Married With The Devil

Married With The Devil
Keputusan


__ADS_3

Alan hanya bisa menatap Bianca dengan perasaan bersalah ketika terpaksa meninggalkannya. Siang ini, ia ada urusan penting dengan Jimmy yang tak boleh terlewatkan.


“Aku tak akan lama.” Ucap Alan seraya menatap Bianca lembut. Sejujurnya, Alan tak menyangka jika Bianca bisa pulih dengan begitu cepat. Walau terkadang, ia mendapati wanita itu tengah melamun dengan tatapan kosong. Bekas gigitan di tubuh Bianca juga berangsur menghilang.


“Kau janji?” Tanya Bianca seraya menatap Alan. Ia juga tidak tahu dengan pasti kenapa bisa berubah menjadi manja seperti ini.


Alan tersenyum simpul.


“Aku pergi dulu.” Ucap Alan seraya mengecup kening Bianca.


Setelah kepergian Alan, Bianca kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Berharap jika Alan segera pulang untuk menemaninya.


***


Alan melajukan mobilnya memasuki halaman tempat Bianca bersekolah dengan acuh. Setelah memarkirkan Koenigsegg CCXR Trevita putih miliknya, ia segera melangkah keluar dari dalam mobil dengan angkuh. Tak jauh darinya, Jimmy sedang berdiri menunggunya.


“Tuan.” Sapa Jimmy seraya menghampiri Alan. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki gedung sekolah tersebut. Tak dipedulikannya tatapan memuja dari setiap gadis yang mereka temui.


“Permisi.” Jimmy langsung menyapa seorang guru wanita yang berpapasan dengannya di koridor sekolah. Mata birunya menatap wanita berumur sekitar empat puluh lima tahun itu lekat.


“Y–ya.” Jawab sang guru. Tubuhnya mendadak kaku ketika seorang pria tampan menyapa seraya menghampirinya. Ia bahkan dengan sigap merapikan rambutnya yang disanggul rapi ke bawah.


“Bisa tolong tunjukkan di mana ruang kepala sekolah?” Jimmy bertanya dengan nada sopan seraya tersenyum simpul. Yang sialnya, justru membuat sang guru menjadi seperti patung—tak bergerak sedikit pun. Hanya matanya yang sesekali mengerjap.


“Aku tak punya banyak waktu.” Alan mendesisi tajam sehingga membuat sang guru akhirnya tersadar. Wajahnya mendadak merah—malu. Dengan cepat, ia memberikan Alan dan Jimmy isyarat untuk mengikutinya.


“Mrs ada yang ingin bertemu denganmu.” Ucap sang guru setelah mengentuk pintu sebanyak dua kali.


“Suruh dia masuk.” Sang kepala sekolah menjawab dengan tegas. Tak lama, pintu ruangannya dibuka lebar oleh guru tadi seraya mempersilahkan Alan dan Jimmy untuk masuk. Dan dengan berat hati, ia harus berpisah dengan dua pria tampan yang baru saja ditemuinya.


“Ada perlu apa?” Sang kepala sekolah—Emily Moore, bertanya dengan nada datar setelah mempersilahkan Jimmy dan Alan duduk. Kedua matanya yang telah mengeriput menatap lekat dua pria asing di hadapannya. Yakin jika hari ini ia sedang tak ada janji pertemuan.


“Aku datang sebagai wali dari Bianca Rosaline.” Ucap Alan santai. Ia malas jika harus berbasa-basi memperkenalkan diri.


“Ms Rosaline? Seingatku, sudah hampir dua pekan dia tidak hadir.” Emily berucap dengan nada tak suka. Beberapa guru yang mengajar Bianca telah melapor padanya jika gadis itu sudah beberapa hari tak masuk sekolah tanpa keterangan apa pun. Dan Emily, sangat tidak suka pada siswa yang sering membolos.


“Dia sedang sakit.” Ujar Alan. Matanya menatap Emily tanpa minat.


“Apakah seperti ini caramu meminta izin untuknya?” Ketus Emily. Kedua matanya menatap Alan tajam. Yang sayangnya, tak berpengaruh sama sekali pada pria itu.


“Apa aku harus membawa serta dokter yang memeriksanya? Atau rumah sakitnya sekalian?” Alan berucap tajam seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Di sebelahnya, Jimmy hanya diam menyimak. Alan memang sudah memintanya untuk tidak banyak berbicara.


“Tak punya sopan santun sama sekali.” Guman Emily. Hatinya dilanda kekesalan yang luar biasa.


