
Dihari terakhir mereka berlibur di pulau tersebut, Fiona mengajak Bianca untuk mengadakan pesta barbeque pada malam harinya yang juga mendapatkan persetujuan dari Alan, Jimmy serta Jane. Alan bahkan langsung meminta para staf pulau tersebut untuk menyiapkan seluruh peralatan dan juga bahan-bahan makanan yang diperlukan. Satu hal yang tak boleh terlupakan: sebotol wine.
“Jimmy, bisakah kau menyiapkan alat panggangannya?” Tanya Alan seraya menatap Jimmy. Saat ini, ia tengah sibuk menatap beberapa piring dan gelas di atas meja bersama Bianca. Atas permintaan dari wanita itu. Dan Alan tak berani untuk menolaknya.
“Tentu saja.” Jawab Jimmy senang. Ia mengajak Jane untuk ikut serta membantunya karena Fiona sedang sibuk menyusun beberapa potongan daging serta sayuran pada tusuk satai besi yang dipegangnnya.
Malam ini, mereka berlima terlihat begitu menikmati kegiatan yang dilakukannya masing-masing. Tak jarang, Alan mendengar Bianca bersenandung kecil dan langsung menghadiahi sebuah kecupan singkat di pipi wanita itu.
“Alan!”
“Apa? Aku hanya mencium istriku dan bukan istri orang lain.” Jawab Alan santai. Ia juga ikut tersenyum ketika melihat Bianca tertawa kecil saat mendengar ucapannya.
Tak jauh dari mereka berdua, Jimmy dan Jane juga terlihat begitu antusias menyusun arang di dalam alat panggangan yang berada di hadapan mereka. Sekalipun hari telah malam, tapi lampu-lampu kecil dengan cahaya kuning menyinari sekitar mereka dengan begitu indah. Ditambah dengan semilir angir serta deburan halus ombak laut di depan mereka semakin menambah keindahan yang ada.
“Jane, bisakah kau menyusunnya di atas alat panggangan?” Fiona menyerahkan enam tusuk satai besi yang telah terisi oleh beberapa potongan daging serta sayur pada Jane. Yang diterima wanita itu dengan senyuman lebar.
“Fiona.” Panggil Jimmy. Ia meminta Fiona untuk berdiri di sampingnya sembari tetap mengawasi Jane. Khawatir wanita itu menyentuh alat panggangan yang panas.
“Apa kau bahagia?” Tanya Jimmy lembut. Sebelah tangannya telah memeluk posesif pinggang Fiona.
“Sangat! Aku bahkan berharap bisa berada lebih lama lagi di sini.” Seru Fiona senang. Tak bisa dipungkiri, ini pertama kali dalam hidupnya ia merasakan liburan mahal serta mewah seperti sekarang. Namun di sisi lain, ia sadar jika Jimmy, Alan dan juga Bianca harus tetap bekerja. Apalagi kondisi Bianca yang tengah hamil diusia muda. Wanita itu pasti membutuhkan banyak istirahat.
“Aku berjanji, akan mengajakmu dan Jane kembali lagi ke sini.” Jimmy dengan lembut menyatukan bibir mereka berdua. Ia mencuim Fiona tanpa hasrat yang menggebu.
Fiona balas mengecup bibir Jimmy. Sesekali, mereka berdua saling mengulum bibir satu sama lain. Jimmy bahkan tanpa ragu menggigit kecil bibir bawah wanita itu.
“Aku menyuruhmu untuk memanggang.” Ucapan datar Alan tak ayal membuat Jimmy serta Fiona langsung memutuskan tautan bibir mereka. Dengan wajah yang merona malu, Fiona segera menoleh ke belakang dan mendapati Bianca telah terkekeh geli. Yang membuatnya dengan cepat menghampiri Bianca seraya meminta wanita itu untuk berhenti menertawainya.
Di tengah suara tawa di sekitarnya, Jane hanya menatap kosong langit gelap di atasnya. Dan ketika ia menoleh ke samping kiri untuk menatap Jimmy, pria itu telah lebih dulu menatapnya.
“Ada apa?” Tanya Jimmy seraya mengelus lembut rambut Jane yang terurai. Ia tersenyum senang saat mendapati Jane juga ikut merasakan kebahagiaan mereka.
__ADS_1
“Jimmy.” Jane menatap Jimmy lekat dengan sebelah tangan yang terkepal kuat. Ada begitu banyak hal yang ia ingin katakan pun tanyakan pada Jimmy. Namun lidahnya terasa kelu.
“Apa kau lelah?” Tanya Jimmy lagi.
Jane menggeleng pelan sebagai sebuah jawaban. Ia memang tak merasa lelah sama sekali. Hanya saja, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Yang anehnya, tak bisa ia jelaskan sama sekali pada Jimmy. Bukan karena Jane tak mau. Ia hanya tak tahu.
“Apa kau mencari dokter James?” Kedua mata Jane sontak membulat saat mendengar Jimmy menyebut satu nama yang sedari tadi terus dipikirkannya. Dengan cepat, Jane segera mengalihkan perhatiannya ke arah depan. Tak berani untuk menatap Jimmy.
