
Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi, Bianca sudah terlihat rapi. Ia sengaja bangun cepat karena tak ingin bertemu apalagi bertatap muka dengan Alan. Roti bakar yang menjadi sarapannya pun dilahap dengan cepat.
“Kau mau ke mana?” Bianca yang baru saja berniat pergi, sontak menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Alan dari arah lantai dua.
“Bilang pada Jimmy, mulai sekarang, aku akan berangkat seorang diri.” Bianca berucap tanpa berbalik. Tak lama, ia mendengar suara derap kaki yang begitu tergesa-gesa. Dan yakin jika pria itu menuruni tangga dengan cepat untuk menghampirinya.
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Alan berucap tak mengerti seraya menarik paksa tubuh Bianca untuk berbalik menatapnya. Iris hitamnya menatap wanita itu tajam. Dan kejengkelannya semakin bertambah ketika Bianca justru membuang muka.
“Aku harus pergi.” Ucap Bianca datar. Sungguh, ia benar-benar malas menatap wajah Alan.
“Bianca!” Alan berteriak marah seraya mencengkeram lengan kiri wanita itu. Kedua rahangnya mengeras. Namun Alan tetap berusaha untuk menahan dirinya agar tak lepas kendali dan justru merusak pagi hari mereka.
“Bukankah sudah kubilang untuk tak menyentuhku?!” Bianca berujar ketus seraya menyentakkan tangan Alan yang memegangnya. Kedua matanya menatap pria itu dingin. Dadanya kembali dipenuhi rasa sesak.
“Kau masih mempermasalahkan kejadian di acara makan malam itu?” Alan bertanya dengan nada tak percaya seraya menatap Bianca lekat. Wanita itu jelas-jelas mendengarnya menolak tawaran dari Robin. Ia bahkan sudah berusaha untuk menjelaskannya. Namun Bianca seolah enggan untuk mendengar.
Bianca sontak memejamkan kedua matanya sekilas seraya menghela napas dalam. Ia hanya bisa tersenyum miris mendengar ucapan pria itu.
“Aku memang masih mempermasalahkannya. Kau tak suka?” Bianca berucap jengkel seraya menatap Alan tak suka.
“Aku dan Kate tak ada hubungan apa-apa. Yang terjadi semalam hanyalah sebuah bentuk formalitas semata.” Alan berujar dengan napas memburu. Wajahnya sudah memerah karena sedang berusa keras menahan luapan emosinya.
“Yang bahkan membuatmu sampai mengabaikan dan melupakanku?!” Bianca sudah tak mampu lagi menahan kekesalannya. Ia juga tak peduli jika Sofie yang masih berada di dapur mendengar pertengkaran mereka. Bianca sudah lelah jika harus selalu mengalah dan memendamnya seorang diri.
Alan menghela napas kasar seraya mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya Bianca inginkan.
“Bianca, apa yang sebenarnya kau inginkan? Yang terjadi waktu itu bukanlah masalah yang harus dibesar-besarkan. Kau ingin aku meminta maaf? Okay. Maafkan aku.” Alan berucap frustasi seraya menatap Bianca intens. Ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Sejauh ini, hubungan mereka baik-baik saja dan sekarang, ia dan Bianca justru meributkan hal yang sepele.
“Aku tak butuh ucapan maaf tak tulus darimu.” Seru Bianca seraya tersenyum sinis.
“Lalu apa yang ka—”
“Alan, apa sebenarnya arti diriku untukmu?” Bianca bertanya lirih seraya menatap Alan sedih.
“Bianca, apa mak—”
“Sebagai barang yang kau beli? Sebagai boneka yang bisa kau mainkan sesuka hatimu? Atau sebagai pelampiasan hawa nafsumu?” Ucap Bianca seraya menatap Alan lekat. Tak ada sedikitpun ketakutan yang terpancar dari matanya. Sebaliknya, ia sangat ingin tahu jawaban apa yang akan pria itu berikan padanya.
Alan masih terdiam. Ia bingung—lebih tepatnya, tak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Bianca terlalu mendadak.
“Beberapa wanita, lebih senang saat pasangannya membuktikan rasa cinta mereka dengan tindakan, bukan hanya sekadar kata-kata manis semata. Dan aku salah satu di antaranya.” Seusai berucap, Bianca segera berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Alan seorang diri yang masih betah terdiam seraya menatap kepergiannya.
