Married With The Devil

Married With The Devil
JJ Couple


__ADS_3

Setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Jimmy, hari ini, James berencana mengajak Jane pergi ke wahana bermain. Berhubung hari ini adalah hari liburnya, pria itu telah memutuskan untuk menghabiskan waktunya bersama wanita itu. Melakukan berbagai hal menyenangkan sekaligus menjadi terapi secara tak langsung bagi Jane agar wanita itu tak lagi takut mengunjungi tempat ramai. Pun berinteraksi dengan orang lain selain dengan dirinya atau pun keluarganya.


“James.” Jane kembali menatap James lekat saat berada di depan mobil pria itu. Wajahnya pucat. Ia bukannya tak senang diajak menghabiskan waktu bersama pria yang dicintainya. Hanya saja, Jane merasa masih belum berani.


“Ada aku.” Ucap James menenangkan. Pria itu kembali mendaratkan satu kecupan singkat pada punggung tangan Jane yang masih digenggamnya. Berharap, wanita itu lebih percaya lagi padaya.


Dengan sedikit ragu, Jane akhrinya mengangguk pelan. Walau tak bisa dipungkiri sebagian dari dirinya di dalam sana berteriak marah seraya memintanya untuk tetap berada di rumah. Tapi Jane juga tak ingin menyerah. Ia bersyukur bisa bangkit dan menjadi dirinya sendiri. Bahkan tanpa diduganya sama sekali. Tapi di sisi lain, ia juga masih merasa takut untuk bertemu orang lain. Bahkan saat berada di pesta pernikahan Jimmy dan Fiona, Jane harus berjuang mati-matian agar tak membuat masalah dihari bahagia adiknya.


“Ayo.” Ajak James. Ia membuka pintu mobilnya seraya menatap Jane. Meminta wanita itu agar segera masuk ke dalam dengan sebuah senyuman hangat.


“Apa kau sudah memutuskan ingin bermain apa?” Tanya James ketika baru saja melajukan mobilnya. Membelah jalanan yang cukup sepi. Mengingat jika hari ini adalah hari kerja.


Jane menggeleng pelan sebagai jawaban. Dalam hati, ia juga bingung harus melakukan apa setelah sampai di wahan bermain nanti. Baginya, selama James tetap berada di sisinya, itu sudah lebih dari cukup.


“Kalau begitu, biar aku yang memilih.” Ucap James seraya tersenyum simpul. Sebelum hari ini tiba, ia sudah lebih dulu mencari-cari di internet tentang berbagai hal yang biasa kekasih lakukan saat berada di wahana bermain. Pun kegiatan apa saja yang disukai oleh para wanita selama berada di sana.


Apa pun akan James lakukan untuk Jane. Bukan hanya demi kesembuhan wanita itu, tapi agar Jane juga menjadi pribadi yang jauh lebih berani, mandiri serta percaya pada dirinya sendiri. Yang lebih penting, James ingin Jane menganggap dirinya sendiri berharga. Tak peduli seburuk apa pun masa lalunya. Sebab, ia ingin masa depan wanita itu jauh lebih bahagia bersamanya.


***


Hampir dua puluh menit Jane berdiri dalam diam seraya melihat lautan manusia di hadapannya dengan wajah pucat. Kedua telapak tangannya pun juga mengeluarkan keringat dingin. Sehingga membuat James yang berada di sebelahnya semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.


“Jane, apa kau baik-baik saja?” James tahu jika pertanyaannya barusan terdengar begitu bodoh. Sekali lihat pun, orang-orang bisa tahu jika wanita itu tengah ketakutan. Tapi James ingin mendengar secara langsung dari mulut Jane. Ia ingin wanita itu mengatakan semua yang dirasakannya. Tanpa merahasiakan satu hal kecil sekalipun.


“Aku–aku—” Jane tak lagi melanjutkan ucapannya dan memilih untuk menatap James lekat. Namun yang didapatinya justru senyuman hangat serta tatapan menenangkan pria itu.


