Married With The Devil

Married With The Devil
Sepotong Kue


__ADS_3

Cathy yang selama ini menghilang, kembali menunjukkan batang hidungnya di depan Alan. Wanita itu secara tiba-tiba datang ke kantor Alan dan memaksa untuk bertemu. Awalnya, Lucy sudah melarang dan menyuruhnya pulang. Namun karena Cathy terus berteriak, Alan terpaksa membiarkan wanita itu masuk. Dengan Jimmy yang terus mengawasinya.


“Apa?!” Tanya Alan dengan nada tak bersahabat. Ia lebih memilih untuk menatap layar laptopnya dari pada harus menatap wajah Cathy.


“Aku butuh uang.” Jawab Cathy. Ia menatap Alan lekat. Saat ini, keadaannya benar-benar kacau. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat tanpa make up dan kukunya yang selalu dipoles kutek mahal, kini tak lagi memiliki warna.


“Bukankah kau punya seorang kekasih yang cukup kaya?” Alan berucap dengan nada menyindir seraya menatap Cathy tanpa minat. Penampilan wanita itu sungguh memprihatinkan.


“Sialan! Ini semua karenamu. Wilson membuangku begitu saja.” Cathy berujar marah seraya menatap Alan penuh kebencian. Jika saja bukan karena pria itu, saat ini, ia masih menikmati semua kemewahan yang Wilson berikan. Penghasilan kedua orangnya tidak akan cukup untuk memenuhi hasrat belanja dan juga kehidupan glamornya.


“Aku? Bukankah sudah jelas itu semua karena kebodohanmu sendiri?” Alan berucap santai seraya menyeringai sinis. Jika saja Cathy tak mencari masalah dengannya, wanita itu masih bisa hidup enak dengan cara menikmati uang bulanan yang ia berikan. Namun sayang, Cathy memilih orang yang salah untuk dia ajak bermain.


“Kau dan wanita sialan itu yang menjadi penyebabnya. Berikan aku uang!” Teriak Cathy. Selama menghilang, Cathy tak pernah pulang ke rumahnya. Bahkan kedua orang tuanya pun tak mau merepotkan diri untuk mencarinya karena tahu seperti apa sifat wanita itu. Cathy sering berpindah tempat tinggal bersama lelaki yang berbeda pula. Siapapun yang ia rasa mampu memberinya uang, maka Cathy akan dengan senang hati menemaninya.


“Aku tak punya kewajiban untuk menuruti permintaanmu.” Seru Alan tak acuh.


“Aku ini masih memiliki hubungan keluarga denganmu. Kau pikir ibumu akan senang kalau—”


“CATHY!” Alan berteriak marah seraya bangkit dari duduknya. Rahangnya mengeras. Ia tak ingin lagi mendengar nama wanita itu disebut. Ia tak pernah punya orang tua. Apalagi ibu.


“Cepat pergi. Ini terakhir kalinya aku ingin menatap wajahmu. Jika kau berani lagi kembali untuk menggangguku atau Bianca, maka aku tak akan segang-segan menyakitimu dengan tanganku sendiri.” Alan sontak menatap Jimmy. Memberikan isyarat pada pria itu agar segera menyeret Cathy keluar. Ia akan menyingkirkan siapapun yang dengan berani mengganggu kehidupannya. Keluarga sekalipun.


Jimmy mengangguk paham. Dengan cepat, ia menarik dan memaksa Cathy untuk keluar. Tak dipedulikannya rontaan ataupun teriakan wanita itu. Jimmy bahkan menatap tajam siapapun karyawan yang memandang mereka berdua. Ia memang telah memperingati Cathy agar tak lagi muncul di hadapan Alan. Namun ternyata, wanita itu lebih gila dari dugaannya.


***


Bianca tersenyum senang ketika melihat mobil yang Jimmy kemudikan baru saja sampai. Dengan cepat, ia membuka pintu mobil dan segera masuk. Tanpa mau menunggu Jimmy turun dari mobil terlebih dulu.


“Aku bisa membukanya sendiri.” Ucap Bianca seraya menunjuk pintu mobil.


“Tapi itu sudah menjadi tugasku.” Jawab Jimmy. Ia menatap Bianca sekilas dari kaca spion.


“Apa Alan tak ikut?” Tak jarang, Alan akan ikut ketika Jimmy menjemputnya dengan alasan pekerjaannya di kantor telah selesai. Padahal Bianca tahu betul jika pria itu sengaja meninggalkannya.


