Married With The Devil

Married With The Devil
Harapan


__ADS_3

Bianca yang sedang fokus menonton TV di kamar, dikejutkan oleh suara ribut yang berasal dari arah bawah. Seingatnya, Alan sedang keluar sebentar untuk pergi membelikannya es krim coklat. Dengan hati-hati, Bianca beranjak turun dari atas tempat tidur lalu melangkah pelan keluar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


“Fiona! Jane!” Seru Bianca senang. Tepat setelah ia menengok ke bawah, Bianca mendapati Alan tengah bersama dengan orang-orang yang sangat dikenalnya. Tak menyangka sama sekali jika ia akan mendapatkan kunjungan tak terduga seperti sekarang ini.


“Sayang, kau mau ke mana?” Tanya Alan saat melihat Bianca berniat beranjak pergi.


“Ke bawah.” Jawab Bianca cepat seraya tersenyum senang.


“Tunggu aku di situ.” Teriak Alan panik. Ia tak pernah sekalipun membiarkan Bianca menuruni pun menaiki tangga seorang diri semenjak kandungannya semakin membesar. Selama berada di rumah, Alan akan selalu meminta wanita itu untuk tetap berada di dalam kamar. Dan jika ia terpaksa harus pergi bekerja, maka Alan menugaskan Sofie untuk tetap berada di sisi Bianca. Memenuhi segala yang diinginkannya.


Tak sampai dua menit, Alan telah berada di sisi Bianca. Pria itu menaiki tangga dengan cara berlari secepat yang ia bisa. Sebelah tangannya menggenggam tangan Bianca erat seraya menatap wanita itu tak percaya.


“Apa?” Tanya Bianca tak mengerti. Merasa tak melakukan kesalahan apa pun.


“Demi Tuhan, jangan pernah melakukannya lagi, Sayang.” Ucap Alan sembari mengelus lembut rambut wanitanya.


Bianca tersenyum. Merasa senang karena pria itu semakin memperhatikannya.


“Maafkan aku.” Ucap Bianca menyesal. Wanita itu mengecup bibir Alan sekilas.


“Kau tak perlu menuruni tangga. Cukup katakan apa pun yang kau inginkan padaku.” Sekalipun tahu Bianca masih sanggup menuruni tangga seorang diri, Alan tetap saja tak membiarkannya. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Misalnya saja terpelesat atau yang lebih parahnya lagi, Bianca jatuh terguling.


“Lalu bagaimana saat aku ingin melahirkan nanti?”


“Aku yang akan menggendongmu.”


Bianca sontak tertawa kecil mendengar jawaban polos suaminya. Ia juga kembali mendaratkan kecupan singkat pada pipi pria itu lalu mengajaknya untuk segera turun ke lantai satu. Dengan tangan yang masih saling bertautan erat.


“Bianca!” Teriak Fiona dengan suara tertahan.


Bianca yang baru saja tiba di lantai bawah, sukses membuat Fiona menatapnya tak percaya. Bukan hanya perutnya yang semakin membesar, tapi juga tubuh wanita itu yang lumayan terlihat berisi. Fiona bahkan tak kuasa menahan tawa gelinya ketika Bianca justru menatapnya dengan wajah memberengut lucu.


“Aku hanya bercanda.” Ucap Fiona cepat yang sukses membuat Bianca tersenyum lebar. Tahu betul jika istri Jimmy itu pasti tak berniat sama sekali menyinggungnya.


Tak jauh darinya, Bianca mendapati Jane dan James menatapnya hangat. Setelah memeluk Fiona dan Jimmy sekilas, Bianca beralih untuk memeluk Jane. Mengelus rambut panjang terurai wanita itu dengan mata berbinar. Sudah lama ia tak bermain-main dengan rambut coklat-keemasan Jane.


“Bianca.” Ujar Alan memperingatkan. Paham betul isi hati istrinya. Bianca berbalik, menatap Alan seraya mengangguk lemah.


“Aku tahu.”


Jimmy yang melihatnya sontak tersenyum simpul, ia juga tahu betul apa yang wanita itu pikirkan. Tapi berhubung James sedang bersama mereka, Alan tentu saja tak membiarkan Bianca membuat Jane terlihat berantakan di hadapan kekasihnya.


