta tolong pada Sofie untuk membantumu di sini selama hamil.” Bianca beralih menatap Sofie yang sedang duduk di sampingnya sembari memangku Beatrice.
Sofie tersenyum hangat. Tak merasa keberatan sama sekali akan ucapan nyonya mudanya.
“Apa? Tidak. Tidak. Aku hanya ingin kau membantuku mencari asisten baru.” Seru Fiona cepat. Ia tak akan mungkin tega memisahkan Sofie dari Alex dan Beatrice setelah melihat seberapa besarnya rasa sayang wanita itu pada mereka berdua.
“Mrs. Davis, kalau kau tak keberatan, aku punya satu teman yang sedang mencari pekerjaan.” Sofie berujar sopan penuh kelembutan. Khas seorang ibu.
__ADS_1
“Apa dia masih muda?” Tanya Fiona penuh selidik.
Bianca dan Sofie yang mendengarnya tak kuasa menahan tawa geli mereka berdua.
“Ya. Dia sedikit lebih tua dariku dan juga sangat mencintai suaminya.”
Fiona sontak menghela napas lega seusai mendengar jawaban Sofie. Ia tak akan lagi membiarkan Jimmy mencari asisten rumah tangga seorang diri dan justru membawa pulang seorang wanita muda penggoda.
“Sofie, apa bisa aku bertemu lebih dulu dengannya?” Tanya Fiona.
“Tentu saja. Aku akan menghubunginya nanti.” Sofie menatap Fiona hangat dengan senyuman lembut. Yang justru membuat wanita itu teringat pada sosok mendiang ibunya.
Seandainya saja ibunya masih ada, wanita itu pasti akan sangat bahagia saat menggendong anaknya nanti.
Fiona hanya bisa tersenyum sedih sembari berharap ibunya telah bahagia di alam sana.
***
“Mr. Davis, selamat da—” Alice yang hendak membuka pintu dikejutkan oleh kehadiran seorang pria berwajah dingin dan bertatapan tajam. Ia secara tak sadar melangkah mundur dengan wajah takut.
“Tuan.” Panggil Jimmy. Ia meminta Alan masuk lebih dulu untuk menemui Bianca.
“Sayang, aku datang.” Teriak Alan seraya berjalan masuk. Ia memang telah menghubungi Bianca dan meminta wanita itu untuk menunggunya agar mereka pulang bersama.
“Alan.” Sapa Fiona ramah.
“Alex, Beatrice, Daddy datang.” Ucap Alan lembut. Tak lupa dengan mengecup sekilas bibir Bianca.
Alex dan Beatrice yang tengah sibuk bermain dengan cepat menatap ayahnya. Mereka berdua tersenyum senang seraya mengulurkan kedua tangan, meminta digendong.
“Kita pulang sekarang?” Tanya Alan. Ia menatap Bianca sekilas karena sedang berusaha untuk menggendong kedua malaikat kecilnya secara bersamaan.
“Sebentar lagi.”
“Tuan, kau mau minum apa?” Alice secara tiba-tiba berdiri di dekat Alan dan menatapnya memuja. Selain Jimmy, ia kembali dipertemukan dengan pria tampan lainnya.
Alan tak menjawab. Ia justru menatap Alice tajam dan mengintimidasi.
“Aku tak tertarik pada wanita lain.” Jawab Alan dingin. Setelah Alex berpindah ke dalam gendongan Bianca, Alan sontak menarik pinggang wanita itu dan mengecup lama bibirnya di depan semua orang. Hingga membuat Alex yang berada di dalam gendongannya memukul pelan pipinya. Tak terima karena ia mengecup ibunya.
Alice yang mendengar ucapan Alan juga tindakan pria itu hanya bisa menunduk malu. Ia dengan cepat berlari ke belakang. Tak lama berselang, umpatan kekesalan terlontar dari bibirnya.
“Sial!”
***
**Haiiii semuaaaa, long time no see 🤭
Btw, cerita ttg pelakorkan lagi boming2nya tuh, jadi, apakah aku juga harus menyisipkan pelakor di dalam sini? Atau justru ngebuat Alan dan Jimmy selingkuh sama wanita lain? HAHA #gakmungkinlah
Skali2, merekanya kubuat nyesek gitu #didemo XD
__ADS_1
Tapi, hmmm, bolehlah yah ada wanita penggoda bin pengganggu gitu 😅
Semisalnya, sms atau chattingan mesra #ngakak**