Jane tersadar, semua yang James lakukan hari ini adalah untuknya. Pria itu ingin ia bisa membuka dirinya sendiri tanpa paksaan sedikitpun. Bertemu. Mengenal. Menyapa. Serta berinteraksi dengan banyak orang yang selama ini tak pernah ditemuinya. Pun dikenalnya. James ingin ia bangkit secara utuh. Tanpa bayang-bayang dari masa lalu. Tanpa rasa takut berlebih yang membuatnya lebih memilih untuk mengurung diri. Juga mengabaikan keadaan di sekitarnya.


“James, aku–aku ingin bersamamu.” Ucap Jane pelan. Sadar jika ia tak boleh menyia-nyiakan semua usaha yang pria itu lakukan untuk dirinya. Seraya tersenyum, Jane meminta pada James agar pria itu menunjukkan berbagai hal yang selama ini tak pernah dilihat, dirasa atau pun dilakukannya.


“Katakan apa pun yang ingin kau katakan. Hari ini, aku akan mengabulkan semua permintaanmu.” James berucap lembut seraya mengecup kening Jane. Kedua sudut bibir pria itu terangkat ke atas. Membentuk satu senyuman manis yang hanya ia tunjukkan pada wanitanya.


“Ayo.” Seru James seraya mengajak Jane melangkah bersama.


Dalam langkahnya bersama wanita itu, James bisa secara jelas melihat serta merasakan tatapan beberapa pria pun wanita yang mengarah pada Jane. Bukan hanya mata sebiru laut wanita itu yang mencuri perhatian. Juga rambut coklat-keemasan alaminya yang berkilau di tengah kerumunan. Tapi juga kulit putih Jane yang membuat para pria menatapnya tanpa kedip.


“James.” Panggilan lembut Jane sontak membuat James kembali mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. Tadi, ia tengah menatap tajam pada segerombolan pria yang bersiul pelan saat menatap Jane.

__ADS_1


“Apa kau sudah memilih ingin bermain apa?”


“Ya.” Jawab Jane. Ia menunjuk sebuah permainan roller coaster yang tak terlalu tinggi.


“Kau yakin?” Tanya James memastikan. Ia hanya tak ingin terjadi sesuatu pada Jane. Yang sampai membuat Jimmy tak lagi percaya padanya. Ditambah pasangan suami istri—Alan dan Bianca yang juga mengancamnya waktu itu.


Sejujurnya, Jane tak yakin apakah pilihannya benar-benar tepat atau tidak. Yang ia inginkan hanyalah rasa takutnya perlahan bisa sedikit berkurang. Juga suasana hatinya yang membaik. Asalkan James tetap bersamanya, maka semuanya pasti akan baik-baik saja.


***


“James!” Jane sontak berseru senang seraya menatap pria itu dengan mata berbinar. Diluar dugaannya, ia benar-benar menikmati permainan roller coaster tersebut. Setelah diyakinkan oleh James, Jane akhirnya memutuskan untuk berteriak sekencang mungkin. Dengan harapan, perasaannya bisa menjadi lebih tenang.


“Kau haus?” Tanya James seraya mengusap peluh di kening Jane. Seusai bermain, ia langsung mengajak wanita itu untuk duduk pada salah satu kursi panjang yang sedang kosong.


“Ya.” Jawab Jane singkat.


“Tunggu di sini. Aku akan membeli minuman untuk kita berdua.”


Baru saja James berniat bangkit dari duduknya, Jane sudah lebih dulu mencengkeram lengannya. Wanita itu menatapnya dengan wajah pucat.


James yang melihat tubuh bergetar ketakutan Jane, segera memeluk erat tubuh wanita itu. Tak mengacuhkan sama sekali tatapan kaget atau heran orang-orang di dekatnya.


“Jane, semuanya akan baik-baik saja.” James sadar jika ia tak seharusnya meninggalkan wanita itu. Mengingat kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Hanya saja, ia ingin Jane bisa menghadapi semuanya sendiri. Tanpa harus selalu bergantung padanya atau Jimmy. Bukan karena ia tak ingin lagi berada di sisi wanita itu. James hanya ingin Jane menjadi pribadi yang kuat.


“Jadi, apa kau mengizinkanku untuk pergi sebentar?”


Jane tak langsung menjawab. Ia justru menatap pria itu lekat. Ketika melihat tatapan hangat serta senyuman lembut James, Jane akhirnya mengangguk. Yakin jika pria itu pasti tak akan meninggalkannya.


