Married With The Devil

Married With The Devil
Pilihan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Jimmy lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar seusai makan malam bersama Jane dan Fiona. Terkadang, Jimmy beralasan jika ia sedang lelah atau masih ada beberapa pekerjaan di kantor yang terpaksa dibawanya pulang untuk diselesaikan. Padahal, alasan yang sebenarnya adalah karena pria itu tengah sibuk berpikir. Meyakini jika keputusan yang diambilnya sudah benar-benar tepat atau justru sebaliknya.


“Jimmy.” Fiona yang baru saja masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan pelan lalu melangkah menghampiri suaminya yang sedang duduk pada sebuah kursi kayu yang berada di dalam kamar mereka. Tak jauh dari jendela. Melingkarkan kedua tangannya pada leher pria itu seraya memeluknya dari arah belakang.


“Di mana Jane?” Tanya Jimmy. Sepasang mata birunya memandang langit gelap di atas sana dengan tatapan menerawang.


“Di dapur.” Jawab Fiona singkat. Dengan lembut, ia mendaratkan satu kecupan mesra pada pipi kiri Jimmy.


Jimmy tersenyum. Balas mengecup punggung tangan Fiona.


Fiona tahu betul jika suaminya saat ini sedang memikirkan hubungan Jane dan James. Tak jarang, ia mendapati Jimmy menatap kosong padanya. Atau ketika Fiona mengajak Jimmy berbicara, pikiran pria itu justru terpusat pada hal lain.


“Fiona, bagaimana jika aku salah?” Jimmy berucap dengan suara parau. Memikirkan jika seandainya saja keputusan yang diambilnya adalah sesuatu yang salah, membuat hatinya di dalam sana berdenyut sakit. Ia tak ingin lagi melihat Jane terpuruk. Apalagi karena dirinya.


Sebelum menjawab pertayaan Jimmy, Fiona lebih dulu berpindah posisi dan berdiri di depan pria itu. Ia menatap Jimmy lekat dengan pancaran mata penuh cinta.


“Jimmy, berusahalah untuk percaya pada Jane.” Jawab Fiona lembut. Sama seperti Jimmy, Fiona juga takut jika Jane pada akhirnya akan kembali tersakiti. Namun setiap kali melihat kebersamaan James dan Jane, ia sadar betul jika mereka berdua memiliki perasaan yang sama.


“Aku percaya padanya. Sangat percaya. Hanya saja, aku takut. Bagaimana kalau Jane kembali tersakiti? Bagaimana jika luka yang didapatnya jauh lebih besar dan lebih dalam dari sebelumnya? Aku hanya tak ingin melihatnya kembali terpuruk.” Jimmy berucap dengan nada putus asa. Membayangkan Jane akan kembali seperti dulu lagi membuat pikirannya kacau.


“Jimmy.”


“Seandainya bisa, aku lebih memilih untuk bersikap egois dan membuat Jane tetap bersama kita. Tanpa perlu memikirkan perihal pernikahan. Hanya saja, aku tak ingin menjadi orang jahat yang merenggut kebahagiaan saudaraku sendiri.” Jimmy kembali merasakan tumpukan beban yang sangat berat pada kedua pundaknya. Terutama hati serta pikirannya. Semenjak Jane “sakit,” Jimmy sudah berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri jika tak masalah kalau mereka hanya tinggal berdua. Tanpa pendamping sekalipun. Bahkan jika suatu saat nanti ini menikah, Jimmy ingin Jane tetap tinggal bersamanya. Terus berada di sisinya.


Dengan lembut, Fiona mengelus pipi Jimmy. Setelahnya, kecupan yang cukup lama ia daratkan pada bibir pria itu.


Jimmy tersenyum. Sebelah tangannya dengan cepat memeluk pinggang Fiona dan membuat tubuh wanita itu semakin menempel padanya.


Tanpa Fiona sadari, Jimmy telah lebih dulu mengulum bibirnya. ********** pelan dengan diselingi beberapa gigitan kecil. Kedua matanya perlahan terpejam seiring dengan intensitas ciuman mereka yang berubah penuh gairah.


“Fiona.” Bisik Jimmy. Setelah mendudukkan Fiona di atas pangkuannya, Jimmy secara tak sabaran mengekspos leher wanita itu. Memberikannya beberapa kali kecupan ringan disertai dengan gigitan-gigitan kecil.