“Bianca, untukmu.” Seru Fiona. Ia menyodorkan sebuah dos kue berukuran sedang yang di dalamnya terdapat kue coklat yang dibuatnya tadi pagi bersama Jane.


“Aku juga membawakan sesuatu untukmu.” Ucap James. Pria itu memberikan Bianca satu kaleng coklat berbentuk bulat yang di dalamnya berisi kacang almond, dua kotak es krim vanila serta beberapa buah-buahan.


Setelah Jimmy menelfon dan mengajaknya pergi bersama mengunjungi Bianca, James dengan segera pergi membeli hadiah yang akan diberikannya pada wanita itu. Sekalipun tahu jika Bianca mungkin saja tak membutuhkannya karena telah mendapatkan semuanya dari Alan.

__ADS_1


“Terima kasih, Dokter.” Jawab Bianca. Ia tersenyum senang melihat beberapa hadiah yang diberikan untuknya. Yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya ataupun teman-temannya lain. Kecuali dari Lily.


“Nona, apa kau baik-baik saja?” Tanya Jimmy. Ikut merasa cemas ketika Alan memberitahunya kondisi wanita itu yang kurang cukup baik.


“Ya. Hanya sesekali merasa pusing atau lelah.” Jawab Bianca.


Dengan cepat, Bianca membuka hadiah kue coklat pemberian dari Fiona dan Jane. Wanita itu bahkan tanpa ragu mengambil sesendok besar kue tersebut tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Perutnya tiba-tiba saja merasa lapar saat melihat limpahan coklat yang tersaji di depan matanya.


“Apa kau menyukainya?” Jane menatap Bianca hangat seraya tersenyum kecil. Ikut merasa bahagia saat melihat wanita itu menikmati kue buatannya dan Fiona.


“Sangat. Terima kasih, Jane. Fiona.” Ucap Bianca. Ia kembali memeluk dua wanita itu sekilas.


“Mrs. Drax, apa kau sudah tahu jenis kelamin anakmu?” James yang sedari tadi mengamati dalam diam, akhirnya membuka suara. Bahkan membuat Alan dan Bianca kompak menatapnya lekat. Sementara yang lain mengalihkan perhatian mereka pada Bianca.


“Tidak. Alan tak memperbolehkanku untuk mengetahuinya.” Ucap Bianca sedih. Padahal ia ingin sekali mengetahui jenis kelamin anak yang dikandungnya.


Mendengar jawaban Bianca, James tersenyum penuh arti. Mendadak, satu ide jahil terlintas di benaknya.


“Apa kau ingin aku yang memberitahumu?”


“Kau bisa melakukannya?” Jane menatap James tak yakin. Pasalnya, pekerjaan pria itu tak ada kaitannya sama sekali dengan masalah kehamilan.


“Tentu saja. Hanya dengan mendengar denyut nadi pada pergelangan tanganmu, aku bisa langsung tahu.”


Alan yang melihat James berniat bangkit dari duduknya, segera memposisikan tubuhnya di dekat Bianca. Menghalangi kekasih Jane itu untuk mendekat. Hari persalinan istrinya sudah hampir tiba dan Alan tak ingin James mengacaukan semuanya. Walau tak bisa dipungkiri jika ia juga merasa sangat penasaran.


“Alan!” Kali ini Fiona yang berucap tak terima.


Alan bergeming, pria itu tetap pada pendiriannya. Sembari menggeleng cepat, Alan juga menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri sebagai sebuah penolakan. Sebelah tangannya masih memeluk Bianca posesif dari arah samping.


James yang melihat reaksi orang-orang di sekitarnya hanya bisa tertawa kecil tanpa suara. Lalu berganti dengan senyuman simpul saat Alan menatapnya tajam.


“Dokter.”


“Aku hanya bercanda, Mr. Drax.”


Mereka berenam kecuali Alan sontak tertawa bersama. Merasa puas melihat wajah Alan yang tiba-tiba saja berubah panik saat James berniat membongkar jenis kelamin anaknya. Yang ternyata hanya sebuah gurauan semata.


Dalam diamnya, Alan ikut tersenyum simpul. Merasa senang saat melihat raut wajah bahagia istrinya. Setelah ini, ia akan meminta mereka semua untuk lebih sering datang berkunjung ke rumahnya. Apalagi setelah anaknya lahir nanti.


