Married With The Devil

Married With The Devil
Malaikat Kecil


__ADS_3

Alan yang tengah sibuk memasukkan beberapa tas besar berisi perlengkapan bersalin Bianca serta keperluan anak mereka, segera berlari menuju ruang tengah rumahnya ketika mendengar teriakan Bianca. Tak jauh darinya, ia mendapati Bianca sedang berdiri dengan wajah takut.


“Alan! Perutku! Perutku!” Teriak Bianca panik. Wajahnya semakin bertambah pucat diiringi keringat dingin yang membasahai tubuhnya. Setelah satu jam lebih ia terus saja keluar masuk kamar mandi karena merasa mulas, sekarang, Bianca justru merasakan rasa sakit yang luar biasa besar.


“Sayang, kita ke rumah sakit sekarang.” Ucap Alan. Pria itu dengan sigap menggendong tubuh istrinya seraya berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu rumahnya.


“Alan! Alan!”


“Bertahanlah.” Bisik Alan. Ia mengecup sekilas kening Bianca setelah mendudukkan wanita itu pada kursi penumpang di bagian belakang. Sementara dirinya berada di depan kemudi karena Alan memang tak pernah memakai jasa supir pribadi. Hanya saja, ia terkadang meminta Jimmy untuk mengantar-jemputnya disaat sedang malas mengemudi sendiri.


“Siapkan ruangan bersalin dan kamar inap sekarang juga. Dua puluh menit lagi aku sampai di sana.” Perintah Alan pada salah satu pegawai rumah sakit pilihannya yang akan menjadi tempat Bianca bersalin melalui telefon.


“Baik, Tuan.” Jawab pegawai pria tersebut.


“Ugh! Perutku.” Bianca kembali meringis sakit dengan kedua mata terpejam. Di depannya, Alan sesekali melirik Bianca melalui kaca spion dalam mobil.


“Sayang, sebentar lagi kita akan sampai.” Ucap Alan menangkan. Ia juga tengah berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. Selain karena ia yang mengemudi, Alan juga tak ingin membuat istrinya semakin panik.


Bianca hanya bisa mengangguk lemah. Tak lama, ia merasakan sesuatu yang basah menyentuh pahanya lalu berlanjut ke betis.


“Ya Tuhan.” Lirih Bianca. Kedua tangannya mencengkeram kuat kursi mobil tersebut.


“Ada apa?” Tanya Alan khawatir. Ia sontak menghela napas lega saat mobilnya baru saja memasuki kawasan rumah sakit tersebut.


“Kita sudah sam—Bianca!” Alan dengan cepat beranjak dari depan kursi kemudi untuk menghampiri Bianca yang terkulai lemas. Sesekali, terdengah rintihan kecil dari bibirnya.


Alan yang baru saja menggendong tubuh Bianca untuk keluar dari dalam mobil, hanya bisa membulatkan mata tak percaya saat merasakan bagian bawah baju yang Bianca gunakan telah basah.


“Mr. Drax, cepat letakkan istri Anda di sini.” Seorang dokter wanita yang Alan pilih untuk menjadi dokter bersalin istrinya berujar cepat seraya menunjuk sebuah brancard dorong. Di sisinya, terdapat tiga orang perawat wanita. Yang juga merupakan permintaan khusus dari Alan.


Alan tak peduli ia harus mengeluarkan uang sebanyak apa pun selama tubuh istrinya terhindar dari dilihat oleh pria lain selain dirinya.


“Kita langsung ke ruang bersalin.” Ucap dokter wanita itu.Tiga perawat wanita yang sedari tadi berada di sisinya mengangguk mengerti seraya mendorong cepat brancard tempat Bianca berada.


“Alan.” Panggil Bianca lirih. Bukan hanya perutnya yang semakin terasa sakit dan seperti ada yang ingin keluar, Bianca juga merasakan ketakutan yang luar biasa.