“Jimmy, aku—” Suara ketukan pada pintu kamar mereka sontak membuat ucapan Fiona terpotong. Dengan cepat, ia bangkit dari atas pangkuan Jimmy dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


“Jane.” Lirih Fiona. Ia menatap wanita itu kaget. Sebab, Fiona menyangka jika Jane telah terlelap sedari tadi.


“Jimmy.” Panggil Jane setelah berada di dalam kamar Jimmy. Sementara Fiona telah lebih dulu kembali ke dapur. Berniat untuk membuat segelas coklat hangat.


“Jane, kau tak tidur?” Tanya Jimmy kaget seraya bangkit dari duduknya.


Jane menggelengkan kepala sebagai sebuah jawaban. Perlahan, ia melangkah pelan menghampiri Jimmy dan berdiri tepat di hadapan pria itu.


“Ada apa?” Tanya Jimmy seraya mengelus penuh sayang rambut Jane yang terikat.


“Maafkan aku.” Ucap Jane pelan dengan kepala tertunduk.


Jane sadar jika selama beberapa hari ini Jimmy terlihat murung dan banyak pikiran. Pria itu juga terkadang menatapnya lama dengan raut wajah sedih. Lalu setelahnya, Jimmy akan memilih mengurung diri di dalam kamar.


Jimmy yang mendengar ucapan Jane, hanya bisa menatap wanita itu kaget. Tak lama, ia segera menarik Jane ke dalam pelukannya ketika tersadar akan maksud ucapan wanita itu.


“Jim—”


“Aku yang seharusnya meminta maaf.” Sela Jimmy. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jane. Berharap, rasa sesak di dadanya bisa segera menghilang.


“Maafkan aku yang tak memikirkan perasaanmu sama sekali dan tetap bersikap egois. Jane, aku mencintai dan menyayangimu dengan sangat. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki. Harta paling berharga yang sayangnya tak bisa kulindungi dengan baik.”

__ADS_1


Jane yang mendengarkan ucapan Jimmy, sontak meneteskan air mata seraya terisak kecil di dalam pelukan pria itu. Hatinya juga ikut berdenyut sakit serta terasa sesak. Jane bukannya kembali mengingat kenangan menyakitkannya di masa lalu. Ia hanya merasa sedih mendengar ucapan bersalah Jimmy.


“Jimmy, aku tak pernah sama sekali menyalahkanmu.” Ucap Jane di sela-sela isakannya.


Jimmy tak mampu lagi menahan laju air matanya ketika mendengar perkataan Jane. Wanita itu memang tak pernah menyalahkannya sedikitpun. Namun tetap saja, Jimmy merasa jika semua yang terjadi karena kesalahannya. Meminta maaf berapakalipun, penyesalan itu selalu menghantuinya.


“Aku tahu. Aku tahu. Tapi tetap saja—”


“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah menjadi beban bagimu. Karena telah merenggut kebebasan serta kebahagiaanmu hanya untuk menjagaku.”


“Jane!”


“Terima kasih, Jimmy. Terima kasih karena tetap bersedia berada di sisiku. Kau bahkan tak pernah sedikitpun merasa malu mempunyai saudara sepertiku.” Jane menatap Jimmy lekat seraya tersenyum lembut. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus pelan kepala pria itu.


Jimmy terdiam dengan tatapan yang tak pernah lepas dari wajah Jane. Setelahnya, ia menunduk seraya menghela napas dalam.


“Jane, apa kau benar-benar mencintainya?” Tanya Jimmy dengan suara pelan. Nyaris berbisik.


“Ya.” Jawab Jane singkat. Paham betul maksud pertanyaan adiknya.


“Kau yakin?” Tanya Jimmy sekali lagi. Masih belum berniat untuk mendongak dan menatap Jane.


“Aku yakin.” Ucap Jane penuh kesungguhan.


Jane memang tak berbohong. Bukan hanya menyukai, ia juga mencintai James. Setiap sentuhan kecil pria itu pada kulitnya, selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak normal. Pun setiap kali James memanggil namanya penuh kelembutan atau menatapnya hangat, Jane selalu merasakan desiran aneh pada seluruh tubuhnya.


Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Jimmy akhirnya mendongak seraya menatap Jane dengan sebuah senyuman kecil. Semua rasa sesak yang dirasakannya tadi, perlahan menghilang.


