
Alan yang baru berniat melajukan Audi R8 Dayton Grey miliknya menuju kantor, sontak menghentikan pergerakan tangannya ketika ponsel yang berada di saku celananya berdering. Dengan cepat, ia segera mengambilnya dan menemukan nama Jimmy tertera pada layar.
“Halo, Jimmy.” Ucap Alan setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Di sebelahnya, Bianca menatapnya dalam diam.
“Tuan, ada masalah.” Seru Jimmy cepat di seberang sana.
“Masalah? Masalah apa?” Tanya Alan dengan kening berkerut. Tak biasanya ia mendengar nada bicara Jimmy yang panik.
“Salah satu anak perusahaan ada yang terbakar.”
“Terbakar?!” Alan berucap tak percaya seraya menatap Bianca lekat. Sebelah tangannya terkepal. Selama ini, tak pernah ada sedikitpun masalah yang terjadi pada seluruh perusahaan miliknya. Alan yakin, jika kebakaran tersebut bukan sesuatu yang terjadi secara tak sengaja.
“Ya. Aku akan berangkat ke sana lebih dulu dan menunggu Tuan.” Jawab Jimmy.
“Jangan biarkan ada satupun karyawan yang pulang.” Alan berucap dingin dengan wajah datar.
“Baik.” Jawab Jimmy. Lalu segera memutuskan sambungan telfonnya dengan Alan.
“Ada apa?” Bianca yang sedari tadi menyimak dalam diam, sontak menatap Alan khawatir. Apalagi setelah mendengar pembicaraan pria itu dengan Jimmy.
“Ada masalah pada salah satu anak perusahaanku.”
“Masalah?” Pekik Bianca. Baru kali ini ia mendengar ada masalah yang terjadi pada perusahaan suaminya.
“Bianca, apa kau bisa berangkat ke kantor seorang diri?” Tanya Alan seraya menggenggam tangan Bianca. Ia harus segera menuju ke lokasi kejadian.
“Biarkan aku ikut.”
“Tidak. Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu.” Ucap Alan penuh ketegasan. Jauh lebih aman jika Bianca pergi ke kantor dari pada ikut dengannya.
“Jangan lupa untuk menghubungiku.” Ujar Bianca. Ia lebih memilih untuk mengikuti ucapan Alan dari pada bersikap egois. Ia yakin jika Alan dan Jimmy bisa menyelesaikan semuanya. Lagipula, ia juga harus segera berada di kantor untuk menggantikan Alan.
“Aku mencintaimu.” Ucap Alan lembut. Ia mendaratkan satu kecupan pada kening istrinya. Lalu berlanjut pada bibir wanita itu. Setelahnya, Bianca segera keluar dari dalam mobil dan membuat pria itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Hari ini, Bianca terpaksa mengemudi seorang diri. Ia melangkah pelan menuju mobil Porsche berwarna merah miliknya. Hadiah dari Alan untuknya. Yang menurut pria itu “hanyalah hadiah sederhana” untuk merayakan kelulusannya di bangku kuliah. Pria itu bahkan tak tahu bagaimana jantungnya berhenti berdetak sejenak di dalam sana ketika Alan memberikan kunci mobil tersebut padanya dengan santai. Tak ada beban sama sekali.
***
Alan yang baru saja tiba, segera menghampiri Jimmy yang dengan setia berdiri menunggunya di luar. Anak perusahaan sekaligus pabrik yang memproduksi alat-alat medis miliknya, tampak mengeluarkan asap hitam dari arah belakang. Bahkan dari kejauhan sekalipun, ia bisa langsung melihatnya.
“Tuan.” Sapa Jimmy seraya menunduk sekilas.
“Ayo.” Ucap Alan dengan nada tak bersahabat. Ia segera melangkah masuk dengan aura hitam yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Di sekitarnya, semua karyawan yang dikumpulkan serta dilarang pulang oleh Jimmy sudah berbaris rapi.
Alan dan Jimmy melangkah bersama menuju belakang gedung, tempat pabrik tersebut berada. Karena bagian depannya, digunakan sebagai kantor. Diikuti oleh beberapa karyawan pabrik yang sedang bertugas hari ini sekaligus berada di lokasi kejadian.