“Tenanglah. Aku akan selalu berada di sisimu.” Bisik Alan seraya mendaratkan satu kecupan yang cukup lama pada bibir Bianca. Tak peduli sekalipun akan keberadaan dokter dan perawat di dekatnya.


Bukan hanya ketuban Bianca yang telah pecah, tapi wanita itu juga telah hampir mencapai pembukaan ke sepuluh. Untuk itulah sang dokter meminta Alan agar segera berada di sisi Bianca karena proses persalinan wanita itu akan segera dimulai.


“Apa kalian sudah menyiapkan alat perekamnya?” Tanya Alan pada dokter wanita itu.


“Ya, Mr. Drax.”


Selain meminta dokter dan perawat wanita secara khusus, Alan juga meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan alat perekam yang akan digunakan untuk merekam Bianca selama proses persalinannya berlangsung. Alan memang dengan sengaja menyuruh pihak rumah sakit untuk menyiapkan segala sesuatu karena ia hanya ingin fokus pada Bianca. Memastikan wanita itu serta anaknya selalu dalam keadaan yang baik-baik saja.


“Mrs. Drax, apa kau sudah siap?” Bianca mengangguk lemah dengan mata terpejam. Di dekatnya, Alan dengan setia menggenggam erat tangannya sembari terus membisikkan kalimat penuh cinta.


“Alan, ak—”


“Tenanglah. Aku yakin kalian berdua akan baik-baik saja.”


Seusai Alan berucap, sang dokter meminta Bianca untuk fokus pada proses persalinannya.

__ADS_1


***


Alan tak penah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya pada Bianca. Apalagi saat mendengar teriakan tertahan wanita itu yang tengah berjuang untuk melahirkan anak mereka. Sekalipun dokter wanita tersebut mengatakan pada mereka jika posisi bayi di dalam kandungan sudah sempurna, Bianca masih harus mengerahkan lebih banyak tenaganya agar anak mereka bisa segera lahir.


“Sekali lagi.” Ucap sang dokter.


Bianca menurut. Ia kembali berusaha sekuat tenaga sekalipun tubuhnya sudah terasa begitu lemas.


“Sayang, demi anak kita.” Bisik Alan.


Mendengar dukungan dari pria yang sangat dicintainya, Bianca sontak tersenyum simpul sembari terus berusaha. Dan tepat ketika Bianca mendengar suara tangisan kencang seorang bayi, air matanya menetes. Merasa bahagia sekaligus bersyukur karena anak mereka telah lahir.


“Mrs. Drax, selamat. Anda melahirkan seorang anak laki-laki.”


Sama seperti Bianca, Alan juga tak kuasa membendung cairan bening yang jatuh membasahi pipinya. Apalagi saat mendengar tangisan lemah anaknya. Ia sudah tak sabar untuk menggendong tubuh mungil tak berdaya itu. Buah cintanya bersama Bianca.


“Ugh! Dokter! Perutku.” Bianca kembali meringis sakit seraya memegangi perutnya.


Dengan sigap, dokter tersebut kembali memposisikan tubhnya di depan tubuh Bianca. Matanya sontak membulat tak percaya saat mendapati satu bayi lagi meminta untuk dikeluarkan dari dalam perut wanita itu.


“Mrs. Drax, sekali lagi! Kau melahirkan anak kembar!” Ucap dokter wanita itu senang. Ia tersenyum lebar seraya menatap Bianca.


“Kembar?” Ucap Alan dan Bianca secara bersamaan.


Mereka berdua ingat betul jika dokter yang melakukan tes Usg pada Bianca tak pernah sekalipun mengatakan perihal anak kembar.


Sekarang Bianca baru tahu penyebab sebenarnya nafsu makan serta tubuhnya yang terasa begitu lelah. Seperti membawa beban yang sangat berat. Semuanya terjawab sudah. Bukan hanya satu. Tapi selama ini ada dua malaikat kecil yang berada di dalam tubuhnya.