“Tak ada yang jauh lebih penting dibanding dengan kebahagiaanmu.” Ucap Jimmy. Pria itu kembali memeluk sekilas Jane. Ia sudah membuat keputusan dan memilih untuk tetap membiarkan Jane dan James bersama. Menatap mereka berdua yang akan terus bertambah dekat seiring berjalannya waktu. Bahkan, Jimmy juga harus siap untuk merelakan Jane menjadi milik James.


Fiona yang sedari tadi secara sengaja menunggu di luar, akhirnya ikut bergabung seraya menyerahkan segelas coklat hangat yang dibuatnya pada Jane.


Menjelang pukul dua dini hari, Bianca secara tiba-tiba terbangun saat kembali merasa lapar. Padahal sebelum tidur tadi, ia menghabiskan dua crepe coklat dengan toping potongan buah pisang dan stroberi serta sepiring kecil buah pir.


“Alan.” Bianca menggoyangkan pelan lengan Alan yang memeluk pinggangnya. Berharap pria itu mendengar ucapannya.


“Alan.”


“Hm.” Alan yang mendengar panggilan istrinya, secara perlahan membuka kedua mata dan mendapati Bianca telah menatapnya lekat.


“Sayang, ada apa?” Tanya Alan dengan suara parau. Merasa heran melihat Bianca terbangun karena biasanya, tidur wanita itu jauh lebih lelap darinya.


“Aku lapar.” Jawab Bianca jujur.


“Lagi?” Alan sontak menatap Bianca tak percaya. Ia memang bersyukur karena Bianca tak lagi terlalu merasa mual atau memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya. Hanya saja, Alan merasa sedikit cemas saat Bianca terus saja merasa lapar. Walau ia tahu betul jika itu adalah hal yang biasa terjadi pada wanita hamil.


Mendengar jawaban Alan, Bianca sontak menatap pria itu dengan wajah memberengut. Tak lama kemudian, raut wajahnya berubah menjadi sedih.


“Lupakan saja.” Ucap Bianca tak bersahabat. Dengan jengkel, wanita itu langsung mengubah posisinya dengan membelakangi Alan. Bianca bahkan melepaskan sedikit kasar selimut yang menutupi tubuhnya.


“Bianca.” Panggil Alan. Pria itu menarik selimut putih yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh istrinya lagi. Namun Bianca kembali melepaskannya secara kasar.


“Tak usah peduli padaku. Atau pada anakku.” Bianca berucap sedih seraya mengelus pelan perutnya dengan gerakan melingkar. Yang tentu saja, sudah pasti membuat Alan menatapnya kaget. Merasa bersalah karena telah membuat wanita itu sedih. Alan lupa jika Bianca masih lumayan sensitif dengan mood yang sering berubah-ubah.


“Maafkan aku.” Bisik Alan. Ia mengecup sayang kepala wanita itu sembari meminta Bianca untuk kembali menatapnya.

__ADS_1


“Kau ingin aku membuatkanmu roti bakar coklat? Segelas susu? Atau—”


“Churros. Aku menginginkan churros.” Alan hanya bisa membulatkan matanya tak percaya setelah mendengar jawaban istrinya. Churros? Di mana ia bisa mendapatkannya saat ini? Hanya ada beberapa restoran makanan cepat saji yang buka selama dua puluh empat jam. Dan selama Bianca hamil, sebisa mungkin Alan menjauhkan istrinya dari memakan fast food. Kecuali di saat Bianca benar-benar ingin, maka Alan sendiri yang akan membelikannya. Itupun dalam porsi kecil.


“Sayang, aku tak tahu apakah masih ada yang menjualnya saat ini atau tidak.”


“Kau bisa mencarinya.”


Alan tak tahu lagi harus mengatakan apa. Mencari? Ia bahkan bingung harus mencari ke mana. Bukan hanya itu saja, Alan juga belum pernah memakannya. Ia hanya pernah mendengar sepintas nama makan tersebut. Lalu setelahnya, ia tak peduli lagi.


“Bianca, bagaimana dengan segelas jus jeruk?” Tawar Alan. Berharap wanita itu menyetujui ucapannya.


“Churros.”


“Semangkuk sereal.”


