
Hari ini, Alan memutuskan untuk tak masuk kerja. Biasanya, setiap hari sabtu, ia akan tetap datang ke kantor untuk memeriksa beberapa berkas atau pun e-mail dari clientnya. Namun, berhubung Bianca sedang libur, ia ingin mengajak wanita itu berbicara baik-baik. Agar masalah mereka berdua tidak semakin membesar.
“Bianca.” Panggil Alan ketika melihat Bianca baru saja turun dari lantai dua untuk mandi dan mengganti baju. Sedangkan ia sendiri baru saja menyelesaikan sarapannya. Di pukul sepuluh pagi.
“Hm.” Jawab Bianca tak acuh. Hatinya masih menolak untuk berbicara pada pria itu.
“Kemarilah.” Panggil Alan seraya melangkah menuju ruang tengah. Mereka hanya berdua saja. Ia memang telah menyuruh Sofie datang pagi-pagi sekali untuk menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang.
Dengan enggan, Bianca mengikuti pria itu. Dan memilih duduk jauh dari Alan.
“Jujur saja, aku merasa bingung dengan semua ini.” Ucap Alan seraya menatap Bianca intens. Sudah sejak semalam ia memikirkannya dan selalu saja menemui jalan buntu. Ditambah Bianca yang juga masih memilih tidur di sofa dan bukan di kamar.
“Jika kau merasa tak ada masalah, maka anggap saja seperti itu.” Jawab Bianca santai. Ia sadar betul jika di antara mereka berdua masih terdapat begitu banyak perbedaan. Bianca akui, ia tak memiliki banyak pengalaman jika menyangkut lawan jenis. Namun, ketika dulu memiliki seorang kekasih, ia selalu menjadi pihak yang mengalah dan juga mengerti. Sesakit atau seburuk apa pun yang kekasihnya lakukan waktu itu, tetap saja ia yang salah.
Dan sekarang, terulang kembali di Alan. Bianca bukannya menyamakan mereka berdua. Tidak sama sekali. Alan memang memanjakannya. Melimpahkan barang-barang mewah dengan harga fantastis padanya. Tapi sebagai seorang wanita, apalagi diumurnya yang masih muda dan telah berstatus sebagai istri pria itu, Bianca ingin Alan lebih memahami dirinya. Lebih tahu tentangnya. Bahkan tanpa harus ia katakan sekalipun.
“Hah! Aku menyerah. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa.” Alan berujar putus asa seraya mengelus wajahnya sekali. Lalu menatap istrinya lekat.
“Bukankah kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu?”
“Pertanyaan apa?” Bianca sontak tersenyum miris ketika mendengar ucapan pria itu. Baru dua hari berlalu dan pria itu sudah melupakannya. Dengan cepat, Bianca bangkit dari duduknya tanpa mau menatap Alan.
“Kau mau ke mana? Bukankah kita belum selesai berbicara?” Tanya Alan seraya mencegat Bianca untuk pergi. Tangannya memegang lengan wanita itu kuat.
Setelah menghela napas dalam, Bianca kembali berbalik untuk menatap Alan lekat dalam jarak yang cukup dekat. Iris coklatnya menatap setiap inci dari wajah pria itu. Dari lubuk hatinya, Bianca mengakui dengan penuh kesungguhan jika ia mencintai Alan. Bukan karena kekayaan atau pun pemberian pria itu. Bianca merasa tenang dan juga nyaman setiap kali berada di sisi pria itu. Dan ketika Alan memperlakukannya dengan begitu lembut, Bianca selalu merasa menjadi wanita paling beruntung. Di antara sekian banyak wanita yang pria itu kenal, Alan memilihnya dan Bianca merasa senang karenanya. Hanya saja, ia membutuhkan sesuatu yang lebih. Terutama dari ucapan serta tindakan pria itu padanya.
__ADS_1
“Kukatakan sekali lagi, aku dan Kate tidak punya hubungan apa-apa. Tidur bersama pun juga tidak pernah. Lalu apa lagi? Atau kau ingin melihatku bersamanya baru merasa puas?” Tak sampai satu menit, Alan langsung menyesali setiap kata yang baru saja ia ucapkan. Di depannya, Bianca menatap kaget dengan pandangan terluka.
“Bianca, maaf—” Alan yang berniat untuk merengkuh tubuh wanitanya, sontak terdiam ketika Bianca menolak. Wanita itu menatapnya sejenak sebelum melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun.
“Damn it!” Rutuk Alan lalu berjalan cepat untuk menyusul Bianca.
***
Jimmy menatap senang pada Jane yang begitu lahap menikmati semangkuk sup krim jamur yang Fiona buatkan untuknya. Sekalipun tak masuk kantor, Jimmy tetap menyuruh Fiona untung datang dengan alasan, ia butuh seseorang untuk membantunya. Walau pada kenyataannya, ia ingin bertemu dan bersama wanita itu.