“Hmpphhh!” Bianca kembali berkuat. Berusaha mengerahkan seluruh tenaganya yang masih tersisa untuk membuat satu lagi malaikat kecilnya terlahir ke dunia ini. Di sebelahnya, Alan kembali menggenggam erat tangannya. Lengkap dengan wajah bingung. Masih tak percaya akan ucapan dokter barusan.


“Selamat, kali ini istri Anda melahirkan anak perempuan.” Dokter wanita itu tersenyum lebar seraya menyerahkan anak Alan dan Bianca pada seorang perawat agar segera dibersihkan.


“Alan, anakku–anak kita. Mereka–mereka kembar.” Bianca tak kuasa menahan tangisannya. Merasa bersykjur karena Tuhan di atas sana langsung memberikan mereka dua malaikat kecil sekaligus.


“Bianca, terima kasih. Terima kasih. I love you.” Bisik Alan sembari mengecup lama kening Bianca. Jemarinya dengan lembut mengusap peluh pada wajah istrinya.


Perlahan, Bianca memejamkan mata. Jatuh terlelap dengan tubuh terkulai lemas akibat kelelahan.


***


Bianca yang tertidur nyenyak lebih dari dua jam, akhirnya membuka mata secara perlahan. Samar-samar, ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara tak jauh darinya.


“Sayang.” Alan yang mendapati Bianca membuka matanya, segera menghampiri wanita itu dengan wajah cemas setelah mengakhiri sambungan telfonnya bersama Sofie. Sekalipun dokter sudah mengatakan padanya jika apa yang Bianca alami adalah hal yang wajar untuk seseorang yang baru saja melahirkan.


“Alan, di mana ini?” Bianca yang menyadari keadaan di sekitarnya berbeda dari saat ia berada di ruang bersalin tadi, sontak menatap Alan dengan kening berkerut. Yang justru dibalas pria itu oleh senyuman simpul.


“Aku meminta dokter untuk langsung memindahkanmu ke kamar inap.” Seakan belum cukup, Alan juga memesan satu-satunya president suite yang berada di rumah sakit tersebut. Ruangan luas dan berfasilitas serba lengkap tersebut lebih terlihat seperti kamar pribadi daripada kamar pasien.


“Terima kasih.” Ucap Bianca. Walaupun wajahnya masih menunjukkan rasa lelah yang begitu besar, Bianca tetap tersenyum lebar seraya menatap Alan lekat. Meminta pria itu mendekat agar ia bisa mengecup bibirnya.


“I love you.” Bisik Bianca dengan wajah tersipu malu.


Sehingga membuat Alan tertawa kecil mendengar kalimat cinta wanita itu.

__ADS_1


“Mr dan Mrs. Drax.”


Perhatian Alan dan Bianca segera teralihkan pada seorang dokter wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya seraya diikuti oleh dua perawat wanita. Dengan masing-masing menggendong anak mereka.


“Mrs. Drax, apa kau baik-baik saja?” Tanya dokter itu ramah.


“Ya.” Jawab Bianca singkat seraya mengangguk pelan. Perhatiannya terus saja terfokus pada dua tubuh kecil yang berada di dalam gendongan dua perawat wanita itu.


“Mereka berdua sudah tak sabar untuk bertemu dengan kalian.” Dokter wanita itu menyuruh dua perawat yang menggendong bayi kembar Bianca untuk segera meletakkannya di atas tempat tidur. Tepat di dekat tubuh Bianca yang sedang berbaring.


“Dokter, bagaimana bisa aku melahirkan anak kembar sementara hasil USG hanya menunjukkan ada satu janin?” Tanya Bianca bingung. Masih tak mengerti kenapa ia bisa melahirkan anak kembar padahal setiap kali melakukan tes USG, dokter hanya mengatakan ada satu janin di dalam kandungannya.


“Mrs. Drax, apa yang kau alami ini biasa terjadi. Dan alasan yang paling umum adalah karena salah satu anak di dalam kandunganmu menutupi atau melindungi anak yang satunya lagi sehingga tak terlihat saat melakukan USG. Tapi yang paling penting, kalian bertiga baik-baik saja.”