“Apa kau tuli?” Bianca sontak menatap Alan dengan mata mendelik disertai raut wajah dingin. Merasa jengkel karena Alan terus saja membantah ucapannya. Pria itu bahkan tak tahu seberapa laparnya ia saat ini.


Alan tak mampu lagi berkata-kata. Ia sudah kalah telak. Istrinya benar-benar sudah berubah menjadi makhluk mengerikan.


“Baiklah. Tapi aku tak bisa berjanji untuk pulang cepat. Bukan hanya dingin, tapi di luar sana aku juga harus mencari kedai yang menjual makan itu.” Sebelum beranjak dari atas tempat tidur, Alan dengan sengaja berucap sedih. Lengkap dengan wajah memelas.


“Alan.” Bianca yang mendengar ucapan Alan, langsung dirundung perasaan bersalah.


“Aku pergi dul—”


“Aku tak menginginkannya lagi.” Sela Bianca cepat. Ia menatap sedih punggung pria itu yang telah berada di depan pintu kamar mereka.


“Apa?” Tanya Alan meyakinkan. Masih enggan berbalik untuk menatap Bianca.


“Kemarilah. Aku ingin kau memelukku.”


Setelah menyeringai puas, Alan segera menghampiri Bianca lalu duduk di belakang tubuh wanita itu seraya bersandar pada kepala tempat tidur. Alan memeluk Bianca dengan hati-hati seraya meminta wanita itu untuk meluruskan kakinya ke depan. Sama seperti dirinya.


Dalam hati, Alan tak henti-hentinya bersorak senang. Walau tak bisa dipungkiri jika ia merasa sedikit bersalah pada Bianca serta anak mereka.


“Alan.” Tanpa Alan duga, Bianca mengecup beberapakali punggung tangannya yang sedang digenggam oleh wanita itu.


Alan yang melihat sifat manja istrinya sontak tersenyum. Perlahan, ia memajukan sedikit wajahnya ke depan seraya meminta Bianca untuk menoleh.


“Sayang.” Alan mengecup bibir Bianca penuh kelembutan seiring dengan genggaman tangan mereka yang semakin erat. Sudah lebih dari tiga hari ia tak menyentuh wanita itu dan jujur saja, Alan tersiksa karenanya. Bukan tanpa alasan memang. Alan hanya tak ingin membuat istrinya semakin tersiksa seriring dengan perutnya yang semakin membesar. Ditambah tubuh Bianca yang selalu saja mudah lelah.


“Aku merindukanmu.” Bisik Alan. Pria itu kembali mengecup sekilas bibir Bianca lalu beralih untuk menggigit kecil bahu wanita itu yang tertutupi gaun tidur tanpa lengan berwarna hijau toska.


Bianca yang merasakan gigitan Alan pada bahunya sontak memejamkan mata. Menikmati setiap sensasi menggelitik yang mengaliri tubuhnya. Ia juga merindukan Alan. Merindukan setiap sentuhan pria itu. Merindukan wajah Alan saat memiliki dirinya. Serta merindukan suara pria itu yang memanggil namanya ketika mereka berdua sama-sama berada di dalam pusaran kenikmatan.


“Alan.” Lirih Bianca.


Mereka berdua kembali bercuiman dengan penuh hasrat. Kali ini, Bianca tak segan meloloskan lidahnya ke dalam mulut pria itu. Menikmati setiap pertukaran saliva yang terjadi di dalamnya. Saling melilitkan lidah serta ******* kedua bibir pria itu secara tak sabaran.


Napas keduanya memburu. Alan bahkan tak yakin apakah masih bisa menahan dirinya lebih lama lagi atau tidak.


“Sayang.” Ucap Alan disela-sela napas memburunya. Ciuman Bianca sukses membuatnya tak bisa berpikir secara jernih.


Perlahan, Bianca berbalik untuk menatap Alan secara sempurna. Dan tepat ketika iris hitam pria itu menatap lekat mata coklatnya, Bianca menganggukkan kepala. Sebagai sebuah persetujuan akan permintaan tak terucap dari prianya.

__ADS_1


“I love you.” Bisik Alan.


Malam ini, ia kahirnya bisa memiliki wanita itu. Alan bahkan tak tahu apakah masih bisa mengontrol dirinya atau tidak. Tapi satu hal yang pasti, ia tak akan mungkin menyakiti wanita yang begitu dicintainya.


__ADS_2