Married With The Devil

Married With The Devil
Spesial 2


__ADS_3

Jane yang sedang menunggu James tak jauh dari gedung rumah sakit tempatnya bekerja, kembali menatap layar ponselnya. Sudah beberapa kali ia menghubungi pria itu, namun tak kunjung mendapatkan tanggapan.


Hari ini, mereka berdua berencana untuk makan siang bersama di sebuah kafe baru yang berada di sekitar tempat kerja pria itu.


Awalnya, James bersedia untuk menjemputnya, hanya saja, Jane menolak karena tak ingin membuat kekasihnya kelelahan. Karena itulah ia meminta Jimmy mengantarnya.


“Jane!”


Mendengar namanya dipanggil, Jane segera menoleh dan mendapati pujaan hatinya tengah berjalan ke arahnya sembari tersenyum simpul.


“Apa aku mengganggumu?” Tanya Jane setelah James berada di hadapannya.


Pria itu selalu saja terlihat tampan dalam balutan kemeja lengan panjang berwarna putih yang digulung sebatas siku serta jeans hitam. Walau pada kenyataannya, ia lebih suka melihat James mengenakan pakaian kerja. Apalagi jas dokternya.


“Aku sedang tak sibuk.” Jawab James seraya mengelus pelan rambut panjang kekasihnya. Jujur saja, ia sangat merindukan Jane. Tapi karena ada beberapa pekerjaan yang tak bisa ditinggalkannya, mereka berdua jadi jarang bertemu dan lebih sering berkomunikasi melalui telepon.


Jane yang menerima perlakuan manis dari pria itu mendadak tersenyum malu. Tanpa ragu, ia memeluk mesra lengan James yang sukses membuatnya tertawa geli.


“Ayo. Aku masih punya waktu dua jam.”


Mereka berdua melangkah bersama menuju kafe tersebut yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki.


Tanpa Jane sadari, beberapa pria yang sedari tadi menatapnya tanpa kedip, sontak memasang wajah lesu ketika tahu ia telah memiliki kekasih. Ia bahkan tak tahu jika kulit putih, rambut panjang berwarna coklat-keemasan serta sepasang mata birunya mampu menghipnotis pria mana pun.


“Apa Fiona baik-baik saja?” Pertanyaan James sukses membuat Jane menatapnya sedih. Setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi, James segera menggenggam tangan Jane yang berada di atas meja. Tanpa rasa canggung atau malu. Sekalipun pengunjung kafe sedang padat-padatnya.


“Aku mengkhawatirkannya.” Jawab Jane seraya menghela napas dalam.


Sesering apa pun Fiona mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, Jane tahu betul jika wanita itu masih sedih dan juga merasa kehilangan. Memasuki usia kandungan tiga bulan, Fiona dan Jimmy harus kehilangan buah hati mereka karena wanita itu mengalami keguguran akibat kelelahan.


Beruntung Jimmy selalu berada di sisi Fiona. Menguatkan wanita itu. Hingga akhirnya bisa menerima dan tak lagi takut hamil untuk yang kedua kalinya.


“Fiona wanita yang kuat. Aku yakin dia akan baik-baik saja dan jauh lebih hati-hati lagi.” Ucap James menenangkan. Ia tak pernah lupa saat Jane memberitahunya perihal keguguran yang dialami Fiona dan terus saja menangis. Bahkan lebih parah dari istri kakaknya itu.


“Aku tahu.” Seru Jane senang. Mereka berdua segera menikmati makan siang bersama yang baru saja dihidangkan oleh seorang pelayan pria.


Yang juga sedari tadi mencuri pandang pada Jane hingga membuat James menatapnya tajam.

__ADS_1


***


“Kau yakin tak ingin bertemu Jimmy lebih dulu?” Tanya Jane setelah James memarkirkan mobilnya di depan pintu pagar rumahnya. Pria itu bersikukuh untuk mengantarnya pulang.


“Lain kali saja. Aku harus pulang dulu sebentar untuk mengambil baju ganti lalu kembali lagi ke rumah sakit.” James menatap Jane hangat. Berusaha tak membuat wanita itu khawatir.


“Okay.” Jane berucap tak semangat seraya mengangguk lemah. Jujur saja, ia mencemaskan kesehatan kekasihnya akibat kurang istirahat.


“Sayang, aku akan baik-baik saja.” James mengelus penuh sayang pipi wanita bermata biru itu. Bibirnya tersenyum hangat penuh cinta.


“Jane.” Panggil James lembut seraya menatap Jane lekat.


Jane yang mengerti akan maksud tatapan kekasihnya, dengan segera membuka sabuk pengamannya lalu mendekatkan wajahnya pada James.


Jane mempertemukan bibir mereka berdua tanpa pergerakan sama sekali. Tapi ketika Jane ingin menjauhkan dirinya, James dengan cepat menahan tangkuknya. Berniat memperdalam ciuman mereka setelah hampir satu minggu tak bertemu.


Jane dan James secara bergantian mengecup bibir satu sama lain. Lalu beralih memberikan *******-******* kecil pada bibir wanitanya.


“I Love You.” Bisik James setelah memutuskan tautan bibir mereka. Di depannya, Jane justru menatapnya dalam diam dengan wajah bersemu malu.


“Aku tahu.” Balas Jane seraya tertawa kecil. Ia kembali mendaratkan kecupan singkat pada bibir kekasihnya sebelum pada akhirnya melangkah keluar. Menatap lebih dulu mobil James yang melaju pergi meninggalkannya. Lalu masuk ke dalam rumah dengan senyuman bahagia.


