Married With The Devil

Married With The Devil
Jane


__ADS_3

Jimmy yang merasakan genggaman serta remasan lembut Fiona pada tangannya, segera menatap wanita itu lekat. Bibirnya menyunggingkan senyuman simpul. Raut wajahnya pun juga berubah menjadi lebih tenang.


“Ba-bagaimana bisa?” Fiona sadar jika pertanyaannya barusan mungkin terdengar lancang. Tapi ia tak bisa menahan dirinya. Ia ingin segera tahu tanpa harus larut dalam pikiran serta anggapan-anggapan buruknya pada Jimmy. Yang belum tentu benar.


Jimmy menghela napas dalam. Ia balas menggenggam tangan Fiona.


“Jane ….”


Jimmy terus berjalan mondar-mandir di dalam rumah kecil tempatnya dan Jane tinggal. Kakak perempuannya itu belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tak biasanya Jane pulang terlambat. Wanita itu tak pernah lupa untuk memberitahunya jika dia ada tambahan jam lembur atau tidak.


“Jane.” Gumam Jimmy. Matanya kembali menatap jam weker kecil yang terletak di atas nakas usang milik mereka berdua.


Suara pintu yang baru saja terbuka, sontak membuat Jimmy mengalihkan pandangannya. Jane masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat serta rambut yang sedikit acak-acakan. Dengan cepat, ia segera menghampiri wanita itu seraya memegang kedua pundaknya.


“Jane, kau kenapa?” Tanya Jimmy khawatir. Mata birunya menatap tajam Jane seraya menanti sebuah jawaban.


Jane tak menjawab. Ia justru balas menatap adik laki-lakinya lekat.


“Aku tak apa-apa. Hanya saja, tadi ada seorang pembeli yang membuat sedikit masalah.” Jawab Jane lemah. Tubuhnya benar-benar terasa lelah.


“Benarkah?” Tanya Jimmy memastikan. Ia takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada kakanya.


Jane mengangguk lemah seraya mengacak pelan rambut Jimmy.


“Aku ingin beristirahat dulu.” Ucap Jane lirih. Ia melangkah pelan menuju kamarnya.


Sepeninggal Jane, Jimmy hanya bisa menatap lekat wanita itu tanpa mengatakan apa pun.


***


Selama hampir seminggu, Jimmy merasakan sesuatu yang aneh pada Jane. Wanita itu sedikit demi sedikit mulai berubah. Terkadang, Jimmy mendapati Jane tengah menatap kosong ke arahnya. Atau pun tersenyum sedih seraya memeluk tubuhya sendiri. Tak jarang, ia mendengar wanita itu tertawa sumbang dari arah dapur.


“Jane.” Panggil Jimmy ketika ia berada di dapur. Tak jauh darinya, Jane sedang memasak makan malam untuk mereka berdua.


“Ada apa, Jimmy?” Tanya Jane lembut seraya tersenyum menatap Jimmy.


“Aku ingin keluar dulu sebentar.” Jawab Jimmy singkat. Malam ini, ia ingin kembali mencari pekerjaan. Berhubung Jane sedang libur, jadi ia bisa keluar sebentar sementara wanita itu yang tingal di rumah. Jimmy memang dengan sengaja tak memberitahu Jane, sebab, wanita itu pasti akan menentang dan menyuruhnya untuk fokus bersekolah. Ia memang baru saja menyandang gelar sebagai seorang mahasiswa. Diusinya yang kedelapan belas.


“Lalu bagaimana dengan makan malammu?”


“Tak usah menungguku. Aku akan pulang sedikit lama.” Jawab Jimmy. Tak lama, ia melangkah pergi setelah berpamitan pada Jane. Ia juga ingin berusaha dan membantu kehidupan mereka berdua.


***


“Sial!” Jimmy mengumpat jengkel ketika ia melamar pekerjaan disalah satu bar kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya. Namun ditolak dengan berbagai alasan yang tak jelas. Ini sudah ketiga kalinya.


Seraya menghela napas frustasi, Jimmy melangkah memasuki sebuah gang sempit lalu menyandarkan punggungnya pada salah satu tembok kotor. Ditangannya terdapat satu kaleng bir.

__ADS_1


Dari kejauhan, Jimmy melihat dua orang pria berjalan menuju arahnya dan berhenti pada salah satu kursi tua yang berada tak jauh darinya.


“Aku baru saja mendapatkan mangsa baru.” Ucap salah seorang dari pria itu. Rambutnya panjang sebahu berwarna kuning terang.


“Sungguh? Bagaimana rasanya?” Tanya temannya yang bertubuh pendek dan sedikit berisi. Sang lawan bicara tertawa sejenak lalu kembali bersuara.


“Memuaskan. Ditambah wajahnya yang cantik.” Jawabnya bangga.


Jimmy yang sedang berada tak jauh dari mereka, bisa mendengar dengan jelas. Dan yakin jika mereka berdua sedang membicarakan wanita yang berhasil mereka tiduri.


“Secantik apa?” Pria bertubuh pendek itu bertanya penasaran.


“Rambutnya panjang berwarna coklat keemasan.”