Tak bisa dipungkiri, Jimmy juga sedang memikirkan keadaan tuannya. Alan tiba-tiba saja menghubungi dan berkata tak akan masuk kerja hari ini. Jimmy sangat yakin jika kembali terjadi sesuatu di antara mereka berdua—Alan dan Bianca. Hanya saja, Jimmy memilih untuk tak melangkah masuk terlalu jauh dan ikut camput. Ia ingin Alan yang menyelesaikan semuanya. Sekalipun tahu jika ia dan Alan, sama-sama tak paham soal wanita.
“Jimmy.” Fiona yang baru saja selesai menyuapi Jane, menatap pria itu bingung karena terus terdiam.
“Sudah selesai?” Tanya Jimmy yang membuat Fiona mengangguk pelan.
“Bagaimana keadaan ibumu?” Tanya Jimmy setelah Fiona melangkah masuk kembali ke dalam kamar Jane. Ia tadi pergi sebentar ke dapur untuk meletakkan mangkuk kotor.
“Seperti biasa.” Jawab Fiona lemah. Batuk ibunya semakin bertambah parah dan dokter langganannya hanya menyarankan untuk meminum obat.
“Apa kau ingin aku mem—”
“Tidak.” Sela Fiona cepat. Jimmy sudah beberapa kali menawarkan padanya untuk membawa ibunya ke rumah sakit yang jauh lebih baik namun ia selalu menolak.
Jauh lebih baik dan biayanya pun jauh lebih mahal
__ADS_1
Itulah yang selalu Fiona pikirkan. Ia juga merasa tak enak jika harus merepotkan orang lain yang bahkan belum genap sebulan ia kenal.
“Fiona.” Jimmy memanggil lembut nama Fiona. Jane sudah terlelap sedari tadi ketika langit perlahan berubah menjadi gelap.
Mereka memang baru saja kenal dan belum menghabiskan banyak waktu bersama, namun Jimmy selalu merasa jika ia dan Fiona sudah lama saling mengenal setiap kali berada di sisi wanita itu. Pun selalu merasa dekat.
“Jimmy.” Lirih Fiona. Di depannya, Jimmy secara perlahan mengikis jarak di antara wajah mereka. Sebelah tangan Jimmy terangkat untuk memegang lembut dagu Fiona. Satu ciuman berhasil ia daratkan pada bibir wanita itu. Matanya terpejam. Dan Jimmy sontak merasakan sensasi luar biasa yang mengaliri tubuhnya saat ini—senang bercampur geli. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiknya. Terutama pada hatinya.
Tak lama, Jimmy memindahkan posisi tangannya untuk memegang sebelah pipi Fiona. Ciumannya yang tadi, yang hanya sekadar menempel, perlahan menjadi dalam. Apalagi saat Fiona membalas pergerakan bibirnya, Jimmy segera meletakkan tangannya yang bebas untuk memeluk pinggul wanita itu.
Jimmy tak lagi ingat sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menyentuh seorang wanita secara dekat seperti sekarang ini. Dan hanya Fiona yang berhasil meluluhkannya. Perlahan, Jimmy memberikan lumatan kecil pada bibir Fiona lalu beralih untuk menyesapnya sebentar. Bahkan membuat Jimmy tak ingin mengakhiri tautan bibir mereka.
Ketika merasakan pergerakan tangan Fiona pada lengannya, Jimmy kembali mengecup lama bibir wanita itu sehingga menghasilkan suara decakan yang cukup jelas. Sekaligus menjadi tanda jika tautan bibir mereka baru saja usai.
“Kau—” Fiona tak kuasa melanjutkan ucapannya dan lebih memilih untuk menunduk dengan wajah memerah. Dengan gerakan cepat, ia menyentuh sekilas bibirnya dan masih menemukan jejak bsah di sana.
Ya Tuhan.
***
Alan kembali menatap tanpa minat pada ponselnya yang sudah berbunyi sedari tadi. Robin Carter—ayah Kate, mengajaknya untuk bertemu dan makan malam bersama. Dan Alan yakin, jika pria itu pasti belum menyerah untuk menjadikannya seorang menantu.
“Bianca.” Lirih Alan. Wanita itu masih menolak untuk kembali tidur bersama di kamar. Sesering apa pun Alan mencoba, ia masih belum menemukan jawaban akan pertanyaan Bianca. Jujur, ia mencintai dan menyayangi Bianca dengan tulus dan sepenuh hati. Tapi jika ditanya mengenai apa arti Bianca untuknya, otaknya mendadak buntu. Wanita itu … benar-benar sulit untuk dipahami.
“Sial!” Alan mendesah kasar seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Setiap kali melihat Bianca, tubuhnya selalu saja menegang. Ia ingin menyentuh wanita itu. Memeluk serta menciumnya, seperti yang selalu ia lakukan. Dan lagi, miliknya di bawah sana sudah hampir mencapai batasnya. Tapi yang pasti, ia ingin hubungannya dan Bianca membaik terlebih dulu.
__ADS_1
Apa pun akan Alan lakukan untuk membuat Bianca bahagia dan terus berada di sisinya. Bahkan jika sampai harus berlutut pun, ia juga akan tetap melakukannya.