“Jimmy.” Panggil Alan. Jimmy mengangguk mengerti lalu menyuruh seorang pria berusia sedikit lebih tua dari Alan untuk maju. Sebelum Alan datang, Jimmy sudah lebih dulu bergerak dan menanyai satu per satu karyawan yang bertugas hari ini. Namun tak ada satupun yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan.
“Kau yang bertanggung jawab hari ini?” Tanya Alan seraya menatap pria bername tag—Baron itu tajam. Sang pria yang ditanyai mengangguk takut. Ia memang yang bertugas untuk mengawasi semua pekerjaan hari ini dan memastikan tak ada satupun kesalahan atau barang yang rusak.
“Ya, Tuan.” Jawab Baron dengan suara kecil. Berdiri di hadapan Alan secara langsung sontak menyiutkan nyalinya. Pria itu terlalu mengintimidasi.
__ADS_1
“Baru kali ini terjadi masalah seperti ini. Aku bahkan sangat yakin jika mesin yang kugunakan adalah mesin terbaik dan termahal. Yang sudah terjamin keunggulannya.” Ucap Alan. Ia tak pernah setengah-setengah jika menyangkut masalah pekerjaan. Semua yang digunakannya adalah barang-barang terbaik. Tak heran hasil produksi miliknya selalu berada di puncak.
“Maafkan aku, Tuan. Tapi aku benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi.” Baron semakin menundukkan kepalanya. Ia memang berkata jujur. Tadi, tak lama setelah kedatangannya, ia langsung mendengar suara dentuman yang keras. Diiringi dengan asap hitam tebal. Dan ketika ia berlari menuju pabrik, salah satu mesin yang baru dipakai selama tiga bulan, terbakar dan hancur berantakan. Beruntung tak ada korban jiwa.
“Bagaimana dengan CCTV?” Tanya Alan seraya menatap Jimmy lekat. Pria bermata biru itu menggeleng pelan seraya menghela napas dalam.
“Semua cctv telah diputus sebelum kejadian. Jadi tak ada satupun rekaman yang tersimpan.”
Perkataan Jimmy sontak membuat Alan tertawa kecil. Dugaannya benar. Semua tak terjadi secara alami.
“Sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku.” Desis Alan. Iris hitamnya kembali menatap tajam sepuluh pegawai pria berseragam putih yang berdiri tak jauh darinya, dengan kepala menunduk. Satu seringain kecil terukir di sudut bibirnya.
“Jimmy.” Panggil Alan seraya memberi isyarat pada Jimmy menggunakan ibu jarinya untuk segera mendekat. Dan tepat ketika Jimmy berdiri di dekatnya, Alan langsung membisikkan sesuatu.
“Baik, Tuan.” Ucap Jimmy seraya melangkah keluar.
Setelah kepergian Jimmy, Alan segera melangkah untuk menghampiri mesinnya yang telah rusak. Ia mengeluarkan uang yang tak sedikit hanya untuk membeli satu mesin. Dan sekarang, mesin yang baru dibelinya tersebut, sudah tergeletak tak berdaya. Dan tak bisa diperbaiki lagi.
Tak lama, Jimmy kembali bersama seorang pria yang membawa sebuah tangga lipat berukuran besar. Sementara ia sendiri membawa netbook berwarna hitam serta kabel data. Jimmy kembali menatap Alan sekilas. Dan mendapati pria itu mengangguk mantap dengan santainya.
“Kukatakan sekali lagi, setelah ini, tak akan ada lagi yang bisa lolos dariku.” Ucap Alan santai namun sarat akan ancaman.
Ia segera mengalihkan perhatiannya pada Jimmy yang saat ini tengah menaiki tangga lipat tersebut untuk menggapai tembok bagian atas pintu geser pabriknya dari arah dalam. Jimmy terlihat sedang berusaha mengambil sesuatu. Beberapa menit kemudian, ia segera turun dari atas tangga dengan tangan yang terkepal.
“Tuan.” Ucap Jimmy setelah berada di hadapan Alan. Tangannya yang tadi terkepal, sontak terbuka seraya menyerahkan sesuatu pada Alan.