Mendadak, tubuh Jimmy menegang. Ciri-ciri fisik yang pria itu sebutkan sama seperti Jane. Namun Jimmy tak ingin berpikiran buruk, bisa saja mereka memiliki warna rambut yang sama.


“Dan dia memiliki warna mata sebiru laut.” Jimmy merasakan pasokan udara di sekitarnya menghilang. Jantungnya juga di dalam sana seperti berhenti berdetak. Tak banyak yang memiliki warna mata seperti miliknya dan juga Jane. Dengan cepat, Jimmy berlari pulang. Perasaannya berubah tidak enak.


***


“Jane! Jane!” Jimmy melangkah masuk ke dalam rumah seraya berteriak memanggil nama Jane. Tak lama, wanita itu muncul dari dalam kamarnya sembari memegang sebuah pisau kecil.


Jimmy segera berjalan cepat menghampiri wanita itu lalu merebut pisau kecil yang dipegangnya.


“Jimmy, apa yang ka—”


“Apa—”


“Apa yang sudah pria brengsek itu lakukan padamu!” Jimmy berteriak marah dengan napas memburu. Kedua tangannya meremas kuat pundak Jane secara bersamaan. Jane yang mendengarnya, sontak jatuh terduduk di atas lantai dengan kepala tertunduk. Tak lama, suara tawa kecilnya terdengar.


“Jane.” Lirih Jimmy. Ia menatap takut pada kakanya.


“Aku kotor, Jimmy. Aku kotor!” Jane berteriak histeris seraya menatap Jimmy dengan pandangan hancur. Kedua tangannya terangkat untuk memeluk tubuhnya sendiri.


Jimmy tertegun. Kedua rahangnya terkatup rapat.


“Pr–pria itu memaksaku untuk melakukannya. Aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksaku.” Jane berucap dengan nada yang memilukan. Kedua matanya menatap Jimmy sedih namun bibirnya menyunggingkan senyuman lebar.


“Dia merenggut semuanya dariku.” Jane kembali berucap seraya tertawa kecil. Tak lama, suara tawanya berubah menjadi lebih keras.


Jimmy masih terdiam mematung seraya menatap Jane. Ada sesuatu yang tak beres pada wanita itu. Dan tersadar jika kakanya, keluarga satu-satunya yang ia miliki, telah menjadi korban pemerkosaan.


Jimmy memang tahu jika Jane tak pernah sekalipun berpacaran. Wanita itu terlalu sibuk bekerja. Pernah sekali ia bertanya pada Jane, namun wanita itu menjawab jika hanya ingin menikah dan memberikan semua hanya kepada suaminya.


Jimmy membenci dirinya. Ia tak bisa melindungi satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki. Sejak dulu, mereka berdua tinggal dan tumbuh besar disebuah panti asuhan kecil yang terletak jauh dari pusat kota. Tanpa pernah tahu seperti apa wajah kedua orang tua mereka. Sang pengurus panti hanya berkata jika ia dan Jane ditemukan di dekat sebuah rumah tua tak berpenghuni dalam keadaan yang memprihatinkan. Saat itu, Jane masih berusia tiga tahun sedangkan Jimmy masih sangat kecil. Dan ketika beranjak dewasa, Jane mengajaknya untuk pindah demi memulai kehidupan sendiri.


“Brengsek!” Umpat Jimmy. Dengan penuh kemarahan, ia berlari secepat mungkin untuk menghampiri pria itu. Ia yakin jika mereka berdua masih berada di sana atau tengah sibuk menikmati minuman bersama wanita lain di dalam bar.

__ADS_1


Jimmy tak terima. Ia tak bisa menerima semuanya. Ia membenci dirinya. Jika saja ia tak menuruti permintaan Jane dan memutuskan untuk langsung bekerja, ini semua pasti tak akan pernah terjadi. Kakaknya pasti tak akan pernah mengalami kejadian mengerikan tersebut. Padahal harapan terbesarnya adalah melihat Jane menikah bersama pria yang dicintainya. Membangun keluarga yang utuh dan juga penuh kebahagiaan.


“Ini semua karenaku.” Jimmy kembali menyalahkan dirinya. Tangannya terkepal kuat dengan wajah memerah menahan amarah. Jika saja waktu itu ia tak bertemu dengan Alan, Jimmy pasti sudah membunuh pria yang berbuat keji pada kakaknya lalu berakhir di dalam penjara. Dan meninggalkan Jane seorang diri.


“Tapi aku bersyukur karena aku bertemu dengannya.” Ucap Jimmy lagi sembari tersenyum simpul.


“Siapa?” Fiona yang sedari tadi masih terdiam setelah mendengar cerita Jimmy, sontak mengalihkan perhatiannya dari Jane pada pria itu. Mata hazelnya menatap penuh rasa ingin tahu.


