
Melihat Alex dan Beatrice telah menginjak usia satu tahun, Alan semakin gencar memanjakan kedua buah hatinya itu. Setiap harinya, seusai bekerja, ia pasti akan selalu membawa pulang berbagai macam mainan atau pun baju-baju lucu.
“Alan, kau membeli mainan lagi?” Bianca hanya bisa menatap tak percaya suaminya. Tepat setelah pria itu masuk ke dalam ruangan bermain yang memang secara khusus diperuntukkan untuk Alex dan Beatrice, ia mendapati kedua tangan suaminya telah dipenuhi oleh beberapa kantong belanjaan.
“Sayang.” Alan tersenyum simpul menatap wanita yang dicintainya. Dengan harapan, Bianca tak memarahinya.
“Kau terlalu memanjakan mereka berdua.” Ucap Bianca seraya menghela napas dalam. Tak peduli sesering apa pun ia mengingatkan Alan, pria itu pasti selalu saja lupa. Bianca bukannya tak senang suaminya membawa pulang sesuatu untuk anak mereka. Hanya saja, ia bingung harus menyimpannya di mana lagi.
“Alex, Beatrice, lihat. Mommy kalian memarahiku.” Alan segera menghampiri Alex dan Beatrice yang sedang asyik bermain bersama. Dengan tak sabaran, Alan mengecup pipi mereka berdua secara bergantian. Bahkan sampai membuat putri kecilnya tertawa geli.
Bianca yang melihat tawa serta kebersamaan keluarga kecilnya, tak mampu menahan senyum bahagianya. Ia tak membutuhkan apa pun lagi. Tuhan telah memberikan semuanya. Termasuk kebahagiaan yang mereka rasakan.
“Alan.” Panggil Bianca seraya meminta Alan untuk mendekat. Menghampirinya yang sedang men-sterilkan mainan-mainan baru anak kembarnya.
“Kau merindukanku?” Goda Alan seraya tertawa kecil. Ia memeluk Bianca dari arah belakang seraya mengecup sekilas rambut hitam wanita itu.
“Ya.” Jawab Bianca jujur. Lalu menoleh sebentar ke belakang untuk mengecup sekilas bibir Alan. Yang langsung mendapatkan gigitan kecil pada bahunya sebagai balasannya.
“Bianca.” Bisik Alan. Ia dengan pelan memutar tubuh Bianca agar berbalik menghadap padanya. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus lembut pipi wanita itu.
Seraya memejamkan mata, Alan mengikis jarak di antara mereka berdua. Bibirnya secara sempurna bertemu dengan bibir Bianca. Tanpa hasrat yang menggebu, Alan memberikan *******-******* kecil lalu mengulum sedikit kuat bibir bawah wanitanya.
Bianca dengan cepat mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan sembari semakin merapatkan tubuh mereka.
Namun, Alan yang baru ingin memainkan lidahnya di dalam mulut Bianca, segera dihentikan oleh suara tangisan Alex.
“Alex!” Setelah melepaskan tautan bibirnya bersama Bianca, Alan segera menghampiri Alex. Menggendongnya dengan penuh kasih sayang seraya kembali mengecup gemas kedua pipinya. Anehnya, tangisan bayi itu langsung terhenti. Seakan memang dengan sengaja ingin mengganggu kemesraan ayah dan ibunya.
“Alex, Beatrice, waktunya tidur.” Ucap Bianca lembut. Sekalipun jam baru menunjukkan pukul delapan malam, Bianca selalu berusaha mendisiplinkan kedua malaikat kecilnya. Alex dan Beatrice memang tak langsung tertidur begitu saja. Tapi setidaknya, mereka berdua sudah mulai membiasakan diri sedari dini.
Selagi Alex berada di dalam gendongan Alan, Bianca segera menyusui putri kecilnya. Sampai detik ini, Bianca dengan sengaja tak memakai bantuan susu formula. Karena ia ingin tetap memberikan ASI eksklusif pada kedua buah hatinya .
“Bianca.”
__ADS_1
Bianca segera menatap Alan dan mendapati Alex telah tertidur lelap di dalam dekapan hangat ayahnya. Selalu seperti itu. Berbeda dengan Beatrice yang harus meminum ASI darinya terlebih dulu sebelum tertidur, Alex justru sebaliknya. Anak laki-lakinya itu hanya akan tertidur ketika Alan yang menggendongnya. Bahkan tak menangis atau pun terbangun sampai pagi menjelang.
