Married With The Devil

Married With The Devil
Pesta Dansa


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, Bianca segera berlari menju kelas Fisika untuk bertemu Lily. Tadi pagi, Lily mengiriminya pesan singkat untuk memberitahu Bianca jika dirinya baik-baik saja dan memutuskan masuk sekolah hari ini.


“Lily”! Teriak Bianca. Tak jauh darinya, ia menemukan Lily tengah memegang sebuah buku tulis seraya menatapnya dengan senyuman lembut.


“Apa kau baik-baik saja?” Bianca bertanya tanpa peduli keadaan sekitarnya. Teriakannya tadi sukses membuat seisi kelas menatapnya aneh.


“Ya.” Jawab Lily singkat.


“Sungguh?” Tanya Bianca lagi—masih tak percaya.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih karena telah menolongku.” Bianca sontak memeluk tubuh Lily erat. Ia mengangguk cepat sebagai sebuah jawaban.


Tanpa Bianca sadari, Lily tersenyum lucu di dalam dekapannya. Saat ini, di mata Lily, Bianca terlihat jauh lebih cerewet dibanding ibunya sendiri. Sahabatnya itu bahkan tak henti-hentinya menelfon hanya untuk sekadar menanyakan keadaannya.


“Pulang nanti, aku akan mengantarmu.” Ucap Bianca tegas.


“Tapi—”


“Dan aku tak menerima penolakan. Dengan alasan apa pun!” Bianca berucap serius seraya berkacak pinggang. Wajahnya menunjukkan ekspresi galak yang dibuat-buat.


Lily tertawa kecil. Lalu mengangguk pelan.


***


Setelah mengantar Lily pulang, Bianca baru tiba di rumah ketika jam menujukkan pukul lima sore lewat tiga puluh dua menit. Selain karena mendapatkan pelajaran tambahan, jalan yang macet juga membuatnya sampai cukup lama. Sementara Alan sudah sedari tadi terus menghubunginya.


“Al—” Bianca tak melanjutkan ucapannya ketika ia baru saja masuk dan mendapati dua wanita dewasa tengah berada di ruang tamu. Pakaian yang mereka kenakan juga terbilang seksi.


Menyebalkan!


Setelah menyapa mereka, Bianca segera melesat menuju lantai dua lalu masuk ke dalam kamar. Ia menemukan Alan tengah sibuk berbicara melalui telfon entah dengan siapa.


“Aku sudah menunggumu sedari tadi.” Ucap Alan setelah sambungan telfonnya terputus. Satu kecupan singkat ia daratkan di bibir Bianca.


“Siapa mereka?” Tanya Bianca ketus.


“Sia—Ah! Wanita yang di bawah itu?” Alan tersenyum kecil ketika mendapati wajah memberengut istrinya.


“Aku tak masalah jika kau membawa wanita lain. Tapi setidaknya, beritahu aku dulu. Jadi aku bisa berlama-lama di luar.” Bianca berujar dengan nada tak bersahabat. Ia jengkel pada Alan ketika pria itu membawa wanita lain. Padahal Bianca tahu jika Alan adalah sang pemilik rumah yang punya hak penuh untuk mengajak siapa pun.


“Kau cemburu?” Tanya Alan senang. Wajahnya menatap Bianca penuh harap.


“Bermimpi saja.” Jawab Bianca kesal. Tanpa menatap Alan, ia melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti.


Alan tersenyum simpul seraya menghampiri Bianca dan memeluk wanita itu dari arah belakang. Dagunya ia sandarkan di atas kepala Bianca.


“Lepaskan aku. Kau bisa pergi menemui wanita-wanita itu.” Bianca tanpa sadar menutup lemari pakaian dengan keras. Ia juga memberontak supaya Alan melepaskannya. Ia ingin segera mandi.


Alan tak menjawab. Perlahan, ia menyampirkan seluruh rambut Bianca ke arah kanan. Kepalanya menunduk untuk mengecup leher wanita itu beberapa kali.


“Alan!”

__ADS_1


“Percayalah, saat ini, hanya kau yang kuanggap sebagai seorang wanita.” Alan berujar penuh kesungguhan. Ia segera membalik tubuh Bianca untuk menatapnya.


“Lalu yang di bawah itu kau anggap apa? Boneka?” Seru Bianca.


“Aku sengaja memanggil mereka untuk mendandanimu.” Jawab Alan seraya mengecup bibir Bianca gemas.


“Untuk apa?”


“Kita akan ke pesta dansa. Pukul tujuh nanti.”


“Apa?!” Bianca berteriak kecil ketika mendengar ucapan Alan. Pria itu baru memberitahunya ketika jam hampir menunjukkan pukul enam. Ia belum mandi, keramas dan juga bersiap-siap.


Alan segera menahan pergelangan tangan Bianca ketika wanita itu ingin beranjak pergi. Matanya menatap Bianca tajam.


“Kau mau ke mana?” Tanya Alan.