“Aku pergi dul—”


“Hai.” Ucapan James sontak terpotong saat dua orang pria yang tak dikenalnya menyapa mereka berdua. Lebih tepatnya, menghampiri Jane karena tatapan mereka senantiasa tertuju pada wanita itu.


“Aku hanya ingin berkenalan dengannya.” Ucap salah satu dari dua pria itu.


Tatapan James langsung berubah tajam. Apalagi saat merasakan genggaman kuat Jane pada tangannya. Tak menyangka sama sekali jika kesenangan mereka berdua terusik.


“Kalian bisa mencari wanita lain.” Seru James datar. Ia kembali menatap Jane seraya meyakinkan wanita itu jika semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


“Hanya sebentar saja.”


Tepat ketika salah satu dari pria itu ingin menyentuh tangan Jane, James telah lebih dulu mencengkeram kuat pergelangan tangannya. Tatapannya berubah menjadi tak bersahabat. Ditambah dengan kedua rahangnya yang mengeras. Hari ini, ia sudah berjanji untuk menyenangkan wanitanya dan tak ingin ada satupun yang mengganggu apalagi sampai merusaknya.


“She’s mine!” Ucap James dingin penuh penekanan. Seperti pria lain yang benar-benar mencintai pasangannya, ia pun juga tak suka jika ada orang lain yang menyentuh wanitanya. Apalagi menggunakan cara yang kurang ajar.


Jane terlalu berharga untuknya. Dan membiarkan tangan-tangan kotor menyentuh wanita itu adalah sesuatu yang tak akan mungkin pernah terjadi.


“Cepat pergi sebelum aku membuat kalian menyesal.” Lirih James seraya semakin menguatkan cengkeraman tangannya. Bahkan sampai membuat telapak tangan pria yang dipegangnya memucat.


“Sial!” Umpat dua pria itu sembari melangkah pergi. Tak berani berbuat lebih nekat karena takut akan ancaman James.


“Jane, kita pulang, oke?”


Jane mengangguk cepat seusai mendengar jawaban James. Walaupun hanya sebentar, ia sudah merasa senang bisa menaiki wahana serta menghabiskan waktu bersama pria itu.


***


Setibanya di rumah Jane, James lebih banyak terdiam. Pria itu juga hanya menanggapi singkat ucapan Fiona yang menyuruhnya masuk ke dalam serta menemani Jane karena harus pergi berbelanja sebentar. Ia masih merasa sedikit jengkel. Terutama saat kembali mengingat jika dua orang pria asing tadi ingin bersikap kurang ajar pada kekasihnya.


“James.” Sudah lebih dari tiga kali Jane memanggil pria itu. Namun tak mendapatkan respon apa pun.


Sentuhan lembut di pipinya sontak menyadarkan James. Bahkan membuat pria itu dengan cepat menatap Jane yang berada di sebelahnya. Wajah wanita itu terlihat sedih. Ditambah dengan bersalah pada tatapan matanya.


“Ada apa?” Tanya James seraya kembali menggenggam erat tangan Jane. Sedikit merasa bersalah karena telah mengabaikannya.


“Maafkan aku.” Lirih Jane dengan kepala yang masih menunduk.


“Aku tak marah padamu, Jane.” James segera menarik wanita itu ke dalam dekapan hangatnya. Merasa sedikit menyesal karena telah menunjukkan sesuatu yang buruk pada wanita itu. Tapi sungguh, ia tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi.


“Maafkan aku yang sudah membuatmu takut. Aku hanya tak suka melihat orang lain memperlakukanmu dengan buruk.” Ucap James jujur. Satu kecupan lama ia daratkan pada pucuk kepala wanita itu.


Jane tersenyum. Ia juga balas memeluk James. Merasa senang karena pria yang dicintainya begitu menjaga dan melindungi dirinya.


“Aku berjanji akan mengajakmu ke tempat yang jauh lebih menyenangkan lagi. Di mana hanya ada kita berdua.”


Jane mengangguk senang sebagai jawaban atas perkataan James barusan. Ia merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan pria itu. Jane hanya tak tahu, apakah ia bisa benar-benar bangkit dan berani untuk melangkah maju jika seandainya saja bukan pria itu berada di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2