***


“Butuh bantuan?” Bianca tersenyum geli menatap tubuh basah kuyup suaminya. Tadi, ketika ingin memandikan Alex dan Beatrice, Alan menawarkan diri agar ia saja yang memandikan putra laki-lakinya. Yang langsung disetujui dengan senang hati oleh Bianca.


“Aku menyerah.” Alan menatap Bianca dengan wajah memelas seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Di dekatnya, Alex yang sedang berada di dalam bathtub justru tertawa lucu. Lalu kembali menyiram ayahnya dengan air.


Awalnya, Alan merasa semuanya berjalan baik-baik saja. Tapi, saat ia tengah memakaikan sampo dan sabun pada Alex, anak itu justru membuka kran air shower yang berada di atasnya hingga membuat bajunya basah. Alex bahkan melakukannya secara berulang-ulang dan akan langsung menangis keras ketika Alan mengangkat tubuh anak itu dari dalam baik mandi.


“Itu karena kau terlalu memanjakannya.” Sindir Bianca. Ia mengecup sayang kedua pipi Beatrice yang sedang digendongnya.


Ucapan Bianca sukses membuat Alan memberengut jengkel. Bianca memang benar. Ia tak pernah tega mendengar serta melihat kedua malaikat kecilnya menangis. Tak jarang, ia akan langsung membelikan Alex mainan baru saat melihat anaknya itu tak lagi mau menyentuh mainan lamanya. Yang bahkan belum sampai satu minggu dibelinya.


“Daddy, go, go....” Seru Alex.


Alex yang sedari tadi sibuk bermain air, mendadak menatap Alan seraya menunjuk-nunjuk pintu kamar mandi. Menyuruh pria itu untuk segera keluar.

__ADS_1


“Alex!” Bukannya marah, Alan justru bahagia melihat tingkah lucu anaknya. Dengan sengaja, ia memeluk erat Alex seraya mencium gemas pipinya. Yang langsung mendapatkan penolakan dari anak laki-laki itu.


Beatrice yang berada di dalam gendongan Bianca, hanya menatap datar tingkah ayah serta kakak laki-lakinya. Seolah sudah terbiasa.


“Alex, ayo.” Bianca menatap Alex seraya tersenyum hangat.


“Okay.” Jawab Alex dengan suara lucu.


Alan hanya bisa menganga takjub melihat Alex menuruti ucapan Bianca. Anak itu bahkan langsung meminta untuk digendong olehnya agar biasa keluar dari dalam bathtub.


“No!” Alex berteriak tak suka saat Alan hendak menciumnya yang baru saja selesai berpakaian. Berbeda dengan Beatrice yang selalu suka ketika dicium olehnya, anak laki-lakinya itu hanya menurut pada Bianca.


“Mainan baru.” Ucap Alan seraya menunjuk beberapa mainan Alex yang masih berserakan di atas lantai.


Tanpa Alan duga, Alex justru mengangguk cepat lalu mencium kedua pipinya. Dan kecupan singkat pada bibirnya sebagai penutup. Bahkan sampai membuat Bianca yang melihatnya tak kuasa menahan tawa gelinya.


Di sisi lain, Beatrice justru bersikap tak acuh. Ia lebih memilih menikmati sosis goreng miliknya.


Alan dan Bianca kompak tersenyum serta tertawa bahagia melihat sikap serta tingkah kedua anaknya. Sekalipun kembar, Alex dan Beatrice jauh dari kata mirip. Ia juga secara sengaja tak membelikan mainan, baju atau barang-barang yang sama untuk mereka berdua.


Alasannya, karena sejak awal, Alan dan Bianca memang sudah sepakat untuk melakukannya. Karena mereka yakin, sekalipun kembar, Alex dan Beatrice belum tentu selalu menyukai hal yang serupa.


Alan ingin kedua anaknya nanti bisa memilih dengan yakin dan tepat. Tanpa perasaan ragu ataupun cemas. Sebab, mereka berdualah yang akan menjadi pewarisnya.


***


Melihat Alex dan Beatrice telah terlelap, Alan segera menarik tangan Bianca menuju tempat tidur lalu duduk di tepinya. Lantas menyuruh istrinya berada di atas pangkuannya.


Alan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Bianca seraya menatap lekat wanita itu.


“Sayang.”


Bianca tersenyum mendengar panggilan penuh makna suaminya. Ia sangat tahu jika pria itu pasti sedang menginginkan sesuatu.


“Aku tak keberatan.” Bisik Bianca.


Tanpa menunggu lama, Alan segera mencium bibir Bianca tak sabaran. Menyesap serta menggigit bibir dan lidahnya secara bergantian.

__ADS_1


Disaat bibir mereka saling bertautan satu sama lain, kedua tangan Alan juga tak tinggal diam. Ia dengan cepat membuka baju Bianca dan mengangkat secara perlahan tubuh wanita itu untuk membaringkannya di atas tempat tidur.


Tubuh keduanya telah dikuasai oleh hasrat membuncah tak tertahankan. Tak peduli jika matahari di luar sana masih bersinar terik, Alan dan Bianca tetap menyatukan tubuh mereka. Memenuhi ruangan kamarnya dengan suara desahan tertahan dari mulut mereka masing-masing agar tak mengganggu tidur nyenyak kedua malaikat kecilnya.


__ADS_2