“Bianca bukan lagi anak kecil yang harus mendapatkan surat keterangan sakit dari dokter. Walau sebenarnya, aku juga tidak masalah jika kau sampai mengeluarkannya. Tapi sayang, tujuanku datang ke sini bukan untuk itu.” Alan menyeringai puas ketika melihat ekspresi terkejut di wajah Emily. Yakin jika wanita tua itu pasti mengumpat di dalam hati padanya.


“Lalu untuk apa? Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang asing seperti kalian.” Emily tahu jika ia tidak seharusnya bersikap buruk pada siapa pun wali siswa dari sekolahnya. Tapi ia bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi dan membuang banyak waktu untuk hal yang tidak penting. Emily hanya akan bersikap ramah jika ia yakin akan mendapatkan keuntungan.


“Jimmy.” Panggil Alan. Meminta Jimmy yang menjelaskan tujuan kedatangan mereka ke Emerald Prep High School.


“Aku ingin kau memanggil Rico Daffin dan Stacy Thompson datang ke sini.” Satu hari yang lalu, Jimmy memang telah melepaskan Rico setelah memberikan pelajaran yang menyakitkan untuk pria itu atas bantuan dari Mark. Jika saja tak ada Mark, Jimmy mungkin akan melakukan hal yang lebih parah dari Alan.


“Untuk apa?” Tanya Emily tak mengerti. Seingatnya, Rico dan Stacy adalah siswa yang cukup membanggakan.


“Kau akan tahu sendiri nanti.” Ucap Jimmy tak bersahabat. Mata birunya berkilat marah.

__ADS_1


Emily dengan cepat menekan tombol pada telfon kantornya. Jujur saja, ia merasa sedikit takut ketika menatap mata Jimmy. Pria itu memancarkan aura yang berbahaya. Dan Emily tak ingin jika sampai terjadi sesuatu padanya.


“Tolong panggil Rico Daffin dan Stacy Thompson. Suruh mereka datang ke ruanganku.” Ucap Emily pada lawan bicaranya di seberang telfon. Sesekali, ia mencuri pandang pada Alan dan Jimmy yang terlihat begitu santai.


***


Stacy yang bertemu dengan Rico di depan pintu ruangan kepala sekolah, sontak membulatkan kedua matanya dengan mulut yang terbuka. Ia menatap tak percaya ketika melihat kondisi Rico saat ini—kepalanya diperban, pipinya diplester serta kantung mata yang mengerikan. Stacy sadar jika telah terjadi sesuatu pada Rico.


“Masuk.” Ucap Emily ketika mendengar ketukan di pintu. Tak lama, sosok Stacy dan Rico muncul. Mereka berdua masih belum menyadari keberadaan Alan dan juga Jimmy.


“Anda memanggilku?” Tanya Rico dan Stacy bersamaan. Saat ini, mereka berdua seperti dua orang asing.


“Ya, kemarilah. Ada yang ingin bertemu denganmu.” Stacy dan Rico langsung berjalan menghampiri Emily. Dan keduanya hanya bisa terdiam mematung dengan wajah pucat serta tubuh bergetar ketakutan ketika menatap wajah dua pria di dekatnya.


Alan menatap Rico dan Stacy tajam. Dua orang yang menjadi penyebab terlukanya Bianca. Sampai kapan pun, ia tidak akan memaafkan mereka berdua.


“Mrs Emily, langsung saja. Aku ingin kau mengeluarkan mereka berdua.” Ucap Alan santai namun sarat akan ketegasan. Siapa pun yang mendengarnya, langsung tahu jika pria itu sedang tak main-main.


“Apa?!” Teriak Emily tak percaya.


“Apa kau sadar akan apa yang baru saja kau ucapkan?” Emily berucap marah seraya menatap Alan tajam. Ia tidak tahu siapa dua orang pria asing di hadapannya saat ini. Mereka berdua tiba-tiba saja muncul dan sekarang malah memintanya untuk mengeluarkan Rico dan Stacy.


“Rico dan Stacy, bukan?” Tanya Alan acuh.


“Mereka berdua ini adalah donatur terbesar di Emerald. Dan kau justru memintaku mengeluarkan mereka? Apa kau gila?!” Emerald memang merupakan sekolah swasta yang dimiliki oleh keluarganya. Dan sekarang telah diturunkan pada Emily. Selain menjabat sebagai kepala sekolah, ia juga adalah pemilik sah dari sekolah tersebut.