“Tuan akan pulang malam nanti.” Bianca mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Jimmy. Berhubung Alan sedang tak ikut, ia ingin meminta Jimmy menemaninya ke sebuah toko kue yang baru saja Lily beritahu tadi.


“Jimmy, bisa temani aku sebentar membeli kue?” Tanya Bianca.


“Tapi—”


“Hanya sebentar. Aku ingin membeli kue untuk Alan.” Potong Bianca. Yakin jika Jimmy pasti akan langsung setuju setelah mendengar nama Alan.


“Baik.” Jawab Jimmy pada akhirnya. Dalam hati, Bianca bersorak senang.

__ADS_1


***


Jimmy menatap datar sebuah toko kue kecil berwarna pastel dengan beberapa gambar cupcake lucu berwarna-warni tertempel pada pintu kacanya yang bening. Ingatan Jimmy langsung tertuju pada Jane. Kakak perempuannya itu tak pernah lupa membelikannya sepotong kue keju ketika pulang bekerja.


“Jimmy.” Jimmy tersentak kaget ketika mendengar Bianca memanggil namanya. Dan menemukan wanita itu tengah menatapnya bingung.


“Ya?” Jawab Jimmy seraya menatap Bianca. Wanita itu belum membeli apa pun.


Bianca segera menarik tangan Jimmy untuk melangkah bersamanya menuju cake showcase berukuran besar. Tempat berbagai macam kue terpajang.


Jimmy menatap Bianca bingung. Ia tak berniat sama sekali untuk membeli


Tanpa persetujuan dari Jimmy, Bianca memesan sebuah cheese cake dengan toping potongan kacang almond berukuran sedang. Dan untuk Alan, ia memesan tiramisu berukuran kecil. Bianca tak tahu apakah Alan menyukainya atau tidak. Sekalipun pria itu ternyata tak begitu suka, Bianca tak akan keberatan untuk memakannya seorang diri.


“Untukmu.” Ucap Bianca seraya menyodorkan sebuah cake box berwarna putih dengan garis-garis pink dibagian luarnya pada Jimmy.


“Untukku?” Tanya Jimmy memastikan seraya menunjuk dirinya sendiri.


“Aku memberikan cheese cake padamu sebagai hadiah.”


Jimmy tersentak kaget ketika mendengar ucapan Bianca. Cheese cake? Tidak. Ia bukan tak menyukainya. Hanya saja, Jimmy tak tahu apakah ia masih bisa memakannya atau tidak.


“Kau tak mau menerimanya?” Bianca berucap dengan nada sedih ketika Jimmy tak kunjung menerima pemberiannya. Tak lama, wajahnya berubah ceria ketika Jimmy mengambil cake box yang ia pegang sembari tersenyum simpul.


***


Setelah mengantar Bianca, Jimmy tak langsung pulang. Ia lebih memilih untuk mengunjungi sebuah taman yang terletak tak jauh dari rumahnya. Taman kecil yang ditanami beberapa pohon tersebut, tak terlalu ramai. Hanya terdapat beberapa anak lelaki berusia sekitar delapan tahun yang tengah bermain bola bersama.


Jimmy tersenyum simpul. Ingatannya kembali melayang ketika ia dan Jane masih kecil dulu. Usia mereka berdua hanya terpaut tiga tahun saja.


“Jane.” Gumam Jimmy. Dengan segera, ia bangkit dari duduknya untuk pulang. Jane pasti sudah menunggunya. Dan Jimmy berharap jika wanita itu senang saat tahu ia membawa pulang kue kesukaan mereka.


***


Jane kembali menatap kosong keluar jendela. Ketika malam menyapa, ia akan terus menatap bulan dan juga bintang di atas langit sana tanpa pernah merasa bosan. Setidaknya, saat ini, hanya itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan


“Jane.” Mendengar namanya dipanggil, Jane segera berbalik. Ia mengenal suara itu. Suara yang tak asing baginya namun tak mampu ia ingat sama sekali.


Jimmy melangkah masuk seraya tersenyum lembut. Kecupan hangat ia daratkan pada kening Jane.


“Aku membawa sesuatu untukmu.” Ucap Jimmy seraya mengangkat kotak kue yang Bianca berikan padanya. Perlahan, ia mengeluarkan kue keju berukuran sedang dari dalam dan meletakkannya di atas piring kaca berwarna putih.


Jane mengerjap sekali, pertanda ia senang ketika mendengar ucapan Jimmy.