“Alan. Pria yang tanpa ragu mengulurkan tangannya padaku. Sekaligus menjadi satu-satunya orang yang selama ini menolongku.” Sejak memutuskan menyambut uluran tangan Alan padanya waktu itu, Jimmy tanpa ragu menceritakan semuanya pada pria itu. Bahkan rumah yang saat ini ditinggalinya adalah pemberian dari Alan. Awalnya, Alan ingin memberikannya sebuah apartemen mewah namun Jimmy menolaknya. Ia hanya menginginkan rumah sederhana untuk ditinggalinya bersama Jane. Menghabiskan waktu berdua sekalipun kondisi wanita itu jauh dari kata baik-baik saja.


“Aku–aku menerima tawaranmu.” Fiona berucap pelan seraya mengalihkan tatapannya kembali pada wajah terlelap Jane. Di matanya, wanita itu terlihat begitu cantik. Rambut coklat keemasannya bahkan bersinar di bawah temaramnya cahaya. Jujur saja, ia merasa bersalah ketika kembali teringat pada perkataan kasarnya pada Jimmy waktu itu.


“Kau yakin?” Tanya Jimmy seraya menahan tangan Fiona saat tahu wanita itu ingin menarik paksa tangannya yang ia genggam


“Ya.” Jawan Fiona dengan suara nyaris berbisik. Kepalanya tertunduk sedikit untuk menatap tangannya yang digenggam hangat oleh Jimmy.


Jimmy tersenyum kecil. Hatinya tak lagi terlalu sesak setelah menceritakan semuanya pada Fiona.


***


Alan yang baru memarkirkan mobilnya di halaman rumah, tersentak kaget ketika mendengar pintu mobilnya ditutup secara kasar. Ia menatap punggung Bianca yang tengah berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Bahkan selama di perjalan pulang, wanita itu tak mengucapkan apa pun. Bianca tetap fokus menatap jalanan di depannya dengan wajah datar dan dingin. Kali ini, Alan merasa jika kemarahan wanita itu jauh lebih buruk dari sebelumnya.


“Haha.” Bianca tertawa kecil seraya melepaskan gaun yang dikenakannya secara kasar. Ia tak peduli pada harganya. Pun Alan yang membelikannya secara langsung.


“Bianca.” Alan melangkah pelan menghampiri Bianca yang sedang berdiri menghadap lemari pakaian. Kedua tangannya terulur dan terbuka lebar untuk memeluk wanita itu dari arah belakang sampai ucapan Bianca menghentikannya.


“Jangan menyentuhku.” Desis Bianca dingin dengan raut wajah datar.


Alan menghela napas kasar. Perlahan, ia melangkah mundur tanpa menyentuh wanita itu.


“Bukankah kau dengar sendiri jika aku menolaknya?” Alan berucap tak sabaran seraya menatap Bianca sedikit jengkel.


“Dan mengabaikanku begitu saja karena wanita yang jauh lebih cantik dan juga seksi berada di dekatmu.” Sindir Bianca. Ia menghapus make up di wajahnya dengan sedikit kasar.


“Bianca, kau terlalu berlebihan menanggapi semuanya.” Bianca sontak mencengkeram kuat pinggiran meja rias berwarna putih miliknya. Hatinya kembali berdenyut sakit mendengar ucapan santai Alan.


“Aku memang berlebihan.” Ucap Bianca seraya menatap Alan. Kedua matanya terasa panas ditambah dengan rasa sesak yang memeluknya dengan begitu kuat.


“Kau bebas mencari wanita yang tak berlebihan sepertiku.” Sambungnya lagi. Tak lama, Bianca mengambil satu bantal dari atas tempat tidur dan beranjak keluar. Malam ini, ia akan tidur di sofa ruang tengah. Berada di sisi pria itu justru akan semakin menambah rasa sakitnya. Bianca hanya ingin menyendiri. Menangis kecil seorang diri tanpa diketahui oleh siapa pun.


“Bianca!” Panggil Alan seraya mengikuti wanitanya. Tapi Bianca tak memedulikannya. Wanita itu terus berjalan tanpa ada niat sedikitpun untuk berbalik menatapnya.


“Tak usah peduli padaku. Kau bisa pergi dan kembali menemui wanita bernama Kate itu.” Bianca berujar dengan bibir bergetar. Ia berusaha untuk tak menyalahkan pria itu. Bukan Alan yang salah tapi dirinya. Yah, satu-satunya yang pantas untuk disalahkan adalah dirinya. Wanita miskin yang dengan tak tahu malunya berada di sisi Alan. Padahal di mata orang lain, ia tak pantas sama sekali bersanding dengan pria itu.


“Brengsek!” Alan menggeram marah seraya melangkah pergi meninggalkan Bianca seorang diri.


Tak lama setelah kepergian pria itu, Bianca meneteskan air mata. Seharusnya Alan menggenggam tangannya dan tak meninggalkannya seorang diri di antara kerumunan orang yang tak dikenalnya sama sekali. Tapi pria itu lebih memilih untuk bersama wanita lain.

__ADS_1


Bianca tersadar, semanis apa pun ucapan dan perbuatan Alan. Sesering apa pun pria itu berjanji, pada akhirnya, Alan akan tetap menyakitinya. Pria itu tak tahu, terlihat sekuat apa pun seorang wanita, mereka tetaplah makhluk rapuh dari dalam. Yang digores sedikit saja, akan meninggalkan bekas untuk selamanya.


__ADS_2