Sejak awal, Jimmy sudah bisa melihat dan merasakan secara jelas jika ada ikatan yang perlahan terjalin di antara James serta kakaknya. Entah sejak Jane berada di bawah pengawasan James atau saat mereka berdua kembali bertemu setelah sekian lama. Jimmy juga langsung tahu jika James menatap Jane bukan sebagai seorang pasien. Tapi sebagai seorang wanita yang menarik perhatiannya.
“Aku—” Belum sempat Jane menyelesaikan ucapannya, Jimmy sudah lebih dulu menarik wanita itu ke dalam pelukannya seraya mengelus pelan rambutnya. Jimmy merasa bersyukur untuk semua perubahan besar yang sedikit demi sedikit terjadi di dalam hidupnya. Pun kondisi Jane yang semakin membaik. Namun di sisi lain, ia juga merasa takut. Bagaimana jika seandainya Jane kembali mengingat kejadian buruk yang dialaminya dulu? Bagaimana jika ternyata James hanya ingin mempermainkan saudaranya dan membuat keadaan Jane jauh lebih buruk dari sebelumnya?
“Jimmy.” Panggilan lembut Jane sontak menyadarkan Jimmy. James bukanlah pria yang seperti itu. Hanya dengan sekali lihat, ia bisa langsung tahu jika James benar-benar mencintai Jane. Setiap kali James menatap Jane, tatapan mata pria itu selalu memancarkan kelembutan serta kasih sayang yang begitu besar.
Dalam diam, Jimmy menghela napas dalam lalu dengan pelan melepaskan pelukannya pada tubuh Jane.
“Setelah pulang nanti, kau akan bertemu dengannya. Aku berjanji.” Ucap Jimmy seraya tersenyum. Di depannya, Jane mengangguk cepat dengan binar mata bahagia.
“Tuan.” Seru Jimmy seraya menatap Alan yang tengah menyeringai menatapnya. Ia yakin, jika Alan pasti masih menggodanya ketika mendapatinya tengah berciuman dengan Fiona tadi.
“Apa?” Tanya Alan bingung. Pria itu menyesap red wine miliknya penuh kenikmatan. Di sebelahnya, Bianca hanya bisa menatap dengan wajah memberengut.
“Honey.” Panggilan manja Bianca sontak membuat Alan menatapnya dengan ekspresi kaget. Baru kali ini ia mendengar Bianca memanggilnya seperti itu.
“Tidak!” Seru Alan cepat. Seakan baru tersadar jika Bianca sengaja memanggilnya seperti itu untuk membujuknya agar membiarkan wanita itu menyesap sedikit saja red wine yang diminumnya.
“Hanya sedikit.”
“Tetap tidak! Kau tengah mengandung dan tak diperbolehkan untuk meminum minuman beralkohol.” Alan kembali berujar tegas. Tak diacuhkannya Bianca yang menatapnya kesal.
“Tapi ….” Alan tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk meneguk habis wine miliknya yang tersisa setengah.
__ADS_1
Dengan lembut, ia menarik Bianca untuk jatuh ke dalam pelukannya dengan posisi memunggungi Jane, Jimmy serta Fiona.
“Alan.”
“Tapi aku tak akan keberatan jika kau mencicipinya langsung dari bibirku.”
Bianca hanya bisa membulatkan matanya tak percaya ketika Alan mengecup lembut bibirnya. Tak lama, kecupan pria itu berubah menjadi *******-******* kecil. Dan Bianca bisa dengan jelas merasakan jejak wine yang masih tertinggal di bibir pria itu.
“Aku mencintaimu.” Bisik Alan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Perlahan, Bianca mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan untuk balas mengikuti setiap pergerakan bibir pria itu. Meninggalkan Jimmy, Fiona serta Jane yang tersenyum bahagia melihat kebersamaan mereka berdua.
Tak pernah sedikitpun Jane merasa terasingkan atau pun tersisihkan melihat kebersamaan Alan dan Bianca serta Jimmy dan juga Fiona. Sungguh, yang Jane rasakan hanyalah kebahagiaan yang luar biasa karena dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai serta menyayanginya dengan tulus.
“Fiona.” Panggil Jimmy seraya menggenggam tangan Fiona.
Fiona menoleh untuk menatap Jimmy seraya tersenyum.
“I love you to the moon and back.” Ucap Fiona seraya tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. Yang juga ikut membuat Jimmy tersenyum.
Fiona mengecup bibir Jimmy dengan cukup lama. Setelahnya, ia beralih untuk memeluk erat Jane yang berdiri di sebelahnya seraya menatap birunya air kolam renang yang berada tak jauh dari mereka.
Bianca merasa bersyukur karena pilihannya untuk berlibur di pulau tersebut ternyata membuahkan hasil yang luar biasa membahagiakan. Ia juga lebih sering melihat Jimmy tersenyum pun tertawa senang. Yang selama ini, selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi sama seperti suaminya—Alan.
Dalam hati, mereka berlima berharap bisa kembali menghabiskan waktu bersama.
Dengan mengajak serta keluarga kecil mereka masing-masing.
End atau ….?
__ADS_1