Penjelasan dokter wanita itu membuat Alan dan Bianca mengangguk paham. Seraya tersenyum bahagia, Alan dan Bianca menatap kedua anak mereka penuh kasih.


“Apa aku boleh menggendongnya?” Ucap Alan antusias.


“Tentu saja. Tapi biarkan mereka berdua meminum asi dari ibunya terlebih dulu.” Setelah berucap, dokter dan perawat tersebut segera berpamitan pada Bianca. Dan memberitahu mereka untuk menekan tombol yang berada di dekat tempat tidur saat membutukan sesuatu.


“Bianca, anak kita.” Ucap Alan. Ia berdiri di sisi tempat tidur yang satunya agar bisa menatap kedua bayi kembarnya secara dekat.


“Aku masih merasa seperti mimpi.” Bianca kembali meneteskan air mata ketika tangannya secara lembut mengelus kedua pipi anaknya secara bergantian. Bukan hanya memberikan pria terbaik di sisinya, tapi Tuhan juga kembali memberikan hadiah tak ternilai di dalam kehidupannya bersama Alan.


Seolah tak mau kalah, Alan juga mendaratkan kecupan singkat pada pipi kedua bayinya. Yang sukses membuat Bianca tertawa kecil.


“Bianca, lihat.” Alan berseru senang ketika melihat kedua tangan bayi laki-lakinya bergerak. Tak lama, tangisan keras kembali terdengar dari bibir mungilnya.


Bianca tersenyum. Malaikat kecilnya sedang lapar.


Berbeda dengan sang bayi laki-laki, bayi perempuan mereka berdua jauh lebih tenang. Sekalipun di awal kelahirannya suara tangisannya jauh lebih keras. Tapi sekarang, malaikat kecil kedua Alan dan Bianca itu masih tertidur lelap. Hanya sesekali bergerak.


“Apa kau sudah menyiapkan nama untuk mereka berdua?” Tanya Bianca seraya menatap Alan.


Alan tersenyum. Pria itu kembali mengelus lembut pipi kedua anaknya secara bergantian. Lalu beralih mengelus pipi Bianca penuh cinta.


“Tentu saja.”


Alan memang sudah memilih nama yang spesial untuk buah hatinya. Keputusannya untuk tak mengetahui jenis kelamin janin yang berada di dalam kandungan Bianca membuahkan hasil yang baik. Sebab, ia memang telah menyiapkan dua nama sekaligus. Untuk anak laki-laki dan perempuan.


“Alexander King Drax dan Beatrice Queen Drax. Mereka berdua adalah Raja dan Ratu yang akan menjadi pewaris resmi dari Keluarga Drax.”


Tatapan mata Alan penuh ketegasan. Dari awal, Alan memang telah meniatkan semuanya untuk menjadi milik anaknya bersama Bianca. Bukan hanya ada dirinya saja yang menjadi pewaris resmi keluarga Drax, tapi kini telah ada dua malaikat kecil yang kelak akan mengambil alih semuanya.


“Aku menyukainya.” Ucap Bianca. Ia tersenyum senang seraya menggenggam tangan Alan yang berada tak jauh darinya.


“Aku tak mungkin memilih nama secara sembarangan untuk anak spesial seperti mereka berdua.”


Alan kembali mengecup bibir Bianca. ********** pelan saat bayi laki-lakinya yang tengah meminum ASI dari Bianca kembali tertidur lelap.


“Aku punya saingan baru.” Ucap Alan seraya menatap Alex dengan tawa kecil. Yang juga membuat Bianca ikut tertawa.


Alan dan Bianca sama-sama menatap Alex dan Beatrice dengan wajah penuh kebahagiaan. Mereka tak lagi berdua, karena mulai hari ini, ada dua malaikat kecil yang akan selalu menemani hari-hari mereka.

__ADS_1


Note :: 2 episod/? lagi tamat yah :) Dan kemungkinan, updatenya juga agak lama krna saya ngetik di hp soalnya laptop lagi bermasalah dan harus diservis dulu **___**


__ADS_2