Lidahnya kelu. Pertanyaan Bianca benar-benar membuatnya mati kutu. Arti wanita itu baginya? Alan tak pernah memikirkannya. Ia hanya merasa membutuhkan Bianca untuk selalu berada di sisinya. Menemani dan menerimanya dalam keadaan apa pun. Tanpa pernah berpikir terlalu jauh.
***
Lily menatap heran Bianca yang tampak santai menikmati sepotong buah pir di tangannya. Tadi pagi, ia mendapati Bianca berangkat ke sekolah dengan menaiki bus. Dan ketika ia bertanya, Bianca justru mengedikkan bahunya tak peduli.
“Kalian bertengkar lagi?” Tanya Lily seraya menyeruput jus mangga miliknya. Waktu makan siang mereka sudah hampir habis.
“Tidak. Hanya ada sedikit masalah.” Jawab Bianca tak acuh.
“Yang sampai membuatmu berangkat ke sekolah menaiki bus?” Seru Lily tak percaya.
“Lily, apa kau akan melanjutkan sekolahmu?” Bianca dengan sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Saat ini, jika bisa, ia tak ingin memikirkan sedikit pun tentang Alan.
“Tentu saja. Bagaimana denganmu?” Tanya Lily seraya menatap Bianca lekat. Ia yakin jika Bianca tak akan lagi memusingkan masalah biaya kuliahnya nanti. Alan pasti akan dengan senang hati melakukan apa pun untuk wanita itu.
__ADS_1
“Bekerja, mungkin.” Jawab Bianca pelan. Ia tak bisa mengatakan pada Lily jika setelah lulus nanti, akan langsung melanjutkan ke universitas. Malu rasanya jika ia justru berakhir menjadi seorang karyawan toko.
“Bekerja? Untuk apa? Bukankah Alan tak akan keberatan untuk menanggung biaya kuliahmu?” Lily berucap kaget seraya menatap Bianca bingung. Setahunya, Bianca dan Alan telah berbaikan.
“Setidaknya, dengan bekerja dan punya uang sendiri, aku tak harus bergantung pada orang lain dan bisa hidup mandiri. Diperlakukan layaknya barang mainan, benar-benar tak menyenangkan.” Ucap Bianca seraya tersenyum sedih. Perlahan ia bangkit dari duduknya. Lalu melangkah meninggalkan Lily seorang diri. Setelah kejadian di acara makan malam waktu itu, Bianca jadi tersadar, tak ada jaminan jika ia dan Alan akan terus bersama. Bisa saja, sewaktu-waktu, pria itu bosan padanya lalu membuangnya begitu saja. Bagi Alan, ia memang bukanlah wanita yang pertama. Tapi baginya, semua yang ia lakukan pertama kali bersama Alan.
***
Alan kembali menatap tajam sebuah berkas yang baru saja Lucy bawakan untuknya. Hari ini, tak ada satupun pekerjaannya yang berjalan dengan lancar. Pikirannya terus saja sibuk mencari jawaban akan pertanyaan yang Bianca berikan tadi pagi padanya.
“Tuan.” Jimmy menatap cemas pada Alan.
“Jimmy, aku benar-benar bingung.” Alan mendesah frustasi seraya menyandarkan punggungnya pada kursi. Kepalanya mendongak dengan kedua mata yang terpejam.
“Apa sedang terjadi sesuatu?” Jimmy bertanya hati-hati karena tak ingin menambah buruk suasana hati tuannya. Dengan gerakan pelan, Alan memperbaiki posisinya seraya menatap Jimmy.
“Jimmy, apa kau menyukai wanita itu?” Jimmy tersentak kaget ketika Alan bertanya penuh kesungguhan. Iris hitam pria itu menatapnya lekat. Menanti jawaban yang akan ia berikan.
“Ya. Aku menyukainya.”
“Lalu apa artinya dia untukmu?” Jimmy tertegun ketika mendengar ucapan Alan. Tak biasanya pria itu menanyakal hal seperti itu padanya.
“Aku—”
“Lupakan saja.” Potong Alan seraya menghela napas dalam. Pikirannya buntu. Bahkan untuk menjawab pertanyaan sepele dari Bianca pun ia tak bisa. Alan akui jika ia telah mengenal banyak wanita dan tidur bersama mereka. Tanpa pernah mau merepotkan dirinya untuk memikirkan arti mereka baginya.
“Sial!” Umpat Alan. Ia akan pulang larut malam ini. Bersenang-senang bersama alkohol adalah satu-satunya cara terbaik untuk membuatnya merasa tenang.