***
Setelah memastikan Alex dan Beatrice benar-benar tertidur lelap, Alan segera mengajak Bianca mandi bersama. Berendam air hangat di dalam jacuzzi pasti mampu membuat tubuh mereka berdua menjadi lebih rileks lagi.
“Sayang.” Panggil Alan seraya melingkarkan sebelah tangannya pada perut Bianca. Lalu mengecup lama punggung wanita itu dengan mata terpejam.
“Hm.” Bianca menyandarkan tubuhnya secara nyaman pada Alan. Bersyukur karena Alex dan Beatrice tak rewel saat malam jadi mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
“I miss you.” Bisik alan. Pria itu menggigit kecil telinga Bianca seraya memainkan jemarinya pada perut wanita itu.
Mengelusnya lembut sembari membuat gerakan melingkar di sekitar pusar Bianca.
“Haha.” Tawa Bianca. Merasa geli akan ulah suaminya.
“Alan.” Bianca memejamkan matanya secara perlahan saat merasakan bibir pria itu bermain pada lehernya. Mengecup, mengulum atau menggigitnya.
Merasakan sentuhan intens Alan pada kulitnya benar-benar membuat Bianca merasakan kenikmatan yang memabukkan. Sudah dua hari Alan pulang terlambat. Disaat ia dan kedua buah hati mereka telah tertidur.
“I want you.” Bisik Alan.
Bianca segera berbalik menghadap Alan. Memposisikan tubuhnya di atas tubuh pria itu seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan.
“I Love you.” Bianca mengecup bibir Alan dengan tak sabaran. ******* secara bergantian bibir pria itu lalu bermain-main pada lidahnya.
Di sisi lain, Alan secara perlahan menyatukan tubuh mereka berdua di bawah sana. Dan membuat sengatan penuh candu itu kembali mengaliri tubuh mereka masing-masing.
“Alan....”
Desahan penuh kenikmatan meluncur dari bibir mereka. Apalagi saat mendengar suara air beradu dengan suara tautan tubuh mereka di bawah sana.
***
__ADS_1
Jimmy tersenyum senang menatap istrinya. Wanita itu baru saja menghabiskan segelas penuh susu hamil yang ia buatkan. Memasuki usia kandungan tujuh bulan, Jimmy merasa jika Fiona semakin bertambah cantik. Sekalipun tubuh wanita itu mulai sedikit berubah.
“Jimmy.” Fiona menepuk-nepuk kecil sisi kiri tempat tidur mereka. Meminta Jimmy untuk segera mendekat.
Jimmy menurut. Setelah berada di dekat wanita itu, ia segera melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Fiona. Memeluknya dari samping.
“Apa kau merasa lelah?” Tanya Jimmy. Ia mengecup sekilas kening Fiona yang tengah bersandar padanya.
“Sedikit.” Jawab Fiona jujur. Ia memang merasa jauh lebih lelah dari sebelumnya.
“Aku bisa menyewa asisten rumah tangga kalau kau mau.”
“Tidak. Aku masih bisa melakukannya. Ada Jane yang juga membantuku.”
“Apa kau yakin bisa menghadiri pernikahan Jane nanti?”
“Tentu saja!” Seru Fiona penuh semangat.
Pernikahan Jane dan James akan dilangsungkan satu bulan lagi. Mengikuti jadwal kerja James yang sedang padat-padatnya karena pria itu beberapa kali mendapatkan tugas di tempat lain yang jaraknya lumayan jauh. Beruntung Jane selalu bisa mengerti keadaan pria itu.
Jimmy mengangguk mengerti setelah mendengar jawaban istrinya. Sejujurnya, ia merasa cemas. Takut terjadi sesuatu pada Fiona karena wanita itu masih mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
“Jimmy....”
Jimmy tersenyum simpul mendengar panggilan manja istrinya. Fiona akan selalu melakukannya setiap kali wanita itu menginginkan ciuman darinya.
“Kau bisa langsung melakukannya.” Goda Jimmy seraya tertawa kecil.
“Aku—” Belum sempat Fiona menyelesaikan ucapannya, Jimmy sudah lebih dulu mengecup bibirnya. ********** lembut seraya membaringkan tubuhnya secara perlahan di atas tempat tidur.
“Aku mencintaimu.” Ucap Fiona tulus. Yang langsung mendapatkan balasan berupa kecupan sayang pada keningnya.
Setelah yakin Fiona telah mendapatkan posisi tidur yang nyaman, Jimmy segera menutupi tubuh mereka berdua menggunakan selimut sampai sebatas dada.
__ADS_1
Tak lupa dengan tetap berpelukan.