***


“Sayang.” Alan menatap Bianca pasrah saat wanita itu menghabiskan satu kotak besar es krim vanila yang diberikan oleh James padanya tadi. Bahkan kue coklat pemberian Jane dan Fiona pun hanya tersisa setengah.


“Alan.” Panggil Bianca seraya menatap Alan yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu menepuk-nepuk pelan bagian atas tempat tidur—tepat di sebelahnya. Meminta Alan untuk segera mendekat.


Alan tersenyum simpul. Sifat manja istrinya kembali lagi.

__ADS_1


“Ada apa?” Tanya Alan. Pria itu memeluk Bianca dari arah samping seraya meletakkan dagunya pada bagian atas kepala wanita itu.


“Aku merindukanmu.” Bisik Bianca. Semakin menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangat Alan.


Dengan lembut, Alan menarik Bianca dari dalam pelukannya lalu mendaratkan satu kecupan hangat pada kening wanita itu.


“Aku menginginkan yang ini.” Lirih Bianca. Ia menyentuh sekilas bibir Alan.


Mendapatkan lampu hijau dari Bianca, Alan segera membungkam bibir wanita itu dengan sesekali ********** pelan. Menggigit kecil bibir Bianca agar Alan bisa meloloskan lidahnya masuk ke dalam mulut wanita itu.


***


James yang baru saja mengantar Jane pulang ke rumah, harus tinggal lebih lama lagi untuk menemani wanita itu karena Jimmy dan Fiona sedang pergi berbelanja. Beruntung ia membawa mobil sendiri.


“Jane.” James menatap lembut Jane yang sedang duduk di sebelahnya. Sekalipun hari masih sore, tapi langit di atas sana sudah sejak tadi gelap. Pertanda jika hujan akan segera turun.


“Ya.”


“Apa kau merindukanku?” Pertanyaan James sontak membuat Fiona menatapnya kaget. Kedua pipinya bersemu merah.


Jane mengangguk tanpa suara.


“Apa kau tak keberatan jika aku menyentuhmu?”


Jane merasa jantungnya di dalam sana langsung melompat dari tempatnya. Ia tak berani menatap James.


Dalam diam, James mengelus pelan pipi Jane. Meminta wanita itu untuk kembali menatapnya. Setelah tersenyum sekilas, James mendaratkan satu kecupan yang cukup lama pada kening Jane lalu segera menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


Bukan tanpa alasan James bertanya terlebih dulu pada Jane. Wanita itu lebih banyak terdiam dan hanya sesekali menatapnya. Entah karena sedang malu atau mungkin tak merindukannya sama sekali.


“Aku merindukanmu.” Bisik Jane dengan kepala menunduk. Malu menatap mata pria yang dicintainya.


Jane tahu jika James tak akan mungkin berlaku kurang ajar padanya. Pria itu selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Menjaganya dengan tulus tanpa pernah berniat sedikitpun untuk menyakitinya.


Jika hanya sekadar berciuman, Jane masih mampu melakukannya.


Perlahan, Jane mendongak. Wanita itu mendaratkan satu kecupan kilat pada bibir James yang sukses membuat pria itu tertawa geli.


Tak lama, bibir mereka berdua kembali bertemu dengan James yang memulai terlebih dulu. Pria itu memberikan *******-******* kecil pada bibir atas Jane. Sementara sebelah tangannya memeluk pinggang wanita itu erat.


Jane dengan cepat memegang sebelah lengan James. Balas mengikuti pergerakan bibir pria itu padanya. Tanpa ia sangka, James justru mengulum cukup kuat lidahnya. Sehingga menghasilkan satu bunyi decakan yang terdengar jelas di telinganya.


Setelah menyesap cukup lama bibir bawah Jane, James segera melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu juga menghapus secara lembut jejak saliva miliknya yang masih tertinggal pada sudut bibir wanita itu.


“James!" Dengan wajah merona malu, Jane segera memeluk James erat. Menyembunyikan wajahnya agar tak dilihat oleh pria itu.


Dalam hati, James kembali bersyukur. Sedikit demi sedikit, Jane menunjukkan perubahan yang signifikan. Apalagi wanita itu tak menolak ciuman intens darinya.

__ADS_1


James berharap, setelah ini, hubungan mereka berdua bisa semakin lebih erat lagi. Bahkan sampai mereka berdua menikah.


__ADS_2