
Jimmy yang baru saja mengganti jubah mandi yang dikenakannya dengan sebuah kemeja pantai berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana pendek hitam, segera melangkah menuju pintu ketika mendengar suara bel berbunyi. Meninggalkan Fiona yang masih berada di dalam kamar mandi.
“Ya?” Ucap Jimmy setelah membuka pintu. Di hadapannya berdiri seorang wanita berusia sekita empat puluh tahun sembari menatapnya lekat.
“Mr. Davis?” Tanya wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Jimmy. Pria bermata biru di depannya benar-benar mampu menjerat wanita manapun. Jika saja belum menikah dan memiliki tiga orang anak, bisa dipastikan jika dirinya juga akan ikut terperosok ke dalam pesona pria tampan itu.
“Ya.”
“Perkenalkan, saya Joana, manager hotel ini. Apa Mr. Drax sudah memberitahumu?” Ucapan Joana barusan sontak membuat Jimmy tersadar jika wanita itu adalah menejer yang Alan maksud pada sepucuk surat yang ditinggalkannya kemarin sore. Tanpa sadar, Jimmy mengangguk kecil.
“Ya, tuan sudah mem—”
“Jimmy!” Teriakan Fiona dalam kamar sukses membuat ucapan Jimmy terpotong sekaligus membuat pria itu menoleh sebentar untuk menatap pintu kamar mereka yang tertutup..
“Mrs. Joana, silahkan masuk. Aku harus menemui istriku dulu sebentar.” Ucap Jimmy seraya mempersilahkan Joana untuk masuk dan menunggu di dalam. Setelah memastikan wanita itu duduk di atas sofa, Jimmy dengan cepat melangkah menghampiri istrinya.
“Ada apa?” Tanya Jimmy sesampainya di kamar. Tak jauh darinya, ia melihat Fiona yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah merona.
“Apa kau bisa membelikan pakaian lain untukku?” Ucap Fiona. Ia menatap Jimmy memohon.
“Pakaian? Bukankah nona Bianca sudah menyiapkan pakaian untukmu?” Jimmy hanya bisa menatap Fiona heran. Seingatnya, kemarin malam, mereka berdua sama-sama melihat pakaian seperti apa yang Alan dan Bianca berikan. Jika tak salah, Fiona mendapatkan hadiah sebuh jumpsuit celana pendek dengan atasan tank top berwarna baby pink.
“Tapi—” Belum sempat Fiona menyelesaikan ucapannya, Jimmy sudah lebih dulu tersenyum geli. Sehingga membuat Fiona menatapnya dengan wajah memberengut.
“Fiona.” Panggil Jimmy. Pria itu segera menyampirkan seluruh rambut Fiona yang terurai ke sebelah kiri dan mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan untuk menatap punggung wanita itu.
Tak lama, Jimmy kembali tersenyum seraya mendaratkan satu kecupan lembut pada bahu istrinya lalu beralih pada leher wanita itu. Dengan sengaja mengulumnya sebentar agar tak meninggalkan jejak kemerahan.
“Jimmy!” Seru Fiona dengan suara kesal. Ia memang merasa sangat senang pada pakaian yang Bianca berikan untuk mereka berdua. Hanya saja, baju yang saat ini dikenakannya mengekspos kedua punggungnya secara bebas. Tempat di mana Jimmy meninggalkan beberapa kissmark yang sangat jelas.
“Apa? Aku menyukainya.” Fiona tak kuasa menahan degupan jantung serta rona merah di wajahnya. Apalagi ketika kembali teringat akan percintaan "panas" mereka berdua kemarin malam.
__ADS_1
Jimmy kembali mendekatkan wajahnya pada Fiona yang masih duduk di atas tempat tidur dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan pada setiap sisi tubuh wanita itu.
Satu ciuman kembali Jimmy daratkan pada bibir Fiona. ********** pelan. Sebelah tangannya ia letakkan pada tengkuk Fiona untuk semakin memperdalam tautan bibir mereka. Tak jarang, Jimmy mengulum kuat lidah istrinya.
“Jimmy—” Jimmy kembali membungkam bibir Fiona seraya menarik pelan tangan wanita itu untuk ikut berdiri. Kedua tangannya ia letakkan pada pinggang Fiona.
Fiona dengan cepat mendongak ketika Jimmy memberikan kecupan-kecupan ringan pada lehernya. Tak lama, kedua matanya sontak terpejam saat merasakan gigitan lembut Jimmy pada pangkal lehernya.
“Mr. Davis.” Jimmy dan Fiona yang masih sibuk pada kegiatan mereka, sama-sama tersentak kaget ketika mendengar suara seorang wanita dari arah ruang tengah. Dan membuat Jimmy tersadar jika Joana masih menunggunya.
“Pakai ini.” Ucap Jimmy seraya melepaskan kemeja yang dipakainya pada Fiona. Beruntung ia memakai kaos putih polos yang dijadikan sebagai dalaman.
“Aku akan menunggumu di luar.” Jimmy kembali mengecup sekilas bibir Fiona sebelum benar-benar meninggalkan wanita itu.
***
Setelah ikut bergabung bersama Jimmy di ruang tengah, seorang wanita yang sedang berbicara dengan pria itu segera mengajak mereka berdua untuk menuju lantai paling atas gedung hotel tersebut. Bahkan seelama berada di dalam lift, Joana masih tak mengatakan apa pun. Ia hanya meminta Jimmy dan Fiona untuk mengikutinya saja.