***
Kali ini, Alan mengunjungi club malam berbeda dari yang sering di datanginya. Ia sengaja melakukannya karena sedang ingin mencari suasana baru. Pilihannya jatuh pada sebuah club kecil dengan dekorasi ruangan yang lumayan menurutnya.
Alan menyerigai kecil. Selalu saja seperti ini. Bahkan tanpa harus menyusahakn dirinya, wanita-wanita itulah yang lebih dulu mendatanginya. Menyerahkan diri mereka secara sukarela hanya karena sedikit kata-kata manis.
“Mau menemaniku?” Tanya Alan yang disambut antusias oleh wanita itu. Namun ketika wanita itu hendak menyentuhnya, Alan mengangkat sebelah tangannya sebagai sebuah penolakan. Ia masih memiliki Bianca dan membiarkan wanita lain menyentuhnya, pasti akan membuat istrinya tak suka.
“Aku Jill.” Ucap wanita itu memperkenalkan diri. Alan mengangguk tanpa minta. Ia lebih memilih menatap minuman pesanannya yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan pria.
Wanita itu—Jill, masih setia menatap Alan lekat. Malam ini, ia merasa beruntung karena mendapatkan tangkapan yang bagus. Apalagi jika pria itu bersedia tidur dengannya. Ia tak akan berpikir dua kali.
“Apa setelah ini kau—”
“Aku sudah menikah.” Sela Alan seraya melirik sekilas pada Jill. Wanita itu tersentak kaget. Dan tak lama, bibirnya kembali tersenyum senang.
“Tak masalah. Aku tak akan keberatan.”
“Tapi aku yang sama sekali tak berminat padamu.” Desis Alan dingin seraya menatap wanita itu tajam. Ia hanya ingin membasahi tenggorokannya dengan alkohol. Seraya berharap ketika pulang nanti, ia bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk Bianca.
***
Fiona masih setia menemani Jane sekalipun langit di luar sana sudah berubah gelap sedari tadi. Setelah membuatkan segelas susu hangat untuk wanita itu, Fiona tampak sabar menyuapi Jane menggunakan sendok. Ia bahkan tak sadar jika Jimmy telah memerhatikannya selama dua puluh menit lebih.
“Jane.” Panggil Fiona lembut. Ia menatap wanita itu dan kembali berdecak kagum. Jane benar-benar cantik. Awalnya, Fiona memang merasa berat dan bingung harus melakukan apa. Tapi setelah Jimmy memberitahunya apa saja yang harus ia lakukan, Fiona menganggap semuanya tak buruk. Ia hanya perlu menemani dan merawat Jane selama Jimmy bekerja.
“Apa kau lelah?” Fiona bertanya lembut. Entah sadar atau tidak, Jane mengerjapkan matanya ketika mendengar pertanyaan wanita itu.
Fiona menunduk. Ia tak sanggup menatap Jane lebih lama lagi dan melihat keadaan wanita itu. Ia selalu saja teringat akan cerita Jimmy. Pria kurang ajar yang telah membuat Jane menjadi seperti sekarang ini, memang pantas untuk mati.
__ADS_1
“Apa dia sudah tidur?” Fiona yang baru saja berniat melangkah pergi, tersentak kaget ketika mendengar suara Jimmy. Pria itu berjalan pelan untuk menghampirinya
“Ya.” Jawab Fiona singkat. Jantungnya di dalam sana mendadak berdegup kencang.
Jimmy segera menghampiri Jane dan mengelus rambut wanita itu lembut. Ia tersenyum senang. Keadaan kakaknya baik-baik saja. Dan Jimmy merasa bersyukur karena Fiona menjaga serta merawat Jane dengan tulus.
“Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Jimmy seraya menggengam tangan Fiona. Di belakangnya, Fiona hanya mampu menatap Jimmy serta tangannya secara bergantian. Kembali, jantungnya berdetak tak biasa di dalam sana. Fiona juga merasa wajahnya memanas. Padahal sebelumnya, ia merasa baik-baik saja.
“Fiona.” Panggil Jimmy lembut setelah mereka berdua telah keluar dari kamar Jane. Mata birunya menatap Fiona lekat.
“Ada apa?” Tanya Fiona seraya melirik Jimmy sekilas.
Pria itu tak menjawab. Jimmy lebih memilih menatap wajah Fiona. Wanita yang berada di hadapannya saat ini benar-benar membuatnya tak berdaya.