“Mandi. Kita hanya punya waktu satu jam.” Bianca berucap frustasi seraya menatap Alan tak percaya. Pria itu masih saja terlihat santai. Padahal Bianca yakin jika pesta dansa yang akan mereka hadiri bukan lah pesta dansa biasa.


“Tak ada masalah.” Ucap Alan tak acuh. Secara tiba-tiba, ia menarik pinggul Bianca untuk mendekat padanya. Bibirnya menyeringai nakal.


“Alan.”


Alan mengabaikan ucapan Bianca dan lebih memilih untuk mengulum bibir ranum wanita itu. Sungguh, ia sangat merindukan Bianca.


“Bianca.” Bisik Alan. Setelah mengecup daun telinga Bianca, ia kembali memenjara bibir wanita itu. Seakan belum merasa puas.


Bianca yang sadar jika mereka tak lagi punya banyak waktu, segera menangkup kedua pipi Alan. Ia juga mencium Alan dengan cukup lama.


“Kita lanjutkan lagi nanti, oke.” Ucap Bianca seraya berlari kecil menuju kamar mandi. Meninggalkan Alan seorang diri yang tengah menatapnya tak percaya.


***


Alan tak mengatakan apa pun. Ia justru tersenyum kecil melihat tingkah wanitanya. Setelah dipikir-pikir lagi, Alan merasa jika akhir-akhir ini ia lebih banyak tersenyum atau tertawa. Padahal dulu, ia sama seperti Jimmy: selalu memasang wajah datar tanpa ekspresi.


“Tuan putri.” Goda Alan seraya memberi isyarat pada Bianca untuk memeluk lengannya. Malam ini, Bianca tampil cantik dengan mengenakan royal dress berwarna biru navy bermodel sabrina. Alan memang dengan sengaja menyuruh Bianca agar tak memakai gaun yang cukup terbuka. Ia tak ingin jika wanitanya menjadi pusat perhatian lelaki hidung belang.


“Alan.” Panggil Bianca dengan suara pelan. Mendadak, ia merasa gugup.


“Tak usah pedulikan yang lain. Cukup fokus padaku saja.” Bisik Alan. Sebelah matanya mengedip menggoda dan sukses membuat Bianca menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.


Seraya menghela napas pelan, Bianca mencoba menuruti perkataan Alan tadi. Tanpa menatap sekelilingnya dan fokus untuk menatap ke depan, Bianca bisa merasa sedikit lega. Ia harus bersikap santai sehingga tidak mempermalukan Alan nanti.


Ya Tuhan, ini pertama kalinya untukku.


Semua usaha dan keyakinan Bianca yang baru saja tumbuh, langsung pupus ketika ia baru saja memasuki aula besar tersebut. Apalagi saat ia dan Alan berjalan di atas karpet merah, semua mata langsung menatap mereka—bukan padanya, lebih tepatnya pada Alan. Ia juga mendengar beberapa wanita yang berdiri tak jauh darinya tengah berbisik heboh.


“Lihat, Mr. Drax bersama seorang wanita.”


“Apa itu kekasihnya?”


“Bukankah selama ini pria itu selalu datang bersama asistennya?”

__ADS_1


“Mungkin saja wanita itu adalah wanita sewaan.”


Seperti itulah kira-kira ucapan yang mampu ditangkap oleh indra pendengaran Bianca. Dan kalimat yang terakhir kali diucapkan oleh wanita-wanita penggosip tersebut membuatnya merasa jengkel. Ia tahu jika Alan adalah pria yang luar biasa tampan dan juga kaya. Pria itu juga ibarat magnet yang mampu menjerat benda apa pun.


“Alan.” Bianca segera menatap asal suara ketika mendengar seseorang memanggil nama suaminya. Tak jauh darinya, ia melihat seorang pria berkulit putih, memakai tuxedo hitam, tengah melangkah untuk menghampiri Alan dan juga dirinya. Dengan pelan, Bianca melepaskan pelukannya pada lengan Alan.


“Mark.” Sapa Alan seraya menepuk bahu pria yang memanggilnya tadi. Keduanya tersenyum hangat. Selagi Alan tengah sibuk bercengkrama dengan temannya, Bianca memilih untuk melangkah menuju sebuah meja kecil berbentuk bundar, tempat minuman berbagai warna tersusun rapi. Bahkan dibuat bertingkat.


Ini memang kali pertama Bianca menghadiri pesta dansa yang begitu mewah. Tapi ia sudah bertekat untuk bersikap elegan. Sebelum memutuskan untuk mengambil segelas minuman, Bianca memandang sekitarnya, memastikan jika sudah ada orang lain yang makan atau pun minum terlebih dahulu.


Bianca menatap Alan sekilas seraya meneguk minuman berwarna merah yang baru saja diambilnya. Kedua matanya kembali fokus mengamati sekeliling. Sadar jika wanita yang menghadiri pesta dansa tersebut lebih didominasi yang berumur dewasa atau pun paruh baya.