“Sayangnya, aku jauh lebih gila dari yang kau bayangkan.” Alan berucap tajam seraya memperbaiki posisi duduknya. Matanya kini beralih menatap Rico dan Stacy penuh kemarahan.


Rico dan Stacy sontak tertunduk. Tidak berani menatap mata Alan. Tubuh Alan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.


“Katakan padaku, berapa banyak yang mereka berdua sumbangkan?” Tanya Alan santai. Bibirnya menyeringai penuh arti.


“Mereka menyumbangkan sekitar empat ratus juta setiap tahunnya. Apa kau sanggup?!” Ucap Emily penuh penekanan. Ia menatap remeh pada Alan yang justru tertawa kecil saat ini. Seakan menganggap lucu setiap ucapannya.


“Hanya empat ratus juta? Aku bahkan bisa langsung memberimu satu miliar sekarang juga.” Alan berucap tanpa beban seraya menatap Emily dengan mata memicing. Wanita tua itu belum tahu siapa dirinya.


“Berhenti membual! Aku yakin jika kau tidak mengenal Mr Daffin. Dia adalah pemilik perusahaan asuransi yang cukup terkenal.” Ucap Emily tak mau kalah. Ia tidak akan mungkin mau dan rela kehilangan donatur terbesarnya.


“Apa kau masih akan berucap seperti itu setelah mereka jatuh miskin?” Tanya Alan. Matanya menatap Emily tajam. Lalu beralih untuk melirik Rico dan Stacy.


Emily tidak membalas ucapan Alan ketika melihat pria itu tengah sibuk pada ponselnya. Tak sampai satu menit, Emily mendapati Alan sedang menghubungi seseorang.


“Lucy, apa kau kenal dengan Mr Daffin?” Tanya Alan ketika sambungan telfonnya baru saja terhubung dengan Lucy yang sedang berada di kantor.


“Ya. Mr Daffin adalah salah satu rekan bisnis kita. Baru-baru ini, mereka kembali meminta kerja sama.” Jawab Lucy di seberang sana. Alan tersenyum.


“Batalkan semua kerja sama dengan perusahaan Daffin. Tarik semua investasi yang ada. Dan jangan pernah biarkan lagi nama mereka berada di dalam perusahaanku!” Ucap Alan tegas. Setelah memutuskan sambungan telfon, ia langsung menatap Rico yang tidak mengatakan apa pun. Tapi Alan tahu pasti jika bocah brengsek itu telah hancur.


“Kau—siapa kau sebenarnya?” Tanya Emily dengan suara bergetar.


“Apa kau yakin tidak tahu siapa aku?” Balas Alan meremehkan.


“Jimmy, bagaimana dengan gadis bodoh itu?” Tanya Alan pada Jimmy seraya menunjuk Stacy.


“Dia anak tunggal dari Dr. Thompson. Yang bekerja sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit di Ohio.”

__ADS_1


“Ohio? Bukankah Harry juga punya satu rumah sakit di sana?” Alan ingat betul jika Harry—dokter yang menjadi kepercayaan keluarganya, punya dua rumah sakit dan salah satunya terletak di Ohio. Satu senyuman penuh makna kembali terukir di bibir Alan.


“Ya. Dr. Thompson memang bekerja di rumah sakit Harry.” Jawab Jimmy. Ia memang telah mencari tahu semua tentang Rico dan Stacy. Bahkan sampai keluarga besar mereka berdua.


“Hubungi Harry. Suruh dia untuk memecat dokter itu.” Perintah Alan. Ucapannya penuh dengan kebencian dan juga kemarahan.


“Baik, Tuan.” Jawab Jimmy singkat.


“Apa? Tidak! Tidak! Bukankah kau sudah berjanji padaku?” Stacy berteriak histeris seraya memegang tangan Jimmy. Wajahnya sudah pucat pasi.


“Bukankah sudah kukatakan juga padamu? Jika nasibmu tergantung pada kondisi Bianca.” Jimmy berujar datar seraya menepis dengan kasar tangan Stacy. Kini ia dan Alan beralih menatap Emily.


“Aku ingin kau mengumumkan ke seluruh penjuru sekolah ini jika Rico dan Stacy telah dikeluarkan dengan tidak hormat.” Alan berucap penuh penekanan seraya menatap Emily intens. Iris hitam legamnya berkilat penuh kesungguhan. Dan terlihat jelas jika ia tidak akan menerima kata penolakan.