“Kalian mencari orang yang salah untuk diajak bermain.” Desis Alan. Ia segera mengangkat sebelah tangannya sembari tersenyum puas. Sebuah benda yang mirip seperti sekrup, berada di dalam genggamannya.
Alan menyeringai puas setelah menyelesaikan ucapannya. Ia tak menyesal telah mengeluarkan uang yang cukup banyak hanya untuk membeli satu buah cctv tersebut. Tanpa membutuhkan kabel ataupun sambungan wifi, karena cctv berbentuk sekrup itu sudah dilengkapi dengan micro sd berkapasitas besar dan dapat disambungkan pada laptop.
Tak ada yang tahu, bahkan Jimmy. Hanya Alan dan Franz karena pria itulah yang merancang bangunan pabrik miliknya. Setelah melubangi tembok sedikit, Alan menyuruh Franz untuk meletakkan cctv tersebut terlebih dulu di dalam sebuah pipa kecil agar tak rusak ketika ditanam di dalam tembok. Karena bagian ujungnya yang berwarna putih atau lebih ke silver, sama seperti cat tembok pabrik tersebut, maka tak ada satupun yang curiga.
Di satu sisi, di antara teman-temannya yang lain, tampak seorang pria berdiri dengan tubuh bergetar. Wajahnya pucat. Pun peluh yang terus menetes dari keningnya. Rasa takut yang begitu besar menyelimuti tubuhnya.
“Tuan.” Alan segera berbalik untuk menatap layar netbook yang terletak di atas sebuah meja kecil di dalam pabrik tersebut. Punggungnya ikut menutupi layar tersebut sehingga tak ada satu orangpun yang bisa melihatnya kecuali ia dan Jimmy.
“Apa aku harus menyertemu?!” Alan berdesis tajam seraya mengatupkan rahangnya kuat. Kedua tangannya terkepal. Ia memang mengalami kerugian yang cukup besar. Tapi mendapatkan pengkhianatan dari orang yang bekerja dengannya, adalah hal yang paling tidak bisa diterimanya.
Tak lama, seorang pria yang seumuran dengan Jimmy melangkah ke depan—keluar dari barisan di antara teman-temannya. Tangannya terkatup di depan dada.
“Mr. Drax.” Lirih pria itu dengan suara tercekat. Secara tiba-tiba, ia duduk bersimpuh di depan Alan seraya memegangi kaki pria itu. Hingga membuat seluruh rekannya yang berada di situ, menatap kaget padanya.
“Maafkan aku.”
“Edric Jones. Bukankah kau baru bekerja di sini selama enam bulan?” Tanya Alan seraya menatap tanpa minat Edric yang tengah bersimpuh di kakinya. Ia tengah berusaha keras untuk menahan dirinya agar tak memukul pria itu.
“Maafkan aku. Ak—aku terpaksa melakukannya.” Jawab Edric takut.
“Siapa yang menyuruhmu?” Pertanyaan Alan barusan sontak membuat Edric mendongak untuk menatapnya. Terlihat jelas jika pria itu kaget setelah mendengar ucapannya. Alan bukan orang bodoh. Kalau sampai ada pegawainya yang dengan berani berkhianat ataupun membuat masalah, sudah bisa dipastikan jika ada orang lain di belakangnya.
“Wi–Wilson. Wilson Benjamin yang menyuruhku.” Ekspresi wajah Alan sontak berubah dingin. Setelah menghilang dengan cukup lama dan tak pernah lagi datang untuk menemuinya, pria tua itu ternyata sedang menyusun rencana untuk menjatuhkannya. Tapi Wilson salah. Seberapa besar pun usaha pria tua itu, ia akan tetap berdiri tegak. Dan terus berada di puncak.
__ADS_1
“Berapa banyak uang yang dia berikan padamu?” Tanya Alan lagi. Masih terdengar begitu santai.
“Dia–dia mengatakan padaku jika akan memberikan sedikit saham di perusahaannya.
Jawaban Edric barusan sontak membuat Alan tergelak tak percaya. Wilson benar-benar sudah tak waras rupanya.
“Biar kuberitahu padamu, bahkan dengan menjual seluruh sahamnya pun, Wilson tak akan mampu membeli satu anak perusahaanku.” Alan berucap penuh keyakinan seraya menatap Edric tajam. Tak ada sedikitpun belas kasih dalam tatapannya. Yang ada hanyalah aura membunuh serta hasrat untuk menghancurkan siapapun yang dengan berani mengusiknya.