“Sejauh ini, semuanya baik-baik saja.” Lirih Bianca. Ia tersenyum simpul dan kembali meletakkan gelas yang dipegangnya di atas meja setelah menandaskan setengah isinya. Ia memang tak mengenal siapa pun. Seandainya saja Jimmy bersedia untuk ikut, ia pasti akan mengajak pria itu mengobrol bersama ketika Alan sedang sibuk bersama teman-teman bisnisnya. Sayangnya, Jimmy menolak dengan alasan sedang tak enak badan. Padahal Bianca sangat yakin jika pria itu sengaja menghindar agar tak menjadi sasaran empuk wanita-wanita hidung belang.


Bianca yang baru saja berniat untuk kembali berada di sisi Alan, sontak menghentikan langkahnya dengan mata membulat. Di hadapannya—tepat di depan kedua matanya sendiri, ia melihat seorang wanita yang memakai gaun panjang berwarna hitam, dengan lancang menyentuh bahu Alan lalu berpindah ke dada sebelah kirinya. Sengaja mengelusnya dengan gerakan menggoda.


“Tsk!” Decak Bianca jengkel. Dengan cepat, ia menunduk sembari mencoba menormalkan deru napasnya. Ia tak ingin terlihat kesal atau pun marah di depan banyak orang.


“Bianca.” Bianca tersentak kaget seraya mendongak dan mendapati Alan tengah menatapnya lekat. Pria itu juga tersenyum lembut padanya.


Tanpa menunggu lama, Alan segera menghampir Bianca. Dan ketika ia tepat berada di hadapan wanita itu, Alan segera mengulurkan tangannya yang langsung disambut tanpa ragu oleh Bianca. Mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian. Termasuk wanita yang dengan lancang menyentuh Alan.


“Siapa?” Tanya Mark seraya menatap Alan. Tak lama, ia segera mengalihkan pandangannya pada Bianca dan tersenyum manis pada wanita itu.


“Bianca, perkenalkan, dia Mark. Salah satu teman bisnisku.” Ucap Alan memperkenalkan mereka berdua.


“Mark Anderson.” Ujar Mark seraya mengulurkan tangannya—memperkenalkan diri.


“Bianca Rosaline.” Jawab Bianca seraya menyambut uluran tangan Mark.


“Mark yang mengadakan pesta dansa ini.” Seru Alan seraya menarik tangan Bianca yang masih dipegang oleh Mark. Ia tak suka jika miliknya disentuh oleh orang lain. Tapi berhubung Mark adalah salah satu kawan lamanya, jadi dengan terpaksa, ia membiarkannya.


“Siapa dia?” Wanita yang tadi menyentuh Alan sontak bertanya ketika merasa diabaikan. Ia segera berdiri di sebelah Mark agar bisa lebih leluasa menatap Alan dan juga Bianca.


Bukannya menjawab, Alan justru menatap Bianca dengan tatapan ragu. Bianca yang tak mengerti hanya bisa mengerutkan keningnya. Namun tak lama kemudian, ia menyadari sesuatu yang aneh. Bianca merasa jika saat ini Alan menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Hanya satu hal yang terlintas di benaknya: wanita itu adalah salah satu dari teman tidurnya.


Menyebalkan!


Bianca yang merasa kesal, segera memalingkan wajahnya dan lebih memilih untuk menatap Mark. Ia juga menarik paksa tangannya yang masih digenggam oleh pria itu. Seandainya saja ia tahu akan berakhir seperti ini, Bianca lebih memilih untuk mendekam di dalam kamar bersama semangkuk besar es krim.


Alan yang tak ingin membuat Bianca salah paham, kembali menggenggam erat tangan wanita itu seraya mengecupnya singkat. Ia juga meletakkan sebelah tangannya pada pinggul Bianca dan menarik tubuh wanita itu agar semakin mendekat padanya.


“Kekasihku.” Alan dengan sengaja berucap lantang untuk membuat seluruh tamu undangan yang berada di ruangan tersebut mendegarnya. Ia sudah memutuskan untuk memperkenalkan Bianca pada seluruh rekan bisnisnya. Walau pada kenyataannya, ia belum bisa mengumumkan perihal status hubungan mereka yang sebenarnya.


“Wow.” Mark hanya bisa berdecak kagum ketika ia tak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar pernyataan Alan.


“Apa kau tak salah?” Wanita yang tadi bertanya, memekik tak percaya seraya menatap Alan bingung.


“Rebecca.” Desis Alan seraya menatap wanita tadi yang ternyata bernama Rebecca.


Bianca masih belum mengatakan apa pun. Ia justru menatap Rebecca datar dari atas sampai bawah tanpa minat. Menurutnya, jauh lebih baik jika wanita itu memakai bikini saja dari pada harus memakai gaun panjang transparan.

__ADS_1


Merasa diperhatikan, Rebecca balas menatap Bianca tajam. Aura permusuhan terpancar jelas dari dirinya.


Bianca tersenyum simpul. Kali ini, ia tidak akan tinggal diam.


__ADS_2