“Siapa ka—”


“Alan Drax. Pewaris tunggal dari keluarga Drax. Apa itu cukup untuk membuat rasa penasaranmu hilang?” Emily tak mampu berucap lagi ketika mendengar ucapan Alan. Selama ini, ia memang kerap kali mendengar berita tentang Drax Corporation namun memilih untuk tidak peduli. Emily hanya mengira jika itu adalah sebuah perusahaan kecil yang baru saja berkembang. Ia hanya peduli pada segala hal yang bisa menguntungkan sekolahnya dan juga dirinya. Dan Emily baru-baru ini tahu jika Drax Corporation adalah perusahaan raksasa yang mengelilingi dunia.


“Jimmy, ayo.” Perintah Alan seraya bangkit dari duduknya. Tak jauh darinya, Stacy masih berteriak histeris sementara Rico tetap diam seperti patung. Bukan tanpa alasan memang. Setelah Alan memukulnya tanpa ampun hingga tak sadarkan diri, Mark yang menyiksanya serta Jimmy yang juga mengancamnya, membuat Rico benar-benar terguncang.


Alan yang telah berada di depan pintu mendadak menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Bibirnya kembali tersenyum puas lalu kembali berucap,


“Dan satu lagi, sekolahmu ini dibangun di atas tanah milikku. Kalau kau tak ingin aku menghancurkannya tanpa sisa, ikuti setiap perintahku. Dengan begitu, kau akan selamat.”


Emily hanya bisa duduk tanpa suara dengan mulut menganga. Yang ia tahu, keluarganya memang membangun Emerald di atas tanah milik orang lain. Mereka tidak pernah tahu siapa pemilik aslinya. Ketika berkali-kali mencoba untuk bertemu, mereka tidak mendapatkan hasil apa pun. Mereka hanya mendapati pesan yang mengatakan jika sang pemilik tidak masalah ketika mereka membangun di atas tanahnya. Selama apa pun itu.


Dan sekarang, ketika Emily akhirnya bertemu dengan sang pemilik sah, ia tidak memiliki cara lain lagi. Ia tidak ingin jika sekolah yang sudah susah payah dibangun oleh keluarganya dan dipertahankan hingga saat ini, hancur begitu saja hanya karena membela dua orang saja.


“Aku tidak punya pilihan lain.” Lirih Emily yang masih bisa didengar oleh Stacy.


“Tidak! Anda tidak bisa mengeluarkanku begitu saja!” Teriak Stacy tidak terima. Dengan cepat, ia menatap Rico.


“Rico! Katakan sesuatu!” Pekik Stacy seraya mengguncang lengan Rico. Tapi pria itu masih diam—tak bersuara.


“Tidak! Dad tidak boleh sampai tahu!” Racau Stacy seraya berlari keluar. Pikirannya sudah benar-benar kacau.


***


Alan menatap Jimmy dengan kening berkerut bingung ketika pria itu bergerak gelisah di sebelahnya. Sekalipun telah menolak, tapi Jimmy tetap memaksa untuk mengantar Alan bahkan membukakan pintu mobil untuknya. Padahal mereka berdua menaiki mobil yang berbeda. Alan memang sengaja menyuruh Jimmy beristirahat selama ia menemani Bianca di rumah. Pekerjaan di kantor ia serahkan pada Lucy untuk sementara waktu.


“Apa?” Tanya Alan tak mengerti ketika Jimmy terus menatapnya lekat.


“Apa aku boleh menjenguk nona Bianca?” Jimmy bertanya ragu. Takut jika Alan menolak permintaannya.


“Tentu saja.” Jawab Alan seraya tersenyum tulus. Jimmy mengangguk cepat lalu segera berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir di luar gedung sekolah.


Setelah kepergian Jimmy, Alan juga memasuki mobilnya. Tak sabar untuk segera bertemu dengan Bianca. Sekalipun Sofie juga menemani istrinya, tapi ia tetap saja khawatir jika Bianca terus menunggunya. Apalagi ia juga telah berjanji untuk pulang cepat.


Selama di dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, Alan tak henti-hentinya tersenyum puas. Ia memang tidak secara langsung membunuh Rico dan Stacy. Tapi menyiksa dan menghancurkan mereka berdua sedikit demi sedikit hingga akhirnya memutuskan untuk menyerah, jauh lebih buruk dari apa pun.


Siapa pun yang ditolak olehnya, maka akan sulit untuk mendapatkan kerjasama dengan perusahaan lain.


Tersiksa, menderita dan mati perlahan secara mengenaskan, jauh lebih menyenangkan dibanding dengan membunuh secara langsung.


Batin Alan seraya menyeringai senang.

__ADS_1


__ADS_2