“Mr. Drax, kumohon–kumohon maafkan aku. Aku–aku terpaksa melakukannya karena Wilson menawarkan—”
“Jimmy!”
“Ya, Tuan.”
“Aku ingin kau yang mengurus semuanya. Dan pastikan dia membusuk di dalam penjara.” Ucap Alan dingin seraya melangkah pergi dengan masih menyisakan rasa takut pada seluruh pegawainya. Setelah ini, ia akan memberikan Wilson hadiah terindah atas apa yang telah pria tua itu lakukan padanya.
“Tuan, tidak—tidak!” Edric berucap memohon seraya mencoba untuk mengejar Alan. Tapi Jimmy sudah lebih dulu menahannya.
Edric dan Wilson bertemu secara tak sengaja di salah satu bar. Dan ketika pria itu tahu ia bekerja pada Alan, Wilson dengan cepat mendekatinya seraya menghasut Edric dengan memberikan iming-iming saham di perusahaannya.
Awalnya, Edric menolak karena merasa upah yang diterimanya sudah lebih dari cukup. Bahkan berada di atas rata-rata gaji pegawai pabrik di tempat yang lainnya. Namun karena Wilson terus menghasutnya dan berkata padanya jika ia juga akan menjadi seorang pengusaha sukses seperti Alan, Edric jadi gelap mata. Dan hasilnya, ia justru harus mendekam di dalam penjara.
***
Menjelang makan siang, Alan baru tiba di kantornya. Dengan cepat, ia melangkah menuju ruangannya setelah lebih dulu membeli makan siang untuknya dan Bianca.
“Bianca.” Panggil Alan ketika ia baru saja membuka pintu ruangannya. Kosong. Tak ada siapapun. Seraya tersenyum simpul, Alan melangkah menuju pintu rahasia yang berada di dalamnya.
Ketika pintu rahasia itu terbuka, iris hitamnya langsung mendapati Bianca yang sedang berada di atas tempat tidur.
“Sayang.” Bisik Alan. Ia segera mendudukkan dirinya di dekat Bianca. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus lembut pipi wanita itu. Istrinya tengah tertidur lelap. Tak biasanya Bianca tertidur di sela-sela kerjanya. Apalagi wajah istrinya terlihat begitu kelelahan.
Bianca yang merasakan kecupan lembut di keningnya, segera membuka mata secara perlahan dan menemukan Alan tengah menatapnya sembari tersenyum.
“Alan.” Panggil Bianca dengan suara parau. Perlahan, ia bangkit untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
Dengan sigap, Alan menyodorkan sebotol air mineral pada wanita itu.
“Kau lapar?” Tanya Alan. Dan Bianca menggeleng pelan sebagai sebuah jawaban.
“Aku hanya merasa sedikit lelah.” Jawab Bianca jujur. Tadi, ketika sedang sibuk memeriksa kotak masuk pada e-mail Alan, ia tiba-tiba saja merasa tak enak badan dan juga pusing. Jadi Bianca memutuskan untuk beristirahat sejenak.
“Bagaimana dengan pabrikmu?” Tanya Bianca saat baru teringat akan pembicaraan Jimmy dan Alan tadi pagi.
“Hanya ada satu tikus kecil. Tapi aku dan Jimmy sudah mengurus semuanya.” Jawaban Alan barusan sontak membuat Bianca menatapnya tak mengerti. Tikus? Ia benar-benar tak paham maksud ucapan pria itu.
Melihat tatapan tak mengerti istrinya, Alan dengan cepat mengecup lama bibir wanita itu. Ia merindukan Bianca. Selalu. Dan Alan baru tahu jika dia bisa menjadi segila ini hanya karena baru mengenal cinta.
Sembari tersenyum, Bianca dengan cepat menangkup kedua pipi Alan lalu menarik pria itu untuk kembali mendekat padanya. Satu kecupan penuh sayang ia daratkan pada pipi pria itu. Tak lama, Bianca mengulum dengan sempurna kedua bibir Alan.
Keduanya kembali larut akan sentuhan penuh cinta.
__ADS_1