“Jimmy, apa yang kau lak—” Fiona segera mengangkat tangannya ke atas ketika melihat wajah Jimmy semakin mendekat padanya. Tak lama, ia merasakan bibir pria itu menyentuh telapak tangannya. Tidak! Lebih tepatnya, pria itu mengecup lembut telapak tangannya yang terangkat ke atas.
Fiona terdiam. Tubuhnya mendadak gugup. Di depannya, Jimmy justru tersenyum simpul.
“Ayo.” Ucap Jimmy seraya menarik tangan Fiona untuk melangkah bersama. Ia ingin mengantar wanita itu dan memastikan keadannya baik-baik saja.
***
Bianca yang sedang berada di kamar Alan, tersentak kaget ketika mendengar suara langkah kaki. Ia segera melirik jam dinding, pukul sebelas malam dan pria itu baru pulang. Bianca tak ingin curiga. Mungkin saja pekerjaan di kantor sedang menumpuk.
“Bianca.” Panggil Alan ketika ia baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati Bianca sedang mengambil selimut. Dengan cepat, Alan melangkah mendekati wanita itu.
“Kau mau ke mana?” Tanya Alan. Bianca masih bergeming.
Merasa tak ada jawaban, Alan segera menarik tangan Bianca.
“Lepaskan aku.” Desis Bianca.
“Bianca, sampai kapan kau mau seperti ini?” Alan tak tahu lagi ia harus mengatakan apa pada Bianca. Wanita itu masih tetap bersikeras untuk mendiaminya.
“Alan, aku sedang mal—”
Secara tiba-tiba, Alan menarik tangan Bianca dan menjatuhkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur. Tak bisa dipungkiri, ia merindukan Bianca. Pun ingin menyentuh wanita itu.
Secara tak sabaran, Alan menenggelamkan wajahnya pada leher Bianca. Menghirup aroma tubuh wanita yang sangat ia rindukan. Tak lama, Alan menghadiahi satu kecupan lama pada bahu istrinya.
“Alan!” Pekik Bianca seraya meronta.
“Aku merindukanmu.” Bisik Alan seraya mengecup daun telinga Bianca. Tapi, ketika Alan hendak menjangkau bibirnya, Bianca mencium sesuatu yang aneh dari tubuh pria itu. Dengan cepat, Bianca mendekatkan wajahnya pada tubuh Alan dan mendapati aroma parfum seorang wanita melekat kuat pada pakaian kerja pria itu.
“Apa kau tak puas setelah bersenang-senang dengan wanita lain?” Lirih Bianca seraya mencengkeram kuat sprei putih di bawahnya. Alan segera mengangkat sedikit tubuhnya untuk menatap Bianca.
“Apa maksudmu?” Tanya Alan tak mengerti.
Tanpa rasa takut, Bianca segera mendorong tubuh Alan secara kasar. Ia menatap pria itu tajam dengan bibir bergetar menahan tangis. Mereka baru bertengkar dan pria itu sudah mencari wanita lain.
“Aku hanya pergi minum sebentar.” Jawab Alan setelah tersadar akan maksud ucapan Bianca. Ia memang tak melakukan hal apa pun pada wanita bernama Jill itu. Setelah menandaskan minumannya, Alan segera melangkah pulang dari club tersebut.
“Kau pikir aku akan percaya? Aku sudah pernah sekali melihatmu bersama wanita lain tanpa peduli akan keberadaanku.” Bianca tak peduli jika Alan menganggapnya berlebihan. Wanita mana pun juga pasti akan merasa sakit ketika seorang pria yang mengaku mencintainya, justru memilih menemani wanita lain dari pada pasangannya sendiri. Ia memang tak bisa menuntut banyak. Alan hanya mengakuinya sebagai seorang kekasih, bukannya sebagai istri.
“Bianca!” Alan menggeram marah seraya menatap Bianca. Ia tak bisa lagi tinggal diam. Bianca sudah benar-benar kelewatan. Ia tak melakukan apa pun yang salah. Kejadian bersama Kate waktu itu di luar kendalinya.
“Kupikir kau sudah berubah, ternyata tidak sama sekali.” Gumam Bianca seraya melangkah pergi. Selama mereka bersama, baru kali ini ia merasa benar-benar marah. Juga merasa hubungannya dengan Alan merenggang. Serta ingin menjauh dari pria itu.
__ADS_1
“Brengsek!” Alan mengumpat marah seraya mengacak kasar rambutnya. Ia sungguh tak paham apa sebenarnya yang Bianca inginkan.