“Kita mau ke mana?” Tanya Fiona pada Jimmy dengan suara pelan yang dijawab pria itu dengan gelengan kepala. Pasalnya, Jimmy juga tak tahu Joana akan membawa mereka ke mana.
Tak lama setelah keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai empat puluh—lantai teratas hotel tersebut, Joana kembali melangkah dalam diam menaiki tangga yang di depannya terdapat sebuah pintu berwarna coklat.
“Mrs. Joana?” Jimmy menatap Joana tak mengerti setelah ia mengikuti wanita itu melangkah keluar dari pintu berwarna coklat tersebut yang ternyata membawa mereka ke roof top hotel tersebut. Dan yang lebih membuat Jimmy heran, sudah ada sebuah helikopter berwarna abu-abu muda menanti mereka.
“Mr. Drax yang menyiapkan semuanya. Saya hanya mengikuti perintah.” Ucap Joana singkat. Alan memang sudah memintanya untuk tak mengatakan apa pun pada Jimmy. Tugasnya hanyalah menemui serta mengajak Jimmy beserta istrinya menuju atap gedung hotel tersebut dan memastikan jika mereka berdua benar-benar menaiki helikopter yang telah disiapkannya.
“Biarkan aku menghub—” Pergerakan tangan Jimmy yang berniat untuk mengambil ponsel di saku celananya mendadak terhenti saat baru tersadar jika Alan dan Bianca membawa semua barang-barang mereka. Termasuk dompet dan juga ponsel.
Pria bermata biru itu bahkan hanya mampu tersenyum pasrah.
“Mr. Davis, Mr. Drax sudah menunggumu.” Ucap salah satu pria yang berdiri di dekat helikopter tersebut. Pada seragam yang dipakainya, terdapat sebuah tulisan “Pilot.” Ia menatap Jimmy lekat seraya meminta pria itu untuk ikut naik ke atas helikopter.
__ADS_1
Setelah mendengar nama Alan disebuat oleh pria itu, mendadak semua keraguan serta kecemasan di dalam hati Jimmy menghilang. Dengan lembut, ia menggenggam tangan Fiona lalu kembali menatap Joana.
“Thank you, Mrs. Joana.” Jimmy menatap Joana ramah seraya tersenyum simpul. Diikuti dengan Fiona.
Joana balas tersenyum ramah. Tak lama, Jimmy dan Fiona mengikuti pilot tersebut untuk naik ke atas helikopter yang akan membawa mereka berdua menuju ke tempat Alan, Bianca dan Jane berada.
***
“Jane!” Bianca sekali lagi berseru senang ketika kembali menatap tubuh Jane yang telah tertutupi oleh baju renang one piece berwarna navy. Rambut coklat keemasannya Bianca ikat dengan model ekor kuda.
Sementara Bianca mengenakan bikini berwarna maroon. Alan tetap memperbolehkannya karena Jimmy yang masih belum bergabung dengan mereka. Seperti biasa, Alan tak pernah suka jika ada pria lain yang melihat tubuh istrinya. Apalagi sampai menyentuhnya. Walau hanya tangan sekalipun.
Bianca dan Alan memutuskan untuk menikmati waktu mereka bersama Jane di kolam renang ketika jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Sekalipun Jane hanya duduk di pinggir dengan kedua kaki yang berada di dalam air, tapi raut wajah serta pancaran mata wanita itu tak bisa menutupi seberapa besar rasa bahagianya saat ini.
“Kau ingin berenang?” Tanya Bianca setelah menghampiri Jane.
“Ya.” Jawab Jane singkat seraya tersenyum simpul. Dengan lembut, Bianca memegang kedua tangan Jane dan membiarkan wanita itu melangkah pelan di dalam kolam renang. Bahkan membuat Alan yang sedari tadi sibuk memperhatikan dalam diam, ikut tersenyum.
“Sayang, kau tetap harus berhati-hati.” Ucap Alan saat Bianca berada di dekatnya. Seraya mengecup bibirnya sekilas.
Tak lama, Alan yang hanya mengenakan celana renang pendek, beranjak keluar dari dalam kolam lalu melangkah pelan masuk ke dalam rumah untuk mengambil sekaleng bir.
Sepeninggal Alan, Bianca kembali fokus pada Jane. Sekalipun hanya berjalan dan tak berenang, ia tetap senang karena Jane bisa ikut menikmati liburan mereka dan tak hanya diam menonton. Tapi tak bisa dipungkiri, Bianca juga harus ekstra hati-hati, mengingat tubuhnya yang semakin mudah lelah.
Secara tiba-tiba, langkah Jane terhenti. Ia menatap Bianca lekat dengan raut wajah sedih.
“Jane, ada apa?” Tanya Bianca. Khawatir jika ia membuat Jane merasa tak nyaman.
“Jimmy.”
“Dia akan datang sebentar lagi.” Seru Bianca senang. Ia juga sudah tak sabar menanti kehadiran pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
Dalam diamnya, Jane masih senantiasa menatap Bianca. Hanya saja, ada satu wajah yang melintas di benaknya. Bukan Jimmy pun Fiona. Tapi seorang pria yang dengan senang hati tetap setia berada di sisinya saat pesta pernikahan Jimmy dan Fiona berlangsung.
Yang anehnya, justru membuat jantungnya berdesir aneh. Juga membuat Jane merasakan kerinduan yang teramat besar.