__ADS_1


Dengan penuh kelembutan, Jimmy menyuapkan sesendok kecil kue tersebut pada kakak perempuannya. Wanita cantik itu, yang memiliki mata biru seperti Jimmy, mengunyah dengan lahap. Ada perasaan hangat yang mengaliri tubuhnya. Seakan, sesuatu yang baru saja dimakannya saat ini bukanlah hal yang baru. Namun membuatnya merasakan kerinduan yang dalam.


“Jimmy, aku membawakan hadiah untukmu.” Jane yang baru saja pulang bekerja dari minimarket, berseru senang seraya melangkah menghampiri Jimmy yang tengah sibuk menonton TV. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


“Mandi dan segeralah tidur.” Ucap Jimmy tak acuh. Ia manatap Jane sekilas yang tengah memasang wajah tertekuk setelah mendengar ucapannya.


Jimmy tersenyum, lalu kembali bersuara,


“Atau aku akan menghabiskannya seorang diri.” Ucapnya lagi seraya mengambil kotak kecil yang Jane bawa. Tempat sepotong kue keju berada.


“Tunggu aku.” Teriak Jane seraya berlari menuju kamar mandi. Mereka hanya tinggal berdua disebuah rumah kecil kumuh yang disewa dengan harga murah.


Jimmy kembali tersenyum seraya menatap Jane lekat ketika kembali teringat pada kenangan mereka berdua. Wanita itu hampir menghabiskan satu potong kecil kue keju yang Jimmy suapkan. Jimmy bersyukur, setidaknya, Jane mau makan dengan lahap malam ini. Esok hari, ia akan kembali mengucapkan terima kasih pada Bianca.


***


Alan yang baru saja tiba di rumah, kembali menajamkan indra penciumannya ketika menghirup aroma cokelat dan kopi yang bercampur menjadi satu. Dengan segera, ia melangkah menuju kamar dan mendapati sepiring kecil kue berada di atas tempat tidur. Ditambah dengan Bianca yang sedang terduduk seraya menyambutnya dengan sebuah senyuman lebar.


“Apa ini?” Alan bertanya tak mengerti. Seingatnya, ulang tahunnya masih cukup jauh.


“Hadiah untukmu.” Jawab Bianca singkat. Ia masih setia berada di atas tempat tidur. Selain karena lelah, ia sengaja tak ingin menghampiri Alan agar tak menjadi sasaran kenakalan pria itu.


“Hadiah?” Ulang Alan. Tak lama, ia menyeringai kecil seraya melepaskan dasi kerjanya. Disusul dengan jas yang ia pakai. Hanya menyisakan kemeja polos berwarna abu-abu muda dan juga celana kain yang menjadi pasangan dari jasnya.


“Apa kau membuat kesalahan?” Tanya Alan. Ia menatap Bianca dengan mata memicing.


“Aku tak keberatan jika kau tak menyukainya.” Bianca berucap ketus seraya berniat untuk mengambil piring kecil berisikan kue tersebut. Namun Alan segera menahan pergerakan tangannya.


Seraya berdiri, Alan mencondongkan sedikit tubuhnya pada Bianca dengan meletakkan kedua tangannya di atas tempat tidur. Kedua matanya menatap Bianca lekat dengan bibir yang tersenyum nakal.


“Siapa bilang?” Ucap Alan seraya mengecup bibir Bianca sekilas. Mendadak, ia mengambil sedikit cream pada kue tiramisu tersebut lalu meletakkannya di ujung lidahnya.


Bianca tak bersuara, ia justru menatap Alan tak mengerti. Dan tak lama, kedua matanya membulat tak percaya saat tahu maksud pria itu.


Bianca tersenyum kecil lalu mengambil sepotong kecil kue tersebut dari atas piring untuk ia makan seorang diri. Sengaja mengabaikan Alan.


“Bianca, sekali lagi. Atau aku akan menghukummu.” Ancam Alan setelah berhasil menelan cream yang berada pada ujung lidahnya. Dengan cepat, ia melakukan hal yang sama seperti tadi seraya mengisyaratkan Bianca untuk mengikuti keinginannya.


Bianca mendekat, lalu menjulurkan lidahnya untuk mengambil cream yang berada pada ujung lidah Alan. Tanpa ia duga, Alan justru menahan tengkuknya dan membuat bibir mereka bertemu.


“Mrs. Drax.” Panggil Alan.


Bianca tersenyum lembut seraya menatap Alan lekat. Malam ini, akan kembali menjadi malam yang indah untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2